Beri Maaflah… Maka engkau akan Dimaafkan Dzat Yang Maha Pemaaf

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,ia berkata:

جاء رجل إلى النبي – صلى الله عليه وسلم – فقال: يا رسول الله كم نعفو عن الخادم فصمت

Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia berkata : “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berapa kali kita memaafkan (kesalahan) pembantu?” Lalu beliau pun diam.

ثم أعاد عليه الكلام فصمت

Kemudian orang itu mengulang perkataannya. Dan Nabi pun masih terdiam.

فلما كان في الثالثة قال

Lalu yang ketiga kalinya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اعفوا عنه في كل يوم سبعين مرة

“Maafkanlah dia (pembantu) setiap hari 70* kali.”

(Shahiiih; HR. Abu Dawud)

*Berkata Syaikh al Mubaarakfuuriy dalam tuhfah al ahwadziy (secara bebas) :

“Yang dimaksudkan dengan penyebutan 70 disini bukan sebagai pembatasan atau angka spesifik tertentu, tapi bermakna ‘BANYAK’…”

(Tuhfah al ahwadziy, 6/69; via islamport)

Hal yang sangat menakjubkan dalam hadits diatas adalah pertanyaan yang agung ini. Semoga rahmat Allaah senantiasa menaungi penanya tersebut… Bagaimana tidak? Sesuatu yang ditanyakan ini merupakan pertanyaan yang dibaliknya terdapat pelajaran yang amat luar biasa!

Lihatlah fokus pertanyaan tersebut: “Memaafkan PEMBANTU”, yang mungkin maksud penanya ini adalah pembantu yang SERING SALAH/KELIRU dalam pekerjaannya. Sampai-sampai ia menanyakan “sampai berapa kali sih? kita harus memaafkan kesalahan para pembantu kita?”.

Dua point yang amat penting kita angkat dari pertanyaan ini, adalah DUA PERKARA YANG AMAT BERAT. Pertama, “BERSIKAP PEMAAF” maka ini perbuatan yang amat sangat berat dilakukan kebanyakan manusia (kecuali orang-orang yang dirahmati Allaah). (ditambah lagi), Yang menjadi obyek dari pemaafan ini adalah “PEMBANTU”; yang mana kita tidak membutuhkan untuk “cari muka” dihadapannya, yang mana mungkin mereka ini adalah orang-orang yang kita pandang remeh, karena ‘kedudukan dunia’ dibawah kita, dan karena memang pekerjaan mereka adalah “tunduk dibawah kita”. Sudah “memaafkan” itu berat, apalagi pihak yang dimaafkan adalah “pembantu”… Maka ini tentu lebih berat…

Akan tetapi… Yang diperintahkan Rasuulullaah kepada kita, adalah BANYAK-BANYAK MEMBERI MAAF terhadap kesalahan dan kekhilafan mereka… Dan sungguh beliau telah mencontohkan kepada kita hal tersebut![1. Sebagaimana hal ini dituturkan oleh pembantu beliau sendiri, yaitu Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu.

Anas bin Malik berkata, “Rasulullah adalah orang yang paling mulia akhlaknya, paling lapang dadanya, dan paling luas kasih sayangnya…

Suatu hari aku diutus Nabi untuk suatu keperluan, lalu aku berangkat. Di tengah jalan, aku menemui anak-anak yang sedang bermain. Dan aku pun ikut bermain bersama mereka sehingga aku tidak jadi memenuhi suruhan beliau.

Ketika aku sedang asyik bermain, tanpa sadar, ada seorang berdiri memperhatikan di belakangku dan memegang pundakku. Aku menoleh ke belakang dan aku melihat rasulullah tersenyum kepadaku lalu berkata, ‘Wahai Unais (Anas kecil)… apakah engkau telah mengerjakan perintahku?’ Aku pun bingung dan berkata, ‘Ya, aku akan pergi sekarang ya Rasulullah!’

(Ia kemudian berkata) Demi Allah, aku telah melayani beliau selama 10 tahun dan beliau tidak pernah berkata kepadaku: ‘huh!’, Juga tidak pernah mengatakan kepadaku (ketika aku melakukan sesuatu) ’Kenapa engkau melakukan hal itu?’ Dan tidak pernah mengatakan kepadaku (ketika aku tidak melakukan sesuatu) ’Tidakkah engkau melakukan ini-itu?’.

(Diriwayatkan al Bukhaariy, Muslim, dan selainnya)] Maka hendaknya kita mengikuti perintah beliau dan meneladani akhlaq beliau yang amat mulia ini! Bahkan ketahuilah, ingatlah dan hadirkanlah dalam hati kita… Jika kita mudah memaafkan, maka semoga kita termasuk hamba-hamba Allaah yang diampuni dosanya…

Tidakkah kita ingat, firman Allaah :

وليعفوا وليصفحوا ألا تحبون أن يغفر الله لكم والله غفور رحيم

Maka hendaknya mereka memberi maaf dan berlapang dada… Tidakkah engkau menyukai bahwa Allaah mengampuni dosa-dosamu?! Sesungguhnya Allaah MAHA PEMAAF lagi MAHA PENYAYANG…

(an Nuur: 22)

Allaah memerintahkan kita untuk memberi maaf dan berlapang dada… Kemudian Dia menyandingkan pemaafan kita terhadap makhluqNya dengan pemaafanNya terhadap dosa kita… Kemudian Dia menegaskan di akhir ayat, bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Pemaaf lagi Maha Penyayang… Agar hendaknya kita menjadi seorang yang pemaaf lagi penyayang pada makhluq-Nya, sebagaimana Dia Maha Pemaaf lagi Maha Penyayang pada makhluqNya. Sehingga kita mendapatkan pemaafanNya dan kasih sayangNya…

(Bisa disimak tafsiir ibnu katsiir tentang ayat diatas)

Sungguh kita amat butuh pemaafanNya dan kasih sayangNya… Maka beri maaflah… Lapang dadalah… Agar semoga kita mendapatkan pemaafan dan kasih sayangNya… aamiin

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s