Halalnya darah seorang yang menghunuskan senjata kepada salah seorang kaum muslimin dengan tujuan membunuhnya

Dari ibnuz Zubair radhiyallaahu ‘anhumaa, bahwa Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ شَهَرَ السِّلَاحَ ثُمَّ وَضَعَهُ، فَدَمُهُ هَدَرٌ

“Barangsiapa yang menghunus pedangnya, kemudian meletakkannya, maka darahnya tidak ada perhitungan (boleh dibunuh)”

[Diriwayatkan an-Nasaa`iy (7/117), al-Haakim (2/159), dll; dishahiihkan oleh al-Haakim, adz-Dzahabiy dan al-albaaniy (Shahiih an-nasaa`iy 4109, ash-Shahiihah 2345); kutip dari “panduan ilmu dan hikmah”, darul falah, hlm. 280 (dengan penambahan teks arab, dan tambahan info takhriij]

Dalam hadits lain, dari ‘Aa-isyah radhiyallaahu ‘anhaa bahwa Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ أَشَارَ بِحَدِيدَةٍ إِلَى أَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يُرِيدُ قَتْلَهُ، فَقَدْ وَجَبَ دَمُهُ

“Barangsiapa yang mengisyaratkan dengan pisau kepada salah seorang dari kaum muslimin dengan tujuan untuk membunuhnya, maka telah wajib darahnya (dikucurkan)”

[Diriwayatkan Ahmad (6/266), al-Haakim (1/158-159); dan al-Haakim menshahiihkannya, disepakati adz-Dzahabiy. Hanya saja Ibu Alqamah tidak dianggap sebagai perawi terpercaya selain dari ibnu Hibbaan, dan hanya anaknya yang meriwayatkan darinya. Hanya saja hadits ini diperkuat oleh hadits ibnuz Zubair diatas, wallaahu a’lam; kutip dari “panduan ilmu dan hikmah”, darul falah, hlm. 280 (dengan penambahan teks arab)]

Termasuk pula disini seorang yang membawa senjata tajam yang mengincar harta kita.

Rumah ibnu ‘Umar pernah dimasuki seorang yang membawa senjata tajam. Jika saja manusia tidak memisahkan ibnu ‘Umar dengan orang tersebut, maka ia pasti sudah membunuhnya. [Diriwayatkan ‘Abdurrazzaaq (no. 18557 dan 18818) dengan sanad yang shahiih); kutip dari “panduan ilmu dan hikmah”, darul falah, hlm. 281 (dengan penambahan teks arab)]

al-Hasan al-Bashriy pernah ditanya tentang pencuri yang masuk ke rumah seseorang dengan memegang pisau, beliau berkata :

اقْتُلْهُ بِأَيِّ قَتْلَةٍ قَدَرْتَ عَلَيْهِ

Bunuhlah pencuri tersebut dengan pembunuhan apa saja[1. Tentunya disini dikecualikan cara pembunuhan yang terlarang, seperti membakar. Karena Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لا يعذب بالنار إلا رب النار

Tidak boleh mengadzab dengan api, kecuali Tuhannya api (yaitu Allaah)

(Diriwayatkan Abu Daawud, dll; dinilai shahiih oleh al-albaaniy)] yang engkau sanggup lakukan.

Berkata ibnu Rajab:

وَهَؤُلَاءِ أَبَاحُوا قَتْلَهُ وَإِنْ وَلَّى هَارِبًا مِنْ غَيْرِ جِنَايَةٍ، مِنْهُمْ أَيُّوبُ السِّخْتِيَانِيُّ

Sejumlah ulama membolehkan untuk membunuh pencuri meskipun ia melarikan diri sebelum berhasil melakukan pencuriannya, diantara ulama yang membolehkan ini adalah ayyuub as-sakhtiyaani.

[kutip dari “panduan ilmu dan hikmah”, darul falah, hlm. 281 (dengan penambahan teks arab]

Bahkan pemerangan kita terhadap mereka karena membela harta, darah dan keluarga kita merupakan pemerangan dijalan Allaah, dan dapat memperoleh kesyahidan kalau sampai wafat dalam ‘perang’ tersebut.

Seorang sahabat menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berucap,

يا رسولَ اللَّهِ ! أرأيتَ إن جاءَ رجلٌ يريدُ أخذَ مالي ؟

“Wahai Rasulullah, bagaimana pandangan engkau apabila ada orang akan merampas hartaku..?”

Beliau menjawab,

فَلاَ تُعْطِهِ مَالَكَ

“Jangan engkau beri hartamu..”

Ia (sahabat) melanjutkan,

أرأيتَ إن قاتَلَني

“Apa pandangan engkau bila ia hendak memerangi (membunuh)ku?’

Beliau menjawab,

قَاتِلْهُ

“Engkau perangi (bunuh) dia..”

Kembali ia bertanya,

أرأيتَ إن قتَلَني

“bagaimana apabila dia membunuhku..?”

Beliau menjawab,

فَأَنْتَ شَهِيدٌ

“Maka engkau syahid..”

Dia bertanya lagi:

أرأيتَ إن قَتلتُهُ ؟

“Apa pendapat engkau jika aku yang membunuhnya..?”

Beliau pun menjawab,

هُوَ فِي النَّارِ

“Dia di neraka..”

(HR Muslim, an-Nasaa’iy, dll)

An-Nasa`iy dalam sunannya Al-Mujtaba, meriwayatkan bahwa:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: الرَّجُلُ يَأْتِينِي فَيُرِيدُ مَالِي

Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallhu alaihi wa sallam dan berkata, “Ada seseorang datang kepadaku dan ingin mengambil hartaku.” Beliau bersabda,

ذَكِّرْهُ بِاللَّهِ

“Ingatkan dia kepada Allah.”

قَالَ: فَإِنْ لَمْ يَذَّكَّرْ؟ قَالَ

Orang itu berkata, “Kalau tak ingat juga?”, Beliau bersabda:

فَاسْتَعِنْ عَلَيْهِ مَنْ حَوْلَكَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Mintalah bantuan kepada kaum muslimin di sekitarmu.”

قَالَ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ حَوْلِي أَحَدٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ؟ قَالَ

Orang itu: “Kalau tak ada kaum muslimin di sekitar saya (yg bisa membantu)?” Beliau bersabda:

فَاسْتَعِنْ عَلَيْهِ بِالسُّلْطَانِ

“Mintalah bantuan penguasa.”

قَالَ: فَإِنْ نَأَى السُّلْطَانُ عَنِّي؟ قَالَ

Orang itu berkata: “Kalau penguasa itu jauh dari saya?”. Beliau bersabda:

قَاتِلْ دُونَ مَالِكَ حَتَّى تَكُونَ مِنْ شُهَدَاءِ الْآخِرَةِ، أَوْ تَمْنَعَ مَالَكَ

“Bertarunglah demi hartamu sampai kau jadi syuhada di akhirat atau berhasil mempertahankan hartamu.”

[Diriwayatkan an-Nasaa`iy dalam sunannya, dll; dikatakan al-albaaniy: ‘hasan shahiih’ (dalam shahiih an-nasaa`iy, no. 4092); kutip dari Ustadz Anhsari Taslim, Lc]

dari Sa’id bin Zaid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ أَوْ دُونَ دَمِهِ أَوْ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

“Siapa yang dibunuh karena membela hartanya maka ia syahiid, siapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka ia syahiid, atau karena membela darahnya, atau karena membela agamanya maka ia syahiid.”

(HR Abu Daawud, an-Nasaa`iy; dll; dishahiihkan al-albaaniy)

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Ahkam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s