Awali harimu dengan Tauhiid

Aktifitas yang paling pertama kita lakukan, adalah apa yang kita lakukan setelah kita bangun tidur… Dan hendaknya kita mengetahui bahwa aktifitas paling bermanfaat yang hendaknya pertama kali kita lakukan adalah mengingatNya dengan membaca dzikir bangun tidur.

Diantara dzikir yang hendaknya kita rutinkan, yang mana sangat banyak sekali kandungan berharga didalamnya, adalah membaca akhir surat aali ‘imraan (190-200), yang hanya berjumlah 11 ayat[1. Kalau 11 ayat diatas dianggap terlalu berat… paling minimalnya kita membaca dzikir yang amat ringkas, namun amat dalam maknanya :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ

Alhamdulilaahilladziy ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilayhinn nusyuur

“Segala puji hanya bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan hanya kepada-Nya (kami) dikumpulkan.”

(HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii dan Muslim)

Dzikir yang singkat inipun sebenarnya mengandung tauhid didalamnya, yakni kita mengakui dan menyandarkan bahwa Allaah-lah yang menghidupkan dan mematikan kita; dan HANYA kepada ALLAAH-lah kita akan dikumpulkan, dan HANYA DIA-lah yang akan mengadili kita kelak dihari kiamat (jelas hal ini menafikkan segala sesuatu yang dituhankan dan disembah selain Allaah, yang mana mereka kelak tidak memiliki kekuasaan sedikitpun dihari kiamat kelak; yang mana kekuasaan dan hakim saat itu hanyalah milik Allaah semata; yang mana pada hari itu, kepadaNyalah kita dikumpulkan dan dihakimi; sebagaimana Allaah pada hari itu hanya satu-satulah penguasa dan hakim; maka pada hari ini pula, Dialah penguasa alam semesta, satu-satunya dzat yang berhak disembah, yang tidak ada sesuatu apapun selain Dia, yang berhak untuk disembah)

Ketika membaca dzikir diatas (apalagi dengan perenungan)… Apakah ada celah untuk mengawali hari dengan maksiat? (yaitu meninggalkan shalat?! yang mana ini merupakan diantara dosa besar yang paling besar?!)

Kalau shalat saja masih ditinggalkan, maka jelas, dzikir diatas pun dengan mudah akan ditinggalkan…

Akan tetapi jika ingat dzikir diatas, dan membacanya (apalagi dengan perenungan ketika membacanya); maka diharapkan akan diikuti dengan kesadaran untuk menunaikan shalat wajib… yang mana ia merupakan salah satu rukun islaam, yang lebih tinggi derajatnya daripada amalan naafilah (dzikir bangun tidur)… Sehingga dengannya pun semoga seseorang akan tersadari, bertaubat dari perbuatannya (sering meninggalkan shalat), dan mulai mengerjakan shalat wajib lima waktu, dan tidak lagi meninggalkannya…]; tapi sungguh amat banyak kandungan berharga didalamnya (utamanya tauhiid). Yang hendaknya kandungan tersebut dapat kita resapkan ke dalam hati, sebagai bekal berharga bagi kita… untuk kita terapkan dalam keseharian kita hingga AKHIR AKTIFITAS kita, yang semoga kita diwafatkan Allaah diatasnya, aamiin…

Diantara kandungan berharga akhir surat aali ‘imraan 190-200

1. Mengingatkan kita akan nikmat-nikmat Allaah

Agar jangan kita lupakan bahwa Allaah-lah satu-satuNya Tuhan kita. Yang mana tidak ada sesuatu yang berhak diibadahi melainkan Dia. Kita ingat nikmat-nikmatNya sebagai motivasi kita untuk bersyukur kepadaNya. Sebagai motivasi kita untuk bertaqwa kepadaNya. Kita tidak menyembah sesembahan selainNya, dan kita hanya menjadikanNya sebagai satu-satunya sesembahan kita; dan kita menjalankan seluruh kewajibanNya semampu ktia dan menjauhi seluruh laranganNya.

2. Mengingatkan kita untuk banyak berdzikir

Agar nantinya hingga akhir aktifitas kita nanti, waktu-waktu kita, kita sempatkan untuk berdzikir. MengingatNya, MengagungkanNya, menyebut nama-namaNya yang indah lagi tinggi, mensucikanNya, membesarkanNya, memujiNya, memohon ampun padaNya, dan lain-lain; baik dzikir yang terkait suatu situasi dan kondisi; maupun dzikir-dzikir yang bebas diucapkan kapan saja, yang tidak terkait situasi dan kondisi.

3. Mengingatkan kita untuk banyak berdoa

Agar hendaknya kita banyak berdoa kepadaNya, bahkan kita amat sangat butuh padaNya, pada segala kebutuhan kita; baik menyangkut duniawiah maupun ukhrawiah, yang mana ini lebih penting bagi kita. Jangan sampai kita termasuk hamba-hambaNya yang menyombongkan diri, yang berdoa padaNya pun SANGAT JARANG, padahal kita amat butuh padaNya. Apalagi sampai termasuk orang-orang yang malah berdoa kepada selainNya, yang mana ini seburuk-buruknya amalan yang merusak keimanan kita, yang apabila kita mati diatasNya, maka terhapuslah seluruh amal kita dan jadilah kita termasuk orang-orang yang paling merugi dan paling terhina, na’uudzubillaah.

4. Mengingatkan kita untuk mengingat aakhirat

Bahwa kelak hanya akan ada dua destinasi: apakah surga, ataukah neraka. Apabila kita diselamatkan dari neraka, dan dimasukkan kedalam surga; maka itulah kesuksesan sejati. Sebaliknya, apabila kita masuk kedalam neraka (apalagi sampai kekal, karena mati dalam keadaan kafir) maka sungguh itulah sebenar-benarnya kerugian. Yang mana tiada penolong di hari itu, kecuali Allaah; dan Allaah tidaklah menolong hamba-hambaNya yang kafir lagi durhaka padaNya; na’uudzubilaah.

5. Mengingatkan kita untuk senantiasa mendatangi majelis ilmu, atau paling minimal; mendengarkan kajian islaam, apakah itu di radio, atau streaming internet, atau rekaman mp3, atau selainnya.

Secara eksplisitnya, tidak kita dapati pada 11 ayat tersebut yang menyatakan demikian (persis seperti point ke 5); tapi secara implisit, kandungan ini dapat kita temui pada ayat 194, (yg artinya) “Ya Tuhan kami, sesungguhnya KAMI MENDENGAR (SERUAN) YANG MENYERU PADA IIMAAN, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kami beriman”.

Kita mendengar seruan, ada dua kondisi: secara pasif dan aktif. Secara pasif, maka seruan itu mendatangi kita, sehingga kita mendengarnya. Secara aktif, maka kita yang mendatangi seruan tersebut; sehingga kita mendengarnya. Yang terbaik jelas yang kedua, dan pelajaran inilah yang hendaknya dapat kita petik dari ayat diatas. Yaitu kita mendatangi seruan. Diantara seruan keimanan tersebut, yang paling jelas adalah majelis ilmu. Maka hendaknya kita menjadi termasuk orang-orang yang “mendengar seruan” secara aktif; bukan sebatas pasif, apalagi yang menjauhi dan tidak mau mendengar seruan keimanan; na’uudzubillaah.

Faidah lainnya, seruan terbaik adalah seruan keimanan. Maka majelis ilmu terbaik, adalah majelis ilmu yang menjelaskan dan mengingatkan kita akan keimanan…

Faidah lainnya, hendaknya kita tidak hanya “mendengar”, tapi juga “mematuhi”. Karena dalam ayat diatas disebutkan “maka kami pun beriman”… Jadi tidak hanya “kami mendengar” tapi cukup mendengar saja, tanpa ada realisasinya. Harus disertai dengan aplikasi. Yang mana kita menjalankan seruan tersebut dalam perikehidupan kita.

6. Mengingatkan kita untuk banyak-banyak beristighfar dan banyak memohon agar diwafatkan dalam keadaan yang baik

Ingatlah setiap kita, setiap harinya PASTI TIDAK LUPUT DARI DOSA. Maka hendaknya kita memperbanyak istighfar, yang semoga dengannya dihapuskanNyalah dosa-dosa kita; seraya juga memperbanyak perbuatan baik; yang mana perbuatan baik itu juga dapat menghapuskan dosa.

Hendaknya pula kita banyak-banyak memohonkan kepada Allaah agar diwafatkan dalam keadaan baik. Karena kita TIDAK MENGETAHUI AKHIR HIDUP KITA, yang mana kematian terkadang datang kepada seseorang tanpa diduga-duga. Maka semoga kita semua wafat dalam keadaan baik atau berbuat kebaikan, aamiin.

7. Mengingatkan kita akan rahmatNya pada orang-orang beriman

Bahwa Allaah akan menghapuskan kesalahan-kesalahan hambaNya yang meninggal diatas keimanan padaNya, dan memasukkan mereka kedalam surga. Sehingga semoga kita senantiasa menjaga keimanan kita, hingga akhir hayat kita, sehingga kita mati diatasnya, aamiin.

8. Mengingatkan kita agar tidak terpedaya dengan kehidupan orang-orang kaafir

Yang mana mereka ditangguhkan adzabnya; padahal mereka hidup diatas hawa nafsu mereka. Bahkan mereka tertipu dengan penangguhan tersebut, sehingga mereka malah tetap diatas kekufuran mereka, tidak mau beriman kepadaNya.

9. Mengingatkan kita akan hakekat dunia, bahwa kesenangan dunia adalah hal yang sementara

Ingatlah bahwa dunia itu dianugerahkan baik kepada orang beriman maupun orang kafir. Yang hanya dinikmati 60 tahunan, paling lama 100 tahunan. Setelah itu sirnalah kenikmatan tersebut; dan datanglah kehidupan yang kekal. Maka berbahagialah mereka yang mati diatas keimanan, dan sengsaralah mereka yang mati dalam kekafiran.

10. Memberi kabar gembira kepada orang-orang yang memeluk agamaNya, setelah sebelumnya kafir (yg kemudian mereka mati diatas keimanannya); bahwa mereka akan mendapatkan kemenangan yang besar.

11. Mengingatkan kita untuk terus bersabar diatas keimanan, berwaspada terhadap tipu daya musuh, dan untuk senantiasa bertaqwa keapda Allaah agar kita menjadi termasuk hamba-hambaNya yang beruntung.

Semoga 11 faidah dari 11 ayat diatas dapat kita renungi dan dapat kita jadikan bekal berharga kita untuk mengawali hari, sehingga itu semua dapat kita terapkan hingga kita mengakhiri aktifitas kita, yang semoga Allaah menetapkan kita diatasnya dan mewafatkan kita diatasnya pula, aamiin…

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s