Bahaya Ujub dan Takabbur Perihal Ilmu

Seperti contoh seorang yang sudah puluhan tahun belajar, dan baru mendengar sebuah hadits (dalam masalah wudhu misalkan). (dan sanadnya shahiih). Maka ia tidak percaya, kok udah puluhan tahun belajar, kok baru dengar hadits ini…

Memangnya kita ini seorang haafizh yang sudah membaca (baca: sekaligus menghafal) ratusan ribu hadits, dan sudah menela’ah ribuan kitab-kitab hadits?

Contoh lainnya… sudah puluhan tahun belajar, dan baru mendengar sebuah permasalahan fiqh (dalam masalah shalat misalkan)… (dan permasalahannya sebenarnya mu’tabar). Maka ia tidak percaya, kok udah puluhan tahun belajar, baru dengar permasalahan ini…

Memangnya kita ini seorang faaqih yang sudah membaca dan menelaah ribuan kitab fiqh dari berbagai madzhab yang ada?

Jangankan kita… Seorang shahabat mulia, ‘umar ibnul khaththaab TIDAK MENGETAHUI permasalahan “perintah untuk berpaling, setalah salam tiga kali di sebuah rumah yang ingin kita datangi”… Jika shahabat yang mulia bisa terluputkan dari ilmu yang terbilang ‘simpel’ dan ‘biasa terjadi sehari-hari’, maka tentu selain beliau sangat mungkin terluput ilmu…

Demikian pula para muhadditsiin dan juga fuqahaa… Mereka berani berkata “aku belum mendengar riwayat ini” (karena memang mereka SUDAH MENDENGAR ratusan ribu riwayat), demikian pula perkataan serupa dari fuqahaa` tentang permasalahan fiqh, karena memang mereka telah menelaah banyak masalah…

Adapun kita, (meski sudah PULUHAN TAHUN belajar, apalagi baru BEBERAPA TAHUN belajar)… Sudah berapa hadits yang kita telah dengar dan baca? Sudah berapa kitab hadits yang dikhatamkan? Sudah berapa permasalahan fiqh dari tiap-tiap babnya diketahui ijma’ dan khilafnya? Sudah berapa kitab fiqh yang kita tela’ah dan khatamkan?

Kalau masih sedikit… Maka su’uzhanlah terhadap diri sebelum su’uzhann terhadap apa yang dihadapan kita tentang ilmu… Besarkanlah ilmu dan rendahkanlah diri… Jangan malah meninggikan dan membesarkan diri, sehingga seakan membatasi bahwa ilmu ‘hanyalah apa yang ada dalam diri’… Akhirnya tergesa dalam menilai, sehingga tergesa dalam berkata dan bersikap…

Berhati-hatilah…

Karena ilmu itu SANGAT LUAS, sedangkan ilmu yang sudah kita dapati SANGAT TERBATAS… (berapapun lamanya kita telah belajar sebelumnya)

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s