Lima perangkat tawakkal

Ada lima perkara, yang dengannya tegak dan sempurnanya tawakkal seseorang:

1. Niat yang benar disertai tekad yang kuat

2. Usaha yang maksimal

3. Doa (dan ini terus-menerus dari awal hingga akhir)

4. Penyandaran hati secara total kepada Allaah, tanpa berpaling dariNya sedikitpun (ini pun dituntut awal hingga akhir)

5. Prasangka yang baik kepada Allaah (inipun dari awal hingga akhir)


Penjelasan

1. Niat yang benar disertai tekad yang kuat

Allaah berfirman:

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

…Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam (menghadapi suatu) urusan, maka jika engkau telah BER’AZZAM (bertekad kuat), maka bertawakkallah kepada Allaah

(QS. aali ‘Imraan: 159)

Disebut NIAT yang BENAR, karena kita dapati banyak orang yang niatnya baik, tapi apa yang diniatkannya tersebut tidak benar secara syari’at. Atau sudah benar secara garis besarnya, tapi dalam kurang tepat jika dikaitkan dengan kondisi tertentu. Maka MUSYAWARAHnya dengan ustadz dan ulama akan meluruskan niatnya, demikian pula musyawarahnya dengan seorang yang lebih ahli dalam urusan dunia yang hendak ia terjuni, akan meluruskan langkahnya…

Ketika ia apa yang diniatkannya tersebut sesuai dengan koridor syari’at, dan apa yang hendak dilakukannya tersebut telah ia diskusikannya dengan ahlinya, maka hendaknya ia membulatkan tekad, dan menguatkan tekadnya untuk menempuh usaha. Tidak sepantasnya seorang yang dia sendiri tidak memiliki niat serta tekad yang kuat tentang suatu urusan; lantas kemudian dia berkata: “aku serahkan kepada Allaah saja, lah”… Perkataan diatas ini benar, jika telah ada NIAT yang KUAT dan USAHA untuk mewujudkannya.

2. Usaha yang maksimal

Ada dua hadits yang berkaitan tentang hal ini:

Pertama, hadits:

إذا خرج الرجلُ من بيتِهِ فقال : بِسمِ اللَّهِ ، توَكَّلتُ علَى اللَّهِ ولا حولَ ولا قوَّةَ إلَّا باللَّهِ

Jika seorang lelaki KELUAR dari rumahnya, kemudian berkata: ‘bismillaah, tawakkaltu ‘alaLLaah, laa hawla wa laa quwwata illa biLLaah’…

(Shahiih, HR Abu Daawud)

Dalam hadits diatas, disebutkan “KELUAR dari rumahnya” menandakan ia telah memiliki niat yang kuat, dan telah memulai untuk menempuh usaha… KEMUDIAN dia menyerahkan urusannya kepada Allaah.

Kedua:

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Seandainya kalian bertawakal pada Allâh dengan tawakal yang sebenarnya, maka sungguh Dia akan melimpahkan rezki kepada kalian, sebagaimana Dia melimpahkan rezki kepada burung yang pergi (mencari makan) di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang”

(HR. at-Tirmidziy)

Rasuulullaah mencontohkan tawakkal yang sebenarnya itu ada pada burung. Karena burung mengumpulkan dua hal: (1) USAHA YANG MAKSIMAL, dan (2) penyandaran hati sepenuhnya kepada Allaah.

Lihat bagaimana Rasuulullaah mengatakan bagaimana burung KELUAR (di PAGI hari) dalam keadaan lapar, dan KEMBALI (di sore harinya) dalam keadaan kenyang. Menandakan dari pagi sampai sore’nya ia MENEMPUH USAHA, akan tetapi hatinya sepenuhnya tersandarkan hanya kepada Allaah, Sang Maha Pemberi Rezeki.

Kalaulah burung tersebut tidak keluar dari sarangnya, niscaya ia akan mati kelaparan (karena rizki Allaah tidak turun dengan sendirinya dari langit kemudian masuk ke perutnya). Tapi ia menempuh usaha dengan mencari rizkiNya, dan sepenuhnya menyandarkan hatinya kepada Allaah tentang apa yang dapat ia peroleh dari usahanya tersebut.

Rasuulullaah bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah

(HR Muslim)

3. Doa

Berdasarkan hadits ummu salamah, bahwa beliau berkata:

أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ كانَ إذا خرجَ من بيتِهِ قالَ : بِسمِ اللَّهِ ، توَكَّلتُ على اللَّهِ

Sesungguhnya Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam apabila keluar dari rumahnya, maka ia berkata: ‘bismillaah, tawakkaltu ‘alaLLaah’

(kemudian beliau BERDOA)

اللَّهمَّ إني أعوذ بك أَن أَضِلَّ أو أُضَلَّ ، أَو أَزِلَّ أو أُزَلَّ ،أو أظلم أو أظلم , أو أَجهَلَ أو يُجهَلَ عليَّ

allaahumma inni ‘a-udzubika an a-dhilla au a-dhall, au azilla au uzall, au azhlim au uzhlam, au ajhala au yujhala ‘alayya…

“Ya Allah! sesungguhnya aku berlindung kepadaMu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan (syetan atau orang yang berwatak syetan), atau tergelincir dan digelincirkan (orang lain); atau berbuat zhalim terhadap orang atau dizhalimi orang; atau dari berbuat bodoh atau dibodohi.”

(HR Abu Daawud)

Berdoa tidak hanya diawal urusan saja, tetap senantiasa berdoa agar Allaah senantiasa memberi pertolongan kita dengan kekuatan untuk terus menempuh usaha, dan kemudahan dalam menapakinya.

4. Penyandaran hati secara total kepada Allaah, tanpa berpaling dariNya sedikitpun

Maka ini dituntut sejak awal hingga akhir, semaksimal apapun usaha kita; tidak boleh hati kita malah disandarkan pada usaha tersebut. Bahkan hendaknya hati kita sepenuhnya kita sandarkan pada Dzat yang memberikan kita kekuatan untuk dapat berusaha… Kita sandarkan pada Dzat yang menentukan hasil usaha kita.

Sebagaimana yang kita baca dalam dzikir pagi petang kita:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ،

yaa hayyu yaa qayyuum, bi rahmatika astaghiits

Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu)

أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

ash-lihliy sya’niy kullah, wa laa takilniy ila nafsiy thårfata ‘ayn

“,dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekalipun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu).”

Jika seseorang menyandarkan hatinya pada usahanya tercela, maka alangkah lebih tercela lagi jika hatinya malah disandarkan pada USAHA ORANG LAIN… Dan lebih buruk lagi jika ia menyandarkan hatinya kepada sesuatu benda, yang benda itu sendiri tidak mampu untuk berusaha (sebagaimana aqidahnya kaum musyrikin, yang menggantungkan hati mereka kepada patung-patung, jimat-jimat, dll)… Sungguh ini seburuk-buruk penyandaran hati…

5. Prasangka baik kepada Allaah

Ini pun juga kita hendaknya terpatri dalam hati kita DARI SEMENJAK AWAL kita melangkahkan kaki, proses penempuhan usaha, hingga pulangnya. Prasangka baik kepada Allaah merupakan bagian penting dari tawakkal. Bahkan kurangnya prasangka baik seseorang kepada Allaah, akan menjadikan kurang tawakkalnya kepada Allaah. Apalagi jika sampai malah berprasangka buruk kepada Allaah. Maka ini jauh lebih jelek lagi.

Hendaknya ia justru membidikkan prasangka buruknya pada dirinya yang sangat kurang dalam menunaikan usaha… Ia harus menyadari ia punya banyak kekurangan dalam penunaian usahanya, makanya jangan sampai ia malah lantas menyalahkan Allaah (na’uudzubillaah), padahal dirinya sendiri yang banyak salah, dan kurang dalam usaha.

Sekalipun seseorang telah berusaha semaksimal mungkin dalam menempuh usaha… Maka sebelum ia berburuk sangka kepada Allaah, hendaknya ia justru berburuksangka dirinya yang tidak mengetahui mana yang terbaik untuknya…

وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

(QS. al-Baqarah : 216)

Maka kita berprasangka buruk kepada diri kita yang amat kurang usahanya, yang amat banyak kesalahan dalam penunaiannya… Kita berprasangka buruk kepada diri kita yang tidak mengetahui kebaikan bagi diri kita, meskipun kita telah berusaha maksimal dalam menempuh usaha…

Kita berprasangka baik kepada Allaah dari sejak awal penempuhan usaha, bahwa Dia akan memberi pertolongan kepada kita, memudahkan jalan-jalan kita, dan memberikan yang terbaik untuk kita.

Sungguh kita berprasangka baik kepadaNya, karena Dia berfirman (dalam hadits qudsi)

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku”

Maka kita benar-benar mengharapkan kebaikanNya, dengan prasangka baik kita kepadaNya. Sekaligus ini menjadi peringatan bagi orang-orang yang melampaui batas, yang malah berprasangka buruk padaNya, sehingga ia pun mendapatkan apa yang disangkakannya kepadaNya, na’uudzubillaah.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s