Bagaikan Menghadapi Badai Ekstrim

Ketika kita berhadapan dengan badai ekstrim, tentulah yang pertama kali kita cari adalah pegangan yang kokoh yang dengannya kita dapat berpegang padanya dengan sekuat yang kita mampu, agar kita tidak terbawa arus badai.

Karena kalaulah kita mengambil pegangan yang lemah; maka pasti kita akan menjadi korban badai…

Dan kalaulah kita sudah mengambil pegangan yang kuat, tapi kita tidak memegang erat pegangan tersebut; maka kita pun akan terhempas dan terombang ambingkan badai…

Perlu kita ketahui… Kehidupan dunia ini, serupa dengan perumpamaan diatas…

Sebagaimana kita harus mencari pegangan yang kuat, kita pun juga dituntut untuk memegang erat-erat pegangan yang kuat tersebut…

Adapun yang berpegangan dengan pegangan yang lemah, merekalah orang-orang yang mengambil agama selain islaam…

Adapun yang tidak memegang erat pegangan yang kuat; adalah kaum muslimin yang tidak berpegang teguh diatas agama mereka, sehingga mereka terombang-ambingkan oleh fitnah dunia.

Demikianlah perumpamaan dalam menghadapi kehidupan dunia yang fana yang penuh dengan ujian… Ingatlah bahwa akhir pertaruhan dari ujian ini adalah keimanan kita.. Maka semoga kita dapat benar-benar menjaganya dengan tetap terus berpegang teguh diatasnya…

Semoga Allaah menetapkan dan meneguhkan kita tetap diatas keislaman hingga akhir hayat kita, aamiin.

Peringatan Rasuulullaah akan gelombang fitnah yang amat besar, dahsyat dan gelap gulita

Sungguh hal ini telah dikabarkan oleh Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam, sebagaimana dalam sabda beliau :

وَتَجِيءُ فِتْنَةٌ فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا

dan datanglah fitnah yang menjadikan fitnah sebelumnya ringan dibandingkan fitnah setelahnya.

وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِهِ مُهْلِكَتِي ثُمَّ تَنْكَشِفُ

Datanglah fitnah lalu si mukmin berkata, “Inilah yang akan membinasakanku”. Kemudian fitnah itu pergi…

وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِهِ هَذِهِ

Lalu datang lagi fitnah, si mukmin berkata, “Inilah yang akan membinasakanku…”.

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وليأت إلى الناس الذي يحب أن يؤتى إليه

Maka Barang siapa yang menyukai untuk diselamatkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, hendaklah ia mendatangi kematiannya dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan bersikap kepada manusia dengan sikap yang ia sukai untuk dirinya

(HR. Muslim)

Siapakah yang merasa aman dari fitnah ini?

Alangkah dahsyatnya fitnah ini, sampai-sampai Rasuulullaah bersabda:

بَادِرُوا بِاْلأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا.

“Bersegeralah kalian melakukan amal shalih (sebelum datangnya) fitnah-fitnah bagaikan malam yang gelap gulita, seseorang dalam keadaan beriman di pagi hari dan menjadi kafir di sore hari, atau di sore hari dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari, dia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.”

[HR Muslim]

Tidak main-main… Pertaruhannya keimanan dan kekufuran… Bukan lagi antara ketaatan dan kemaksiatan semata… Keimanannya diperdagangkan hanya untuk kesenangan duniawi semata…

Jika keimanan -pada saat itu-dengan mudahnya diperjualbelikan… Maka apalagi hanya sebatas kemaksiatan ?! Tentu akan sangat mudah diobral!

Kiat-kiat dari Allaah dan RasulNya dalam menghadapi fitnah

Sungguh Allaah dan RasulNya telah memberikan kiat-kiat kepada kita, sehingga dengannya kita dapat tetap tegar diatas keimanan, tidak mudah digoyahkan dengan fitnah yang menyapa…

Apa saja kiat-kiat itu?

1. Benar-benar berpegang diatas keimanan, dan benar-benar ingkar kepada kekufuran

Sebagaimana yang Allaah firmankan:

فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا

Maka barangsiapa yang ingkar kepada thaaghuut; dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.

(al Baqarah: 256)

Inilah pegangan dasar kita dalam menghadapi segala ujian yang menerpa… Yakni hendaknya kita benar-benar teguh diatas keimanan kita… Yaitu benar-benar menegakkan syahadat yang kita ikrarkan…

Kita ingkari segala bentuk penyembahan kepada selain Allaah, dan kita benar-benar hanya menjadikan Allaah sebagai satu-satunya Dzat yang kita sembah…

Kita junjung tinggi Hak Allaah ini… Kita pegang erat-erat… Maka dengan begitu, kita telah berpegang pada tali yang amat kokoh, bahkan tidak akan pernah putus…

Maka mulailah mempelajari tauhid, makna serta konsekuensi syahadat Laa ilaaha illaLLaah secara mendalam, kemudian berusaha mengamalkannya dan berpegang teguh diatasnya

2. Benar-benar memegang teguh syari’at yang dibawa RasulNya

Sebagaimana sabda Rasuulullaah:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِي، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Maka wajib atas kalian berpegang teguh diatas sunnahku, dan sunnah khulafaa`ur raasyidiin al-mahdiyyiin setelahku… Gigitlah ia dengan gigi geraham… Dan berhati-hatilah kalian dari perkara baru yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya perkara yang diada-adakan (dalam agama) itu adalah kesesatan”

[HR Abu Daawud, at Tirmidziy, dan selainnya]

Dan hal ini memang sebagai konsekuensi persaksian (syahadat) kita bahwa Muhammad (shallallaahu ‘alayhi wa sallam) adalah utusan Allaah.

Pembuktiannya adalah kita berpegang teguh pada syari’at yang beliau bawa, yaitu sunnah beliau… Yang perlu ditekankan disini, bahwa dalam hadits diatas beliau MENYATUKAN sunnah beliau dengan sunnah khulafaa`ur raasyidiin al mahdiyyiin (yaitu para shahabat beliau), sebagai satu kesatuan.

Dimana beliau bersabda:

عَضُّوا عَلَيْهَا

Pegang teguhlah IA

Dan beliau TIDAK bersabsda

عليهما

…keduanya

Maka keduanya adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan…

Karena satu-satunya jalan kita untuk memahami dan mengamalkan sunnah beliau, adalah dengan meneladani pemahaman dan pengamalan para shahabatnya… Merekalah yang menyampaikan kepada kita pemahaman dan pengamalan yang benar tentang sunnah beliau… Sehingga dengan itu, kita dapat secara benar dan terbimbing untuk memahami dan mengamalkan sunnah beliau…

Beliau juga mengingatkan kepada kita, agar menjauhi perkara baru yang diada-adakan dalam agama… Inipun merupakan konsekuensi dari komitmen dan totalitas kita untuk berpegang diatas syari’at yang beliau bawa… Bahwa hendaknya kita merasa cukup dengan apa yang beliau bawa, dan tidak berani-beraninya mengada-adakan suatu perkara yang tidak pernah sekalipun dituntunkan beliau… Ini adalah kesesatan yang amat nyata, yang mesti kita jauhi…

3. Menjaga keimanan dan juga akhlaq yang luhur terhadap sesama

Sebagaimana yang telah disebutkan diatas:

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وليأت إلى الناس الذي يحب أن يؤتى إليه

“Maka Barangsiapa yang menyukai untuk diselamatkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, hendaklah ia mendatangi kematiannya dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan bersikap kepada manusia dengan sikap yang ia sukai untuk dirinya.”

Dua syarat yang diajukan Rasuulullaah apabila kita suka untuk diselematkan dari neraka, sekaligus dimasukkan kedalam surga: mati dalam keadaan beriman, dan mati dalam keadaan berakhlaq baik pada manusia.

Didahulukan keimanan, karena ia adalah syarat muthlaq untuk dimasukkan kesurga… Karena apabila seseorang mati diatas kekufuran, maka surga diharamkan untuknya dan kekal baginya neraka, na’uudzubillaah.

Kemudian yang kedua adalah akhlaq yang luhur. Karana keburukan akhlaaq akan menjadi bencana bagi pemiliknya dihari kiamat. Seorang yang ‘kaya’ akan amal shaalih, bisa ‘bangkrut’ dihari kiamat; apabila tidak diimbangi akhlaq yang mulia. Maka hendaknya kita bersikap kepada orang lain, dengan sikap yang kita sukai untuk diri kita… Dengan tetap memperhatikan batasan syari’at… Karena keharaman tetaplah keharaman, meski kedua belah pihak menyukai dan rela atas perbuatan tersebut.

4. BERSEGERA dalam beramal shaalih

Sebagaimana disebutkan dalam hadits diatas:

بَادِرُوا بِاْلأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ

Bersegeralah kalian untuk beramal (shaalih), (sebelum datangnya) fitnah-fitnah yang bagaikan malam yang gelap gulita.

Maka hendaknya kita bersegera dalam beramal shaalih, tidak diam ditempat, tidak menunda-nunda… Karena fitnah yang akan mendatangi kita adalah fitnah yang besar lagi bergelombang yang disifati dengan kegelapan yang amat gelap… Apabila kita tidak sibuk dengan amal shaalih, maka tentu kita akan jatuh dan terombang ambingkan fitnah yang dahsyat tersebut!

Maka inilah diantara kiat-kiat Allaah dan RasulNya dalam mengarungi kehidupan yang singkat lagi penuh ujian ini…

Semoga kita dapat benar-benar mengaplikasikan hal-hal diatas dalam kehidupan kita, sehingga semoga dengannya kita dapat berpaling dan terjaga dari fitnah… Aamiin

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Manhaj, Manhaj Ahlus-Sunnah wal Jama'ah, Tauhid Uluhiyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s