Harusnya hati kita tergetar dengan akad nikah (Perenungan terhadap akad nikah)

Setiap kali menghadiri akad nikah, senantiasa hati tergetar dengan prosesi akad nikahnya…

Karena senantiasa teringat akan firmanNya:

وَأَخَذْنَ مِنكُم مِّيثَاقًا غَلِيظًا

Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.

Makna “miitsaaqan ghaliizhaa”

“Miitsaaqan ghaliizhaa” ada beberapa penafsiran dari para ulama, diantaranya:

1. Akad nikah

sebagaimana dinukilkan ibnu katsiir dari ibnu abbaas, mujaahid, ibn jubair, dll,

2. Maknanya, “imsaakun bi ma’ruufin aw tasriihun bi ihsaan” (mempertahankan ikatan nikah dengan kebaikan, atau memutuskanya dengan kebajikan)

Sebagaimana yang difirmankan Allaah dalam surah al Baqarah 229:

فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ

Maka pertahankanlah (pernikahan kalian) dengan cara yang ma’ruuf; atau ceraikanlah dengan cara yang ihsaan.

Penafsiran ini adalah penafsirannya qataadah, dhahhaak, dan selainnya.

Akan tetapi Dua penafsiran ini tidak bertentangan, dan dapat dikompromikan. Sebagaimana yang dikatakan qatadah :

هو ما أخذ الله تبارك وتعالى للنساء على الرجال ، فإمساك بمعروف أو تسريح بإحسان . قال : وقد كان ذلك يؤخذ عند عقد النكاح .

Ia adalah apa yang diambil oleh Allaah tabaaraka wa ta ‘aala bagi wanita atas laki-laki, agar mereka mempertahankan pernikahannya dengan ma’ruuf, atau menceraikannya dengan ihsaan. Dan perjanjian ini telah diambil pada saat ‘aqad nikah.

Perenungan terhadap akad nikah

Maka dengan akad nikah, kita mengambil perjanjian dengan Allaah untuk berbuat baik kepada istri kita selama pernikahan kita; bahkan ketika hendak menceraikannya pun harus dengan cara yang baik…

Maka hendaknya mengingat perjanjian kita dengan Allaah atas hal ini… Yang mana ia perjanjian yang kuat, yang akan dimintai Allaah atas pertanggung jawaban kita terhadapnya… Yang hendaknya kita bertaqwa kepadaNya dengan mengingat-ingat perjanjian ini, dan mengamalkan konsekuensi dari perjanjian ini…

Juga, hendaknya kita mengingat bagaimana orang tua wanita telah menyerahkan sebagian tanggung jawabnya pada lelaki yang menikahi anak wanitanya. Yang mana jika kita merenungkan, sungguh berat bagi seorang bapak melepas putrinya; yg telah ia urus, didik semenjak kecilnya. Yang hendaknya pula ini kita hadirkan, sehingga kita dapat melanjutkan estafet tanggungjawab, pendidikan, pengajaran dan pengayomannya tersebut…

Maka adakah hati kita tidak tergetar ketika melihat sesi akad, dengan menghadirkan hal-hal diatas?

Semoga kita dimudahkan Allaah untuk menjalankan perjanjian kita denganNya dengan sebaik-baiknya.. Aamiin…

Tinggalkan komentar

Filed under al-Quran, Keluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s