Janji kita kepada Allah lebih patut kita tunaikan

Jika kita telah berjanji… Maka ketahuilah janji tersebut akan kita pertanggung jawabkan dihadapan Allaah…

Ingatlah… Setiap dari kita telah diambil janjinya oleh Allaah…

1. Agar kita menjadikanNya sebagai satu-satunya sesembahan kita, tanpa menyekutukanNya sedikitpun juga…

2. Agar hendaknya kita menunaikan segala perintahNya (semampu kita) dan menjauhi segala laranganNya.

Diantara janji kita kepadaNya dalam penunaian perintahNya adalah mengerjakan shalat wajib 5 waktu.

Shalat wajib itu ditetapkan dengan waktu-waktunya… Sebagian memiliki waktu yang agak luas, dan sebagian lain memiliki waktu yang sangat sempit.

– Ada waktu yang paling utama dikerjakan shalat (yaitu diawal waktunya; bahkan jika dikerjakan di masjid, dibelakang imam bersama jama’ah; maka inilah yang paling utama dan sangat ditekankan bagi laki-laki. Bahkan ia merupakan syi’ar yang wajib ditegakkan suatu kaum, yang apabila syi’ar ini tidak tegak; maka berdosalah seluruh kaum tersebut sebagaimana hal dipaparkan ulama syaafi’iyyah)

– Ada waktu yang diperbolehkan (yaitu waktu ikhtiyari/pilihan)

– Ada waktu yang dimakruhkan, kecuali dengan udzur (yaitu pada waktu dharuri, yaitu diakhir-akhir waktu shalat yang telah sangat sempit waktu shalatnya, menjelang habis waktunya)

– Ada waktu yang terlarang; yang menyebabkan tidak sahnya shalat seseorang jika dilaksanakan pada waktu tersebut, jika tanpa disertai udzur (yaitu shalat tidak pada waktunya; yaitu seseorang yang menunda-nunda shalat dengan sengaja hingga habis waktunya dan ia baru shalat setelah habis waktunya)

Allaah memberikan keutamaan dalam agama ini, bahwa seluruh bumiNya, boleh dijadikan sebagai tempat shalat (kecuali WC, kuburan dan tempat-tempat yang bernajis)

Dan Allaah memberikan keringanan bagi hambaNya yang terluputkan dari waktu shalat karena benar-benar lupa, atau tertidur (akan tetapi wajib untuk langsung dilaksanakan ketika ingat atau ketika terbangun)

Jika kita berusaha sekuat tenaga kita UNTUK MENUNAIKAN JANJI kita kepada makhluqNya… Maka hendaknya berusaha sekuat tenaga kita untuk menepati janji yang telah kita ikrarkan padaNya… Bahkan janji kita terhadapNya harusnya lebih kita junjung tinggi, jauh melebihi janji kita dengan sesama makhluq…

Ketauilah dan ingatlah bahwa sesungguhnya ciri seorang munafiq itu ada tiga atau empat, jika seluruh perkara tersebut ada dalam diri seseorang, maka ia munaafiq hakiki. Jika ia berbicara, ia berdusta; jika ia berjanji, ia menyalahinya; jika ia diberi amanah; ia khianat; dan jika ia berselisih, ia melampaui batas dengan berbuat kefajiran.

Sungguh munaafiq itu mengaku beriman kepada Allaah, tapi mereka berdusta; hati mereka kaafir kepadaNya. Ia telah mengetahui janjinya dengan Allaah, tapi ia malah menyalahi janjinya, bahkan dengan pelecehan dan perendahan. Ia mengetahui amanah-amanahnya, tapi ia malah berhianat dengan amanah itu. Dan ia melampaui batas ketika berselisih. Semoga kita tidak memiliki satupun sifat diatas.

Hendaknya kita benar-benar mempersiapkan bekal kita, sebelum kita bertemuNya dan dimintaiNya pertanggung jawaban… Semoga kita termasuk golongan yang beruntung kelak dihari penghisaban… Aamiin…

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s