Jauhilah Maksiat… Agar Jangan Sampai Keimanan dan Tauhid Dicabut Darimu

Perbanyaklah untuk mengucap Laa ilaaha illaLLaah

Berkata al-Imaam abul Laits as-Samarqandiy:

الْوَاجِبُ عَلَى كُلِّ إِنْسَانٍ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَيَسْأَلَ اللَّهَ تَعَالَى فِي آنَاءِ اللَّيْلِ ، وَأَطْرَافِ النَّهَارِ أَنْ لَا يَنْزِعَ مِنْهُ الْإِيمَانَ وَهَذَا الْقَوْلُ مِنْهُ وَيَحْفَظَ نَفْسَهُ مِنَ الْمَعَاصِي

Wajib atas setiap manusia untuk banyak-banyak mengucap[1] “Laa ilaaha illaLLaah” (tiada sesembahan yang berhak unutk disembah melainkan hanya Allaah) dan juga banyak-banyak memohonkan kepada Allaah ta’aala pada waktu malam maupun pada waktu siang agar jangan sampai dicabut imaan dan ucapan ini darinya, serta banyak-banyak menjaga dirinya dari maksiat…

فَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَقُولُونَ هَذَا الْقَوْلَ ، ثُمَّ يُنْزَعُ مِنْهُمْ فِي آخِرِ عُمْرِهِمْ بِسَبَبِ أَعْمَالِهِمُ الْخَبِيثَةِ ، وَيَخْرُجُونَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى الْكُفْرِ ، نَعُوذُ بِاللَّهِ

Maka sesungguhnya banyak dari manusia yang menyebut ucapan ini, kemudian dicabut darinya (keimanan dan ucapan ini) diakhir umurnya disebabkan amalan-amalan kejinya; sehingga ia keluar dari dunia diatas kekufuran, na’uudzubillaah (kita berlindung kepada Allaah dari kondisi demikian)

وَأَيُّ مُصِيبَةٍ أَعْظَمُ مِنْ هَذَا ، إِنَّ الرَّجُلَ كَانَ اسْمُهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ فِي جَمِيعِ عُمْرِهِ فَيُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاسْمُهُ مِنَ الْكَافِرِينَ ، فَهَذَا هُوَ الْحَسْرَةُ كُلُّ الْحَسْرَةِ

Musibah apa yang lebih besar daripada ini? Sesungguhnya seorang lelaki yang disebut-sebut termasuk dari kalangan muslimiin pada hampir seluruh umurnya akan tetapi dibangkitkan di hari kiamat dan dimasukkan kedalam golongan orang-orang kaafir. Maka ini merupakan kerugian yang sebesar-besarnya.

وَلَيْسَتِ الْحَسْرَةُ بِالَّذِي يَخْرُجُ مِنَ الْكَنِيسَةِ ، أَوْ مِنْ بَيْتِ النَّارِ ، فَيَدْخُلُ جَهَنَّمَ وَلَكِنَّ الْحَسْرَةَ بِالَّذِي يَخْرُجُ مِنَ الْمَسْجِدِ ، فَيُطْرَحُ فِي النَّارِ ، وَذَلِكَ كُلُّهُ بِسَبَبِ أَعْمَالِهِ الْخَبِيثَةِ ، وَارْتِكَابِهِ الْمُحَرَّمَاتِ فِي السَّرَائِرِ

Bukanlah kerugian itu seseorang keluar dari gereja, atau tempat penyembahan api (yaitu kalangan majusi), kemudian mereka masuk jahannam. Akan tetapi kerugian itu terhadap seorang yang keluar dari masjid lalu dilempar ke nereka. Ini semua diakibatkan amalan-amalan kejina dan melakukan keharaman-keharaman secara tersembunyi

فَرُبَّ رَجُلٍ وَقَعَ فِي يَدِهِ شَيْءٌ مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ فَيَقُولُ : أُنْفِقُهَا ثُمَّ أَرُدُّهَا أَوْ أَسْتَحِلُّ مِنْهُمْ ، فَيَمُوتُ قَبْلَ أَنْ يُرْضِيَ خَصْمَهُ

Banyak orang yang ditangannya terdapat harta orang lain, lantas ia berkata: “Aku akan menginfakkannya, kemudian mengembalikannya, atau meminta penghalalan dari mereka”. Tapi dia meninggal sebelum memintakan keridhaan orang tersebut.

وَرُبَّ إِنْسَانٍ وَقَعَ مِنْهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ حُرْمَةٌ فَيَقُولُ : كَيْفَ أَدَعُهَا وَبَيْنَنَا أَوْلَادٌ ؟ فَيُصِرُّ عَلَى ذَلِكَ

Dan betapa banyak orang yang melakukan keharaman antara dirinya dan istrinya, kemudian dia mengatakan: “Bagaimana aku meninggalkannya, sedangkan anak-anak ada diantara kami?”. Maka dia pun tetap demikian hingga kematian menjemputnya.

فَانْظُرْ يَا أَخِي وَاجْتَهِدْ فِي إِصْلَاحِ أَمْرِكَ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيكَ الْمَوْتُ فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي مَتَى يَأْتِيكَ الْمَوْتُ . وَاعْلَمْ أَنَّ الْعُمْرَ قَلِيلٌ ، الْحَسْرَةُ طَوِيلَةٌ ، وَعَلَيْكَ أَنْ تُكْثِرَ مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Maka perhatikanlah wahai saudaraku… Bersungguh-sungguhlah memperbaiki urusanmu sebelum datang maut! Sesungguhnya engkau tidak tahu kapan datangnya kematian tersebut! Ketahuilah umur kita pendek, sedangkan kerugian itu panjang. Maka wajib atas kalian memperbanyak mengucap “Laa ilaaha illaLLaah”…

Jakarta, Malam Sabtu, 17 Ramadhan 1436 H


Catatan Kaki

[1] Saya (Abu Zuhriy) berkata: Diantara faidah memperbanyak dzikir adalah diharapkan kandungan dari dzikir tersebut merasuk kedalam relung hati kita. Terlebih lagi jika dzikir yang kita ucapkan telah kita ketahui makna dan kandungan dibaliknya, maka dengan banyak-banyak mengucap dzikir tersebut maka kita akan selalu teringat akan makna dan kandungannya sehingga kita mengamalkan kandungan dari dzikir tersebut. Maka dzikir yang paling tinggi dari dzikir-dzikir yang ada, adalah dzikir Laa ilaaha illaLLaah, karena besar dan tingginya kandungan dibaliknya.

Dan darisini pula PENTING bagi kita untuk mempelajari makna-makna dan kandungan-kandungan dari dzikir-dzikir atau doa-doa yang diajarkan Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam, sehingga ketika kita mengucapnya maka kita akan teringatkan akan makna dan kandungannya; yang dengannya kita akan mengamalkan kandungan dari dzikir tersebut.

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s