60 Faidah Kajian Syaikh Abdurrazzaaq

Muqaddimah

= > Latar belakang dari tauhiid

1. Tauhiid merupakan maksud penciptaan jin dan manusia

2. Tauhiid merupakan tujuan diutusnya para Rasul.

3. Tauhiid adalah asas tegaknya agama Allaah.

= > Tauhiid bagaikan akar dari sebuah pohon

4. Allaah mempermisalkan tauhiid bagaikan akar dari sebuah pohon. Pohon tegak berdiri dengan akarnya yang kokoh. Adapun jika pohon yang telah tercabut akar-akarnya, maka sudah pasti pohon itu tidak akan berdiri tegak. Demikianlah urgensi tauhiid dalam diri seseorang.

5. Tidak ada manfaat sebuah ketaatan kecuali dengan tauhiid; karena tidaklah amalan ketaatan diterima, kecuali harus memiliki tauhiid didalamnya.

= > Tauhiid adalah fithrah

6. Tidaklah seorang manusia dilahirkan, kecuali ia dalam keadaan bertauhiid; kemudian orang-tuanyalah yang menjadikannya seorang yang keluar dari fitrah (baik itu yahudi, nashrani, maupun penyembah berhala)

7. Tauhiid merupakan fithrah yang paling agung.

= > Keagungan tauhiid

8. Seluruh amal ditentukan dengan tauhiid; jika tauhiiid dikotori dengan syirik, maka amalnya terhapus.

9. Diterima-tidaknya amal, bergantung dengan tegak-tidaknya tauhiid dalam seseorang

= > Tauhiid adalah hak Allaah atas hambaNya

10. Berdasarkan hadits Mu’aadz, yang merupakan hadits agung yang menjeleskan tentang tauhiid

11. Barangsiapa yang menunaikan hakNya, maka akan mendapatkan keselamatan serta kebahagiaan dunia dan aakhirat.

= > Kehidupan yang hakiki adalah kehidupan yang diisi dengan mentauhidkan Allaah

12. Jika seseorang berpaling dan menjauh dari tauhiid, maka pada hakekatnya ia lari dari hal yang terindah dalam hidupnya

13. Tauhiid sebagai orientasi hidup

= > Tercerai-berainya urusan karena tidak mentauhidkan Allaah

14. Orang-orang yang menyekutukan Allaah, maka akan Allaah cerai-beraikan urusannya

15. Salah satu sebab utama perpecahan adalah karena meninggalkan tauhiid

16. Tidak akan tercapai ketentraman dan kemudahan dalam penunaian urusan, kecuali dengan tauhiid.

= > Tauhiid merupakan inti agama, yang dengannya Allaah turunkan kepada manusia melalui wahyu dariNya

17. Seluruh kesyirikan hanyalah diada-adakan oleh manusia; yang sama sekali tidak diturunkan oleh Allaah

18. Seluruh kitab yang diturunkan, intinya adalah meneggakkan tauhiid

19. Seluruh rasul yang diutus, intinya adalah menegakkan tauhiid.

= > Diantara keutamaan-keutamaan Tauhiid

21. Tauhiid mencocoki akal yang lurus. Maka seorang yang berakal, akan dapat menerima tauhiid. Adapun seorang yang akalnya telah rusak, maka ia menolak tauhiid.

22. Sempurnanya tauhiid seseorang seakan-akan ia dinilai dengan satu umat

23. Diperolehnya keselamatan dan ketenangan dengan tauhiid

24. Dianugerahkannya keteguhan, keamanan dan kepemimpinan apabila tauhiid benar-benar ditegakkan di suatu negri

25. Tauhiid merupakan sebaik-baik kebaikan; maka sebaliknya, kesyirikan merupakan seburuk-buruk keburukan

26. Satu amalan tauhiid (yang sempurna), dapat menghapuskan berbagai keburukan (bahkan bisa jadi seluruh keburukan). Sebaliknya satu amalan syirik, maka dapat menghapus kebakan; bahkan memusnahkannya seluruhnya.

27. Tauhiid merupakan kunci surga; tidaklah seseorang dibukakan pintu surga, kecuali ia harus memiliki tauhiid. Maka sebaliknya, surga diharamkan bagi orang-orang yang merusak tauhiidnya.

Hakekat Tauhiid

28. Makna asal tauhiid adalah mengesakan Allaah. Mengesakan Allaah disini yaitu mengesakanNya dalam hal perbuatan-perbuatan yang hanya khusus bagiNya, mengesakanNya dalam nama-nama dan sifat-sifatNya yang sempurna, serta mengesakanNya dalam peribadatan; tidak ada sekutu bagiNya.

29. Dalam hal rububiyyah, maka kita wajib mengimani bahwa Allaah-lah Rabbul ‘aalamiin (Tuhan semesta alam); dialah yang mencipta segala sesuatu, mengatur serta memelihara segala sesuatu. Dialah Yang Memberi rizki seluruh makhluqNya, Dialah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan; Hanya Dialah yang memiliki sifat-sifat ketuhanan, tiada sekutu bagiNya.

30. Adapun dalam nama-nama dan sifat-sifat Allaah; maka kita wajib menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkanNya melalui kitabNya maupun melalui lisan rasulNya (melalui wahyu dariNya). Nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkan tersebut sesuai dengan keagungan dan kebesaranNya; yang semuanya tidak boleh diingkari, tidak pula diserupakan dengan makhluqNya, tidak ditanyakan ‘bagaimana’nya, tidak pula di’bayang’kan ‘bagaimana’nya, tanpa meniadakan maknanya atau tanpa memalingkan maknanya kepada makna yang lain.

31. Adapun dalam ‘Ubudiyyah, maka ini adalah hak absolut bagiNya; tidak boleh mengadakan sekutu-sekutu lain bersamaNya dalam hal ini. Maka kita tidak menyembah (segala sesuatu apapun), kecuali hanya padaNya semata, tiada sekutu bagiNya. Maka segala/seluruh jenis ibadah, hanya boleh ditujukan padaNya. Tidak boleh kita menyembah selainNya, tidak menyembelih pada selainNya, tidak bernadzar pada selainNya, tidak pula berdoa maupun memohon pertolongan/perlindungan kepada selainNya.

32. Barangsiapa yang mati dalam keadaan menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, maka dia masuk neraka. (Maka sebaliknya,) barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, maka akan masuk ke dalam surga.

33. Tauhiid adalah Laa ilaaha illaLLaah. Dalam hal ini, terkandung dua hal: nafiy (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Yaitu tidak ada seseuatu apapun, yang berhak untuk disembah [disini letak peniadaannya], kecuali hanya Allaah [disini letak penetapannya]

34. Tidak sempurna tauhid seseorang, kecuali ia harus memiliki dua sifat tersebut. (Tambahan faidah: Maka kaum muslimiin, yaitu kaum yang mentauhidkan Allaah. Menyalahi dua kelompok manusia: atheis, yang meniadakan seluruh sesembahan; dan politheis, yang menyembah banyak sesembahan. Kaum muslimin, hanyalah menyembah satu sesembahan, yaitu Allaah; dan tidak menyembah sesembahan lain bersamaNya)

35. Maka setiap mukmin, wajib untuk mempelajari, mendalami serta merenungi tauhiid ini.

= > Kandungan tauhiid dalam dzikir

36. Jika seseorang merenungi dzikir-dzikir yang diajarkan oleh Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam; maka ia akan dapati bahwa dzikir-dzikir tersebut bermuara kepada tauhiid, atau memiliki kandungan tauhiid didalamnya.

37. Seperti contoh, salah satu dzikir setelah shalat; yang hendaknya senantiasa kita baca setiap kali selesai shalat. Yaitu dzikir:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ

Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah

Tiada sesembahan (yang berhak diibadahi) selain Allåh, tiada sekutu bagiNya

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Lahul-Mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘ala kulli syay-in qadiir

BagiNya segala Kerajaan, segala Pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu

لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

Tiada daya dan kekuatan melainkan (dengan pertolongan) Allåh

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّه , وَلاَ نَعْ بُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ

Laa ilaaha illallaah, wa laa na’budu illa iyyah

Tiada sesembahan (yang berhak diibadahi) selain Allåh, dan Kami tidak menyembah kecuali kepadaNya

لَهُ النِّعْ مَةُ وَلَهُ الْفَضْل وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ

Lahun-Ni’matu, wa lahul-fadhlu wa lahuts-tsanaa-ul-hasan

Bagi-Nya segala nikmat, anugerah dan pujian yang baik

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّه ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَااِرُوْنَ

Laa ilaaha illallåh, mukhlishiina lahud-diin, walaw karihal-kaafiruun

Tiada sesembahan (yang berhak diibadahi) selain Allaah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir membencinya.

(HR. Muslim)

38. Didalam dzikir diatas, mengandung tiga penekanan terhadap tauhiid:

– Pada kalimat: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ [penafian bahwasanya segala sesuatu selain Allaah tidak berhak untuk disembah; kecuali Allaah (Disini penetapannya). Kemudian menegaskan kembali penetapan bahwa hanya Dia semata yang berhak disembah, dan menegaskan kembali penafian, bahwa Tidak ada sekutu bagiNya]

– Kemudian kalimat tauhiid ditegaskan kembali pada kalimat: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّه , وَلاَ نَعْ بُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ [menafikan segala sesuatu bahwa itu semua tidak memiliki hak untuk disembah; kecuali Allaah (yang dengan ini penetapan bahwa peribadatan itu hanyalah hak bagiNya semata). Kemudian ditekankan lagi dengan bentuk pengikraran: “kami tidaklah menyembah” (disini penafian seluruh aktifitas penyembahan, pada selainNya) “kecuali hanya padaNya” (disini penetapan bahwa seluruh aktifitas penyembahan, hanya milikNya semata)

– Kemudian kalimat tauhiid ini ditegaskan kembali pada kalimat: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّه ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَااِرُوْنَ [menafikan segala sesuatu bahwa itu semua tidak memiliki hak untuk disembah; kecuali Allaah (yang dengan ini penetapan bahwa peribadatan itu hanyalah hak bagiNya semata);. Kemudian ditekankan lagi, bahwa ibadah harus dimurnikan (yang dengannya tidak boleh sama-sekali tercampur dengan kesyirikan sedikitpun); “meskipun orang-orang kafir membencinya” (yaitu kita tetap mengamalkan tauhiid, meski orang-orang kafir tidak membenci hal tersebut) [faidah tambahan: ciri kekufuran adalah kebencian terhadap tauhiid; faidah tambahan lainnya: orang-orang kaafir membenci kalimat tauhiid, pengamalannya maupun para penganut dan pengamalnya; maka hendaknya kita tidak mempedulikan kebencian mereka dengan konsisten mengamalkan tauhiid]

39. Maka dengan mengucapkan kalimat diatas, hendaknya dapat mempertegas/memperkuat tauhiid dalam diri seorang muslim. Maka jangan sampai kita meninggalkan ucapan ini setiap selesai shalat kita; dan jangan sampai pula kita lalai dalam membacanya (sehingga kita membacanya dengan tanpa ada perenungan; sehingga kita terhalang meraih manfaat besar dari kandungannya).

40. Ketika kita membaca kalimat dzikir diatas minimal lima kali, maka dalam sehari kita minimal memperbaharui tauhiid dalam diri kita. Kita senantiasa mengikrarkannya, serta kembali kepadanya. Menjadikan kita lebih kokoh pada kandungannya, yang semoga kita dapat berpaling jauh dari hal-hal yang menyalahinya.

= > Tingginya derajat tauhiid

41. Bahwasanya barangsiapa yang mati dalam keadaan menyempurnakan tauhiidnya, maka ia tidak diadzab maupun tidak dihisab.

42. Maka hendaknya kita serius dalam mempelajari, mendalami, serta mengamalkan tauhiid ini dalam keseharian kita. (sehingga semoga kita dapat menyempurnakan tauhiid; yang kita berharap kita wafat dalam keadaan sempurna tauhiid kita)

Menjaga kesempurnaan tauhiid, dengan menjauhi pembatal/perusak serta pencacatnya

43. Sebagaimana tauhiid memiliki keutamaan besar ketika menyempurnakannya; maka tauhiid pun dapat berkurang kesempurnaannya, atau bahkan hilang/musnah sama sekali dalam diri seseorang.

44. Adapun yang menghancur-leburkan tauhiid adalah syirik akbar, kufur akbar dan nifaq akbar.

45. Adapun yang mencacati tauhiid, yang mengurangi kadarnya dalam diri seseorang adalah syirik ashghar, kufur ashghar, dan nifaq ashghar.

46. Adapun syirik akbar, seperti menyerupakan Allaah dengan makhluqNya dalam hal nama-nama maupun sifat-sifatNya; atau bahkan menyamakan Allaah dengan makhluqNya, baik dari sisi perbuatan-perbuatanNya (atribut ketuhanan), atau dari sisi hak-hakNya yang absolut [seperti: penyembahan, doa, memohon pertolongan/perlindungan, dll]

47. Adapun kufur akbar, seperti: mendustakanNya atau hal-hal yang datang dariNya (seperti: RasulNya, KitabNya, maupun agamaNya), menyombongkan diri atau merendahkanNya, membenciNya (seperti: berpaling dan meninggalkan agamaNya; dengan kebencian), ataupun ragu-ragu terahdapNya atau hal-hal yang datang dariNya.

48. Adapun nifaq akbar, maka asasnya adlaah kebohongan; yaitu menampakkan diri (dihadapan orang-orang muslim) sebagai orang yang beriman. Akan tetapi didalam hatinya kufur terhadap Allah. Bahkan sekembalinya ia kepada kalangan orang-orang kaafir, ia mengakui kekafirannya; bahwa ‘klaim keimanannya’ tersebut hanyalah senda-gurau.

49. Adapun syirik ashghar adalah salah satu jenis kesyirikan; akan tetapi tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari islaam. seperti: bersumpah atas nama selain Allaah, mengatakan: “dengan kehendak Allaah, dan kehendakmu”, atau contoh-contoh lainnya [seperti riyaa’/sum’ah, yang mana seseorang yang beribadah kepada Allaah; akan tetapi juga mengharapkan balasan makhluuq dari ibadahnya tersebut; sehingga ia menyekutukan Allaah, dalam hal pengharapan balasan kepada selain Allaah dalam ibadahnya tersebut. Termasuk pula disini ujub dan takabbur, merasa cukup dengan dirinya bahkan meninggikan dirinya; sehingga dia menyekutukan Allaah dengan ‘diri’nya sendiri.]

50. Adapun kufur ashghar seperti membunuh (termasuk disni membunuh dirinya sendiri; ia masuk kedalam kekufuran, karena ia telah kufur terhadap nikmat hidup yang Allaah berikan padanya), berzina, mencela nasab, dan lain-lain.

51. Adapun nifaq ashghar, seperti: berdusta, melanggar janji, berhianat, melampaui batas dalam bertengkar.

52. Maka hendaknya kita berhati-hati dengan senantiasa memperhatikan tauhiid kita. Menjaganya dari pembatal/perusaknya, dan menjaganya dari hal-hal yang mencacatinya atau yang mengurangi kadarnya.

= > Al-Qur`aan mengajarkan tauhiid kepada kita

53. Ayat termulia dalam al-Qur`aan, yaitu ayat kursi; seluruh isinya adalah tauhiid.

54. 1/3 al-Qur`aan, yaitu surat al-Ikhlaash; seluruh isinya pun adalah tauhiid.

55. al-Fatihah, surat pembuka kitaab, serta induknya al-Qur`aan; maka didalamnya menjelaskan tauhiid serta keutamaan dibaliknya.

56. Maka dengan senantiasa mempelajari, membaca, merenungi dan mengamalkan al-Qur`aan -yang didalamnya menjelaskan kepada kita segala hal yang berkaitan tentang tauhiid- maka kita dapat menyempurnakan tauhiid kita, serta dengannya kita dapat menjaga kesempurnaan tersebut.

Penutup

57. Para nabi itu satu agama; yaitu mereka semua hanya menyembah kepada Allaah, tidak menyembah kepada selainNya; dan mereka menyeru pada hal itu. Yang berbeda hanyalah tata-cara peribadatannya semata.

58. Intisari dari seluruh pengutusan Rasul adalah ditegakkannya tauhid.

59. Demikian pula, intisari diturunkannya seluruh kitab, adalah dengan tertegakknya tauhiid.

60. Kehidupan hakiki adalah kehidupan dengannya seseorang menegakkan tauhiid didalamnya; yang mana ia menjalankan tujuan utama ia diciptakan.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Tauhid Asma' Wa Sifat, Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s