Bagaimanakah sikapmu terhadap orang yang menyalahimu?

Hendaknya kita benar-benar mengambil pelajaran dari sikap Nabi Ibraahiim tentang orang-orang yang menyalahi perintah beliau. Bagaimana sikap beliau? Simaklah bagaimana Allaah menjelaskan ‘aduan’ beliau kepadaNya tentang orang-orang yang menyalahi beliau.

Allaah berfirman, (tentang perkataan Nabi Ibraahiim) :

وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

…dan barangsiapa yang menyalahi perintahku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(QS Ibraahiim: 36)

Beliau mengembalikan urusan mereka kepada Allaah, bahkan lebih menekankan pada maghfirah serta rahmat Allaah atas mereka. Dengan harapan agar Allaah memberi hidayah kepada mereka, sehingga dengan itu Dia mengampuni dan merahmati mereka.

Bagaimana dengan kita?

Mungkin kebanyakan dari kita, ketika mendapati orang menyalahi kita; maka inginnya agar orang yang menyalahi kita tersebut langsung dihukum Allaah. Padahal terhadap diri kita sendiri yang SERING menyalahiNya, lebih menekankan pada rahmat dan maghfirah… Maka tidakkah sebaiknya kita menyikapi mereka sebagaimana sikap kita terhadap diri kita ketika kita dapati kita menyalahiNya?

Bahkan Allaah pernah menegur Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika setelah mengangkat kepalanya dari ruku’ dari raka’at yang akhir dari shalat Subuh, setelah beliau mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah, Rabbanaa walakal hamdu”, maka beliau berdoa : “Wahai Allah laknatlah Si Fulan, Si Fulan, dan Si Fulan,”

Maka Allah menurunkan (ayatNya):

لَيْسَ لَكَ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ إِلَى قَوْلِهِ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

“Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, Apakah Allah (memberi mereka hidayah, kemudian) menerima taubat mereka; atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim. -QS Ali Imran/3:128)”

[HR al-Bukhaariy]

Dalam hadits lain disebutkan, bahwa Anas bin Maalik berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ يَوْمَ أُحُدٍ وَشُجَّ فِي رَأْسِهِ فَجَعَلَ يَسْلُتُ الدَّمَ عَنْهُ وَيَقُولُ

“Sesungguhnya pada peperangan Uhud, gigi geraham Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam patah, dan kepala beliau terluka, maka beliau mengusap darah dari kepala beliau sambil mengatakan:

كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ وَكَسَرُوا رَبَاعِيَتَهُ وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ

‘Bagaimana akan mendapatkan keberuntungan, satu kaum yang melukai kepala Nabi mereka dan mematahkan gigi gerahamnya, sedangkan Nabi itu mengajak mereka menuju (peribadahan kepada) Allah?’

(Anas melanjutkan)

فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ لَكَ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ

Maka Allah menurunkan (ayatNya): “Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu”. -QS Ali Imran/3 ayat 128.

[HR. Muslim]

Sungguh Allaah telah menegur dalam dua keadaan, yaitu ketika beliau melaknat individu-individu tertentu, dan ketika seakan beliau membatasi rahmatNya tentang orang-orang yang menyakiti beliau, dengan firmanNya:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu: Apakah Allah (memberi hidayah kepada mereka, kemudian) menerima taubat mereka, atau (Allaah) mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.

Kemudian Allaah mengiringi ayat diatas dengan firmanNya:

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ يَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

KEPUNYAAN Allah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki; Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Allaah mengawali ayat diatas dengan menekankan kerububiyyahanNya; agar menyadarkan kita; bahwa Dialah Yang menguasai mereka, BUKAN KITA.

Kemudian Dia menjelaskan kepada kita sifat-sifatNya yang mulia. Yang menarik disini, Allaah mendahulukan sifat maghfirahNya daripada murkaNya; agar jangan sampai kita lupa dengan keluasan rahmatNya. Kemudian, ayat itupun diakhiri dengan sifat maghfirah dan rahmatNya.

Dan ternyata beberapa tahun setelahnya, sebagian orang-orang yang dahulunya memusuhi, memerangi dan menyakiti RasulNya, ternyata diberi hidayah oleh Allaah yang berbalik membela, serta mencintai Allaah dan RasulNya dengan segenap harta dan diri mereka.

Pelajaran yang hendaknya kita petik…

Janganlah kita mendoakan keburukan pada seseorang, apalagi sampai melaknatnya (secara individu), apalagi sampai bersumpah atas nama Allaah tentangnya bahwa Allaah akan mengadzabNya![1] Ingatlah… Bisa jadi orang tersebut di kemudian hari justru LEBIH BAIK DARI kita… Atau bisa jadi ia meninggal dalam keadaan yang LEBIH BAIK daripada kita…

Sungguh Rasuulullaah telah mengambil pelajaran dari teguran Allaah tersebut…

Sebagiamana diriwayatkan oleh ‘Abdullaah ibnu ‘amru radhiyallaahu ‘anhumaa:

أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ تلا قولَ اللهِ عزَّ وجلَّ في إبراهيمَ : { رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ } الآية وقال عيسى عليه السلام : (إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم) فرفعَ يديهِ وقال

Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam membaca firman Allaah dalam surat ibraahiim: (Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.) Dan juga perkataan ‘iisa ‘alayhis salaam (dalam surat al-Maa`idah: 118) : (Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana). Maka beliau mengangkat tangannya seraya berdoa:

اللهمَّ ! أُمَّتي أُمَّتي

Yaa Allaah… Ummatku… Ummatku…

Dan beliau menangis…

(HR Muslim)

Maka perhatikanlah kemarahan kita… Apakah benar-benar karena Allaah? Ataukah “karena hawa nafsu” yang dibungkus dengan klaim “karena Allaah”? Kalaulah kita benci padanya karena perbuatan buruknya; maka doakanlah kepada Allaah agar Allaah memberinya hidayah agar dia meninggalkan perbuatan buruk tersebut. Bukannya malah mendoakan keburukan baginya, apalagi sampai melaknatnya!

Ingatlah… Sebagaimana kita pun juga banyak menyalahiNya, tapi disaat bersamaan kita mengharapkan maghfirah dan rahmatNya; maka hendaknya hal yang sama kita terapkan pada orang-orang yang semisal dengan kondisi kita tersebut.

Semoga bermanfaat.


Catatan kaki

Sungguh bersumpah atas nama Allaah tentang orang yang berbuat jelek; bahwa Allaah pasti mengadzabnya, atau Allaah pasti memasukkannya ke dalam neraka, atau pasti surga haram untuknya (padahal tidak ada wahyu yang turun secara khusus tentang hal tersebut), maka ini seburuk-buruk perkataan!

Dari Jundub bin abdullah, beliau menuturkan bahwa rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

:قال رجل والله لا يغفر الله لفلان ,فقال الله عز وجل : من ذا الذي يتألى على ان لا اغفر لفلان؟ إني قد غفرت له و أحبطت عملك

Ada seorang laki-laki berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan”. Maka berfirmanlah Allah : “siapakah yang bersumpah mendahuluiku bahwa aku tidak mengampuni si fulan ? sungguh Aku telah mengampuninya, dan mengahapuskan amalmu…”

(HR Muslim)

Dalam hadits Abu Hurayrah disebutkan:

إن رجلين كانا في بني إسرائيل متحابين ، أحدهما مجتهد في العبادة ، والآخر ، كأنه يقول مذنب ،

Sesungguhnya ada dua orang dari Bani Israa`iil yang saling mencintai. Adapun salah satu dari mereka adalah seorang yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Adapun yang lain, maka ia seorang pendosa.

فجعل يقول : أقصر عما أنت فيه . قال فيقول : خلني وربي

Maka berkatalah (ahli ibadah) “Berhentilah dari apa yang engkau perbuat”. Maka ia menjawab: “Biarkanlah aku dengan Rabbku”.

فوجده يوماً على ذنب استعظمه فقال : أقصر ، فقال : خلني وربي ، أبعثت علي رقيباً ، فقال : والله لا يغفر الله لك ولا يدخلك الجنة أبداً

Maka tibalah suatu hari ketika si ahli ibadah ini melihat kawannya melakukan sesuatu (yang dianggapnya) dosa besar, maka dia berkata: “Berhentilah”. Maka si pendosa ini menjawab: “Biarkanlah aku bersama Rabbku; apakah engkau seorang yang diutusNya untuk menjadi pengawasku?” Maka ia menjawab: “Demi Allaah, Allaah tidak akan mengampunimu dan tidak akan memasukkanmu kedalam surga selama-lamanya”

فبعث الله إليهما ملكاً ، فقبض أرواحهما ، فاجتمعا عنده ، فقال للمذنب: ادخل الجنة برحمتي، وقال للآخر : أتستطيع أن تحظر على عبدي رحمتي ؟ قال : لا يا رب ، قال : اذهبوا به إلى النار

Maka Allaah mengutus malaa`ikat pada keduanya, malaikat ini lalu mengambil nyawa mereka. Maka Allaah berfirman kepada pelaku dosa: “Pergilah, masuklah kedalam surga dengan RahmatKu”. Dan Allaah berfirman pada ahli ibadah: “Apakah kamu mampu menghalangi RahmatKu atas hambaKu?” Dia menjawab: “Tidak, wahai Rabbku”. Maka Allaah berfirman: “Bawalah orang ini ke neraka”

(Diriwayatkan Abu Daawud, dengan sanad yang hasan)

Dalam redaksi lain disebutkan:

فاجتمعا عندَ ربِّ العالمينَ ، فقال لهذا المجتهِدِ : أكنتَ بي عالِمًا ، أو كنتَ على ما في يدَيَّ قادرًا ؟ ! وقال للمذنِبِ : اذهبْ فادخلِ الجنةَ برحمتي ، وقال للآخَرِ : اذهبوا به إلى النارِ

Maka mereka berdua dikumpulkan dihadapan Rabbul ‘aalamiin. Maka Allaah berfirman kepada ahli ibadah: “Apakah ada padamu ilmu tentangKu? atau apakah kamu dapat berkuasa atas apa yang ada di TanganKu?”; Allaah berfirman kepada pendosa: “Masuklah kamu kedalam surga dengan rahmatKu”, dan Allaah berfirman kepada ahli ibadah: “Bawalah orang ini ke dalam neraka”.

(Diriwayatkan pula Abu Daawud, dengan sanad yang shahiih)

Abu Hurrairah berkata:

والذي نفسي بيده لتكلم بكلمة أو بقت دنياه وآخرته

Demi jiwaku yang berada di TanganNya, dia benar-benar telah mengucapkan sebuah kalimat yang menghancurkan dunia dan aakhiratnya.

Dalam ucapan diatas terdapat beberapa kesalahan fatal:

1. Bersumpah atas nama Allaah, dengan tanpa ilmu.

2. Bahkan ia bersumpah atas namaNya dengan penuh ke’sok-tahu’an seakan-akan ia mengetahui apa yang Allaah akan perbuat tentang pendosa tersebut.

3. Terkandung pula dalam kalimat diatas, seakan-akan ia hendak ‘memerintah’ Allaah untuk menindaki pendosa berdasarkan apa yang ia ingini.

4. Terkandung pula dalam kalimat diatas, seakan-akan ia menyempitkan rahmat Allaah yang amat sangat luas; yang menurutnya tidak mungkin diraih pendosa itu.

5. Terkandung pula dalam kalimat diatas, bahwa seakan-akan rahmat Allaah dan surga itu berada ditangannya, sehingga dia merasa dialah yang berhak menentukan siapa yang mendapat rahmat dan surgaNya. Maka ini tentu kesombongan yang amat parah dihadapan Allaah.

Dalam hadits diatas kita pun dapat mengambil pelajran, bahwa kita hanya diperintahkan untuk MENYAMPAIKAN; bukan untuk menjadi pengawas orang lain (simak QS. asy-Syuura: 48). Dan sebagai orang yang menyampaikan, kita pun dilarang untuk berbuat sewang-wenang, pemaksa, dan melampaui batas (simak: QS. Qaaf: 45)

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s