Urgensi meniatkan ibadah ketika mencari nafkah

Sebelumnya hendaknya kita mengetahui bahwa mencari nafkah merupakan salah satu dari kewajiban yang Allaah tetapkan atas hambaNya[1. Simak lebih lanjut: http://abuzuhriy.com/kewajiban-seorang-suamiayah-memberi-nafkah-kepada-isteri-dan-anak-anaknya-dan-keutamaannya/], maka janganlah sampai kita lupa menghadirkan niat ini ketika melakukannya, sehingga kita dapat memetik pahala dibaliknya. Disamping itu terdapat beberapa manfaat lainnya (dari penghadiran niat ini), yang semoga dengan ini kita dapat mengetahui urgensinya, sehingga tidak akan lalai lagi dalam menghadirkan niat ini ketika mencari nafkah.

1. Dengan meniatkan sebagai ibadah, maka sebelum berusaha, kita akan benar-benar memastikan bahwa apa yang kita akan usahakan ini tidak melanggar aturanNya, dan ketika menjalaninya pun, kita tetap menjaga batasan-batasanNya.

Sebaliknya, kebanyakan orang-orang yang mencari nafkah tanpa menghadirkan niat ini; biasanya niatnya hanya untuk sekedar melakukan tanggung jawab manusiawinya (kepada dirinya dan orang dibawah tanggung jawabnya) atau bahkan sekedar mendapatkan uang, atau bahkan sekedar memperbanyak harta.

Maka dengan niat seperti ini, maka kita akan dapati orang-orang tidak mempedulikan halal-haramnya (1) darimana ia akan mencari permodalannya, dan (2) dimanakah ia akan menjalankan usahanya. Maka kebanyakan dari mereka kita dapati memodali usahanya dari RIBA, serta menjalankan usahanya pada usaha-usaha yang banyak pelanggaran syari’at didalamnya.

Kalaulah mencari nafkahnya ia niatkan sebagai ibadah kepada Allaah; maka tentu yang pertama kali yang akan dicari-tahunya adalah: “Batasan-batasan Allaah” yang harus dijaganya, baik dalam memulai maupun menjalaninya. Sehingga ia memulai usahanya dengan cara yang halal, dan ia menjalaninya diatas syari’atNya; tanpa menerjang perkara yang haram maupun syubhat.

2. Dengan meniatkannya sebagai ibadah, maka orientasi kita adalah Allaah

Dengan berorientasi kepada Allaah, maka kita menyandarkan hati kita kepadaNya dari awal hingga akhir aktifitas kita. Kita akan selalu bersemangat dalam menempuhnya karena ini wujud ibadah kita padaNya, dan tidak akan putus asa dalam menempuh usaha, karena yang kita cari adalah rezeki dari Dzat Yang Maha Kaya, lagi Maha Pemberi Rezeki.

Berbeda dengan yang tidak berorientasikan kepada Allaah, maka hatinya tidak tersandarkan kepada Allaah. Ia gantungkan hatinya pada dirinya sendiri, yang amat lemah. Ia gantungkan hatinya pada usahanya, yang banyak kekurangannya. Atau bahkan ia malah menggantungkan hatinya pada orang lain dan usaha orang lain! atau lebih parah lagi ia gantungkan hatinya pada benda-benda mati yang tidak dapat memberi manfa’at ataupun mudharat; yang tidak memiliki bagian sama sekali dalam pemberian rizki. Na’uudzubillaah.

Kita dapati juga dari mereka yang tidak mengorientasikan usahanya kepada Allaah, adalah mereka yang tidak bersemangat dalam menjalani usahanya; atau kalaupun bersemangat, maka semangat yang temporer saja; karena hati mereka tidak mereka gantungkan kepada Dzat Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, satu-satuNya Dzat Yang Maha Mampu memberikan pertolongan, kekuatan, maupun kemudahan.

Kita dapati pula mereka adalah orang-orang yang gampang putus asa, karena mereka menggantungkan hati mereka pada diri mereka yang faqiir, atau orang lain yang sama faqirnya dengan mereka, atau bahkan benda-benda yang bahkan tidak dapat melakukan apapun. Berbeda dengan yang menggantungkan hatinya kepada Allaah, maka ia tidak akan pernah putus asa dalam mencari rizkiNya, dan tidak akan pernah putus asa dalam menanti hasil dariNya. Karena ia mengetahui Allaah itu Maha Kaya, Maha Pemberi Rezeki, lagi Maha Dermawan. Maka sekali-kali tidak akan ada keputusasaan terhadapNya (jika memang mereka benar-benar menghadirkan hal ini dalam hati mereka).

3. Dengan meniatkannya sebagai ibadah, maka ketika menjalaninya dan kita berhadapan dengan ibadah yang lebih tinggi derajatnya maka ketika itu, kita mendahulukan ibadah tersebut.

Seperti contoh, ketika masuk waktu shalat. Maka tentu lebih utama bersegera untuk shalat. Dan bagi laki-laki, lebih utama untuk mendatangi masjid dan shalat bersama imam dan jama’ahnya.

Ketika niat ini kita hadirkan, maka kita mengetahui bahwa ibadah shalat lebih tinggi derajatnya dan lebih utama untuk dikerjkaan diawal waktu; sehingga kita meninggalkan pekerjaan kita untuk shalat.

Berbeda dengan yang tidak menghadirkan niat ini, maka ia senantiasa sibuk dengan pekerjaannya dan tidak mempedulikan ibadah lain yang harus dikerjakan, seperti shalat. Bahkan sebagian mereka mengakhirkan waktu shalat hingga diakhir-akhir waktunya, atau bahkan sampai keluar waktunya. Atau bahkan mereka sama sekali tidak memikirkan untuk shalat, sehingga meninggalkan shalat. Na’uudzubillaah.

4. Dengan meniatkannnya sebagai ibadah, maka kita tidak akan hasad dengan orang-orang yang melakukan aktifitas yang sama atau serupa dengan yang kita lakukan.

Hal ini berdasarkan sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

… ثَلَاثُ خِصَالٍ لَا يَغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ أَبَدًا : إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ

“Tiga hal –yang mana membuat— hati seorang Muslim tidak akan mendengki terhadapnya: mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah…”

(Shahiih; HR Ahmad)

Maka hanya dengan mengikhlashkan amalan, hati kita akan bersih dari hasad. Apabila amalan itu tidak ikhlaash, maka kedengkian bisa menyerang hati kita.

Seorang yang meniatkan pencarian nafkahnya ikhlash hanya untuk Allaah, maka ia tidak akan mendengki orang-orang yang mencari nafkah disektor yang sama atau serupa dengannya. Mengapa? Karena rahmat Allaah itu luas, dan rahmat Allaah itu diatas orang-orang yang beribadah kepadaNya… Maka seorang yang beribadah kepadaNya PASTI akan ditolongNya di dunia maupun di aakhirat. Maka seberapa banyak pun kompetitornya, di sektor yang sama atau serupa; maka hal tidak menjadikannya hasad. Ia pun mengetahui bahwa taqdir Allaah tidak akan meleset. Seseorang PASTI akan disempurnakan rizkinya sebelum wafatnya, dan seseorang PASTI tidak akan pernah mendapatkan rizki yang memang tidak ditaqdirkan untuknya. Maka untuk apa ia hasad kepada orang-orang sekitarnya?!

Berbeda dengan mereka yang tidak menghadirkan niat ini, maka kita dapati kebanyakan mereka saling mendengki sesama mereka. Para pedagang mendengki pedagang yang lain, para pekerja mendengki pekerja yang lain. Ini semua karena ketiadaan niat ibadah dalam diri-diri mereka. Seandainya mereka meniatkan usaha mereka untuk ibadah, maka tidak akan ada kedengkian dalam hati-hati mereka. Maka obat bagi mereka yang tertimpa penyakit dengki: Hendaknya memperbaiki dan meluruskan niatnya, agar hendaknya ia meniatkan untuk ibadah, ikhlash semata-mata karenaNya.

5. Dengan meniatkannya sebagai ibadah, maka kita akan merasa senang dan cukup dengan hasil yang kita peroleh darinya.

Mereka yang meniatkan usahanya untuk beribadah kepada Allaah, maka akan ridha ridha dan bersyukur dengan apapun hasil yang diperolehnyanya. Karena mereka tahu bahwa apa yang mereka peroleh adalah pemberianNya, maka mereka ridha, dan bersyukur dari apa yang diberikanNya. Mereka mengetahui bahwa Allaah lebih tahu apa yang terbaik untuk mereka. Disaat yang bersamaan, Merekapun tidak silau dengan hasil lebih yang diperoleh orang lain seberapapun banyaknya. Mereka tidak putus asa dengan hasil yang belum teraih atau yang sedikit; dan mereka tidak jumawa dengan banyaknya hasil yang diperoleh.

Berbeda dengan yang tidak meniatkan dengan ibadah, maka mereka tidak akan pernah merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Allaah. Mereka tidak mensyukuriNya, bahkan kufur pada nikmatNya. Bahkan sekalipun mereka diberi satu lembah emas, mereka tetap ingin lembah kedua, begitu seterusnya hingga kematian menjemput mereka, na’uudzubillaah. Mereka berputus-asa dengan hasil yang belum teraih atau yang sedikit, dan mereka jumawa, ujub lagi takabbur pada hasil yang mereka peroleh. Na’uudzubillaah.

6. Biasanya hasil yang diperoleh dari usaha yang diniatkan dengan ibadah, maka akan kita keluarkan dalam bentuk ibadah pula

Karena seorang yang meniatkan usahanya sebagai ibadah, mengetahui ada hak-hak yang harus ditunaikannya dari hasil yang diperolehnya. Seperti: menafkahi diri dan keluarga; menunaikan zakat, bersedekah; berhaji, umrah, dll.

Berbeda dengan orang yang tidak meniatkannya usahanya sebagai ibadah, maka hasil usahanya pun tidak dikeluarkannya untuk ibadah. Ia bakhil bahkan kepada dirinya sendiri dan keluarganya. Terlebih lagi jika sampai digunakan dijalanNya seperti zakat, sedekah, apalagi umrah, apalagi haji. Kalaupun dikeluarkan untuk ibadah, maka hanya karena segan terhadap makhluk, bukan untuk ibadah kepadaNya. Na’uudzubillaah.

7. Hasil yang diperoleh dari usaha yang diniatkan untuk ibadah, tidak hanya akan dinikmati di dunia saja, tapi juga akan dinikmati kelak di aakhirat

Orang-orang yang meniatkan usahanya sebagai ibadahnya kepada Allaah, maka usahanya itu tidak hanya akan dinikmatinya didunia, tapi juga dinikmatinya di aakhirat ditimbangan kebaikannya (apabila ia menjaga keislaman kita hingga wafat kita, dan menjaga pahala amalan tersebut).

Berbeda dengan orang-orang yang tidak meniatkan usahanya sebagai ibadah, maka susah-payahnya ia mencari harta, hanya dapat dinikmati hasilnya di dunia (itupun sebatas apa yang telah ditaqdirkan untuknya); adapun di aakhirat, usahanya tersebut tidaklah dinilai sebagai kebaikan; bahkan mungkin malah memberatkannya. Na’uudzubilaah.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s