Harapkanlah cintaNya dengan bersungguh-sungguh menempuh jalan yang dicintaiNya

Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ اللهَ ، إذا أحبَّ عبدًا ، دعا جبريلَ فقال : إنِّي أحبُّ فلانًا فأحِبَّه . فيُحبُّه جبريلُ . ثمَّ يُنادي في السَّماءِ فيقولُ : إنَّ اللهَ يُحبُّ فلانًا فأحِبُّوه . فيُحبُّه أهلُ السَّماءِ . ثمَّ يُوضعُ له القَبولُ في الأرضِ

Sesungguhnya jika Allaah mencintai seorang hamba, maka Dia menyeru (malaikat) jibriil: “Sesungguhnya Aku mencintai si fulaan, maka cintailah ia.” Maka malaikat jibriil pun mencintainya, lalu ia menyeru kepada penduduk langit dengan berkata: “Sesungguhnya Allaah mencintai fulaan, maka hendaklah kalian semua mencintainya” maka mereka semua pun mencintainya. Kemudian ditanamkan kecintaan padanya di bumi.

وإذا أبغض عبدًا دعا جبريلَ فيقولُ : إنِّي أُبغِضُ فلانًا فأبغِضْه . فيُبغضُه جبريلُ . ثمَّ يُنادي في أهلِ السَّماءِ : إنَّ اللهَ يُبغِضُ فلانًا فأبغِضوه . فيُبغِضونه . ثمَّ تُوضعُ له البغضاءُ في الأرضِ

Dan jika (Allaah) memurkai seorang hamba, maka Dia menyeru pada (malaikat) jibriil: “Sesungguhnya Aku memurkai si fulaan, maka murkailah ia”, maka jibriil pun memurkainya. Kemudian dia menyeru kepada penduduk langit: “sesunguhnya Allaah memurkai fulaan, maka hendaklah kalian semua memurkainya!” Maka merekapun memurkainya. Kemudian ditanamkanlah kebencian terhadapnya di bumi.

(HR Muslim)

Maka tidakkah hadits diatas ini diambil pelajaran oleh orang-orang yang bersusah-payah mencari kecintaan makhluuq tapi malah mengorbankan keridhaan Sang Pencipta!?!

1. Allaah murka kepadanya

2. Dia juga tanamkan kemurkaan itu pada makhluqNya yang paling mulia

3. Dan juga ditanamkan pula kebencian itu di bumi

Maka kalaupun ia mendapatkan ‘kecintaan’ dari makhluuq, maka kecintaan tersebut didapatkan dari orang-orang seperti dirinya atau dari orang-orang jaahil…

Apalah artinya mendapatkan kecintaan dari beberapa orang yang belum tentu kecintaan mereka itu mengartikan keridhaan Allaah?! terlebih lagi jika ‘cara meraih kecintaan mereka’ ditempuh dari jalan-jalan yang dimurkai Allaah… maka tentu hal ini tidak akan mendatangkan kecintaanNya… Demikian pula adanya kecintaan yang datang dari orang-orang yang mencintanya maka dapat dipastikan bukan didasarkan karena Allaah; tapi karena kebodohan atau hawa nafsu mereka…

Tapi jika seseorang mengharapkan kecintaan Allaah… Maka hendaklah dia bersungguh-sungguh menempuh jalan yang diridhaiNya[1. Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَـى قَالَ : مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu YANG LEBIH AKU CINTAI, daripada perkara-perkara yang AKU WAJIBKAN kepadanya. Hamba-Ku TIDAK HENTI-HETINYA mendekat kepada-Ku dengan nawaafil (ibadah-ibadah sunnah), hingga Aku mencintainya…”

(Diriwayatkan al Bukhaariy dan selainnya)]… Maka sungguh ia akan mendapatkan kecintaan Allaah -dan sungguh cintaNya itu sudah cukup-, dan cintaNya itu, akan disertai pula kecintaan penduduk langit… dan ia pun akan dicintai wali-waliNya karena sebagaimana Dia menjadikan mereka cinta kepada ketaatan kepadaNya, maka Dia pun akan menjadikan mereka cinta terhadap orang yang dicintaiNya yang jujur mencintaNya… meskipun mereka itu sangat sedikit…

Mintalah kecintaanNya padaNya dan tempuhlah jalan yang dicintaiNya

Rasuulullaah mengajarkan suatu doa, yang hendaknya doa tersebut kita pelajari dan dalami maknanya dan hendaknya kita menghafalkannya; kemudian berusaha menghadirkan maknanya ketika membacanya. Ingatlah pula, bahwa doa ini pun adalah doa yang Allaah sendiri perintahkan kepada Rasuulullaah untuk membacanya, yaitu doa:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ

allåhumma inni as-aluka

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu

فِعْلَ الْخَيْرَاتِ

fi’lal khåyrååt

agar aku dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik,

وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ

wa tarkal munkarååt

meninggalkan perbuatan munkar,

وَحُبَّ الْمَسَاكِيْنِ

wa hubbal masaakiin

mencintai orang miskin,

وَأَنْ تَغْفِرَ لِيْ وَتَرْحَمَنِيْ

wa antaghfiråliy watarhamaniy

dan agar Engkau mengampuni dan menyayangiku.

وَإِذََا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِيْ غََيْرَ مَفْتُوْنٍ

wa idzaa aråd-ta fitnata qåwmin, fatawaffaniy ghåyrå maftuun

Jika Engkau hendak menimpakan suatu fitnah (malapetaka) pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah itu.

وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ

wa as-aluka hubbak,

Dan aku memohon kepada-Mu rasa cinta kepada-Mu,

وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ

wa hubba man yuhibbuk

rasa cinta kepada orang-orang yang mencintaimu,

وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِيْ إِلَى حُبِّكَ

wa hubba ‘amalin yuqårribuniy ila hubbik.

dan rasa cinta kepada segala perbuatan yang mendekatkanku untuk mencintai-Mu”

(HR Ahmad, at-Tirmidziy, dll dengan sanad yang shahiih)

Cara mendapatkan cintaNya: Senantiasa menetapi kejujuran dan menjauhi kedustaan

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”

(HR. Muslim)

Maka hendaknya kita menetapi kejujuran karena kejujuran adalah PANGKAL dari SEGALA KEBAIKAN (lihat hadits diatas). Ingatlah pula bahwa kejujuran amalan yang paling dicintai Allaah, dan orang-orang jujur adalah orang yang paling tinggi kedudukannya disisiNya setelah nabi-nabiNya.

Sebagaimana Allaah berfirman:

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para SHIDDIQIIN, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

(an-Nisaa` : 69)

Lihatlah bagaimana Allaah mendahulukan shiddiqiin daripada kategori-kategori lainnya! Bahkan makhluq terbaik setelah nabi dan rasuul adalah seorang yang digelari ash-shiddiiq, dialah Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu.

Berkata Abu Bakar bin ‘Ayyaash:

مَا سَبَقَهُمْ أَبُو بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صَلاَةٍ وَلاَ صِيَامٍ وَلَكنْ بشَىْءٍ وَقَرَ في قَلْبِهِ

“Tidaklah Abu Bakr mengungguli para sahabat yang lain dengan banyaknya sholat dan puasa, akan tetapi karena sesuatu yang terpatri di hatinya”

(Kutipan)

Yakni karena KEBENARAN dan KEJUJURAN IMANNYA.

Maka hendaknya kita berlaku jujur… karena kejujuran adalah perbuatan yang paling dicintai Allah… Hendaknya kita jujur terhadap Allaah, terhadap diri kita sendiri, terhadap orang-orang sekitar… jujur dalam hati, perkataan, maupun perbuatan.. yang nampak maupun tersembunyi.. dalam keramaian maupun dalam kesendirian.. Niscaya kita akan mendapat cintaNya, cinta makhluqNya termulia dari penduduk langit; dan juga cinta wali-waliNya di bumi; meskipun mereka sedikit, yang kecintaan mereka itupun bukan dengan kemauan kita, tapi karena hal itu ditanamkan oleh sang Pemilik Hati kepada orang-orang yang diridhaiNya, agar mereka mencintai orang-orang yang dicintaiNya…

Jauhilah segala jenis kedustaan; karena kedustaan itu seburuk-buruk amalan, dan ia hanyalah semakin menjauhkan kita dariNya karena ia adalah AKAR dari segala keburukan…

Ingatlah bahwa seburuk-buruk makhluuq disisi Allaah, adalah pendusta… Di dunia mereka tidak diberi petunjuk, dan diaakhirat mereka mendapatkan seburuk-buruk siksa, na’uudzubillaah.

Allaah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Sesungguhya Allaah tidak memberi petunjuk kepada PENDUSTA lagi kafir

(az Zumar: 3)

Allaah berfirman:

وَنَقُولُ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ…

Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim: “Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu”.

(Saba`: 42)

Allaah berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ

Sesungguhnya orang-orang munaafiq itu ditempatkan di neraka yang paling bawah…

(an-Nisaa`: 145)

Sedangkan Allaah mensifati mereka:

وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

…dan Allah mempersaksikan bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.

(al-Munaafiquun : 1)

Demikian pula, penghuni neraka yang pertama kali dimasukkan kedalam neraka yang menjadi kobaran api neraka; adalah dari kalangan pendusta[1. Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ نَزَلَ إِلَى الْعِبَادِ لِيَقْضِيَ بَيْنَهُمْ ، وَكُلُّ أُمَّةٍ جَاثِيَةٌ ، فَأَوَّلُ مَنْ يَدْعُو بِهِ

“Sesungguhnya pada hari kiamat nanti Allah subhanahu wa ta’ala akan turun kepada para hamba-Nya untuk mengadili mereka, dan saat itu masing-masing dari mereka dalam keadaan berlutut. Lantas yang pertama kali dipanggil oleh-Nya (tiga orang):

رَجُلٌ جَمَعَ الْقُرْآنَ ، وَرَجُلٌ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، وَرَجُلٌ كَثِيرُ الْمَالِ

Seorang yang rajin membaca Al Quran, orang yang berperang di jalan Allah dan orang yang hartanya banyak.

فَيَقُولُ لِلْقَارِئِ

Maka Allah pun berkata kepada si Qaari`:

أَلَمْ أُعَلِّمْكَ مَا أَنْزَلْتُ عَلَى رَسُولِي ؟

‘Bukankah Aku telah mengajarkan padamu apa yang telah Aku turunkan kepada Rasul-Ku?’

قَالَ : بَلَى ، يَا رَبِّ

Si Qori’ menjawab, ‘Benar, yaa Rabb.’

قَالَ : فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا عُلِّمْتَ ؟

Allah kembali bertanya, ‘Lantas apa yang telah engkau amalkan dengan ilmu yang engkau miliki?’

قَالَ : كُنْتُ أَقُومُ بِهِ أَثْنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ

Ia menjawab, ‘Aku menegakkannya (didalam shalat-shalatku dan dakwahku) di malam maupun siang hari,’

فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ : كَذَبْتَ

serta merta Allah berkata, ‘Engkau telah berdusta!’

وَتَقُولُ الْمَلائِكَةُ : كَذَبْتَ

Para malaikat juga berkata, ‘Engkau dusta!’

وَيَقُولُ اللَّهُ : بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ : فُلانٌ قَارِئِي ، فَقَدْ قِيلَ

Lantas Allah berfirman, ‘Akan tetapi (engkau membaca Al Quran) agar supaya engkau disebut-sebut qaari`! Dan (pujian) itu telah engkau dapatkan (di dunia).’

Råsulullåh bersabda:

وَيُؤْتَى بِصَاحِبِ الْمَالِ ، فَيَقُولُ اللَّهُ

Kemudian didatangkanlah seorang yang kaya raya, lantas Allah berfirman padanya,

أَلَمْ أُوَسِّعْ عَلَيْكَ حَتَّى لَمْ أَدَعْكَ تَحْتَاجُ إِلَى أَحَدٍ ؟

‘Bukankah telah Kuluaskan (rizki)mu hingga engkau tidak lagi membutuhkan kepada seseorang?”

قَالَ : بَلَى

Dia menyahut, ‘Betul.’

قَالَ : فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا آتَيْتُكَ ؟

Allah kembali bertanya, ‘Lantas engkau gunakan untuk apa (harta) yang telah Kuberikan padamu?’

قَالَ : كُنْتُ أَصِلُ الرَّحِمَ ، وَأَتَصَدَّقُ

Si kaya menjawab, ‘(Harta itu) aku gunakan untuk silaturrahmi dan bersedekah.’

فَيَقُولُ اللَّهُ : كَذَبْتَ

Serta merta Allah berkata, ‘Engkau dusta!’

وَتَقُولُ الْمَلائِكَةُ : كَذَبْتَ

Para malaikat juga berkata, ‘Engkau dusta!’

فَيَقُولُ اللَّهُ : بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ : فُلانٌ جَوَّادٌ ، فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ

Lalu Allah berfirman, ‘Akan tetapi engkau (beramal demikian karena) ingin dikatakan sebagai orang yang dermawan! Dan (pujian) itu telah engkau dapatkan (di dunia).’

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَيُؤْتَى بِالَّذِي قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، فَيُقَالُ لَهُ

Lantas didatangkan orang yang berperang di jalan Allah, kemudian dikatakan padanya,

فِيمَ قُتِلْتَ ؟

‘Apa tujuanmu berperang?’

فَيَقُولُ : أُمِرْتُ بِالْجِهَادِ فِي سَبِيلِكَ ، فَقَاتَلْتُ حَتَّى قُتِلْتُ

Orang itu menjawab, ‘(Karena) Engkau memerintahkan untuk berjihad di jalan-Mu, maka aku pun berperang hingga aku terbunuh (di medan perang).’

فَيَقُولُ اللَّهُ : كَذَبْتَ

Serta merta Allah berkata, ‘Engkau dusta!’

وَتَقُولُ الْمَلائِكَةُ : كَذَبْتَ

Para malaikat juga berkata, ‘Engkau dusta!’

وَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ : بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ : فُلانٌ جَرِيءٌ : فَقَدْ قِيلَ ذَلِكَ

Lalu Allah berfirman, ‘Akan tetapi engkau (beramal demikian karena) ingin dikatakan sebagai si pemberani! Dan (pujian) itu telah engkau dapatkan (di dunia).’

Berkata Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk lututku sambil berkata,

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ، أُولَئِكَ الثَّلاثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ اللَّهِ تُسَعَّرُ بِهِمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

‘Wahai Abu Hurairah, mereka bertiga inilah makhluk Allah yang pertama kali yang dikobarkan dengannya api neraka di hari kiamat.”

(HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya IV:115, no: 2482, Ibnu Hibban juga dalam kitab Shahih-nya II:135, no: 408. Al-Hakim dalam al-Mustadrak 1/415 berkata, “Isnadnya shahih” dan disepakati oleh adz-Dzahaby dan Al Albani)]…

Maka jauhilah kedustaan… Apakah itu kedustaan yang benar-benar kedustaan: dalam hal perkataan dan perbuatan; ataukah kedustaan hati, yang mana perkataan dan perbuatannya secara zhahirnya seakan menampakkan bahwa ia ‘mengharap Allaah’, padahal hatinya juga mengharap pada selainNya… Bahkan ingatlah, sepintar apapun kita menutupi kedustaan kita, maka kedustaan itu akan terasa dan terlihat oleh orang-orang sekitar bahkan sebelum terkuak kedustaannya tersebut[2. ‘Abdullaah bin Salaam radhiyallaahu ‘anhu menceritakan tentang awal kedatangan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam di madinah:

فجِئْتُ في الناسِ لِأَنْظُرَ إليه فلما استَثْبَتُّ وجهَ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم عَرَفْتُ أن وجهَه ليس بوجهِ كذابٍ…

…Maka aku keluar kepada (kerumunan) manusia untuk melihat wajah rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam, maka aku mengetahui bahwa wajah beliau bukanlah wajah seorang pendusta…

(HR Ahmad, at-Tirmidziy, dll; dengan sanad yang shahiih)

Berdasarkan atsar diatas ini, kita mengambil pelajaran:

=> Sepintar apapun seorang menyembunyikan kedustaannya, maka wajah, gelagat dan tindak-tanduknya tidak akan dapat menutupi kegelapan dustanya…

=> Sebaliknya… Seorang yang senantiasa jujur, dalam hati, perkataan dan perbuatannya; maka cahaya kejujurannya tersebut akan nampak pada dirinya, dan itu akan terasa dan terlihat orang sekitarnya, meski hanya sebatas melihat wajahnya…]! Maka janganlah pernah melakukan kedustaan, apalagi menompengkan kebaikan padahal dibaliknya hanyalah kedustaan. Na’uudzubillaah.

Lihatlah pula bagaimana kejujuran dan kedustaan itulah yang menentukan amalan akhir seseorang, sebagaimana sabda beliau:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ

“Sungguh ada seorang hamba yang MENURUT PANDANGAN MANUSIA mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka…

وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Sebaliknya ada seorang hamba yang MENURUT PANDANGAN ORANG melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga..

وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

Sungguh amalan itu tergantung dengan penutupannya.”

(HR. Bukhariy)

Dalam hadits yang lain beliau bersabda:

لَا عَلَيْكُمْ أَنْ لَا تَعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ

“Janganlah kalian merasa kagum dengan seseorang hingga kalian dapat melihat akhir dari amalnya,

فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَانًا مِنْ عُمْرِهِ أَوْ بُرْهَةً مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا سَيِّئًا

sesungguhnya ada seseorang selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal kebaikan, yang sekiranya ia meninggal pada saat itu, ia akan masuk ke dalam surga, namun ia berubah dan beramal dengan amal keburukan.

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّئٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا صَالِحًا

Dan sungguh, ada seorang hamba selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal keburukan, yang sekiranya ia meninggal pada saat itu, ia akan masuk neraka, namun ia berubah dan beramal dengan amal kebaikan.

وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ

Jika Allah menginginkan kebaikan atas seorang hamba maka Ia akan membuatnya beramal sebelum kematiannya, ”

para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, bagaimana Allah membuatnya beramal?”

beliau bersabda:

يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ

“Memberinya taufik untuk beramal shaalih, setelah itu Ia mewafatkannya.”

(HR. Ahmad)

Seorang yang menampakkan amalan kebaikan, padahal niatnya dusta; maka ia akan tertipu dengan amalnya sehingga ia pun ujub dan takabbur, jika ia tidak pernah tersadarkan akan hal ini; atau telah tersadar tapi malah tidak pernah kembali lagi padaNya dengan meluruskan niatnya ini, maka hendaknya ia khawatir akan akhir hidup yang nista. Selama hidupnya ‘memperlihatkan diri’ seperti penghuni surga, tapi kedustaannya tersebut hanyalah membawanya kepada keburukan, hingga ia pun mati diatas hal tersebut; na’uudzubillaah![3. Sebagaimana disebutkan dalam hadiits…

Seorang yang gagah perkasa dalam jihaad; yang jihadnya dipuja-puji orang yang menyaksikannya… tapi akhir hidupnya berakhir dengan na’as, ia membunuh dirinya…

Kenapa? Karena ia berjihad dengan tanpa keikhlashan… Maka ketika ia dihadapkan dengan ujian yang mengharuskannya untuk bersabar, ia tidak mampu untuk bersabar…Amalan yang gagah tadi, tidaklah berefek dalam hatinya, bahkan merusak hatinya… Sehingga ketika dihadapkan dengan ujian, yang mengharuskannya untuk bersabar; maka ia tidak mampu bersabar…

Jikalau jihadnya tersebut ikhlaash… tentulah akan memperbaiki dan memperindah hatinya… tentulah amalan yang dikerjakannya itu akan menambah dan menguatkan keimanannya… sehingga keimanan itu akan dapat menjadi modal baginya dalam menghadapi ujian… Sehingga ketika ia diuji, maka ia sikapi dengan keimanan yang dahulu telah dipupuknya…

Oleh karenanya hendaknya kita menghiasi hidup kita dengan ikhlaash… Sehingga semoga kita wafat diatas iimaan… Aamiin…].

Sebaliknya, seorang yang nampak seakan ia akan binasa; namun ia senantiasa jujur dihadapanNya, menyadari dosa-dosanya, ia senantiasa jujur mengakui dosa-dosanya dihadapanNya, sehingga ia pun senantiasa mengiringi kesalahannya dengan taubat dan istighfar[3. Meski demikian, hal ini bukanlah menjadi dalih untuk MENYENGAJA BERBUAT DOSA. Menyengaja berbuat dosa itu mengurangi kejujuran keimanan kita. Maka hendaknya kita menjauhinya, serta segera senantiasa kembali kepadaNya, kalau tergelincir pada dosa. Bahkan kalaupun jatuh dengan sengaja, maka bukan berarti malah tetap terus demikian; tetaplah untuk segera kembali kepadaNya dan senantiasa mengiringinya dengan taubat dan istighfar; dan bertekad untuk tidak mengulangi lagi, bukannya malah meniatkan untuk melakukan kembali. Inilah orang yang jujur dengan taubatnya, yang taubatnya itu akan menggiringnya kepada akhir hidup yang baik; dengan izinNya]; hingga kejujurannya itu membawanya kepada petunjuk, dan ia pun mengamalkan petunjukNya, hingga akhirnya ia wafat diatasnya.

Maka kita memohon padaNya agar kita digolongkan termasuk orang-orang yang jujur, dan tidak digolongkan serta dijauhkan dari orang-orang yang dusta. Sehingga semoga kita termasuk orang-orang yang diberiNya taufiiq untuk menutup akhir hayat kita dengan amal shaalih. Aamiin.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Aqidah, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s