Menggapai kesempurnaan shalat

Ada beberapa aspek yang perlu kita perhatikan dalam shalat wajib, yang dengannya kita dapat menyempurnakan pahala shalat kita :

1. Persiapan pelaksanaan: Mensucikan diri dan menyempurnakan Wudhu’

Unsur yang paling penting dalam shalat, yang merupakan syarat sah shalat adalah berwudhu’.

Sebagaimana sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

لا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Allah tidak menerima shalat salah seorang diantara kalian, apabila dia berhadats sampai dia berwudhu”.

(HR al Bukhaariy, dll)

Termasuk pula disini membersihkan badan, pakaian dan tempat shalat dari najis. Baik najis kecil maupun najis besar.

Dari Abu Hurrayrah, Rasulullah bersabda:

الصلاة ثلاثة أثلاث : الطهور ثلث ، والركوع ثلث ، والسجود ثلث ، فمن أداها بحقها قبلت منه وقبل منه سائر عمله ومن ردت عليه صلاته رد عليها سائر عمله

“(Hak) shalat itu ada tiga bagian: bersuci sepertiga, ruku’ sepertiga dan sujud sepertiga. Barangsiapa melaksanakan dengan memenuhi haknya, maka shalat tersebut diterima darinya dan sisa amalnya yang lain juga diterima. Barangsiapa yang shalatnya ditolak (karena tidak memenuhi haknya), maka sisa amalnya yang lain ditolak.”

[Diriwayatkan oleh al-Bazzar, dan dia berkata, “Kami tidak mengetahuinya diriwayatkan secara marfu’ kecuali dari hadits al- Mughirah bin Muslim.” (Al-Hafizh berkata), “Sanadnya hasan.” HN. 539 dalam shahiih at targhiib wat tarhiib]

Terdapat keutamaan yang amat berharga bagi orang-orang yang menyempurnakan wudhu’nya; sebagaimana yang dijelaskan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

Tidaklah seorang muslim mendapati shalat wajib, kemudian dia menyempurnakan wudhu`, khusyu’ dan ruku’nya, kecuali akan menjadi penghapus bagi dosa-dosanya yang telah lalu, selama tidak melakukan dosa besar; dan ini untuk sepanjang masa.

[HR Muslim]

Juga sebagaimana sabda beliau:

ما من مسلم يتو ضأ فيسبغ الوضوء ، ثم يقوم في صلاته ، فيعلم ما يقول ، إلاانفتل وهو كيوم ولدته أمه

“Tidaklah seorang muslim berwudhu lalu dia menyempurnakan wudhunya kemudian dia berdiri dalam shalatnya dan dia memahami apa yang dia katakan, kecuali dia selesai sementara keadaannya seperti di hari dia dilahirkan oleh ibunya (yaitu: diampunkan seluruh dosanya) ”

[Diriwayatkan oleh al-Hakim, dan beliau menshahiihkannya; disetujui adz dzahahabiy demikian pula al albaaniy“]

Juga sebagaimana sabda beliau:

إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ

Jika seseorang berwudhu, kemudian menyempurnakan wudhunya; kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid.

(HR Muslim)

Dan terdapat ancaman bagi mereka yang tidak memperhatikan kesucian badan/pakaian/tempat mereka, dan juga tidak menyempurnakan wudhu’ mereka.

Adapun perihal ketidakberishan dalam menyucikan diri, maka Rasuulullaah shalllallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

تنزهوا من البول فإن عامة عذاب القبر منه

Bersihkanlah diri kalian dari kencing, karena kebanyakan adzab kubur disebabkan darinya

(HR Ibnu Khuzaymah, dll; dengan sanad yang shahiih)

Beliau juga bersabda:

يُعَذَّبَانِ ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِي … بَلَى ، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِى بِالنَّمِيمَةِ

‘Keduanya sedang diadzab (dalam kuburnya). Tidaklah keduanya diadzab karena dosa besar (menurut sangkaan mereka bedua)’… Padahal itu merupakan dosa besar. Salah satu di antara keduanya diadzab karena tidak membersihkankan bekas kencingnya, dan yang lain karena selalu melakukan namiimah (adu domba)”

(HR. al Bukhaariy, Muslim, dll)

Adapun dalam hal ketidaksempurnaan wudhu’, maka beliau bersabda:

أتموا الوضوء، ويل للأعقاب من النار

“Sempurnakanlah wudhu kalian, celaka tumit-tumit dari api neraka.”

(HR Ibnu Majah)

Hadits diatas disabdakan beliau ketika melihat suatu kaum yang tidak sempurna dalam berwudhu, sehingga tumit-tumitnya tidak tersentuh wudhu’nya. Maka hal ini pula berlaku pada bagian-bagian lain yang wajib dibasuh dalam wudhu’. Yakni, seseorang diancam diadzab apabila tidak menyempurnakan bagian-bagian wudhu yang diwajibkan untuk dibasuh. Na’uudzubillaah.

2. Waktu pelaksanaan: Mengerjakannya PADA waktunya, dan LEBIH UTAMA jika dikerjakan DIAWAL WAKTUnya.

Diantara unsur yang paling penting lainnya adalah melakukan shalat PADA WAKTUNYA. Dan yang paling utama dilaksanakan DI AWAL WAKTUnya, karena sebaik-baik shalat adalah shalat yang dikerjakan diawal waktunya. Tidak sah shalat jika dikerjakan sebelum masuk waktunya, sebagaimana tidak sah shalat jika sengaja dikerjakan setelah habis waktunya.

Padahal Allaah berfirman:

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَوْقُوتاً

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”

(QS.An-Nisa: 103)

Para ulamaa` berdalil dengan ayat diatas bahwa shalat pada wakttunya merupakan syarat sah shalat seseorang.

Allaah juga berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى

Peliharalah semua shalat, dan (peliharalah) shalat wusthaa/ashr

(QS al Baqarah: 238)

Berkata masyruuq: yakni, jagalah shalat pada waktunya; Adapun lalai darinya adalah: meninggalkan (pengerjaannya) dari waktunya.

Adapun yang terbaik, apabila seseorang mengerjakannya diawal waktu, sebagaimana yang pernah ditanyakan kepada Rasuulullaah:

أي الأعمال أفضل

Amal apa yang paling utama?

Rasuulullaah menjawab:

الصَّلاةُ لأَوَّلِ وَقْتِهَا

Shalat diawal waktunya…

(HR ath Thabraaniy dengan sanad yang shahiih)

Adapun yang sangat tercela, apabila seseorang yang lalai dari waktu shalat, sehingga baru mengerjakannya di waktu darurat (akhir waktu), apalagi diluar waktunya.

Allaah berfirman:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat”

(QS. Maryam: 59)

Berkata al-auzaa’i rahimahullaah,

“Sesungguhnya mereka (yang) menyia-nyiakan (shalat) (dalam ayat tersebut, adalah menyianyiakan) WAKTU PELAKSANAAN SHALAT”

Demikian pula firmanNya:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya…

(QS. al Maa’uun: 4-5)

Berkata Sa’id ibn Abi Waqqaash:

“Maksudnya adalah MELALAIKAN SHALAT DARI WAKTU-NYA, (sehingga baru shalat di akhir waktu atau bahkan diluar waktunya)”

Lihatlah bagaimana kemurkaan Nabi sulaymaan ‘alayhis salaam yang pernah terluput shalat ashar (dan ini bukan hal yang disengajakan beliau) karena kuda beliau, sebagaimana disebutkan dalam firmanNya:

فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَن ذِكْرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ . رُدُّوهَا عَلَيَّ ۖ فَطَفِقَ مَسْحًا بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ

Maka (Nabi sulaymaan) berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku (yaitu lalai dari shalat ashar pada waktunya, az) sampai kuda itu hilang dari pandangan” (Beliau melanjutkan)“”Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku”. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.

(QS. Shaad: 32-33)

Demikian pula lihatlah bagaimana kemurkaan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam kepada suatu kaum yang menghlanagi beliau shalat ashar pada waktunya (Sehingga beliau baru shlat ashar di waktu maghrib)

مَلَأَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ وَقُبُورَهُمْ نَارًا كَمَا شَغَلُونَا عَنْ صَلَاةِ الْوُسْطَى حَتَّى غَابَتِ الشَّمْسُ

”Allah memenuhi kuburan dan rumah mereka dengan api neraka, sebagaimana mereka membuat kita ketinggalan mengerjakan shalat wusthaa hingga matahari terbenam”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhaari].

Bahkan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

الَّذِي تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْعَصْرِ، كَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ

“Orang-orang yang KEHILANGAN (waktu) shalat ashar [karena kelalaiannya, sehingga ia baru shalat diwaktu daruratnya; atau bahkan baru shalat setelah matahari tenggelam] maka ia seakan-akan KEHILANGAN HARTA dan KELUARGAnya…”

(HR al Bukhaariy dan Muslim)

Andaikan seseorang kehilangan hartanya yang bertriyul-trilyun, DAN JUGA keluarganya (dari ibu, ayah, istri, anak serta cucu yang beratus-ratus) disaat yang BERSAMAAN… PASTI ia akan merasa SANGAT BERSEDIH, dan SANGAT KEHILANGAN…

Apakah ia dapat menghadirkan hal yang sama ketika ia TERLEWATKAN WAKTU SHALAT ASHAR (baik dengan apalagi tanpa ada udzur syar’i) ?!

Alangkah lemahnya keimanan seseorang, ketika ia merasakan penyesalan dan kehilangan dalam perkara DUNIAnya; tapi tidak merasakan hal yang serupa ketika kelewatan dan kehilangan hal yang SENILAI dari hal tersebut, dalam perkara AAKHIRAT…

Maka tidak salah Rasuulullaah mencela para munaafiqiin yang baru shalat diakhir waktu ashar, karena peremehann mereka; sebagaimana sabda beliau:

تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا

“(Shalat Ashar) itulah shalat (yang biasanya ditelantarkan) orang munafik, ia duduk mengamat-amati matahari, jika matahari telah berada diantara dua tanduk setan, ia melakukannya dan ia mematuk empat kali (- Rasul pergunakan istilah mematuk, untuk menyatakan sedemikian cepatnya, bagaikan jago mematuk makanan -pent) ia tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.”

(HR. Muslim)

3. Cara pelaksanaan: Mengerjakan dengan Khusyu’

Unsur penting selanjutnya adalah khusyu’ dalam pelaksanaannya, dan ini berkaitan penting dengan waktu pelaksanaan. Biasanya shalat yang dilakukan diawal waktu, dilaksanakan dengan khusyu’; sebaliknya, shalat yang dilakukan diakhir waktu maka akan kurang pula kekhusyu’annya (karena ia shalat menjelang habisnya waktu, sehingga ia pun shalat dengan cepat sebelum habisnya waktu).

Sebagaimana yang tertuang dalam firmanNya:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.

Dalam ayat diatas Allaah menggandengkan perintah pemeliharaan shalat pada waktunya dan pengerjaannya dengan khusyu’.

Bahkan khusyu’ ini merupakan penentu besar-kecilnya pahala yang didapatkan seseorang dalam shalatnya sebagaimana disebutkan dalam hadits:

منكم من يصلي الصلاة كاملة ، و منكم من يصلي النصف ، والثلث ، الربع ، و الخمس حتي بلغ العشر

“Di antara kalian ada yang shalat dengan sempurna, di antara kalian ada yang shalat setengah, sepertiga, seperempat dan seperlima sampai men- capai sepersepuluh.”

(Hasan, Diriwayatkan oleh an-Nasal dengan sanad hasan. Nama Abu Yasar -dengan ya dan sin, keduanya dibaca fathah- adalah Ka’ab bin Amr as-Sulami. Ikut dalam perang Badar. HN. 538 dalam Shahiih Targhiib wat tarhiib)

Bahkan ciri utama seorang mukmin adalah khusyu’ dalam shalatnya, karena ciri itulah yang pertama kali Allaah sebutkan ketika menjelaskan sifat-sifat orang mukmin:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ . الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya…

(QS. al Mu`minuun: 1-2)

Sebaliknya, ciri utama kaum munaafiqiin adalah seorang yang malas, berat, dan sedikit mengingat Allaah ketika menunaikan ibadah. Sebagaimana firmanNya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.

(QS. An Nisaa` : 142)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا

“(Shalat Ashar) itulah shalat (yang biasanya ditelantarkan) orang munafik, ia duduk mengamat-amati matahari, jika matahari telah berada diantara dua tanduk setan, ia melakukannya dan ia MEMATUK EMPAT KALI (- Rasul pergunakan istilah mematuk, untuk menyatakan sedemikian cepatnya, bagaikan jago mematuk makanan -pent) ia tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.”

(HR. Muslim)

Dan merupakan tanda akhir zaman adlaah banyaknya orang yang tidak khusyu’ dalam shalatnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abud-Darda’ dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أول سيئ يرفع من هذه الأمة الخشوع ، حتى لاترى فيها خا شعا

“Perkara pertama yang diangkat dari umat ini adalah kekhusyu ‘an sehingga kamu tidak melihat seorang pun yang khusyu’ di dalamnya.”

(Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dengan sanad hasan marfu’ berdasarkan syawahidnya)

Ketidak-khusyu’an bisa nampak dalam diri-diri kita, dengan banyaknya penglihatan yang berpaling dari kiblat, serta pergerakan yang tidak perlu. Maka hati yang tidak khusyu’ itu akan tercermin pada perbuatan sang pemilik hati.

Yang menjadi masalah adalah apabila seseorang seolah ‘menampak-nampakkan’ dirinya khusyu’ padahal hatinya mendustai. Sesungguhnya khusyu’ itu tempatnya dihati, sekalipun seseorang hendak menampak-nampakkan kekhusyu’an palsunya; tentu hatinya tidak dapat dibohonginya. Bahwa sudah menjadi kemestian, bahwa seorang yang kurang khusyu’ atau bahkan tidak memiliki kekhusyu’an dalam ibadahnya adalah seorang yang hatinya dalam keadaan malas dan berat dalam ibadah; sekalipun ia menampak-nampakkan badan dan kepala yang tertunduk. Na’uudzubillaah.

4. Cara pelaksanaan: Secara berjama’ah (khusus pria)

Bagi pria, maka shalat dengan berjama’ah (minimal dua orang) lebih utama daripada shalatnya sendirian. Jika ia shalat lebih dari dua orang, maka ini lebih utama daripada berdua. Lebih banyak jama’ah, maka lebih baik dan lebih dicintai Allaah.

Sebagaimana sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat dari shalat sendirian

[Diriwayatkan oleh al Bukhaariy]

Juga sabda beliau:

إِنَّ صَلَاةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ وَصَلَاتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ وَمَا كَثُرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى

Sesungguhnya shalat seseorang lelaki bersama dengan satu orang, lebih baik daripada shalatnya secara sendirian. Dan shalatnya bersama dua orang, adalah lebih baik daripada shalatnya bersama seorang jamaah. Semakin banyak jamaa’ahnya, maka semakin dicintai oleh Allah Ta’ala.”

(Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya, dll)

Shalat berjama’ah juga dapat menjaga kekhusyu’an shalat. Kita dapat memperbaiki khusyu’ kita dengan shalat dibelakang imam yang thuma’niinah dalam shalatnya. Dan sebagai imam, seseorang memiliki tanggung jawab untuk menjaga shalatnya dan shalat orang yang dibelakangnya agar dapat tertunaikan sebaik-baiknya; sehingga dengan mengingat tanggung jawab ini, maka ia memperbaiki shalatnya. Maka dengan shalat berjama’ah, akan membantu imam maupun makmum untuk khusyu’.

Oleh karenanya Rasuulullaah bersabda:

مَا مِنْ ثَلاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلا بَدْوٍ لا يُقَامُ فِيهِمُ الصَّلاةُ إِلا اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ ، فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ ، فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

Tidaklah tiga orang dari kalian disuatu kampung, tidak pula suatu daerah terpencil (baduy); yang tidak ditegakkan padanya shalat (secara berjama’ah), kecuali ia dikuasai syaithaan. Maka hendaknya kalian (melazimi) jamaa’ah, karena serigala hanya menerkam domba yang sendirian.

(HR Abu Daawud, an-Nasaa`iy, Ahmad, dll)

Bahkan sesama wanita pun, jika dengan shalat berjama’ah akan lebih mendatangkan khusyu’ atau membantu orang lain untuk khusyu’; maka lebih utama bagi mereka untuk mengerjakannya secara berjama’ah. Misalkan seorang wanita mengetahui temannya (yang juga wanita) jika shalat sendirian maka kurang thuma’niinahnya; maka ia mengajak temannya shalat berjama’ah, ia mengimaminya dengan thuma’niinah yang baik; sehingga ia turut membantu temannya shalat dalam keadaan yang lebih baik. [Simak: http://ustadzaris.com/sholat-jamaah-di-rumah]

5. Tempat pelaksanaan: Masjid (khusus pria)

Seutama-utama tempat pelaksanaan shalat wajib bagi pria, adalah di masjid, terutama bersama Imam dan jama’ahnya.

Yang dinamakan masjid disini, adalah tempat yang memiliki hukum-hukum masjid, meski orang-orang menamakannya ‘mushalla’. Sebaliknya pula, RUANGAN SHALAT yang ada di kantor/pasar/mall/rumah meski dinamakan sebagai ‘masjid’, maka ia tidak memiliki hukum-hukum masjid; maka bukan seperti ini yang dimaksudkan disini. [Simak: http://abuzuhriy.com/antara-mushalla-dan-masjid/]

Adapun keutamaannya, sangat banyak sekali, diantaranya:

مَنْ رَاحَ إِلَى مَسْجِدِ الْجَمَاعَةِ فَخَطْوَةٌ تَمْحُو سَيِّئَةً وَخَطْوَةٌ تُكْتَبُ لَهُ حَسَنَةٌ ذَاهِبًاوَرَاجِعًا

Barangsiapa berangkat ke masjid, maka satu langkah menghapus satu keburukan, dan satu langkah lainnya dituliskan sebagai satu kebaikan… di saat pergi dan pulang. (Hadits Shahiih diriwayatkan Ahmad dalam musnadnya)

Demikian pula disebutkan dalam hadits lain:

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الحاَجِّ المُحْرِمِ

“Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan berwudhu’ untuk shalat lima waktu (secara berjama’ah di masjid), maka pahalanya seperti pahala orang berhaji yang memakai kain ihram.” (Hadits Hasan; Diriwayatkan Abu Dawud)

Juga sebagaimana sabda beliau:

مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ فَصَلَّاهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَهُ


“Barangsiapa berwudhu untuk shalat dan menyempurnakan wudhunya (di rumahnya), kemudian ia berangkat untuk shalat wajib dan ia mengerjakannya bersama manusia atau bersama jamaah, atau shalat di masjid, Allah mengampuni dosa-dosanya.”

(Hadits Shahiih; diriwayatkan an Nasaa-iy)

Seringkali ketika Rasuulullaah menjeleaskan keutamaan shalat di masjid, secara berjamaa’ah; menggandengkannya dengan shalat seseorang dirumahnya. Hal ini mengandung beberapa pelajaran:

Pertama: Ketika seseorang berada dirumahnya, maka kebanyakannya mereka tidak memiliki hajat dan lebih berkemampuan untuk ke masjid. Berbeda jika sedang berada diluar rumah; maka kemungkinan besar mereka sedang berhajat. Oleh karenanya beliau memberikan keringanan bagi mereka yang sedang diluar rumah yang sedang menunaikan hajat atau memiliki kesibukan perihal tempat pelaksanaan shalatnya; kecuali shubuh dan ashar; yang tetap ditekankan untuk tetap dikerjakan di awal waktu dan dikerjakan di masjid bersama jama’ah (simak: http://abuzuhriy.com/keutamaan-shalat-shubuh-dan-ashar-di-awal-waktu/). Maka berdasarkan ini, orang-orang yang sedang berada dirumah sangat ditekankan untuk menunaikan shalat wajibnya di Masjid secara berjama’ah. Kalaupun mereka shalat berjama’ah di rumah, tentu jama’ah di masjid lebih banyak daripada dirumah; dan tentunya masjid lebih memiliki hak untuk dimakmurkan berkaitan shalat wajib 5 waktu daripada dirumah.

Kedua: Biasanya seorang yang shalat dirumahnya adalah mereka yang shalat sendirian, dan yang shalat di masjid adalah mereka yang shalat secara berjama’ah. Maka tentu lebih utama shalat berjama’ah diatas shalat sendirian. Dan juga, shalat wajib di masjid (bersama jama’ah) disamping merupakan sesuatu yang diperintahkan Allaah dan RasulNya iapun merupakan salah satu bentuk memakmurkan rumah Allaah, dan bentuk menampakkan salah satu syi’ar islam yang terbesar. Oleh karenanya dari sisi ini saja, menunjukkan keutamaan yang amat sangat besar dibaliknya.

Oleh karenanya sampai-sampai Rasuulullaah berkeinginan untuk membakar rumah-rumah yang didalamnya orang-orang yang tidak mau menghadiri shalat di masjid, sebagiamana sabda beliau:

وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُصَلِّىَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِى بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Aku sangat berkeinginan untuk memerintahkan shalat (dikerjakan), lalu dikumandangkan iqamat dan kuperintahkan seseorang untuk mengimami para jama’ah. Sementara itu aku pergi bersama beberapa orang lain, yang membawa seikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak ikut shalat berjama’ah dan membakar rumah-rumah mereka dengan api.”

(HR. al Bukhaariy, Muslim, dll)

Juga sebagaimana yang dipaparkan ‘Abdullaah ibn Mas’uud radhiyallaahu ‘anhumaa, dimana ia berkata:

وَإِنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى الصَّلَاةَ فِي الْمَسْجِدِ، الَّذِي يُؤَذَّنُ فِيهِ

Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita ’sunnah-sunnah huda’. Dan di antara sunnah-sunnah huda tersebut adalah shalat berjama’ah di masjid yang di dalamnya dikumandangkan adzan”

Dalam riwayat lain:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى

“Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka hendaknya ia shalat ini (yakni shalat jama’ah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyari’atkan bagi nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan shalat jama’ah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi).

وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ

Seandainya kalian (senantiasa) shalat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.”

(Diriwayatkan al Bukhaariy dan Muslim)

Bahkan suatu kaum wajib mengadakan shalat jama’ah di masjid, sebagaimana kaum tersebut wajib mengumandangkan adzan didaerahnya. Jika adzan dan shalat jama’ah di masjid tidak tegak di suatu kaum, maka mereka seluruhnya berdosa, dan penguasa berhak memerangi mereka.

Sebagaimana disebutkan pada hadits yang telah disebutkan diatas:

مَا مِنْ ثَلاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلا بَدْوٍ لا يُقَامُ فِيهِمُ الصَّلاةُ إِلا اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ ، فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ ، فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

Tidaklah tiga orang dari kalian disuatu kampung, tidak pula suatu daerah terpencil (baduy); yang tidak ditegakkan padanya shalat (secara berjama’ah), kecuali ia dikuasai syaithaan. Maka hendaknya kalian (melazimi) jamaa’ah, karena serigala hanya menerkam domba yang sendirian.

(HR Abu Daawud, an-Nasaa`iy, Ahmad, dll)

Dan juga sebagaimana hadits yang disampaikan Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu :

كَانَ إِذَا غَزَا بِنَا قَوْمًا لَمْ يَكُنْ يَغْزُو بِنَا حَتَّى يُصْبِحَ وَيَنْظُرَ ، فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا كَفَّ عَنْهُمْ ، وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ أَذَانًا أَغَارَ عَلَيْهِمْ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu jika akan menyerang satu kaum, beliau tidak memerintahkan kami menyerang pada malam hari hingga menunggu waktu subuh. Apabila azan Shubuh terdengar, maka tidak jadi menyerang. Namun bila tidak mendengarnya, maka ia menyerang mereka.”

(HR Al Bukhaariy dan Muslim)

Berkata Imam an Nawawiy:

Jika masyarakat seluruhnya meninggalkannya (yaitu tidak menegakkan shalat berjamaa’ah di masjid), maka imam/penguasa (berhak) MEMERANGI mereka. Dan TIDAKLAH MENCUKUPI (penunaian fardhu kifayah ini), hingga mereka MENEGAKKANNYA dan NAMPAKLAH hal ini sebagai SYI’AR ini diantara mereka.

(Raudhah ath thaalibiin 1/124, via islamport)

Ingatlah, bahwa dengan shalat di masjid (secara berjama’ah), maka kita akan mendapatkan banyak sekali keutamaan; seperti: pahala memakmurkan rumah Allaah, pahala melangkahkan kaki, didoakan ampunan oleh malaikat, mendapatkan pahala shalat hingga kembali, dan lain-lain yang sangat banyak (simak: http://abuzuhriy.com/keutamaan-shalat-berjamaah-di-masjid/).

Maka siapa yang dapat mengumpulkan seluruh aspek diatas, maka sangat diharapkan ia mendapatkan kesempurnaan pahala.

Beberapa permasalahan berkaitan tentang lima point diatas

Bagaimana jika imam (masjid) tidak shalat pada waktunya (sebelum masuk waktu, atau diakhir waktu, atau bahkan sudah habis waktu)?

Maka kita tetap shalat bersamanya, dengan meniatkannya sebagai shalat sunnah; kemudian kita shalat sendirian atau berjama’ah (diselain masjid) pada waktunya.

Sebagiamana ternukil dalam hadits Abu Dzarr, dimana beliau berkata:

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ: كَيْفَ أَنْتَ، إِذَا كَانَتْ عَلَيْكَ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا، أَوْ يُمِيتُونَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا؟

Telah bersabda kepadaku Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Bagaimana pendapatmu jika engkau dipimpin oleh para penguasa yang suka mengakhirkan shalat dari waktunya, atau meninggalkan shalat dari waktunya?”

Abu Dzarr berkata

فَمَا تَأْمُرُنِي؟

‘Lantas apa yang engkau perintahkan kepadaku?”.

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صَلِّ الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا، فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا مَعَهُمْ، فَصَلِّ، فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌ

“Lakukanlah shalat tepat pada waktunya. Apabila engkau mendapati shalat bersama mereka, maka shalatlah (bersamanya). Sesungguhnya ia dihitung bagimu sebagai shalat naafilah (sunnah)”

[Diriwayatkan oleh Muslim]

Bagaimana jika mendapati imam yang tidak thuma’niinah dalam shalatnya?

Yang patut diperhatikan hendaknya kita memilih imam yang kita ketahui faqih dalam agama, dan kita ketahui baik shalatnya. Namun apabila kita kebetulan menjadi makmum dibelakang imam yang sangat cepat shalatnya, sehingga kita khawatirkan keabsahan shalat kita.

Maka ada dua cara:

Cara pertama: membatalkan shalat kita, mundur, kemudian shalat sendirian.

Hal ini berdasarkan hadits mu’aadz radhiyallaahu ‘anhu, sebagaimana dikabarkan oleh jaabir ibn ‘abdillaah radhiyallaahu ‘anhumaa, dimana ia berkata:

كان معاذُ يصلِّى مَعَ رسولِ اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم صلاة ُالعشاءِ ثم يرجعُ إلى قومه فَيَؤُمُّهُمْ, فَأَخَّرَ النبيُّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم العشاءَ فصلَّى معهُ ثم رجع إلى قومه فقرأ سورةَ البقرةِ

“Mu’adz bin Jabal pernah shalat isya bersama Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam. Setelah itu dia pulang dan mengimami kaumnya shalat itu. Pada suatu malam Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam mengakhirkan shalat isya, tetapi Muadz tetap mengerjakan shalat bersama Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam. Setelah itu Muadz kembali pulang kepada kaumnya lalu mengerjakan shalat bersama mereka dengan membaca surah al-Baqarah.

فَتَأَخَّرَ رجلٌ فصلَّى وَحْدَهُ

Tiba-tiba ada seorang yang mundur dan mengerjakan shalat sendirian.

فقيل له : نَافَقْتَ يَافٌلَانُ, قال : ما نَافَقْتُ, ولكنَّ لَاَتِيَنَّ رسولَ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم

Setelah orang-orang selesai mengerjakan shalat, ada diantara mereka yang berkata kepada yang memisahkan diri tadi, ’Hai Fulan, Sesungguhnya engkau ini orang munaafiq’’ Orang itu berkata, ’Bukan, aku bukan munafik! Hal ini akan aku laporkan kepada Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam’.

فَأُخْبِرُهُ, فأتى النبيَّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم فَذَكَرَلَهُ ذلك فقال : “أَفَتَانٌ أَنْتَ يا معاذُ… أَفَتَانٌ أَنْتَ يا معاذُ…إقرأْ سورةَ كذا وكذا”

Benarlah iapun menghadap Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam. Ahirnya Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda, ’Apakah engkau tukang fitnah hai Muadz? Apakah engkau tukang fitnah hai Muadz? Baca saja surat ini atau itu (yaitu surat yang sedang bacaannya)’” (HR. Ibnu Hibbaan, yang hadits semisal juga terdapat dalam shahiih al bukhaariy dan juga shahiih muslim )

Juga sebagaimana hadits Buraydah al Aslami:

أن معاذ بن جبل صلى بأصحابه العشاء فقرأ فيها اقتربت الساعة

Bahwasanya Muadz bin Jabbal mengimami shalat Isya bagi para sahabatnya, lalu ia membaca iqtarabatis saa’ah (Surah Al-Qomar)

فقام رجل من قبل أن يفرغ فصلى وذهب

Kemudian seorang laki-laki keluar sebelum selesai lalu shalat (sendiri) kemudian pergi.

فقال له معاذ قولًا شديدًا

(Setelah mengetahui hal ini) Muadz mengatakan perkataan yang kasar (kepadanya).

فأتى النبي صلى اللَّه عليه وسلم فاعتذر إليه وقال‏:‏ إني كنت أعمل في نخل وخفت على الماء فقال رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يعني لمعاذ‏:‏

Lalu laki-laki itu menemui Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam dan menyampaikan alasannya kepada beliau, ia mengatakan, “Sesungguhnya aku bekerja di kebun kurma, dan aku khawatir terhadap airnya” Maka Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam berkata (kepada Muadz) :

صلِ بالشمس وضحاها ونحوها من السور‏

‘Shalatlah dengan membaca Wasy syamsi Wadhuha-ha dan surah-surah yang setara dengan itu’” (HR. Ahmad dengan sanad sahih).

Rasuulullaah tidak mengingkari shalatnya seorang yang keluar dari jama’ah dan shalat sendirian karena sebab diatas. Maka seorang yang keluar dari jama’ah karena shalat imam yang terlalu cepat lebih layak untuk dibenarkan.

Cara kedua: Membatalkan niat kita bermakmum pada imam tersebut, dan melanjutkan shalat secara sendirian.

Sebagaimana dalam hadits Anas:

كان معاذ بن جبل يؤم قومه فدخل حرام وهو يريد أن يسقي نخله فدخل المسجد ليصلي مع القوم

“Adalah Mu’aadz ibn jabal mengimami kaumnya, dimana si Haram yang bermaksud hendak menyiram pohon kurmanya, lebih dahulu masuk masjid bersama-sama kaumnya.

فلما رأى معاذًا طَوَّلَ تَجَوَّزَ في صلاته وَلَحِقَ بِنَخْلِهِ يَسْقِيْهِ

Setelah ia melihat Mu’aadz memanjangkan bacaannya, maka iapun mempercepat shalatnya dan mendatangi pohon kurmanya untuk menyiramnya.

فلما قضى معاذُ الصلاةَ قيل له ذلك قال‏:‏ إنه لَمُنَافِقٌ أَيَعْجَلُ عن الصلاةِ من أَجْلِ سَقْيِ نَخْلَهُ

Setelah Mu’adz selesai mengerjakan shalatnya, halnya si Haram itu disampaikan kepadanya. Maka Mu’adzpun berkata: “ia seorang munafik! Adakah ia mempercepat shalat hanya karena akan menyiram pohon kurmanya?!!”.

Anas melanjutkan,

فَجَاءَ حرامٌ إلى النبيِّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم ومعاذٌ عِنْدَهُ فقال‏:‏

“Maka si Harampun menghadap Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan ketika itu Muadzpun berada di dekat Nabi. Maka Haram berkata,

يا نبي اللَّه إني أَرَدْتُ أن أَسْقِيَ نَخْلًا لي فَدَخَلْتُ الْمسجدَ لِأُصَلِّيَ مع القومِ فلما طَوَّلَ تَجَوَّزَ في صلاتي وَلَحِقْتُ بِنَخْلِيْ أَسْقِيْهِ فَزَعَمَ أَنِّي مُنَافِقٌ

“Wahai Nabi Allah, aku bermaksud hendak menyiram pohon kurmaku, maka aku masuk masjid untuk shalat berjamaah. Setelah kujumpai Mu’adz yang menjadi imam memanjangkan bacaan Qur’annya, aku lalu mempercepat shalatku dan setelah selesai aku menengok pohon kurmaku untuk menyiramnya. Dan Muadz malah menuduh aku seorang munafik.”

Anas melanjutkan:

فَأَقْبَلَ النبيُّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم على معاذٍ فقال‏:‏ أَفَتَّانٌ أَنْتَ ؟ أَفَتَّانٌ أَنْتَ ؟ لا تُطَوَّلْ بِهِمْ اقرأ بسبح اسم ربك الأعلى والشمس وضحاها وَنَحْوِهِمَا‏

Maka Nabi lalu memandang kepada Muadz seraya sabdanya, “Adakah engkau menjadi tukang fitnah? Adakah engkau menjadi tukang fitnah? Janganlah kamu perpanjang membaca surat Qur’an di waktu menjadi imam orang banyak. Bacalah surat “Sabbihisma rabbikal a’la-“ dan “Wasy syamsi Wadhuha-ha-“ atau surat yang sesamanya.

(Diriwayatkan Ahmad dengan sanad yang shahiih)

Dalam hadits diatas disebutkan bahwa haraam tetap pada tempatnya yang kemudian menyelsaikan shalatnya secara sendirian dengan shalat yang ringkas. Tata cara shalatnya ini tidak diingkari Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Maka apabila kita mendapati imam yang tidak thuma’ninnah dalam shalatnya tentu hal ini lebih berhak untuk dilakukan.

Dua hadits diatas tidak bertentangan, Dikatakan oleh Imaam asy Syawkaaniy bahwa hadits-hadits diatas dapat dikompromikan bahwa peristiwanya tidak hanya terjadi sekali (sebagaimana dilihat dalam konteks haditsnya yang berbeda-beda dari sisi pelaku dan alasan yang beragam). Kalaupun harus dirajihkan, maka hadits yang diriwayatkan al Bukhaariy dan Muslim. [Nailul Authar 1, hal. 736].

Adapun yang terbaik, maka hendaknya kita melakukan cara yang pertama

Karena hal ini lebih aman dari kesalahpahaman masyarakat. Karena kalau kita tetap di shaff kita, kemudian secara menyendiri kita berbeda dengan imam dan jamaa’ah tentunya hal ini akan menjadikan orang-orang sekitar salah paham! Karena memang kebanyakan mereka tidak mengetahui hadits yang menjadi dasar pengamalan kita. Adapun jika kita keluar memisahkan diri, maka ini masih dapat diterima kebanyakan orang.

Bagaimana jika kita terlambat dari shalat berjama’ah yang diadakan di Masjid?

Maka ada tiga cara:

Cara pertama, kembali pulang ke rumah dan shalat jama’ah bersama keluarga

Hal inilah yang dilakukan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Bakrah radhiyallaahu ‘anhu :

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ أَقْبَلَ مِنْ نَوَاحِيْ المَدِيْنَةِ يُرِيْدُ الصَّلاَةََ فَوَجَدَ النَّاسَ قَدْ صَلَّوْا فَمَالَ إِلَى مَنْزِلِهِ فَجَمَعَ أَهْلَهُ فَصَلَّى بِهِمْ

Sesungguhnya Rasulullah datang dari pinggiran Madinah ingin menunaikan shalat. Lalu mendapati orang-orang telah selesai shalat berjama’ah. Maka beliau PULANG KE RUMAHNYA, dan mengumpulkan keluarganya dan SHALAT BERSAMA MEREKA. (diriwayatkan ath thabraaniy, dikatakan Al albaaniy bahwa sanadnya berderajat HASAN)

Cara kedua, bergabung dengan jama’ah yang datang setelahnya.

Sebagaimana yang diamalkan Anas bin Malik, sebagaimana yang tertera dalam riwayat berikut:

جَاءَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ إِلَى مَسْجِدٍ قَدْ صُلِّيَ فِيهِ فَأَذَّنَ وَأَقَامَ وَصَلَّى جَمَاعَةً

Anas bin Malik datang ke masjid yang telah selesai ditegakkan sholat padanya, maka beliau adzan dan iqomat dan sholat berjamaah

(diriwayatkan oleh alBukhari secara ta’liq dan menurut alHafidz riwayat ini dimaushulkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya, juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Abdurrozzaq)

Cara ketiga, mencari masjid lain yang diperkirakan secara kuat masih mengadakan shalat (belum selesai)

Sebagaimana hal ini merupakan amalan salafush shaalih. Simaklah kisah inpiratif berikut yang dipetik dari al Kabaa`ir karya adz Dzahabiy:

Dihikayatkan dari ’Ubaydullaah bin ‘Umar al Qawaririy, bahwa ia berkata:

لم تكن تفوتني صلاة العشاء في الجماعة قط ، فنزل بي ليلة ضيف فشغلت بسببه و فاتتني صلاة العشاء في الجماعة ، فخرجت أطلب الصلاة في مساجد البصرة ، فوجدت الناس كلهم قد صلوا و غلقت المساجد

“Aku belum pernah ketinggalan shalat ‘isyaa` secara berjama’ah (di masjid) walaupun sekali. Suatu malam aku kedatangan tamu, sehingga akupun tersibukkan sehingga ketinggalan shalat ‘isyaa` berjama’ah (yaitu ditemuinya shalat telah selesai). Maka aku pun mencoba mencari masjid lain, yang mungkin masih ada jamaa’ah ‘isyaa` diseantero kota bashrah. Namun aku dapati semua orang sudah selesai mengerjakannya dan pintu masjid telah dikunci.

فرجعت إلى بيتي و قلت قد ورد في الحديث إن صلاة الجماعة تزيد على صلاة الفرد بسبع و عشرين درجة ، فصليت العشاء سبعاً و عشرين مرة

Maka aku sampai ke rumahku dan aku bergumam, “terdapat suatu hadits yang menyatakan bahwa shalat berjamaa’ah itu lebih utama 27 derajat daripada shalat sendirian” maka akupun shalat ‘isyaa` sendirian 27 kali.

ثم نمت ، فرأيت في المنام كأني مع قوم على خيل و أنا أيضاً على فرس و نحن نستبق ، و أنا أركض فرسي فلا ألحقهم ، فالتفت إلى أحدهم فقال لي لا تتعب فرسك فلست تلحقنا قلت و لم ؟ قال لأنا صلينا العشاء في جماعة و أنت صليت وحدك فانتبهت و أنا مغموم حزين لذلك

Kemudian aku tidur, dan aku pun bermimpi seakan-akan aku bersama suatu kaum yang semuanya menunggang kuda perang; aku pun juga menunggang kuda. Kami berpacu. Aku mengendalikan kuda sekencang-kencangnya, tapi tetap tidak bisa mencapai mereka. Aku memperhatikan salah seorang dari mereka, kemudian ia berkata kepadaku: ‘Jangan kami forsir kudamu, sekali-kali kamu tidak akan pernah bisa menyusul kami’. Kutanyakan padanya: ‘Mengapa begitu?’ dijawabnya: ‘Karrena kami mengerjakan shalat ‘isyaa` secara berjamaa’ah sedangkan kamu mengerjakannya secara sendirian’. Lalu aku terbangun dan diliputi rasa sedih dan sesal tiada tara.”

Adapun cara pengkompromiannya:

1. Apabila kita dapati ada jama’ah yang akan mengiriingi jama’ah yang telah selesai; hendaknya kita shalat berjama’ah bersama mereka. Sebagaimana hadits Anas.

2. Apabila tidak kita dapati jama’ah, tapi kita merasa bahwa masjid lain masih mengadakan jama’ah, maka hendaknya kita segera mencari masjid lain terdekat sehingga kita bisa ikutan berjama’ah bersama mereka. Sebagaimana hikayat dari ‘Ubaydullah bin ‘Umar diatas.

3. Apabila kita merasa kemungkinan besar masjid-masjid telah selesai menunaikan jama’ah (dan nampaknya tidak ada lagi yang shalat jama’ah didalamnya, atau masjid-masjid sudah dikunci); maka hendaknya kita kembali ke rumah dan shalat jama’ah bersama keluarga. Sebagaimana hadits Rasuulullaah diatas.

Apakah keutamaan shalat berjama’ah di masjid, HANYA KHUSUS dimiliki jama’ah pertama?

Adapun keutamaan shalat berjama’ah di masjid, maka ini TIDAK HANYA KHUSUS dimiliki imam dan jama’ahnya, tapi juga pada jama’ah-jama’ah shalat yang datang setelahnya; berdasarkan keumuman hadits-hadits yang berkaitan keutamaan shalat berjama’ah atas shalat sendirian.

Bahkan disebutkan dalam mughni al muhtaaj:

لو صلى في بيته لصلى جماعة وإذا صلى في المسجد صلى وحده فصلاته في بيته أفضل

Seandainya seseorang dapat shalat di rumahnya dengan berjama’ah, sementara jika ia shalat di masjid, maka akan ditunaikannya secara sendirian (karena terlambat, dan kemungkinan besar tidak mendapatkan ‘partner’ untuk shalat berjama’ah bersamanya), maka shalatnya di rumahnya LEBIH UTAMA.

(Mughni al Muhtaaj: 1/229)

Adapun hadits:

صلاة الرجل في جماعة تزيد على صلاته في بيته، وصلاته في سوقه بضعا وعشرين درجة

Shalatnya seseorang berjama’ah (di masjid), lebih unggul dua puluh sekian derajat daripada shalatnya di rumah atau shalatnya di pasar…

Maka ini adalah perbandingan shalat berjama’ah di masjid; dengan shalat SENDIRIAN di rumah dan dipasar. BUKAN perbandingan shalat jama’ah di masjid, dan shalat jama’ah di rumah dan di pasar. Bahkan Imam Nawawiy membantah dengan keras bathilnya pemahaman seperti ini [Simak syarah shahiih muslim karya beliau].

Adapun yang benar, bahwa hadits diatas menjelaskan tetang keutamaan shalat berjama’ah atas sendirian. Disebutkannya pasar atau rumah; karena secara keumuman orang yang shalat di rumah atau pasar ditunaikan secara sendirian. [simak ‘Awnul Ma’buud: 2/186] Maka siapapun yang mengerjakan shalat berjama’ah, maka ia mendapatkan keutamaan 25/27 derajat; terlepas tempat pelaksanaannya. Hanya saja, pelaksanaan di masjid lebih utama daripada selainnya. Wallaahu a’lam.

Apakah jama’ah kedua di masjid merupakan bentuk pemecah belahan kaum muslimin?

Tentu jama’ah yang datang setelah jama’ah pertama ini bukanlah sesuatu yang diniatkan untuk disengajakan untuk memecah belah kaum muslimiin; tapi karena memang, kebanyakan yang kita dapati dari jama’ah-jama’ah yang datang setelahnya ini, terlambat datang karena berbagai hajat mereka; yang kedatangan mereka tersebut tidaklah dimaksudkan untuk menyengaja mengindari imam, atau menyengaja membuat jama’ah baru ‘tandingan’ di masjid tersebut… Tapi didasari karena ingin mendapatkan pahala memakmurkan masjid, juga ingin mendapatkan pahala shalat berjama’ah.

Adapun JIKA menyengaja membuat jama’ah baru, dan menyengaja mengangkat imam lain karena ketidaksukaan dengan imam tetap, sehingga tidak mau shalat dengan imam rawatib, kemudian baru melakukan jama’ah kedua dengan imam yang lain… Maka ini jelas tercela dan bentuk pemecahbelahan dalam tubuh kaum muslimiin, yang hal ini tentu tidak dibenarkan.

Bolehkah wanita mendatangi shalat berjama’ah di masjid?

Boleh bagi wanita datang ke masjid, bahkan tidak boleh seorang suami melarang istrinya untuk datang, demikian pula tidak boleh seorang ayah melarang anak perempuannya yang ingin mendatangi masjid. HANYA SAJA perlu diperhatikan batasan-batasannya, bahwa wanita tersebut harus menjaga auratnya, dan menjaga dirinya agar tidak menjadi sumber fitnah bagi lelaki. Oleh karena itu, shalat mereka di rumahnya lebih utama daripada ke masjid. Bahkan shalat mereka didalam kamar (tempat tersembunyi dalam rumah) lebih utama daripada shalat diluar kamar.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

قد علمت أنك تحبين الصلاة معي ، وصلاتك في بيتك خير لك من صلاتك في حجرتك ، وصلاتك في حجرتك خير من صلاتك في دارك ، وصلاتك في دارك خير لك من صلاتك في مسجد قومك ، وصلاتك في مسجد قومك خير لك من صلاتك في مسجدي

“Aku sudah tahu engkau menyukai shalat bersamaku, (akan tetapi) shalatmu di rumahmu (tempat paling dalam –red) lebih baik daripada shalatmu di kamar, shalatmu di kamarmu lebih baik daripada shalatmu di rumahmu (diluar kamar), shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu, shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalamu di masjidku (Masjid Nabawi)”

(HR Ahmad, dll; dinilai shahiih al albaaniy)

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Ibadah, Shålat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s