Meneladani SIKAP OBYEKTIF Para Ulama Dalam PENGAMBILAN Riwayat

Berkata Syaikhul Islaam dalam minhajus sunnah (secara makna) :

“Kami mengecam para perawi dari kalangan SUNNI secara WAJAR. Kami memiliki tulisan yang tak terhitung jumlahnya, mengenai keadilan para perawi, kelemahan, kejujuran, kesalahan, kedustaan dan prasangka mereka. Dalam hal ini kami selalu bersikap obyektif. Kami akan MENGGUGURKAN (periwayatan) salah seorang dari mereka APABILA DIKETAHUI BANYAK SALAHnya dan(/atau) HAFALANNYA LEMAH, sekalipun ia digelari (orang-orang) dengan wali Allah.”

Bahkan beliau berkata tentang periwayatan MUBTADI’ (secara makna, juga dalam minhajus sunnah) :

“…jika di buku-buku induk hadits ada riwayat dari mubtadi’, (yaitu dari kalangan Khawaarij, Syi’ah [yang bukan rafidhah][1], Murji`ah dan Qadariyah), itu karena riwayat mereka tidak mengajak kepada kefasikan [yaitu riwayatnya tersebut tidak mengajak pada ajaran bid’ahnya]. Namun apabila mubtadi’ tersebut (meriwayatkan suatu riwayat) yang mempromosikan bid’ahnya, (maka riwayatnya tentang hal tersebut) mesti ditolak…”

Pernyataan beliau diatas ini senada dengan pernyataan ibnu Hajar dalam hadi as-sari (yang secara makna) :

“Bila tidak ditemukan selain perawi bid’ah itu, dan hadits itu hanya diriwayatkan olehnya saja, sedangkan ia memiliki sifat JUJUR, BUKAN PENDUSTA, bahkan WARA’, maka riwayatnya BISA DITERIMA.

Namun satu hal… hadits yang ia riwayatkan itu TIDAK ADA HUBUNGAN DENGAN AJARAN BID’AHnya.

KEMASLAHATAN PENGAMBILAN HADITS dan PENYEBARANNYA harus didahulukan dari memberantas bid’ah perawi tersebut.”

Pelajaran yang diambil

Seorang yang SUNNI, tapi BANYAK SALAH atau LEMAH HAFALAN; maka riwayatnya adalah LEMAH, ia tidak bisa dijadikan rujukan, dan riwayatnya tidak bisa dijadikan hujjah (kesunniannya tidaklah mengangkat riwayatnya tersebut); terlebih jika ia PENDUSTA, maka riwayatnya ditolak.

Sebaliknya seorang MUBTADI’, tapi ia jujur, kuat hafalannya, dan wara’; maka riwayatnya yang tidak berkaitan dengan ajaran bid’ahnya; kita ambil. Inilah salah satu diantara pertimbangan dari berbagai pertimbangan yang ada.

Toh kita dapati BANYAK dari para ‘ulama ahlus sunnah, yang masih mengambil riwayat daru orang-orang yang telah keliru dalam ‘manhaj’nya (yang mana kekeliruannya mungkin tidak hanya satu, atau dua; bahkan ada yang memiliki kekeliruan yang banyak dalam hal ini) tapi disisi lain ia SANGAT KUAT dan KOKOH dalam disiplin ilmu lain. Misalkan ia benar-benar kuat dan kokoh dalam ilmu bahasa arab, atau qira’ah, atau tafsiir, atau hadiits, atau fiqh, atau suluk, atau fara`id, atau sejarah. Maka para ulama ahlus sunnah tersebut tetap mengambil kemanfaatan dari mereka tentang hal tersebut, dengan tetap menolak serta mengingkari ajaran bid’ahnya. Sikap seperti ini tentu tidak hanya berlaku pada zaman mereka saja; hal ini akan terus senantiasa berlaku sampai saat ini, pada orang-orang yang memiliki keadaan serupa dengan orang-orang yang mereka dapati! (tidakkah kita mengambil pelajaran dari sikap mereka?)

Jika anda tidak setuju dengan penuturan diatas, dengan tidak mau mengambil sama sekali periwayatan dari orang-orang ‘bermasalah’ (atau orang-orang yang anda ANGGAP ‘bermasalah’); silahkan, itulah yang menjadi pertimbangan anda, dan apa yang anda pertimbangkan tentu TIDAK SAMA dengan pertimbangan orang lain.

Pertimbangan masing-masing orang tentu berbeda-beda, seorang yang memiliki suatu pertimbangan tentu tidak bisa menerapkan pertimbangannya tersebut pada orang lain yang memiliki pertimbangan berbeda.

Maka jangan sampai langsung tebar vonis pada orang lain yang memiliki pertimbangan berbeda dengan pertimbangan yang anda anut. Perhatikan baik-baik permasalahannya, dan jangan sampai tergesa-gesa dalam menghukumi permasalahan, apalagi sampai menghukumi individu-individu terkait permasalahan tersebut.

Ingat penghukuman terhadap suatu masalah itu berat… dan ingat LEBIH BERAT lagi penghukuman (vonis) terhadap individu-individu terkait suatu masalah…

Semoga bermanfaat


Catatan Kaki

[1] Perlu dicamkan baik-baik ‘istilah’ syi’ah yang digunakan para ulama terhadap para perawi hadits BUKAN SYI’AH RAFIDHAH. Karena tidak ada satupun perawi dalam kitab-kitab shahiih yang merupakan SYI’AH RAFIDHAH; karena tidaklah seorang RAAFIDHIY, kecuali ia melegalkan DUSTA yang dibungkusnya dengan ‘taqiyyah’, dan tidaklah seseorang menjadi RAAFIDHI kecuali karena kebencian dan permusuhan yang sengit terhadap para shahabat Nabi, bahkan sampai pada derajat pengkafiran. Na’uudzubillah. Bisa disimak disini penjelasan lebih lengkapnya: http://www.alamiry.net/2014/08/benarkah-imam-bukhari-mengambil-riwayat.html

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, Ilmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s