Indahnya Risalah Rasulullah ﷺ

Sesungguhnya Aku Tidaklah Diutus, Kecuali Untuk Menyempurnakan Akhlaq Mulia

Berkata Abu Bakar al-Warraaq rahimahullaah:

إِنَّ اللَّهَ بَعَثَ نَبِيَّهُ ، عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ، لِيَدْعُوَ الْخَلْقَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى ، وَإِنَّمَا طَلَبَ مِنْهُمْ عَمَلَ أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ : الْقَلْبُ ، وَاللِّسَانُ ، وَالْجَوَارِحُ ، وَالْخُلُقُ

Sesungguhnya Allaah mengutus NabiNya ‘alayhish shalaatu was sallam agar mendakwahkan manusia kepada Allaah. (Yang dalam dakwah itu) Mereka hanya diminta tentang empat amalan berikut : amalan hati, amalan lisan, amalan anggota badan, dan berbudi pekerti.

وَإِنَّمَا طَلَبَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْأَرْبَعَةِ ، شَيْئَيْنِ

Dari masing-masing empat ini, beliau meminta dua hal.

أَمَّا الْقَلْبُ ، فَطَلَبَ مِنْهُ تَعْظِيمَ أُمُورِ اللَّهِ تَعَالَى ، وَالشَّفَقَةَ عَلَى خَلْقِهِ

Adapun amalan hati, maka mereka diminta untuk mengagungkan Allaah dan berbuat baik kepada makhluqNya

وَأَمَّا اللِّسَانُ فَطَلَبَ مِنْهُ ذِكْرَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى الدَّوَامِ ، وَمُدَارَاةَ الْخَلْقِ

Adapun amalan lisan, maka mereka diminta untuk senantiasa berdzikir kepada Allaah, dan membahagiakan makhluqNya

وَأَمَّا الْجَوَارِحُ ، فَطَلَبَ مِنْهَا عِبَادَةَ اللَّهِ تَعَالَى ، وَعَنِ الْمُسْلِمِينَ

Adapun amalan anggota badan, maka mereka diminta untuk beribadah kepada Allaah, dan (menolong) kaum muslimiin

وَأَمَّا الْخُلُقُ فَطَلَبَ مِنْهُ الرِّضَا بِقَضَاءِ اللَّهِ تَعَالَى ، وَحُسْنَ الْمُعَاشَرَةِ مَعَ الْخَلْقِ وَاحْتِمَالَ أَذَاهُمْ

Adapun berbudi pekerti, maka mereka diminta ridha terhadap ketetapan Allaah, dan berbuat baik dalam pergaulan mereka terhadap sesama, serta tabah menghadapi gangguan mereka.

(Tanbiihul Ghaafiliin 1/522, via shamela online)

Sungguh indah risalah yang dibawa Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam… Yang mencakup seluruh aspek kehidupan kita, dari sisi hubungan kita dengan Allaah, dan hubungan kita sesama makhluuq; yang dalam penunaian hak-hak ini terbagi menjadi empat bagian: amalan hati, amalan lisan, amalan anggota badan, juga dalam hal berbudi pekerti.

Amalan hati

Adapun amalan hati, maka kita dituntut dua hal:

1. Hanya mengagungkan Allaah semata; tidak boleh kita meninggikan siapapun daripadaNya, termasuk DIRI KITA sendiri.

Sesungguhnya penyebab awal kekufuran manusia kepada Allaah karena pengagungannya kepada selain Allaah, sehingga dia melampaui batas terhadap hal itu hingga menjadikannya kufur kepada Allaah, na’uudzubillaah. Sebagaimana penyebab awal keimanan dalam diri seseorang ketika dia menjadikan Allaah sebagai hal yang teragung dihatinya, dia tinggalkan pengagungannya kepada selainNya, termasuk dirinya sendiri. Maka tempuhlah sebab-sebab menetapnya iman dalam hati kita, dan jauhilah sebab-sebab terhapusnya iman dalam hati kita.

2. Hendaknya kita, -dengan hati kita- berbuat baik kepada makhluqNya.

Yakni dengan menginginkan kebaikan untuk mereka sebagaimana pada diri kita dan tidak menyukai keburukan pada mereka kita benci hal tersebut menimpa diri kita. Maka paling minimalnya adalah hendaknya mereka selamat dari keburukan hati kita: su’zhann, hasad, permusuhan karena pribadi, dan lain-lain.

Amalan lisan

Demikian amalan lisan, maka kita juga dituntut dua hal:

1. Senantiasa mensucikan Allaah, memujiNya, serta mengagungkanNya setoap waktu kita, yang hendaknya lidah kita selalu basah karena hal ini.

Aktifitas dzikir ini akan berefek pada hati kita, yang dengan dzikir ini kita membersihkan hati kita dari kotoran, serta menguatkan hati kita diatas kebenaran.

Demikian pula apabila lisan kita sibuk dengan hal ini, maka kita akan dibimbing untuk melakukan kebaikan lainnya dsri lisan kita (berkata yang benar, berkata jujur, dan tidak keluar darinya kecuali kebaikan); sebaliknya pula, dengan sibuk berdzikir, maka lisan kita akan dipalingkan dari hal-hal yang jelek (perkataan dusta, buruk, jelek maupun yang tidak ada manfaatnya.

Efek lain dari dzikir, adalah pengaplikasian kita terhadap kandungan dzikir yang kita baca; apabila kita senantiasa mensucikanNya (bertasbih), maka kita akan dibimbingNya jauh dari amalan bathil lagi mungkar. Sebagaimana apabila kita senantiasa memujiNya dan membesarkanNya, maka kita akan dibimbing beramal ketaatan dengan penuh kekhusyu’an.

2. Membahagiakan orang lain

Membahagiakan orang lain dengan lisan merupakan puncak kebaikan amalan lisan dalam hubungan kita dengan sesama manusia, terlebih lagi terhadap sesama muslim. Paling minimal yang dapat kita perbuat adalah tidak menyakiti mereka dengan lisan kita. Oleh karenanya ada perkataan yang indah: “apabila engkau tidak dapat membahagiakan orang lain, maka jangan sampai engkau justru menjadi penyebab kesedihan bagi orang lain”. Maka seorang pengikut Rasuulullaah yang benar lagi jujur adalah yang lisannya tidak menyakiti orang lain, bahkan lisan yang sedapat mungkin membahagiakan orang lain.

Amalan anggota badan

Berlaku pula hal yang sama dalam hal amalan anggota badan:

1. Kita dituntut untuk beribadah kepada Allaah (semata).

Kita hanya ruku’ serta sujud kepadaNya, bukan kepada selainNya. Kita sibukkan diri kita dengan menaatiNya karena itulah tujuan hidup kita, karena kita diciptakan hanya untuk beribadah kepadaNya. Pengorbanan kita dengan mau untuk bergerak dan berusaha di jalanNya adakah bukti nyata keimanan yang kita ucapkan dalam lisan kita, dan sebagai bukti bahwa adanya iman di hati kita. Maka apabila seseorang tidak mau ruku’ serta sujud padaNya, maka hendaklah ia introspeksi lagi pengakuan keimanannya kepada Allaah… Jangan-jangan klaimnya ini tidak benar atua bahkan dusta… Hendaknya ia introspeksi lagi keimanan yang ada di hatinya… Jangan-jangan keimanan itu justru telah hilang dihatinya… Na’uudzubillaah…

2. Kita dituntut untuk menolong kaum muslimiin

Karena konsekuensi dari iman kepada Allaah adalah mencintai kaum yang beriman kepada Allaah. Dan wujud nyata kecintaan kita kepada mereka adalah menolong mereka. Menolong disini dengan dua makna: makna yang pertama adalah tolong menolong dalam mewujudkan tujuan hidup bersama (yaitu beribadah kepada Allaah), sehingga kita menolong mereka agar berada diatas jalan Allaah, menolong mereka untuk tetap diatas hal itu, menolong mereka agar jangan sampai keluar dari batasanNya, dan menolong mereka untuk kembali ke jalanNya. Kemidian makna yang kedua adalah tolong menolong dari sisi sosial dan kemanusiaan; sehingga kita menolong mereka dari kesusahan mereka (dari yang paling ringan, sampai yang peling berat). Sesungguhnya pertolongan Allaah itu senantiasa menanugi kita apabila kita senantiasa menolong hambaNya, terlebih hambaNya yang beriman padaNya.

Berbudi pekerti

Kemudian yang terakhir, pada perkara akhlaaq; yang inipun dituntut dua hal:

1. Akhlaq kita kepada Allaah, agar kita menerima segala ketetapanNya

Ingatlah bahwa ketetapanNya itu PASTI BAIK bagi hambaNya, terlebih lagi bagi hambaNya yang beriman. Ingatlah bahwa dibalik ketetapanNya ada perintah untuk sabar (dan ini minimalnya), yakni kita menahan lisan maupun perbuatan kita dari berkata/berbuat dengan perkataan/perbuatan yang tidak diridhaiNya; seperti meratap, menolak takdir, apalagi sampai mencela takdir, apalagi sampai mencelaNya; na’uudzubillaah.

Kemudian setingkat diatas sabar, yaitu ridha; dia tidak hanya menahan diri dari hal yang mungkar, bahkan hatinya dalam keadaan rela ketika mendapati ketetapanNya; kerelaan hatinya ini membimbingnya untuk mengucap istirja (inna lillaahi wa inna ilayhi raaji’uun); itulah yang terucap di lisannya, dan ucapan ini benar-benar dipahami hatinya, benar-benar dengan penghadiran hatinya. Ia benar-benar mengucapnya dengan keridhaan, ketundukan dan kepasrahan terhadap Rabbnya.

Tahukah kita bahwa ternyata masih ada yang tingkatan diatas itu? Ya, itulah syukur. Bukan hanya istrija saja yang keluar dari lisannya, bahkan dalam kondisi seperti ini dia masih menyempatkan memuji Allaah, sebagaimana hal ini merupakan akhlaq dari Rasuulullaah. Apabila beliau mendapati sesuatu yang tidak beliau sukai, maka beliau berucap: “Alhamdulillaah ‘ala kulli haal” (segala puji bagi Allaah dalam segala keadaan). Mengapa demikian? Karena telah terpatri dalam hati-hati mereka segala nikmat yang Allaah berikan pada mereka yang tiada terhingga, sehingga ketika Allaah menguji mereka, maka mereka tetap ingat akan segala kebaikanNya; sehingga mereka tetap mengucapkan kalimat syukur, bahkan pada kondisi yang tidak mereka sukai. Sungguh yang demikian sangat sedikit, maka semoga Allaah menggolongkan kita menjadi termasuk yang sedikit ini, aamiin.

2. Akhlaq kita terhadap makhluuq, agar kita bergaul dengan baik kepada mereka, dan kita sabar terhadap gangguan mereka.

Yang pertama kali harus diingat dalam hal ini yaitu: bahwa Allaahlah yang memerintahkan kita berbuat baik kepada makhluqNya, dan Allaahlah yang memerintahkan kita bersabar dari gangguan mereka. Bahkan ingat pula, ketika kita diganggu, maka inipun terjadi karena ketetapan Allaah; hanya saja hal ini terjadi melalui perantaraan makhluqNya. Maka sebagaimana kita bersabar terhadap ketetapanNya pada perkara yang tidak menyangkut hamba-hambaNya; maka kita pun bersabar pada ketetapanNya yang diujikan pada kita melalui hamba-hambaNya, dengan mengingat ini, maka kita akan lebih terbantu untuk sabar. Jangan hanya melihat bahwa kita berhadapan dengan manusia, tapi lihatlah dari sudut pandang bahwa ini merupakan ujian Allaah atas kita, yang hendaknya kita mencari balasanNya ketika menyikapi hal ini. Maka apabila kita sudah bersudut-pandang demikian, maka tidaklah kita berucap, tidaklah kita berbuat; melainkan hanya karenaNya, dan dengan pertimbangan yang sesuai dengan keridhaanNya.

Semoga pemaparan singkat ini dapat semakin membuka hati kita, dapat semakin menambahkan kecintaan kita kepada Allaah dan RasulNya. Kita lebih tahu lagi akan indahnya agamaNya, yang diwahyukanNya melalui RasulNya yang mulia, Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam; yang tidaklah hal itu memberatkan kita, bahkan memudahkan kita; yang hanya dengan agama ini saja kita dapat berjumpa denganNya dalam keadaan dia ridha kepada kita. Semoga Allaah senantiasa memberikan petunjukNya pada kita semua, menetapkan kita diatas hal itu hingga wafat kita, sehingga kita dibangkitkan diatas hal tersebut, aamiin yaa rabbal ‘aalamiin. Wa shallallaahu wa sallama ‘ala nabiyyina Muhammadin an-nabiyyil ummiyyi wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Aqidah, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s