Hal-hal yang menyempurnakan, mencacati, dan merusak tawakkal

=> YANG MENYEMPURNAKAN TAWAKKAL: (1) Apabila seseorang berusaha sendiri terhadap apa yang dimampui, (2) pada perkara yang diperbolehkan syari’at, (3) dengan tetap terus memohon pertolongan Allaah, dan (4) tetap terus menyandarkan hati pada pertologanNya, dan (5) TIDAK menyandarkan hati pada dirinya dan apa yang ia usahakan.

=> TIDAK MENCACATI TAWAKKAL (dengan catatan) : Apabila meminta tolong orang lain pada perkara yang tidak kita mampui pada hal yang diperbolehkan syari’at, dan tetap terus menyandarkan hati kepada Allaah karena hakikat datangnya pertolongan hanyalah dariNya, serta memiliki keinginan keras untuk dapat lepas dari ‘pertolongan’ orang lain agar hati tidak tersandar pada mereka; sehingga ini TIDAK dijadikan sebagai KEBIASAAN

=> MENCACATI TAWAKKAL: Apabila seseorang tidak berusaha sendiri terhadap apa yang dimampui, dan malah meminta tolong pada sesuatu yang ia mampui (meski yang pada usaha yang tidak dilarang); maka ini KEKURANGAN. Dengan hal tersebut, maka ia lemah dalam hal usahanya, yang menunjukan kelemahan hatinya; karena apabila hatinya kuat, maka hati itu akan menggerakkan tenaga/pikiran-nya atau mengeluarkan materi (jika ia punya). Dan ia menjadi KEHINAAN apabila ini menjadi kebiasaannya, karena jelas dalam hal ini hatinya telah tersandar pada usaha orang lain, dan ini lebih jelek derajatnya daripada bersandar usaha sendiri. Yang ia merupakan selemah-lemahnya keimanan.

=> MENCACATI TAWAKKAL: Apabila seseorang berusaha sendiri terhadap apa yang dimampui, tapi malah menempuh usaha yang tidak dibenarkan syari’at. Seperti menerjang hal-hal yang haram, apakah itu riba, penipuan, dll. Penempuannya pada hal-hal yang haram ini merupakan bukti KURANGNYA KEYAKINANnya kepada Allaah dalam hal-hal yang halal. Padahal pada hal-hal yang halal itu ditentukan rizkinya, dan jikalaupun seseorang menempuh hal yang haram, maka tidaklah hal itu ‘menambah jatah’ rizki yang sudah ditentukan untuknya. Kalau seseorang yakin bahwa Allaah pasti memberinya rezki, maka ia akan menempuh jalan yang halal; dan dia tidak mau meraihnya dari hal yang haram, karena menempuh cara yang haram tidaklah ‘mempercepat’ rezki, karena rezki sudah ditentukan dan pasti akan disempurnakan dan akan kita raih sebelum wafat kita; maka janganlah menempuh hal-hal yang diharamkan.

=> MENCACATI atau bahkan sampai MERUSAK TAWAKKAL: Apabila seseorang telah berusaha sendiri terhadap apa yang dimampui dan dibolehkan syari’at, akan tetapi UJUB terhadap usaha/pikiran/materi diri sendiri, tidak menyandarkan hati pada Allaah; sehingga TAKABBUR dihadapanNya, tidak memohon pertolonganNya; apalagi sampai merasa tidak butuh pada pertolonganNya. Apabila takabbur itu disertai dengan perendahannya kepada Allaah atau peninggian dirinya diatas Allaah, maka ini jelas merupakan kekufuran, na’uudzubillah.

=> MERUSAK TAWAKKAL: Apabila ia berusaha sendiri, tetapi malah menyandarkan hatinya selain Allaah (yaitu penyandaran hati dalam bentuk ketundukan dan kecintaan) sehingga memohon pertolongan pada mereka. Maka ini jelas merupakan kekufuran. Sebagaimana penyandaran hati dan permintaan tolong kaum musyrikiin pada dewa-dewa atau patung-patung yang mereka sandarkan hatinya ketika mereka menempuh usaha, yang mereka jadikan tempat permintaan tolong mereka. Padahal apa yang mereka sandarkan hatinya tersebut, dan apa yang mereka mintai tolong tersebut adalah makhluq yang lemah, bahkan lebih lemah dari mereka; yang tidak bisa bersandar pada dirinya sendiri, bahkan tidak mampu menolong dirinya sendiri. Mereka telah menyetarakan makhluuq dengan khaaliq, yang itulah merupakan bentuk kekufuran mereka dalam hal ini. Maka sejelek-jeleknya kekufuran, ketika ia meminta tolong pada selain Allaah, bahkan malah bergantung pada usaha makhluq. Maka ia menggabungkan seluruh jenis kehinaan dalam dirinya, Na’uudzubillaah.

Maka hendaknya kita menguatkan keimanan kita agar kita dapat menyempurnakan tawakkal kita padaNya, serta hendaknya kita menjauhi hal-hal yang dapat mencacatinya atau bahkan yang merusaknya.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s