Selalu uji perkataanmu dengan perbuatanmu

Perkataanmu tidaklah berguna apabila ia perbuatanmu menyatakan sebaliknya

Sungguh indah perkataan Ibraahiim at-Taymiy:

مَا عَرَضْتُ قُولِي عَلَى عَمَلِي إِلَّا خَشِيتُ أَنْ أَكُونَ مُكَذِّبًا

“Tidaklah aku membandingkan antara PERKATAANKU atas AMALANKU; melainkan aku takut menjadi seorang PENDUSTA”

Karena seseorang yang memperbagus perkataannya, dengan sebagus-bagusnya perkataan; tapi perkataannya tersebut tidak terealisasi dan terbuktikan pada amalannya; maka dikhawatirkan bahwa orang ini bisa termasuk golongan pendusta.

Sekiranya orang yang menghiasi dirinya dengan ILMU tersebut tujuannya untuk BERAMAL dengannya (untuk kehidupan akhiratnya), maka PASTI ilmu tersebut akan menjadikan dirinya terhiasi dengan AMAL. Sedangkan orang yang menghiasi dirinya dengan ILMU semata-mata hanya untuk tujuan duniawi; maka illmu tersebut tidak akan menghiasinya dengan AMAL.

Tidakkah kita lihat bagaimana Allaah mencela para penyair?

Allaah berfirman:

وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ

dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?

(asy-Syu’araa`: 226)

Bahkan inilah perbuatan yang paling dibenci oleh Allaah, sebagaimana firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

(ash-Shaff: 2-3)

Maka hendaknya kita senantiasa menguji setiap perkataan kita dengan perbuatan kita. Jangan sampai kita termasuk para pendusta, karena mengatakan sesuatu tapi justru kita menyelisihi perkataan tersebut.


Siapa saja orang yang perkataannya menyalahi perbuatannya?

1. Orang-orang yang mengakui Allaah sebagai Rabbnya, tapi tidak menjadikanNya sebagai sesembahannya satu-satunya.

Seluruh manusia diberi fithrah oleh Allaah dalam hatinya untuk mengakui bahwa hanya ada satu Tuhan, pencipta alam semesta, satu-satunya Dzat yang menguasai dan memeliharanya. Dialah Allaah. Hanya saja kemudian mereka mengadakan sekutu-sekutu bagiNya yang tidak pernah diturunkan hujjah apapun tentang hal tersebut.

Sebagaimana yang Allaah firmankan:

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ ۗ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ ۚ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.

(Ar-Ra’d: 16)

Juga sebagaimana firmanNya:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.

(Az-Zumar: 38)

Adapun orang-orang beriman, maka mereka JUJUR dengan PERKATAAN mereka. Mereka mengatakan bahwa “Tuhan kami adalah Allaah”, kemudian mereka hanya menjadikanNya satu-satunya sesembahan mereka. Mereka tidak mengadakan sekutu bagiNya, sebagaimana Dia tidak memiliki sekutu apapun dalam penciptaan, penguasaan serta pemeliharaan alam semesta.

Allaah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah (dengan ucapan itu), maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.

(al-Ahqaaf: 13)

Maka jangan sampai kita yang mengatakan “Tuhanku adalah Allaah”, tapi setelah ucapan itu kita malah mengadakan sesembahan-sesembahan lain disampingNya. Maka ini ucapan yang dusta. Sebagaimana kita mengakui bahwa Dialah satu-satuNya Rabb semesta alam, maka jadikanlah Dia satu-satuNya sesembahan kita. Ambillah agamaNya sebagai agama kita. Kita tidak mengadakan sekutu bagiNya, dan kita tidak beragama kecuali dengan agamaNya; kita mengingkari seluruh sesembahan yang disembah selainNya, dan kita mengingkari seluruh agama yang menyalahi agamaNya.

2. Seseorang yang mengaku beriman, tapi sebenarnya ia kufur

Allaah mencela orang-orang munaafiq, yang lisannya berkata bahwa mereka beriman; tapi hati dan perbuatan mereka justru mendustakannya.

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.

(al-Munaafiquun: 1)

Allaah mengingkari persaksian mereka terhadap kerasulan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam; karena ucapan mereka tersebut bukan karena dasar keimanan mereka, tapi agar mereka tidak diperangi. Maka hati mereka masih dalam kekufuran, tapi lisannya berkata lain.

Kemudian kebobrokan mereka ini nampak tatkala sesama mereka berkumpul, Allaah berfirman:

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.

(Al-Baqarah : 14)

Mereka ini mengucap keimanan dengan lisan-lisan mereka, tapi apa yang ada di hati mereka justru sebaliknya; maka yang demikian itu tampak dari lisan dan perbuatan mereka. Mereka menyakiti orang-orang beriman, tapi malah membela orang-orang kaafir.

Kemudian dari asas yang rusak ini, maka rusaklah seluruh amalan mereka.

= > Apabila mereka beribadah, mereka hanya menunaikannya karena riyaa`/sum’ah. Dan dalam penunaiannya mereka amatlah berat, malas, lagi penuh kebencian. Dan mereka amatlah sedikit mengingat Allaah.

Allaah berfirman:

وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan tidaklah mereka shalat, kecuali dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, kecuali dengan rasa benci.

(At-Tawbah: 54)

Dia juga berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali.

(An-Nisaa: 142)

=> Apabila mereka berucap, maka mereka berdusta. Apabila mereka berjanji mereka ingkar. Apabila mereka diberi amanah, mereka khianat. Apabila mereka berselisih, maka mereka berbuat fajir. Ini semua terkumpul dalam diri-diri mereka.

Sebagaimana sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ، إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

”Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga : Jika berbicara berdusta, jika berjanji tidak menepati, dan jika dipercaya dia berkhianat”

dan dalam riwayat lain disebutkan :

وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

”Jika berselisih, maka dia akan berbuat fajir”

Beliau bersabda:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا

Empat hal (diatas) apabila dimiliki oleh seseorang dalam dirinya (semuanya), maka dialah munaafik tulen.

Dalam hadits lain disebutkan:

وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ

“(orang yang memiliki keseluruhan tanda munafiq tersebut adalah munafiq tulen) Meskipun dia berpuasa, shalat, dan mengaku dirinya muslim”.

=> Bahkan yang menjadi kebiasaan mereka adalah suka menyakiti dengan lisan-lisan mereka. Bahkan terhadap Rasuulullaah pun mereka tidak takut untuk menyakiti.

Sebagaimana firman Allaah tentang mereka.

وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ ۚ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَّكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لِّلَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ ۚ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.

(At-Tawbah: 61)

Juga sebagaimaan merekalah biang kerok dari tersebarnya kabar dusta tentang Ummul Mu`miniin ‘Aa`isyah radhiyallaahu ‘anhaa. Sehingga Allaaah mengancam mereka:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.

(Al-Ahzaab: 58)

=> Mereka inipula yang dikenal orang-orang yang mengajak pada kemungkaran, dan suka menghalang-halangi hal yang ma’ruuf

Allaah berfirman:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama. mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.

(at-Tawbah: 67)

3. Seseorang yang berkata tentang kebaikan, bahkan memerintahkan kebaikan dan melarang dari hal mungkar, tapi dirinya sendiri sama sekali tidak berhasrat untuk menunaikan keduanya, sehingga dia menyalahi perkataaanya

Inilah yang Allaah ingatkan atas diri-diri kita. Sebagaimana firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

(ash-Shaff: 2-3)

Dua hal diatas ini merupakan sifatnya orang-orang munaafiq dan orang-orang yahudi.

Adapun orang-orang munafiq, maka mereka menyatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan; mereka menyatakan diri mereka beriman, padahal mereka kafir. Allaah berfirman tentang mereka:

وَإِذَا جَاءُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَقَد دَّخَلُوا بِالْكُفْرِ وَهُمْ قَدْ خَرَجُوا بِهِ ۚ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا يَكْتُمُونَ

Dan apabila orang-orang (munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”, padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (daripada kamu) dengan kekafirannya (pula); dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.

(Al-Maaidah : 61)

Allaah berifmran tentang ornag-orang yahudi:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ ؟ أَفَلَا تَعْقِلُونَ ؟

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidakkah kamu berpikir?

(al-Baqarah : 44)

DIa juga berifmran tentang mereka:

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوا وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan MEREKA SUKA supaya DIPUJI terhadap PERBUATAN yang BELUM MEREKA KERJAKAN janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.

(Aali Imraan: 188)

Maka Allaah mengingatkan kita agar jangan sampai kita menyerupai kaum yahudi dan kaum munaafiqiin.

= > Kaum yahudi yang memerintahkan kebaikan, tapi malah menyaahinya; bahkan malah suka dipuji atas perbuatan yang tidak/belum mereka kerjakan (Baca: https://abuzuhriy.wordpress.com/2011/01/05/ancaman-terhadap-orang-yang-mengajak-kebaikan-dan-melarang-kemungkaran-tetapi-perkataannya-menyelisihi-perbuatannya/)!

= > Dan Dia mengingatkan kita agar jangan seperti kaum munaafiqin yang perkataannya tidak sejalan dengan perbuatannya.

Na’uudzubillaah.

Semoga Allaah senantiasa memberikan petunjuk pada kita semua, dan semoga kita senantiasa ditetapkan diatasnya, aamiin.

Gorontalo – Senin, 25 Syawwal 1436 H

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s