Klaim cinta yang palsu

Perkataan para ‘ulamaa` terhadap klaim cinta yang palsu

Berkata Hasan al Bashriy rahimahullaah:

اعلم أنك لن تحب الله حتى تحب طاعته

Ketahuilah sesungguhnya engkau TIDAK MENCINTAI ALLAAH, SAMPAI ENGKAU MENCINTAI UNTUK TAAT KEPADA-NYA

Berkata pula Bisyr ibnus Sariy rahimahullaah:

ليس من أعلام الحب أن تحب ما يبغضه حبيبك

TIDAKLAH termasuk tanda-tanda kecintaan (terhadap kekasihmu), jika engkau malah mencintai apa-apa yang dimurkai oleh kekasihmu.

Berkata pula Ruwaym:

المحبة الموافقة في كل الأحوال

Cinta adalah menyesuaikan diri (terhadap pihak yang dicintai) dalam SELURUH KONDISI

Berkata Abu Ya’qub an Nahr Juuriy (Ishaaq bin Muhammad) :

كل من ادعى محبة الله عز وجل ، ولم يوافق الله في أمره ، فدعواه باطل

SETIAP orang yang MENGKLAIM “CINTA KEPADA ALLAAH ‘azza wa jalla’”, tapi TIDAK MENSINKRONKAN diri dengan perintah-perintahNya, maka klaimnya tersebut BAATHIL.

Berkata Yahya bin Mu’aadz:

ليس بصادق من ادعى محبة الله ولم يحفظ حدوده

TIDAK BENAR orang-orang yang MENGKLAIM “cinta kepada Allaah” sementara ia TIDAK MENJAGA batasan-batasanNya.

Dan sebagian salaf yang berkata:

من أحب الله لم يكن عنده شيء آثر من رضاه ، ومن أحب الدنيا لم يكن عنده شيء آثر من هوى نفسه

Barangsiapa yang cinta kepada Allaah, maka tidaklah ia mempunyai sesuatu yang ia lebih utamakan daripada keridhaanNya. Dan barangsiapa yang mencintai dunia, maka tidaklah sesuatu yang lebih ia pentingkan daripada hawa nafsunya.

(Atsar-atsar diatas terdapat dalam jaami’ul ‘uluum wal hikam karya ibnu rajab, dikutip via islamweb)

Berkata Imam asy Syaafi’iy:

من ادعى أنه جمع بين حب الدنيا وحب خالقها في قلبه فقد كذب

Barangsiapa mengaku dapat menggabungkan dua cinta dalam hatinya, cinta dunia sekaligus cinta Allah, maka dia telah berdusta.

تعصي الاله وأنت تظهر حبه | هذا محال في القياس بديع

Kau bermaksiat lalu mengaku mencintai-Nya? ini sungguh mustahil terjadi

لو كان حبك صادقا لأطعته | ان المحب لمن يحب مطيع

Andaikan cintamu itu sejati kau pasti menaati-Nya! Sesungguhnya seorang pencinta akan taat kepada yang dicintainya

Teladan ‘ulamaa` yang jujur dalam mencintai Allaah

Berkata al Hasan:

ما ضربت ببصري ، ولا نطقت بلساني ، ولا بطشت بيدي ، ولا نهضت على قدمي حتى أنظر على طاعة أو على معصية ؟ فإن كانت طاعته تقدمت ، وإن كانت معصية تأخرت

Tidaklah aku melihat dengan mataku, berbicara dengan lisanku, bergerak dengan tanganku, dan berjalan diatas kakiku… Hingga aku berpikir, apakah ia diatas ketaatan? ataukah diatas kemaksiatan? Maka jika diatas ketaatan, aku lanjutkan… Dan jika dalam kemaksiatan, maka aku mundur…

Muhammad ibnul Fadhl al Balkhiy berkata:

ما خطوت منذ أربعين سنة خطوة لغير الله عز وجل

Dalam EMPAT PULUH TAHUN, tidaklah aku pernah untuk melangkah selangkah kaki pun, untuk selain Allaah ‘azza wa jalla

Dikatakan kepada Daud ath Thaa’iy: ‘bagaimana kalau engkau berpindah dari tempat berteduhmu, ke tempat yang kena sinar matahari?’, maka beliau menanggapi:

هذه خطى لا أدري كيف تكتب

Ini adalah langkah kaki yang aku tidak tahu bagaimana yang seperti itu ditulis (dalam catatan amal)[1. Maknanya, sungguh beliau tidak mau catatan amal beliau ‘terkotori’ dengan langkah kaki yang sia-sia. Jika yang seperti ini saja beliau hindari, maka tentu beliau sangat jauh dari langkah kaki kepada kemaksiatan kepada Allaah atau hal-hal yang samar!!!]

Maka ibnu Rajab mengomentari atsar-atsar diatas:

فهؤلاء القوم لما صلحت قلوبهم ، فلم يبق فيها إرادة لغير الله عز وجل ، صلحت جوارحهم ، فلم تتحرك إلا لله عز وجل ، وبما فيه رضاه ، والله تعالى أعلم .

Maka inilah kaum yang baik hatinya, yang didalamnya tidaklah ada keinginan kepada selain Allaah. Maka (dengan baiknya hatinya) baik pula jasadnya, yang tidaklah ia tergerak, kecuali hanya karena Allaah[2. Mereka inilah yang nampak pada mereka apa yang disabdakan Rasuulullaah:

أَلاَ إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَة

“…Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ini ada segumpal daging

إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ

apabila ia (segumpal daging) tersebut baik, baiklah seluruh jasadnya

وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ،

dan apabila ia (segumpal daging) tersebut rusak (buruk), maka rusaklah (buruklah) seluruh jasadnya.

أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati”

(HR al Bukhaariy)

Juga sebagaimana sabda beliau:

من أعطى لله ، ومنع لله ، وأحب لله ، وأبغض لله ، وأنكحَ للهِ ، فقد استكمل الإيمان

Barangsiapa yang memberi hanya semata-mata karena Allaah, menahan hanya semata-mata karena Allaah, mencintai hanya semata-mata karena Allaah, menikah hanya semata-mata karena Allaah, serta membenci hanya semata-mata kerena Allaah… Maka ia telah menyempurnakan iimaannya…

(Shahiih; HR at Tirmidziy)], dan kepada apa-apa yang diridhaiNya. Wallaahu a’lam.

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s