Hikmah bahwa sedekah adalah bukti keimanan

Seorang yang mendapatkan 1 juta, dari hasil pengorbanannya melalui tenaganya dan/atau pikirannya; terlebih lagi sebelumnya telah mengeluarkan modal. Maka akan benar-benar menghargai pendapatannya tersebut.

Disitulah ujiannya, apakah ia mau untuk memberikan hasil pengorbanannya tersebut dijalanNya dengan hati yang lapang, tulus, lagi ikhlash? Atau tidak?

Kebanyakan orang berpikir: “saya keluarkan segenap tenaga, pikiran; bahkan modal, sehingga saya mendapatkan pendapatan ini; maka hak saya mengeluarkan harta ini semau saya”. Jika berpikir demikian, maka ia hanya akan mengeluarkan hartanya “semau”nya saja; bahkan kalau yang dimauinya adalah perkara haram; maka dengan mudahnya ia keluarkan, berapapun banyaknya. Sebaliknya ketika ia dapati ada kepentingan agama disaat bersamaan, maka akan terasa berat mengeluarkan harta tersebut, bahkan dengan berpikir berulang kali. Bahkan jauh sebelumnya, ia dalam proses mencari sumber pendapatannya pun, ia tidak mempedulikan halal-haram’nya (apalagi syubhat); yang penting selaras hawa nafsunya, yang penting ia mendapatkan pendapatan (apalagi pendapatannya jumlahnya besar), maka akan ia tempuh… Inilah ciri penghamba hawa nafsu, maka berhati-hatilah jangan sampai kita termasuk golongan seperti ini, dan hendaknya kita meninggalkan dan menjauhi sifat-sifat diatas (apabila masih ada dalam diri kita).

Maka seorang yang BERIMAN kepada ALLAAH, membuktikan keimanannya dengan mengeluarkan hartanya pada hal-hal yang diridhaiNya (dan hanya untuk itu); serta menahan hartanya dari pembelanjaan dalam hal yang dibenciNya. Berkebalikan dengan penghamba hawa nafsu, yang menjadi pertimbangannya dalam mengeluarkan harta adalah ridha dan murka Allaah. Bahkan ia memperhatikan apakah pengeluaran hartanya ini sebatas hawa nafsunya atau benar-benar memiliki manfaat ukhrawi dibaliknya (yang bisa niatkan untuk ibadah). Jika hanya sebatas pemuas nafsunya tanpa bisa diniatkan ibadah, maka meskipun nilainya sedikit, maka ia akan berpikir berulang kali. Bahkan jauh sebelumnya, tidaklah ia mencari sumber pendapatan; kecuali dari jalan yang diridhaiNya dan menjauhi jalan yang dibenciNya. Inilah HAMBA ALLAAH sejati, maka hendaknya kita berusaha agar memiliki sifat-sifat yang disebutkan diatas.

Maka apabila kita mendapati dalam diri kita begitu berat dalam mengeluarkan harta pada perkara yang diridhaiNya, atau mudah mengeluarkan harta pada perkara yang dimurkaiNya, maka ingat-ingat hal berikut:

Harta tersebut hakekatnya milik Allaah, yang dititipkan pada kita. Bahkan jangan sampai kita lupa bahwa diri kita sendiri (yaitu jasad kita, termasuk didalamny pikiran kita) adalah milikNya, yang ruh kita (yang juga milikNya) dititipkan padanya. Bahkan ingatlah bahwa kemampuan kita untuk berusaha pun adalah karena izinNya. Demikian pula, dapat atau tidaknya hasil dari usaha tersebut pun adalah dengan izinNya. Maka tidak pantas kalau kita merasa seakan-akan ‘pemilik sejati’ terhadap diri dan harta kita, sehingga kita berbuat apa yang kita maui. Hal ini dipertegas bahwa, Allaah, yang merupakan Sang Pemilik diri-diri kita dan harta-harta kita secara hakikatnya; memerintahkan kita untuk mengeluarkan sebagian dari harta yang dititipNya pada kita tersebut hanya untuk perkara yang diizinkanNya.

Ingatlah hal ini… maka kita akan mudah mengeluarkan harta kita di jalanNya, dan akan berat mengeluarkannya pada perkara yang tidak diridhaiNya… Sebagai tanda bukti keimanan kita padaNya…

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Ibadah, Sedekah, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s