Dzikir bukan sebatas di hati

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, bahwa Allaah berfirman:

أنا مع عبدي ما ذكرني وتحركت بي شفتاه

Sesungguhnya Aku bersama hambaKu, selama dia mengingatKu dan MENGGERAKKAN KEDUA BIBIRnya dengan (menyebut)Ku

[HR. al-Bukhaariy, Ahmad, ibnu Maajah, al Haakim, dll]

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda (tentang amal yang mudah dari seluruh syari’at Islaam, yang dapat dijadikan pegangan) :

لا يزال لسانك رطبا من ذكرالله

Hendaklah LIDAHmu senantiasa BASAH dengan berdzikir kepada Allaah (dengan mensucikanNya, memujiNya, membesarkanNya, dll; ed)

[HR at Tirmidziy, ibnu Maajah, al-Haakim, dll]


Maka yang dinamakan dzikir:

1. Mensucikan, memuji, mengagungkan Allaah dengan lafazh-lafazh yang diajarkan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam, dan inilah MAKNA SECARA ASAL dzikrullaah. Dan kita diperintahkan untuk menyibukkan lisan kita dengan hal ini.

Kita mensucikanNya dengan mengucap: Subhaanallaah, MemujiNya dengan mengucap: Alhamdilillaah, MengagungkanNya dengan mengucap Allaahu Akbar. Atau lafazh-lafazh lain yang menggabungkan hal-hal tersebut, seperti: “SubhaanaLLaahil ‘Azhiim wabihamdih” (yang mana ini merupakan penggabungan antara mensucikan, mengagungkan dan memuji Allaah), “Laa ilaaha illaLLaah” (Dalam ucapan ini terkandung pula ketiganya: Mensucikan Allaah dari pemalingan hak peribadatan yang merupakan hak absolut bagiNya, terkandung pula Pemujian dan Pengagungan terhadapNya karena Dialah satu-satuNya Dzat yang berhak disembah dengan mengingkari sesembahan/penyembahan yang disembah selainNya yang tidak berhak untuk disembah), dan dzikir-dzikir lain.

2. Seluruh PERKATAAN dan PERBUATAN yang baik dan benar; yang diniatkan untuk beribadah kepadaNya. Dan ini makna secara LUAS dari dzikrullaah. Maka orang yang melakukan/mengucapkan hal ini, maka ia termasuk orang-orang yang berdzikir padaNya.

Memang benar, bahwa dzikir juga berarti ‘mengingat’. Akan tetapi ‘mengingat’ (sekedar dalam hati) tanpa ‘menyebut’, maka ini kekurangan (lihat dua hadits diatas).

Maka ketika hati kita ingat akan keagunganNya, maka agungkanlah Dia dengan lisan dan amal kita; kita banyak-banyak mengagungkanNya dengan lisan kita, dan kita senantiasa mengagungkanNya dengan senantiasa menetapi kebenaran (mengerjakan segala kewajibanNya semampu kita, dan meninggalkan seluruh laranganNya).

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Dzikir, Ibadah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s