Kumpulan doa (dari al-Qur`an dan as-Sunnah)

api

Diantara ibadah yang paling agung adalah DOA. Kita tidak hanya diperintahkan Allaah untuk berdoa hanya kepadaNya, tapi juga kita diperintahkanNya untuk tidak berpaling dariNya sehingga malah berdoa pada selainNya.

Sungguh, tidak ada yang dapat menolak taqdir[1]; melainkan doa. Doa merupakan senjatanya orang-orang beriman, karena mereka berdoa kepadaNya semata, tidak berdoa pada selainNya dalam susah maupun senang mereka.

Penting bagi kita untuk dapat mengetahui adab-adab dalam berdoa[2], sehingga doa kita lebih dekat pada pengabulannya.

Diantara usaha kita agar doa kita lebih dekat pada pengabulannya, adalah kita berdoa dengan doa-doa yang diajarkan Allaah dalam kitabNya dan doa-doa yang dituntunkan RasulNya dalam sunnah-sunnahnya. Maka sepantasnya kita lebih mendahulukan doa-doa tersebut daripada doa-doa selainnya.

Para ulama telah menyebutkan bahwa doa-doa yang datang dari al-Qur`aan dan as-Sunnah, merupakan seutama-utama doa untuk kita panjatkan dalam doa-doa kita.

Berkata ibnu Taimiyyah rahimahullaah dalam majmu fatawanya:

وينبغى للخلق أن يدعوا بالأدعية الشرعية التى جاء بها الكتاب والسنة فان ذلك لا ريب فى فضله وحسنه وأنه الصراط المستقيم صراط الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا

“Manusia sepatutnya berdo’a dengan doa yang sesuai syar’iat yang datang dalam Al Quran dan sunnah, karena tidak disangsikan lagi akan keutamaan dan kebaikannya. Sesungguhnya itulah jalan yang lurus, jalan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiiqiin, syuhada, dan shalihin, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”

Berikut kami sajikan doa-doa yang kami petik dari al-Qur`aan dan as-Sunnah; agar semoga dapat kita pelajari, kita hafali dan kita baca pada waktu-waktu, tempat-tempat, atau kondisi-kondisi mustajab.

Doa-doa berikut disamakan seluruh redaksinya menjadi redaksi plural, sehingga kitapun dapat meniatkan agar semoga doa inipun dapat meliputi keluarga kita, dan sekalian kaum muslimiin. Kumpulan doa-doa tersebut telah dimuraja’ah oleh guru kami, al-Ustadz Robiyanto Ibrahim; -semoga Allaah menjaganya-

1. Disunnahkan memuji-muji Allaah pada awal berdoa

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ الْأَحَدُ الصَّمَدُ

الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Allahumma innaa nas-aluka bi annaka antallah, al-ahadush shamad

alladziy lam yalid wa lam yuulad walam yakun lahu kufuwan ahad.

(Yaa Allaah, aku memohon kepadamu, -dengan (mempersaksikan bahwa) Engkau adalah Allaah ash Shamad (Dzat Yang Bergantung KepadaNya Segala Sesuatu)

(Dzat yang) tidak beranak tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia)[3]

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْد

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ

Allaahummaa innaa nas-aluka bi-annaka lakal hamd,
laa ilaaha illaa ant, wahdahu laa syariikalak

Ya Allah, aku memohon kepadaMu… dengan (mempersaksikan) bahwa bagiMu segala pujian,

(dan bahwasanya) tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Engkau, tiada sekutu bagiMu

الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ

al mannaan… badii’us samaawati wal ardh…

(wahai Dzat yang) Maha Pemberi… Pencipta langit dan bumi…

يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَاحَيُّ الْقَيُّومُ

yaa dzal jalaali wal ikraam, yaa hayyu yaa qayyuum

Wahai Dzat yang memiliki keagungan, serta kemuliaan, wahai Dzat yang Maha Hidup, lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)).[4]

2. Kemudian berdoa dengan doa-doa yang terdapat dalam al-Qur`aaan dan as-Sunnah

[Doa-doa berikut dirujuk dari al-Qur`aan (dengan perubahan menjadi redaksi jamak)]

رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا
وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ

Rabbanaa faghfirlanaa dzunuubanaa
wa kaffir’annaa sayyi`aatinaa wa tawaffanaa ma’al abraar

Ya Tuhan kami, ampunilah kami, dan hapuslah keburukan-keburukan kami dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbuat baik…

(Q.S. Aali ‘Imraan: 193)

رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنزَلتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ
فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

Rabbanaa aamannaa bimaa anzalta wattaba’nar rasuula,
faktubnaa ma’asy syaahidiin

Ya Tuhan kami, kami telah beriman dengan apa yang telah Engkau diturunkan dan kami telah mengikuti Rasul(Mu), maka catatkanlah kami bersama orang-orang yang menyaksikan (kebenaran)

(Q.S. Aali ‘Imraan: 53)

رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbanaa innanaa aamannaa faghfirlanaa dzunuubanaa wa qinaa ‘adzaabannaar

Ya Tuhan kami… Sesungguhnya kami telah beriman… Maka ampunilah dosa-dosa kami, dan selamatkanlah kami dari adzab neraka…

(Q.S. Aali ‘Imraan: 16)

رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

Rabbanaa aamannaa faghfirlanaa warhamnaa wa anta khayrur raahimiin

Ya Tuhan kami… Kami telah beriman, maka ampunilah kami dan rahmatilah kami… Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pemberi rahmat

(Q.S. Al-Mu`minuun: 109)

رَبَّنَا أَنتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ

Rabbanaa anta waliyyunaa faghfirlanaa warhamnaa wa anta khayrul ghaafiriin

Ya Tuhan kami… Engkaulah (satu-satunya) pelindung kami… maka ampunilah kami, sesungguhnya engkau sebaik-baik pengampun.

(Al-A’raaf: 155)

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa in lam taghfirlanaa wa tarhamnaa
lanakuunanna minal khaasiriin

Ya Tuhan kami… Sesungguhnya kami telah menzhalimi diri-diri kami, dan jika Engkau tidak mengampuni kami, dan merahmati kami; maka benar-benar kami termasuk orang-orang yang merugi

(Al-A’raaf: 23)

رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ
وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ .

إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Rabbanaa wa aatinaa maa wa ‘attanaa ‘ala rusulik
wa laa tukhzinaa yawmal qiyaamati
innaka laa tukhliful mii’aad

Ya Tuhan kami… berikanlah kepada kami apa-apa yang telah dijanjikan RasulMu dan jangan hinakan kami di hari kiamat kelak… Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji

(Al-A’raaf: 194)

رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ . إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا .

إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا

Rabbanaashrif’anna ‘adzaaba jahannam, inna ‘adzabahaa kaana gharaamaa

innahaa saa`at mustaqarraw wamuqaamaa’

Ya Tuhan kami… Selamatkanlah kami dari jahannam… Sesungguhnya adzabnya adalah kebinasaan yang kekal…

Sesungguhnya ia merupakan seburuk-buruk tempat menetap dan kediaman

(Al-Furqaan: 65-66)

رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

Rabbanaa aatinaa min ladunka rahmah, wa hayyi` lanaa min amrinaa rasyadaa…

Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami

(Al-Kahfi: 10)

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا

رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا

وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Rabbanaa laa tu`aakhidznaa in nasiinaa aw akhtha`na,

Rabbanaa wa laa tahmil ‘alaynaa isran kamaa hamaltahu ‘alalladziina min qablina.

Rabbanaa wa laa tahmilnaa maa laa thaaqatalanaa bih, wa’fu’anna waghfirlana

Warhamnaa, anta mawlaanaa fanshurnaa ‘alal qawmil kaafiriin

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami keliru. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir

(Al-Baqarah: 286)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا

وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Rabbanaaghfirlanaa dzunuubanaa wa israafanaa fii amrinaa

wa tsabbit aqdaamanaa wanshurnaa ‘ala qawmil kaafiriin

Ya Tuhan kami… Ampunilah dosa-dosa kami dan berlebih-lebihan kami dalam urusan kami… Dan tetapkanlah kaki-kaki kami… Serta tolonglah kami dari orang-orang kaafir.

(Aali ‘Imraan: 147)

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا

وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Rabbanaa ifrigh ‘alaynaa shabran wa tsabbit aqdaamanaa

wanshurnaa ‘alal qawmil kaafiriin

Ya Tuhan Kami… tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir

(al-Baqarah: 250)

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

Rabbanaa ifrigh ‘alaynaa shabran wa tawaffanaa muslimiin

Ya Tuhan Kami… Tuangkanlah kepada kami kesabaran, dan wafatkanlah kami dalam keadaan muslim

(al-A’raaf: 126)

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً

إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

Rabbanaa laa tuzigh quluubana ba’da idz hadaytanaa
wa hablanaa min ladunka rahmah
innaka antal wahhab

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)

(al-A’raaf: 8)

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمِيْنَ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَكَ

وَتُبْ عَلَيْنَا. إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Rabbanaa waj’alnaa muslimiina lak wa min dzurriyatinaa ummatam muslimatan laka wa tub’alayna innaka antat-tawwaabur rahiim

Ya Tuhan Kami, jadikanlah kami termasuk orang-orang berserah diri kepadaMu dan jadikanlah pula anak-anak keturunan kami berserah diri kepadaMu, dan terimalah taubat kami… Sesungguhnya engkau penerima taubat lagi Maha Penyayang

(Doa serupa terdapat dalam al-Baqarah: 128; dengan perubahan kepada redaksi plural)

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Rabbanaa laa taj’alnaa ma’al qawmizh zhaalimiin

Ya Tuhan kami… Jangan jadikan kami bersama kaum yang zhalim…

(al-A’raaf: 8)

رَبَّنَا نَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Rabanaa najjinaa minal qawmizh zhaalimiin

Ya Tuhan kami… Selamatkanlah kami dari orang-orang zhaalim…

(Yunus: 85)

رَبَّنَا انصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ

Rabananshurnaa ‘alal qawmil mufsidiin

Ya Tuhan kami… Tolonglah kami dari orang-orang yang berbuat kerusakan…

(Doa serupa terdapat dalam al-Ankabuut: 30; dengan perubahan kepada redaksi plural)

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا

رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Rabbanaa laa taj’alnaa fitnatallilladziina kafaruu waghfirlanaa

rabbana innaka antal ‘aziizul hakiim…

wa najjinaa bi rahmatika minal qawmil kaafiriin

Wahai Rabb kami… jangan jadikan kami sasaran fitnah orang-orang kaafir, ampunilah kami Ya Tuhan kami… Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana… Dan tolonglah kami dengan rahmatMu dari orang-orang yang kafir

(al-Mumtahanah: 5)

رَبَّنَا اجْعَلْنا مُقِيمِينَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِنا رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Rabbanaj’alnaa muqiimiinash shalaah, wa min dzurriyyatinaa, rabbanaa wa taqabbal du’aaa…

Ya Tuhan kami… Jadikanlah kami dan keturunan kami termasuk orang-orang yang mendirikan shalat… Ya Tuhan kami terimalah doa kami…

(Doa serupa terdapat dalam Ibraahiim: 40; dengan perubahan kepada redaksi plural)

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً . إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Rabbanaa hablanaa min ladunka dzurriyatan thayyibatan innaka samii’ud du’aaa

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kami dari sisi Engkau keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa

(Doa serupa terdapat dalam Aali ‘Imraah: 38; dengan perubahan kepada redaksi plural)

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyaatinaa qurrata a’yunin, waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa…

Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa

(al-Furqaan: 74)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Rabbanaghfirlanaa li ikhwaaninaalladziina sabaquunaa bil iimaan… wa laa taj’al fii quluubina ghillallilladziina aamanuu… Rabbanaa innaka ra`uufurrahiim…

Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudarasaudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orangorang yang beriman; Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.

(al-Hasyr: 10)

رَبَّنَا أَوْزِعْنِا أَنْ نَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَينِا

وَعَلَىٰ وَالِدِينَ وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ

وَأَدْخِلْنا بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Rabbanaa awzi’na an nasykura ni’matakallati an’amta ‘alayna

Wa ‘alaa waalidiina wan na’mal shaalihan tardhaah

Wa ad’khilna birahmatika fii ‘ibaadikash shaalihiin

Ya Tuhan kami.. berilah kami ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau anugerahkan kepada kami dan kepadadua orang ibu bapak kami… (Serta berilah ilham kepada kami) untuk dapat mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; danmasukkanlah kami dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh

(Doa serupa terdapat dalam Al-Ahqaaf:15; dengan perubahan kepada redaksi plural)

رَبنا اغْفِرْ لنا وَلِوَالِدينا

وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِنا مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Rabbanaghfirlanaa wa li waalidiina

Wa liman dakhala baytina mu`minan, wa lil mu`miniina wal mu`minaat

Ya Allaah, ampunilah kami dan orang tua kami; dan orang-orang yang mu`min yang memasuki rumah kami; dan juga mu`minin dan mu`minat.

(Doa serupa terdapat dalam Nuuh:28; dengan perubahan kepada redaksi plural)

رَبنا ارْحَمْ وَالِدينا كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

Rabbanarham waalidiina kamaa rabbawnaa shighaaraa

Ya Tuhan kami, kasihilah orang tua kami; sebagaimana mereka mengasihi kami sewaktu kecil

(Doa serupa terdapat dalam al-Isra:24; dengan perubahan kepada redaksi plural)

رَبنا اغْفِرْ لنا وَتُبْ عَلَينا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ

Rabbanaghfiralanaa wa tub ‘alaynaa innaka antat-tawwaabul ghafuur

Ya Tuhan kami.. Ampunilah kami… Terimalah taubat kami… Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Pengampun…

(Doa serupa terdapat dalam al-Baqarah: 127; dengan perubahan kepada redaksi plural)

اللَّهمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا

وَلا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا أَنْتَ

فَاغْفِرْ لنا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ

وَارْحَمْنا إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Allaahumma inna zhalamna anfusana zhulman katsiiraawa laa yaghfirudz dzunuuba illa anta

faghfirlanaa maghfiratan min ‘indik

warhamna, innaka antal-ghafuurur-rahiim

Ya Allaah… Sesungguhnya kami telah menzhalimi diri-diri kami dengan kezhaliman yang banyak… Sedangkan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.. Maka ampunilah kami dengan ampunan yang datang dari sisiMu… Dan rahmatilah kami… Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang…

(Dari doa yang diajarkan Rasuulullaah kepada Abu Bakar; diriwayatkan al-Bukhaariy dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[5]

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لنا خَطايانا، وَجَهْلِنا، وَإِسْرَافِنا فِي أَمْرِنا

وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّا

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لنا هَزْلِنا وَجِدِّنا، وَخَطأنا، وَعَمْدِنا، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِنا

Allaahummaghfirlanaa khathaayaanaa, wajahlinaa wa israafinaa fii amrinaa
Wa maa anta a’lamu bihi minna…
Allaahummaghfirlanaa hazlinaa wajiddinaa, wa khata`naa wa ‘amdinaa kullu dzalika ‘indinaa…

Yaa Allaah ampunilah kesalahan-kesalahan kami, kebodohan-kebodohan kami, sikap berlebih-lebihan kami dalam urusan kami, dan apa-apa yang engkau ketahui dari kami… Yaa Allaah ampunilah kami atas canda dan keseriusan kami; ketidaksengajaan kami maupun kesengajaan kami… yang semua itu datang dari kami…

(Dari doa yang dipanjatkan Rasuulullaah; diriwayatkan al-Bukhaariy dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[6]

اللهم أَنْتَ رَبُّنَا لا إله إلا أنتَ خلقتَنا

نحن عَبِيدُك وإماؤُك

ونحن على عَهْدِكَ ووعْدِكَ مَا اسْتَطَعْنَا

Allaahumma anta rabbunaa, laa ilaaha illa anta, khalaqtanaa Nahnu ‘abiiduk, wa imaa`uk

Wa nahnu ‘ala ‘ahdik wa wa’dik mastatha’na

Ya Allaah, Engkau adalah Rabb kami, tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan engkau. Engkau menciptakan kami, dan kami adalah hamba lelakiMu dan hamba wanitaMu, dan kami diatas perjanjianMu dan janjiMu sesuai dengan kemampuan kami.

نَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْنَا

Na’uudzubika min syarri maa shana’naa

Kami berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatan-perbuatan kami

نَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيْنَا وَنَبُـوْءُ بِذُنُوبِنَا

فَاغْفِرْ لَنَا فَإِنَّهُ لَا يَغْفِــرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

Nabuu`u laka bi ni’matika ‘alaynaa, nabuu`u bi dzunuubinaa

faghfirlanaa fa innahu laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta.

Kami mengakui nikmatMu pada kami, kami mengakui dosa-dosa kami, maka ampunilah kami… sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.

(diriwayatkan al-Bukhaariy dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[7]

اللهم إنّٓا عَبِيدُك، بنو عَبيدِك، بنو إمٓائِك، نواصينا بِيَدِكَ

مَاضٍ فيناحُكْمُكَ، عَدْلٌ فينا قَضَاؤُكَ

Allaahumma inna ‘abiiduk, banuu ‘abiidik, banuu imaa`ik, nawaashiina biyadik

Maadhin fiina hukmuk, ‘adlun fiinaa qadhaa`uk

Yaa Allaah, sesungguhnya kami hambaMu, anak-anak hamba lelakiMu, anak-anak hamba wanitaMu, ubun-ubun kami di TanganMuHukum-hukumMu berlaku pada kami, ketetapanMu adil pada kami

نسألك اللهم بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ

أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ

أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ

أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ

Na`aluka allaahumma bi kullismin huwa laka sammayta bihi nafsak,

Aw anzaltahu fii kitaabik,

Aw ‘allamtahu ahadan min khalqik

awista`tsarta bihi fii ‘ilmil ghaybi ‘indak

Kami memohon kepadaMu yaa Allaah dengan setiap nama yang engkau namai DiriMu denganya, atau (nama-nama) yang Engkau turunkan dalam kitabMu, atau (nama-nama) yang engkau ajarkan dari makhluqMu, atau (nama-nama) yang engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada disisiMu

أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوْبِنَا

وَنُوْرَ صدُوْرِنَاوَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا وَذَهَابَ همومِنا

an taj`’alal quraana rabii’a quluubinaa,

wa nuura shuduurinaa, wa jalaa`a ahzaaninaa, wa dzahaaba humuuminaa

agar engkau menjadikan al-qur`aan sebagai penyejuk hati-hati kami, cahaya di dada-dada kami, pelipur kesedihan-kesedihan kami serta pelenyap kesedihan-kesedihan kami

(diriwayatkan Ahmad dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[8]

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ

وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ

وَمِنْ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا

Allaahummaq’sim lanaa min khasy-yatika maa yahuulu baynanaa wa bayna ma’aashiik

Wa min thaa’atik maa tuballighunaa bihi jannatak

Wa minal yaqiini maa tuhawwinu bihi ‘alaynaa mushiibaatid dunyaa

Ya Allah, curahkanlah kepada kepada kami rasa takut kepadaMu yang menghalangi kami dari bermaksiat kepadaMu, dan ketaatan kepadaMu yang mengantarkan kami kepada SurgaMu, dan curahkanlah keyakinan (terhadap aakhirat kepada kami) yang dengannya dapat meringankan musibah (yang kami hadapi) di dunia.

وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا

وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا

wa matti’na bi-asmaa-inaa, wa abshaarinaa, wa quwwaatinaa, wa ahyaytanaa,

waj’alhul waaritsa minna

Berilah kenikmatan kami dengan pendengaran kami, penglihatan kami, serta kekuatan kami selama kami hidup, dan jadikan itu sebagai warisan dari kami.

وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا

Waj’-al tsa’ranaa ‘alaa man zhalamanaa, wanshurnaa ‘ala man ‘aadanaa

Dan jadikan pembalasan atas orang yang menzhalimi kami, dan tolonglah kami melawan orang-orang yang memusuhi kami.

وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا

وَلَا تَجْعَلْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا

وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

Wa laa taj’al mushiibatanaa fii diininaa,
wa laa taj’-‘alid dunyaa akbara hamminaa,
wa laa mab’lagha ‘ilminaa, wa laa tusallith ‘alaynaa man yarhamunaa

Dan janganlah Engkau jadikan musibah kami pada agama kami, dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai impian kami terbesar, serta (jangan jadikan ilmu duniawiyah kami sebagai) pengetahuan kami yang tertinggi, serta jangan engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami.

(diriwayatkan at-Tirmidziy, an-Nasaa`iy, dan selainnya)[9]

اللهم انا نسألك فِعْلَ الْخَيْرَاتِ ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ

وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ ، وَأَنْ تَغْفِرَ لنا وتَرْحَمنا

allåhumma innaa nas-aluka fi’lal khayraat, wa tarkal munkaraat,

wa hubbal masaakiin, wa an taghfiralanaa wa tarhamanaa…

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, agar kami dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik, meninggalkan perbuatan munkar, mencintai orang miskin, dan agar Engkau mengampuni dan menyayangi kami..

وَإِذَا أَرَدْتَ بِقَوْمٍ فِتْنَةً فَتَوَفَّنا غَيْرُ مَفْتُونٍ

wa idzaa aråd-ta fitnata qåwmin, fatawaffanaa ghåyrå maftuuniin

Dan jika Engkau Menghendaki (menimpakan) fitnah pada suatu kaum, maka wafatkanlah kami dalam keadaan tidak terfitnah

ونسألك حُبَّكَ،وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّك ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنا إلى حُبِّك

wa nas-aluka hubbak, wa hubba man yuhibbuk, wa hubba ‘amalin yuqarribunaa ilaa hubbik

Kami memohon kepadaMu kecintaan kepadaMu, rasa cinta kepada orang-orang yang mencintaMu, serta kecintaan terhadap amalan-amalan yang mendekatkan kami kepada cintaMu

(diriwayatkan at-Tirmidziy, dan selainnya)[10]

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ

Allahumma lakal hamdu kulluhu

Ya Allah, hanya bagiMu segala pujian

اللَّهُمَّ لاَ قَابِضَ لِمَا بَسَطْتَ

وَلاَ بَاسِطَ لِمَا قَبَضْتَ

Allahumma laa qaabi-dha limaa basath-ta
wa laa baasitha limaa qabadh-ta

Ya Allah tidak ada Tidak ada yang dapat menahan apa yang engkau lapangkan, dan tidak ada yang dapat melapangkan apa yang engkau tahan

وَلاَ هَادِيَ لِمَنْ أَضْلَلْتَ

وَلاَ مُضِلَّ لِمَنْ هَدَيْتَ

wa laa haadiya limaa adh-lalta
wa laa mudhilla liman hadayta

Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah engkau sesatkan

Dan tidak ada yang dapat menyesatkan orang yang telah engkau beri petunjuk

وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ

وَلاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ

wa laa mu’thiya limaa mana’ta
wa laa maani’a limaa a’thayta

Tidak ada yang dapat memberi apa yang engkau cegahDan tidak ada yang dapat mencegah apa yang engkau beri

وَلاَ مُقَرِّبَ لِمَا بَاعَدْتَ

وَلاَ مُبَاعِدَ لِمَا قَرَّبْتَ

wa laa muqarriba limaa baa’ad’ta
wa laa mubaa’ida limaa qarrab’ta

Tidak ada yang dapat mendekatkan apa yang engkau jauhkan

Dan tidak ada yang dapat menjauhkan apa yang engkau dekatkan

اللَّهُمَّ ابْسُطْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِكَ، وَرَحْمَتِكَ، وَفَضْلِكَ، وَرِزْقِكَ

Allahummab’suth ‘alaynaa min barakaatik, wa rahmatik, wa fadhlik, wa rizqik

Ya Allah limpahkanlah kepada kami keberkahan, rahmat, karunia dan rizqiMu

اللَّهُمَّ انا نسألك النَّعِيمَ يَوْمَ الْعَيْلَةِ، وَالأَمْنَ يَوْمَ الْخَوْفِ

Allahumma inna nas-aluka an-na’iima yawmal ‘aylah, wal amna yawmal khawf

Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepadaMu kenikmatan pada hari kesengsaraan dan rasa aman pada hari menakutkan

اللَّهُمَّ انا نسألك النَّعِيمَ الْمُقِيمَ الَّذِي لاَ يَحُولُ وَلاَ يَزُولُ

Allahuma innaa nas-aluka, an-na’iimal muqiim, alladziy laa yahuulu wa laa yazuul

Ya Allah sesunguhnya aku memohon kepadaMu kenikmatan abadi yang tidak akan berubah dan tidak akan lenyap

اللَّهُمَّ انا نعوذ بك مِنْ شَرِّ مَا أَعْطَيْتَنَا وَشَرِّ مَا مَنَعْتَنَا

Allahumma innaa na’uudzubika min syarri maa a’thaytanaa, wa syarri mana’ta

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari keburukan apa yang telah engkau berikan kepada kami dan dari keburukan apa yang engkau cegah dari kami

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الإِيمَانَ وَزِيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا

وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ

وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ

Allahumma habbib ilaynal iimaana wa zayyinhu fii quluubinaa

wa karrih ilaynal kufra wal fusuuqa wal ‘ishyaan

waj’-‘alnaa minarraasyidiin

Yaa Allah jadikanlah hati kami mencintai keimanan dan jadikanlah ia hiasan dalam hati kami, dan tanamkanlah kebencian kepada kami terhadap kekufuran, kefasiqan dan kemaksiatan. Dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus

اللَّهُمَّ تَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ، وَأَحْيِنَا مُسْلِمِينَ

وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِينَ غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ مَفْتُونِينَ

Allahumma tawaffanaa muslimiin, wa ahyinaa muslimiiin,

Wa alhiq’naa bishhaalihiin ghayra khazaayaa wa laa maftuuniin

Ya Allah wafatkanlah kami dalam keadaan muslim, dan hidupkanlah kami dalam keadaan muslim. Serta pertemukanlah kami dengan orang-orang shalih dalam keadaan tidak terhina dan tidak pula terfitnah

اللَّهُمَّ قَاتِلِ الْكَفَرَةَ الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ

وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِكَ، وَاجْعَلْ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ

Allahumma qaatilil kafaratalladziy yukadz-dzibuuna rusulak

wa yashudduuna ‘an sabiilik, waj’-‘al ‘alayhim rij’zaka wa ‘adzaabak

Ya Allah perangilah orang-orang kafir yang mendustakan Rasul-RasulMu dan menghalang-halangi jalanMu, dan timpakanlah kesengsaraan dan adzabMu kepada Mereka

اللَّهُمَّ قَاتِلِ الكَفَرَةَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ، إِلَهَ الْحَقِّ

Allahumma qaatilil kafaratalladziyna uutulkitaaba ilahal haq

Ya Allah perangilah orang-orang kafir yang telah dberi al kitab… (Engkaulah) Ilah Yang Benar

(diriwayatkan al-Bukhaariy dalam al-adabul mufrad, al-haakim, al-bayhaqiy dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[11]

اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ سَرِيعَ الْحِسَابِ اهْزِمِ الأَحْزَابَ وَزَلْزِلْهُمْ

Allahumma munzilal kitaabi sarii’al hisaab, ihzimil ahzaaba wa zalzilhum

Ya Allaah, Dzat yang telah menurunkan kitab, yang amat cepat hisabNya, cerai-beraikanlah golongan musuh dan goncangkanlah mereka.

(diriwayatkan al-Bukhaariy, Muslim, dan selainnya)[12]

اللهم إنا نسألك مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ:

عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَالَم نَعْلَمْ

Allaahumma innaa nas-aluka minal khayri kullih

‘aajilihi wa aajilihi, maa ‘ilminaa wa maa lam na’lam

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu semua kebaikan, baik yang cepat (di dunia) maupun yang di tangguhkan (di akhirat), yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui.

ونعوذ بك مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ ،

مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَالَم نَعْلَمْ

Wa na’uudzubika minasy syarri kullih, ‘aajilihi wa aajilihi, maa ‘alimna minhu, wa maa lam na’lam

Dan kami berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang cepat (di dunia) maupun yang di tangguhkan (di akhirat), yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui.

اللهم إنا نسألك مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ

ونعوذ بك مِنْ شَرِّ [مَا اسْتَعَاذَ بِكَ] [مِنْهُ] عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ

Allaahumma inna nas-aluka min khayri maa sa-alaka ‘abduka wa nabiyyuka,

Wa na’uudzubika min syarristi’aadza bika minhu ‘abduka wa nabiyyuka

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan yang di mohonkan hamba-Mu dan Nabi-Mu kepada-Mu, dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan yang hamba-Mu dan Nabi-Mu berlindung darinya kepada-Mu.

اللهم إنا نسألك الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ

Allaahumma inna nas-alukal jannata wa maa qarraba ilayhaa min qawlin aw amalin

Ya Allah, sungguh kami memohon surga kepada-Mu dan semua yang mendekatkan diri kami kepadanya dari perkataan atau perbuatan.

ونعوذ بك مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ

Wa na’uudzubika minan naari, wa maa qarraba ilayha min qawlin aw ‘amalin

Dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka dan semua yang mendekatkan diri-diri kami kepadanya dari perkataan dan perbuatan.

ونسألك أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لنا خَيْرًا

Wa nas-aluka an taj’-‘al kulla qadhaa-in qadhaytahu lana khayran

Dan kami memohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan semua ketentuan yang Engkau tentukan kepadaku sebagai kebaikan.”

اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ، وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ

Allahumma bi ‘ilmikal ghayb, wa qadratika ‘alal khalqi’

Ya Allah dengan ilmu-Mu terhadap hal gaib dan kekuasaan-Mu atas makhluk

أَحْيِنا مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لنا ، وتَوَفَّنا إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لنا

ahyinaa maa ‘alimtal hayaata khayran lanaa, wa tawaffanaa idzaa ‘alimtal wafaata khayran lanaa

Hidupkanlah kami selagi Engkau mengetahui bahwa hidup itu lebih baik bagi kami, dan matikanlah kami jika Engkau mengetahui bahwa mati lebih baik bagi kami

(berdasarkan doa yang diajarkan Rasuulullaah kepada ‘Aa`isyah; diriwayatkan Ahmad, ibnu maajah [dan ini redaksinya], dan selainnya)[13]

اللَّهُمَّ أَعِنا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Allaahumma a’innaa ‘ala dzikrika wa syukrika wa hushni ibaadatik

Yaa Allaah… Bantulah kami untuk senantiasa mengingatMu, mensyukuriMu, dan beribadah dengan baik (kepada)Mu

(berdasarkan doa yang diajarkan Rasuulullaah kepada Mu’aadz; yang diriwayatkan Ahmad, an-Nasaa`iy, ibnu Khuzaymah, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[14]

اللهم ونسألك خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

ونسألك كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ

Allahumma wa nas-aluka khasy-yataka fil ghaybi wasy syahaadah

Wa nas-aluka kalimatal haqqi fir ridhaa wal ghadhab

Yaa Allaah, dan kami memohon kepadaMu rasa takut saat dalam tersembunyi maupun nampak. Dan kami memohon kepadaMu (agar kami berkata) kalimat yang haq dalam keadaan senang ataupun marah.

ونسألك الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى

wa nas-alukal qashda fil faqr wal ghina

Kami memohon kepadaMu kesederhanaan saat fakir dan kaya

ونسألك نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ

ونسألك قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ

wa nas-aluka na’iiman laa yanfad
wa nas-aluka qurrata ‘ainin laa tanqathi’

Kami memohon kepadaMu penyejuk pandangan tanpa terputus
dan kami memohon kepadaMu kenikmatan tanpa habis

ونسألك الرِّضَاءَ بَعْدَ الْقَضَاءِ

ونسألك بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ

wa nas-aluka ar ridhaa`a ba’dal qadhaa`i,
wa nas-aluka bardal ‘aisy ba’dal mawt

Kami memohon kepadaMu keridhaan setelah adanya keputusan
Kami memohon kepadaMu kenyamanan hidup setelah mati

ونسألك لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ

وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ

Wa nas-aluka ladzdzatan nazhari ila wajhika
wasy syawqa ila liqaa-ika fiy ghayri dharaa-a mudhirratin wa laa fitnatin mudhillah,

Kami memohon kepadaMu kelezatan memandang kepada wajah-Mu serta keridhaan berjumpa denganMu tanpa ada bahaya yang membahayakan serta tanpa fitnah yang menyesatkan.

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ

Allahumma zayyinnaa bi ziinatil iimaan waj ‘alnaa hudaatan muhtadiin

Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami orang yang menyampaikan hidayah dan yang mendapatkan hidayah.”

(Diriwayatkan Ahmad, an-Nasaa`iy (dan ini redaksinya), ibnu Hibbaan, al-Haakim, dan selainnya)[15]

اللَّهُمّ إِنِّا نسْأَلُكَ إِيمَانًا لاَ يَرْتَدُّ، وَنَعِيمًا لاَ يَنْفَدُ

وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم فِي أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ

Allaahumma innaa nas`aluka imaanan laa yartad, wa na’iiman laa yanfad,

wa muraafaqata muhammadin (shallallaahu ‘alayhi wa sallam) fii a’la jannatil khuld

Ya Allah, kami memohon kepadaMu iman yang tidak akan lepas, nikmat yang tidak akan habis,

Dan menyertai Muhammad (shallallaahu ‘alayhi wa sallam) di surga paling tinggi selama-lamanya

(Diriwayatkan Ahmad, ibnu hibban, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[16]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوب ثَبِّتْ قلُوْبِنَا عَلَى دِينِكَ

Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit quluubinaa ‘ala diinik

Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami diatas agamaMu

(Diriwayatkan at-tirmidziy, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[17]

اللَّهُمَّ ثَبِّتْنا وَاجْعَلْنا هَادِياً مَهْدِيَّاً

Allaahumma tsabbitnaa waj’alnaa haadiyan mahdiyyan

Yaa Allaah… Tetapkanlah kami (diatas agamaMu) dan jadikanlah kami orang-orang yang petunjuk (kepada jalanMu) dan orang-orang yang diberi petunjuk (kepada jalanMu)

(Diriwayatkan al-Bukhaariy, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[18]

اللَّهُمَّ اهْدِنا وَسَدِّدْنا وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ وَالسَّدَادِ سَدَادَ السَّهْمِ

Allaahummah dinaa wa saddidnaa wadzkur bil hudaa hidaayatakath thariiq was asdaad sadaadas sahm…

“Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kami. Berilah kami jalan yang lurus. Jadikan petunjuk-Mu sebagai jalan (kami) dan kelurusan hidup (kami) selurus anak panah.”

اللَّهُمَّ اهْدِنا وَسَدِّدْنا ، اللَّهُمَّ إِنِّا نسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ

Allaahummahdinaa wa sadidnaa… Allaahumma innaa nas`alukal huda was sadaad…

Yaa Allaah berilah kami petunjuk dan luruskanlah kami… Yaa Allaah… Kami memohon kepadaMu petunjuk dan kelurusan…

(Diriwayatkan Muslim, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[19]

اللَّهُمَّ إِنِّا نسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى

Allaahumma innaa nas`alukal hudaa, wat tuqaa, wal ‘afaaf, wal ghina

Yaa Allaah kami memohon kepadaMu petunjuk, ketaqwaan, ‘afaaf (menjauhkan diri dari perkara haram), dan ghina (kecukupan hati dari jalan yang halal)

(Diriwayatkan Muslim, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[20]

اللَّهُمَّ احْفَظنا بالإِسْلاَمِ قائِماً

واحْفَظْنا بالإِسْلاَمِ قاعِداً، واحْفَظنا بالإِسْلاَمِ راقِداً

ولا تُشْمِتْ بِنا عَدُوّاً ولا حاسِداً

اللَّهُمَّ إِنِّا نسْألُكَ مِنْ كُلِّ خَيْر خزائِنُهُ بِيَدِكَ

ونعُوذُ بِكَ مِنْ كُلِّ شَرَ خَزَائِنُهُ بِيَدِكَ

Allaahummahfazhnaa bil-islaam qaa`iman

Wahfazhna bil-islaam qaa’idan, wahfazhna bil-islaam raaqidan

Wa laa tusymit binaa ‘aduwwan wa laa haasidan.

Allaahummaa inna nas`aluka min kulli khayri khazaainuhu biyadik

Wa na’uudzubika min kulli syarri khazaa`inuhu biyadik

Yaa Allaah jagalah kami dengan islam ini ketika kami berdiri, jagalah kami dengan islam ini ketika kami duduk, jagalah kami dengan islam ini ketika kami tidur, dan janganlah Engkau jadikan musuh-musuh dan orang-orang yang hasad kepada kami gembira karena kedukaan kami. Yaa Allaah, kami memohon kepadaMu dari segala pembendaraan kebaikan yang berada di TanganMu, dan kami berlindung kepadaMu dari segala pembendaraan keburukan yang juga ada di TanganMu.

(Diriwayatkan al-Haakim, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[21]

اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْنا وَبِكَ آمَنا

وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْنا وَإِلَيْكَ أَنَبْنا وَبِكَ خَاصَمْنا

اللَّهُمَّ إِنا نعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنا

أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ

Allaahumma laka aslamnaa wa bika aamannaa

Wa ‘alayka tawakkalnaa, wa ilayka anabnaa, wa bika khashamnaa,

Allaahumma inna na’uudzu bi’izzatika laa ilaaha illa anta an-tudhillana,

Antal hayyu alladziy la yamuut, wal jinnu wal insu yamuut…

Yaa Allaah… kepadaMu kami berserah diri… kepadaMu kami beriman… KepadaMu kami bertawakkal… kepadaMu kami kembali… dan dengan-(nama)Mu kami membela… Yaa Allaah… sesungguhnya kami berlindung dengan keperkasaanMu, tiada sesembahan yang berhak disembah selainMu, agar Engkau tidak menyesatkan kami… Sesungguhnya Engkau Maha Hidup yang tidak pernah mati, sedangkan jin dan manusia mati.

(Diriwayatkan Muslim, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[22]

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ

Allaahummaa innaa na’uudzubika min an nusyrika bika syay`an na’lamuh

Yaa Allaah kami berlindung kepadaMu dari menyekutukanMu dengan segala sesautu dengan sesuatu yang kami ketahui

وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ

Wa nastaghfiruka li maa laa na’lam

Dan kami memohon ampun padaMu terhadap apa-apa yang tidak kami ketahui

(Diriwayatkan ‘Abdurrazzaaq dengan redaksi seperti ini)[23]

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لنا وَاهْدِنا وَارْزُقْنا وَعَافِنا

نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ ضِيقِ الْمَقَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Allaahummagh firlanaa wahdinaa warzuqnaa wa ‘aafinaa

wa na’uudzubika min dhiiqil maqaami yawmal qiyaamah

Ya Allaah ampunilah kami, berilah kami petunjuk, berilah kami rziki, berilah kami keselamatan, dan kami berlindung kepadamu dari kesempitan berdiri di hari kiamat

(Diriwayatkan al-Haakim, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[24]

اللهم إنا نعوذ بك مِنْ الْعَجْزِ , وَالْكَسَلِ , وَالْجُبْنِ

وَالْبُخْلِ , وَالْهَرَمِ , وَعَذَابِ الْقَبْرِ

Allaahummaa innaa na’uudzubika minal ‘aj’zi, wal kasal,wal jubn

wal bukhl, wal harami, wa ‘adzaabil qabr

Ya Allah kami berlindung kepada-Mu dari kelemahan, dari kemalasan, dari ketakutan,

dari kekikiran, dari kepikunan, dan dari siksa kubur.

اللهم آت نفوسنا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا

أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

Allaahummaa aati nufuusanaa taqwaahaa wa zakkihaa anta khayru man zakkaahaa

anta waliyuhaa wa mawlaahaa.

Ya Allah, berikanlah ketakwaan kepada jiwa kami dan sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat mensucikannya, Engkaulah yang menguasai dan yang menjaganya

اللهم إنا نعوذ بك مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ

وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

Allaahumma innaa na’uudzubika min ‘ilmin laa yanfa’, wa min qalbin laa yakhsya’

wa min nafsin laa tasyba’, wa min da’watin laa yustajaabulahaa.

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak terkabulkan

(Diriwayatkan Muslim, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[25]

اللَّهُمَّ إِنا نسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

Allaahummaa inna nas`aluka ‘ilman naafi’aa, wa rizqan thayyibaa, wa ‘amalan mutaqabbalaa

Yaa Allaah kami memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thayyib, dan ‘amalan yang diterima…

(Diriwayatkan ibnu Maajah, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[26]

اللَّهُمَّ انْفَعْنا بِمَا عَلَّمْتَنا ، وَعَلِّمْنِنا مَا يَنْفَعُنِنا ، وَارْزُقْنا عِلْمًا تَنْفَعُنا بِهِ

Allaahummanfa’na bima ‘allamtanaa, wa ‘allimnaa maa yanfa’unaa, warzuqnaa ‘ilman tanfa’una bih.

Yaa Allaah berilah kemanfaatan kepada kami dari apa-apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, dan ajarkanlah kami apa-apa yang dapat bermanfaat bagi kami, dan tambahanlah kepada kami ilmu yang yang dengannya Engkau memberi manfaat kepada kami…

(Diriwayatkan al-Haakim, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[27]

اللَّهُمَّ اهْدِنا لأَحْسَنِ الأَخْلاقِ

فَإِنَّهُ لا يَهْدِي لأَحْسَنِهَا إِلا أَنْتَ

وَاصْرِفْ عَنّا سَيِّئَهَا لا يَصْرِفُ عَنّا سَيِّئَهَا إِلا أَنْتَ

Allaahummahdinaa li ahsanil akhlaaq

fa innahu laa yahdi li ahsanihaa illaa anta

washrif ‘anna sayyi`ahaa, laa yashrifu ‘anna sayyi`ahaa illa anta

Yaa Allaah tunjukilah kepada kami akhlaq yang paling bagus, sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada akhlaq yang paling bagus kecuali Engkau. Dan jauhkanlah dari kami akhlaq yang buruk, tidak ada yang dapat menjauhkan keburukan akhlaq dari kami kecuali Engkau.

(Diriwayatkan Abu Nu’aym dalam shifatun nifaaq, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[28]

اللَّهُمَّ إِنا نعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ , وَالْأَعْمَالِ , وَالْأَهْوَاءِ

Allaahumma inna na’uudzubika min munkaraatil akhlaaq, wal a’maal, wal ahwaa`.

Yaa Allaah, kami berlindung padaMu dari kemunkaran akhlaaq, amal, dan hawa nafsu

(Diriwayatkan dalam at-tirmidziy dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[29]

اللَّهُمَّ جَنِّبْنا مُنْكَرَاتِ الأَخْلاقِ ، وَالأَهْوَاءَ ، وَالأَدْوَاءَ

Allaahumma jannibnaa munkaraatil akhlaaq, wal ahwaa`, wal adwaa`

Ya Allaah jauhkanlah kami dari berbagai macam kemungkaran akhlaaq, hawa nafsu, dan segala macam penyakit

(Diriwayatkan ibnu Hibbaan dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[30]

اللهمَّ إنا نعوذ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ،

وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

Allaahumma innaa na’uudzubika min jahdil balaa`, wa darakisy syaqaa`, wa suu`il qadhaa`, wa syamaatil a’daa`

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari susahnya balaa`, hinanya kesengsaraan, keburukan qadhaa`, dan kegembiraan musuh.

(Diriwayatkan al-Bukhaariy dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[31]

اللهم إنا نعوذ بك مِنْ الْبُخْلِ وَالْكَسَلِ وَأَرْذَلِ الْعُمُرِ

وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

“Allaahumma innaa na’uudzubika minal bukhli wal kasali, wa ardzalil ‘umuri,

wa ‘adzaabil qabri, wa fitnatil mahyaaya wa mamaati

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekikiran, kemalasan, umur yang menjadikan pikun, siksa kubur dan fitnah dunia dan fitnah kematian

(Diriwayatkan al-Bukhaariy dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[32]

اللهم إنا نعوذ بك مِنَ الْعَجْزِ ، وَالْكَسَلِ ، وَالْجُبْنِ ، وَالْهَرَمِ

وَالْقَسْوَةِ ، وَالْغَفْلَةِ ، وَالْعَيْلَةِ وَالذِّلَّةِ وَالْمَسْكَنَةِ

Allåhumma innaa na’uudzubika minal ‘ajzi wal kasal, wal jubni wal bukhl, wal harami

wal qåswah, wal ghåflati wal ‘aylah, wadz dzil-lah wal maskanah

“Ya, Allah! Kami berlindung diri kepadaMu dari ketidakberdayaan, kemalasan, kepengecutan, kebakhilan, kepikunan, kekerasan hati, kelalaian, kemelaratan, kehinaan serta kerendahan

ونعوذ بك مِنَ الْفَقْرِ ، وَالْكُفْرِ ، وَالْفُسُوقِ ، وَالشِّقَاقِ

وَالنِّفَاقِ ، وَالسُّمْعَةِ ، وَالرِّيَاءِ

Wa na’uudzubika minal faqr, wal kufri wal fusuuqi wasy syiqaaq

wan nifaaqi was sum’ati war riyaa’

Dan kami berlindung kepadaMu dari kefakiran, kekufuran, kefasikan, kesesatan, kemunafikan, sum’ah serta riyaa’

ونعوذ بك مِنَ الصَّمَمِ ، وَالْبَكَمِ ، وَالْجُنُونِ ، وَالْجُذَامِ

وَالْبَرَصِ ، وَسَيِّئِ الْأَسْقَامِ

Wa na’uudzubika minash shamami wal bakam, wal jununi wal jadzaam,

wal barashi wa sayyi`il asqaam

Dan kami berlindung kepadaMu dari penyakit tuli, bisu, gila; penyakit kusta, penyakit sompak, serta segala penyakit yang buruk

(Diriwayatkan al-Bayhaqiy dalam sunan al-kubra dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[33]

اللهم إنا نعوذ بك من الْهَرَمِ وَالتَّرَدِّي وَالْهَدْمِ وَالْغَمِّ

وَالْحَرِيقِ وَالْغَرَقِ

Allaahumma innaa na’uudzubika minal harami wal hadmi wal ghammi

wal hariqi wal gharaq

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, kepikunan, jatuh dari tempat yang tinggi, tertimpa reruntuhan, kesedihan, kebakaran, dan tenggelam.

ونعوذ بك أَنْ يَتَخَبَّطَنا الشيطان عند الموت

Wa na’uudzubika an yatakhbbthanasy syaithaana ‘indal mawt

Dan kami berlindung kepada-Mu dari bujukan setan saat sakaratul maut,

ونعوذ بك أن نمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرين

wa na’uudzubika an namuutu fi sabiilika mudbiriin

Dan kami berlindung kepadaMu dari kematian saat lari dari perang di jalan-Mu,

ونعوذ بك أن نمُوتَ لَدِغين

Wa na’uudzubika an namuutu ladiighiin

Dan kami berlindung kepadaMu dari kematian sengatan binatang melata.”

(Diriwayatkan an-Nasaa`iy, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[34]

اللهم إنا نعوذ بك مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

وَ نعوذ بك مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

وَ نعوذ بك مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Allahumma inni na’uudzubika min ‘adzaabil qabri,
wa na’uudzubika min fitnatil masiihid dajjal,
wa na’uudzubika min fitnatil mahya wal mamaati,

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, kami berlindung kepada-Mu dari fitnah Dajjal, dan kami berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian,

اللهم إنا نعوذ بك مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

Allahumma inni a’uudzubika minal ma`tsmi wal maghrami

Yaa Allaah kami berlindung kepadaMu dari banyak berbuat dosa dan berhutang…

(Diriwayatkan al-Bukhaariy, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[35]

Dalam riwayat lain, dpanya lebih lengkap lagi:

اللَّهمَّ إنا نعوذُ بِكَ من فِتنةِ النَّارِ ، وعذابِ النَّارِ ، وفتنةِ القبرِ ، وعذابِ القبرِ ، ومِن شرِّ فتنةِ الغِنى ، ومن شرِّ فتنةِ الفَقرِ ، ومن شرِّ المسيحِ لدَّجَّالِ

“Allaahummaa innaa na’uudzubika min finatin naari, wa ‘adzaabin naari, wa fitnatil qabri wa ‘adzaabil qabri, wa syarri fitnatil ghinaa, wa syarri finatil faqri, wa syarri fitnatil masiihid dajjaal

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari fitnah neraka dan siksa neraka, fitnah kubur dan siksa kubur, kejelekkan fitnah Al Masih dajjal, kejelekkan fitnah kafakiran dan kejelekkan fitnah kekayaan.

اللَّهمَّ اغسِل خطايانا بماءِ الثَّلجِ والبردِ ، وأنقِ قلوبنا منَ الخطايا كما أنقيتَ الثَّوبَ الأبيضَ منَ الدَّنسِ ، وباعِد بيننا وبينَ خطايانا كما باعَدتَ بينَ المشرقِ والمغربِ

Allaahummaghsil khathaayaanaa bima’its tsalji wal baradi, Wa anqi quluubunaa minal khathaayaa kama anqayta ats tsawbal abyadh minad danas, Wa baa’id bayninaa wa bayna khathaayaanaa kamaa baa’dta baynal masyriqi wal maghribi

Ya Allah, basuhlah kesalahan kami dengan air es dan embun, serta bersihkan hati-hati kami dari kesalahan-kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan kain putih dari kotoran. Jauhkanlah antara kami dan kesalahan-kesalahan kami sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat.

اللَّهمَّ إنا نعوذُ بِكَ منَ الكسلِ والهرمِ والمأثمِ والمغرَمِ

Allahumma inni a’uudzubika minal ma`tsmi wal maghrami

Yaa Allaah kami berlindung kepadaMu dari banyak berbuat dosa dan berhutang…

(Diriwayatkan al-Bukhaariy, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)

اللهم إنا نعوذ بك مِنْ شَرِّ سَمْعِنا

ومِنْ شَرِّ بَصَرِنا، ومِنْ شَرِّ ألسنتنا

ومِنْ شَرِّ قلوبنا ، ومِنْ شَرِّ مَنِيِّنا

Allaahumma innaa na’uudzubika min syarri sam’inaa,

wa min syarri basharinaa, wa min syarri alsinatinaa,

wa min syarri quluubinaa wa min syarri maniyyinaa

Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari keburukan pendengaran kami, dan dari keburukan pandangan kami, dari keburukan lisan kami, dari keburukan hati kami, dan dari keburukan kemaluan kami.

(Diriwayatkan at-Tirmidziy [dan ini redaksinya], ibnu Maajah dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[36]

اللهم إنا نعوذ بك مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحْوِيلِ عَافِيَتِكَ

وَفُجَاءَةِ نَقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سُخْطِكَ

“Allaahumma innaa na’uudzubika min zawaali ni’matika, wa tahwiili ‘aafiyatika,

wa fujaa-ati naqmatika, wa jamii’i sukhthika”

Ya Allah kami berlindung kepadaMu dari hilangnya nikmatMu, berubahnya ampunanMu, adzabMu yang tiba-tiba serta dari seluruh kemurkaanMu

(Diriwayatkan Abu Daawud[dan ini redaksinya], dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[37]

عوذ بك مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْنا، ونعوذ بك مِنْ شَرِّ مَا لَمْ نعمل

Allaahumma innaa na’uudzubika min syarri maa ‘amilnaa, wa min syarri maa lam na’mal

‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah kami perbuat dan keburukan yang belum kami perbuat.’

(Diriwayatkan Muslim [dan ini redaksinya], dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[38]

اللهم اغفر لنا ما قَدَّمْنا وما أَخَّرْنا وما أَسْرَرْنا

وما أَعْلَنا وَإِسْرَافَنَا وماأَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّا

Allaahummaghfirlanaa maa qaddamnaa wa maa akhkharnaa, wa maa asrarnaa,

wa ma a’lannaa, wa maa anta a’lamu bihi minnaa

Ya Allaah ampunilah dosa-dosa kami yang kami lakukan di masa lampau, dosa-dosa yang kami lakukan yang akan datang; dosa-dosa yang kami yang tersembunyi, dosa-dosa kami yang nampak; serta sikap berlebih-lebihan kami, dan seluruh keburukan serta kekurangan kami yang Engkau lebih mengetahuinya daripada kami…

أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Antal Muqaddim, wa antal muakhkhir, laa ilaaha illa anta

Engkaulah yang Maha memajukan dan yang Maha mengakhirkan, tidak ada Ilah yang wajib di ibadahi selain Engkau.”

(Diriwayatkan Muslim [dan ini redaksinya], dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[39]

اللَّهُمَّ قِنا شَرَّ نفوسنا، وَاعْزِمْ لنا عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِنا،

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لنا مَا أَسْرَرْنا، وَمَا أَعْلَنَّا،

وَمَا أَخْطَأْنا، وَمَا عَمَدْنا، وَمَا عَلِمْنا، وَمَا جَهِلْنا

Allaahumma qinaa syarri nufuusinaa, wa’zimlanaa ‘ala arsyadi amrinaa,

Allaahummaghfirlanaa maa asrarnaa wa maa a’lannaa

Wa maa akhtha`naa wa maa ‘adamnaa, wa maa ‘alimnaa, wa maa jahilnaa…

Ya Allaah… Lindungilah kami dari keburukan jiwa-jiwa kami… dan kuatkanlah diri-diri kami pada sebaik-baik urusan kami… Yaa Allaah… Ampunilah kami atas apa-apa yang kami sembunyikan, dan atas apa-apa yang kami tampakkan, dan atas apa-apa yang kami sengajai dan atas apa-apa yang kami ketahui dan apa-apa yang kami tidak ketahui

(Diriwayatkan Ahmad [dan ini redaksinya], ibnu Hibbaan, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[40]

اَللّهُمَّ اكْفِنا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأَغْنِنا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Allaahummakfinaa bi halaalika ‘an haraamika wagh ninaa bi fadhlika ‘amman siwaak

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rizkiMu yang halal dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karuniaMu dari (butuh kepada) selainMu’.

(Diriwayatkan at-Tirmidziy, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[41]

اللَّهُمَ قَنِّعْنا بِمَا رَزَقْتَنا، وَبَارِكْ لنا فِيهِ

وَاخْلُفْ عَلَينا كُلَّ غَائِبَةٍ لنا بِخَيْرٍ

Allaahumma qanni’naa bi ma razaqtanaa wa baariklanaa fiih,

wakhlif ‘alaynaa kulla ghaa`ibatin lanaa bi khayrin

Ya Allaah cukupkanlah (hati) kami dengan apa-apa yang engkau rizkikan pada kami, dan berkahilah kami didalam rizki tersebut, dan gantilah atas kami apa-apa yang hilang dari kami dengan kebaikan.

(Diriwayatkan al-haakim, ibnu Khuzaymah, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[42]

اللهم إنا نعوذ بك مِنْ الْفَقْرِ وَنعوذ بك مِنْ الْقِلَّةِ وَالذِّلَّةِ

وَنعوذ بك أَنْ نظْلِمَ أَوْ نظْلَمَ

Allaahummaa innaa na’uudzubika minal faqri, wa na’uudzubika minal qillati wadz dzillati,

Wa na’uudzubika an nazhlim aw nuzhlam

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kefakiran. kami berlindung kepada-Mu dari kekurangan dan kehinaan. Dan kami berlindung kepadaMu dari melakukan kezhaliman atau dizhalimi

(Diriwayatkan an-nasaa’iy, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[43]

اللَّهُمَّ إنا نعوذ بك : مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ , وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ

وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ , وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ

Allaahumma innaa na’uudzubika min ‘ilmin laa yanfa’ wa min qalbin laa yakhsya’

wa min nafsin laa tasyba’, wa min du’aa-in laa yusma’

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak merasa puas dan dari doa yang tidak didengar

(Diriwayatkan an-nasaa’iy, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[44]

اللَّهُمَّ إنا نعوذ بك مِنْ الْجُوعِ فَإِنَّهُ بِئْسَ الضَّجِيعُ

allaahumma innaa na’uudzubika minal juu’i fainnahu bi`sadh-dhajii’

“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kelaparan, sebab ia adalah seburuk-buruk teman tidur.

وَنعوذ بك مِنْ الْخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ

wa na’uudzubika minal khiyaanati fa innahaa bi`satil bithaanah

Dan kami berlindung kepada-Mu dari berkhianat, sebab itu adalah (sifat yang dimiliki) teman kepercayaan.”

(Diriwayatkan abu daawud, an-nasaa’iy, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[45]

اللَّهُمَّ إنا نعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الْعَدُوِّ،

وَشَمَاتَةِ الأعْدَاءِ

Allaahumma inna na’uudzubika minal ghalabatid-dayn, wa ghalabatil’aduwwi,

wa syamaatatil a’daa`

Yaa Allaah, kami berlindung kepadaMu dari tekanan hutang, tekanan musuh, dan kegembiraan musuh.

(Diriwayatkan Ahmad, an-nasaa’iy, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[46]

اللَّهُمَّ إنِّا نعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ فِي دَارِ الْمُقَامَةِ؛

فَإِنَّ جَارَ الْبَادِيَةِ يَتَحَوَّلُ

Allaahumma innaa na’uudzuubika min jaaris suu`i fi daaril muqaamah,

fa inna jaaral baadiyati yatahawwal

Ya Allaah sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari buruknya tetangga yang jahat di tempat mukim kami… Karena tetangga orang-orang badui (desa) itu berpindah-pindah

(Diriwayatkan an-nasaa’iy, ibnu hibban dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[47]

اللَّهُمَّ إنِّا نعُوذُ بِكَ مِنْ يَوْمِ السُّوءِ، وَمِنْ لَيْلَةِ السُّوءِ،

وَمِنْ سَاعَةِ السُّوءِ، وَمِنْ صَاحِبِ السُّوءِ،

وَمِنْ جَارِ السُّوءِ في دَارِ الْمُقامَةِ

Allaahumma innaa na’uudzuubika min yawmas-suu`, wa min laylatis-suu`

wa min saa’atis-suu`, wa min shaahibis-suu`

wa min jaaris-suu` fi daaril muqaamah

Ya Allaah sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari hari(siang) yang buruk, malam yang buruk, teman yang buruk, serta tetangga yang buruk di tempat mukim kami…

(Diriwayatkan ath-thabraaniy dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[48]

رَبنا أَعِنا وَلَا تُعِنْ عَلَينا، وَانْصُرْنا وَلَا تَنْصُرْ عَلَينا،

وَامْكُرْ لنا وَلَا تَمْكُرْ عَلَينا، وَاهْدِنا وَيَسِّرِ الهُدَى إِلَينا،

وَانْصُرْنا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَينا

Rabbanaa a’innaa wa laa tu’in ‘alaynaa, wanshurnaa wa laa tansur ‘alaynaa,

wamkarlanaa wa laa tamkur ‘alaynaa, wahdinaa wa yassir huda ilayna,

wanshurnaa ‘ala man bagha ‘alaynaa

Wahai Tuhan kami… tolonglah kami, jangan Engkau tolong (orang yang hendak mencelakakan) atas diri-diri kami… Belalah kami, jangan Engkau bela (orang yang hendak mencelakakan) atas diri-diri kami… Berilah makar (orang-orang yang hendak mencelakakan kami) untuk kami, jangan jadikan (orang-orang yang hendak mencelakakan kami) memberi makar atas kami… Berilah kami petunjuk dan mudahkanlah petunjuk itu untuk kami… Dan tolonglah kami atas orang-orang yang berbuat kezhaliman atas kami…

رَبنا اجْعَلْنا لَكَ شَكَّارًا، لَكَ ذَكَّارًا، لَكَ رَهَّابًا، لَكَ مِطْوَاعًا

إِلَيْكَ مُخْبِتًا أَوَّاهاً مُنِيبًا

Rabbanaaj’alnaa laka syakkaaraa, laka dzakkaaraa, laka rahhaabaa, laka mithwaa’aa,

ilayka mukhbitaa, awwaahan muniibaa

Wahai Tuhan kami jadikanlah kami (termasuk hamba-hambaMu yang pandai) bersyukur kepadaMu, berdzikir kepadaMu, selalu taat kepadaMu, banyak berdoa kepadaMu, serta selalu kembali bertaubat kepadaMu

رَبنا تَقَبَّلْ تَوْبَتِنا، وَاغْسِلْ حَوْبَتِنا، وَأَجِبْ دَعْوَتِنا

وَثَبِّتْ حُجَّتِنا، وَاهْدِ قلوبِنا، وَسَدِّدْ ألسنتنا

وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قلوبِنا

Rabbanaa taqabbal tawbatinaa waghsil hawbatinaa, wa ajib da’watinaa,

watsabbit hujjatina, wahdi quluubinaa, wa saddid al-sinatinaa,

waslul sakhiimata quluubinaa…

Wahai Tuhan kami terimalah taubat kami, bersihkanlah dosa-dosa kami, ijabahlah doa-doa kami, tetapkanlah hujjah-hujjah kami, berilah petunjuk hati-hati kami, luruskanlah lidah-lidah kami, dan hilangkanlah belenggu dalam hati-hati kami…

(Diriwayatkan al-Bukhaariy [dalam adabul mufrad], Ahmad, at-Tirmidziy, Abu Daawud, ibnu Maajah dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[49]

اللَّهُمَّ أَلَّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلامِ ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا ، وَمَا بَطَنَ

Allaahumma allaf bayna quluubinaa wa ashlih dzaata bayninaa, wahdina subulas salaam, wa najjina minazh zhulumaati ilan nuur, wa jannibnal fawaahisy: maa zhahara minhaa wa maa bathan

Ya Allah, satukanlah di antara hati-hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami dan tunjukkanlah kami jalan-jalan keselamata, selamatkanlah kami daripada kegelapan (untuk engkau tunjukkan) menuju cahaya, halangilah kami dari (segala bentuk) kekejian: yang nyata maupun yang tersembunyi

وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا ، وَأَبْصَارِنَا ، وَقُلُوبِنَا ، وَأَزْوَاجِنَا ، وَذُرِّيَّاتِنَا ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Wa baariklanaa fii asmaa’inaa wa abshaarina wa quluubinaa, wa azwaajinaa, wa dzurriyaatinaa. Wa tub’ ‘alaynaa, innaka antat tawwaabur rahiim.

Dan berkahilah pendengaran kami, penglihatan kami, hati-hati kami, isteri-isteri kami, dan keturunan-keturunan kami. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat Lagi Maha Penyayang.

وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ ، مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ ، قَابِلِينَ لَهَا وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا

Waj’alna syaakiriin Li ni’matik, mutsniina bihaa ‘alayk, qaabiliina lahaa wa atimmahaa ‘alayna

Dan jadikanlah kami tergolong menjadi golongan orang-orang yang bersyukur dengan nikmatMu, yang menyanjungMu dengannya, menerimanya dan (sehingga Engkau pun) menyempurnakannya (nikmat itu) atas kami.

[HR al-Haakim][50]

لا إلهَ إلَّا أنتَ سُبحانَكَ إنا كُنا من الظالِمينَ

Laa ilaaha illa anta subhaanaka inna kunna minazh zhaalimiin

Tidak ada sesembahan [yang berhak diibadahi] melainkan Engkau, sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang menzhalimi diri-diri kami

(Diriwayatkan HR Ahmad, at-Tirmidziy, dan selainnya; dengan perubahan redaksi menjadi plural)[51]

3. Penutup doa dan shalawat

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ . وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Rabbanaa taqqabbal minna innaka antas samii’ul ‘aliim. Wa tub’ ‘alaynaa innaka antat tawwaabur rahiim.

Wahai Tuhan kami, terimalah/kabulkanlah (doa-doa) dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang

(QS al-Baqarah: 127-128)

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa adzaabannaar

Wahai Tuhan kami… Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di aakhirat… Dan selamatkanlah kami dari adzab nereka…

(QS al-Baqarah: 201)

وَصَلَّى الله وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ، النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن

Wa shallallahu wa sallama ‘ala nabiyyina muhammad, an-nabiyyil ummiyyi
wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin.

Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi kami, Muhammad, Nabi yang ummi, dan juga keluarga serta shahabatnya seluruhnya.[52]


Catalan kaki

 

[1] Syaikh Al-Mubarakfuri berkata bahwa yang dimaksud adalah, takdir yang tergantung pada doa dan berdoa bisa menjadi sebab tertolaknya takdir karena takdir tidak bertolak belakang dengan masalah sebab akibat, boleh jadi terjadinya sesuatu menjadi penyebab terjadi atau tidaknya sesuatu yang lain termasuk takdir. Suatu contoh berdoa agar terhindar dari musibah, keduanya adalah takdir Allah. Boleh jadi seseorang ditakdirkan tidak berdoa sehingga terkena musibah dan seandainya dia berdoa, mungkin tidak terkena musibah, sehingga doa ibarat tameng dan musibah laksana panah. [Mura’atul Mafatih 7/354-355; kutip dari almanhaj.or.id]

Sumber: https://almanhaj.or.id/72-keutamaan-dan-kemuliaan-doa.html

[2] Simak disini: https://abuzuhriy.wordpress.com/2011/05/11/agar-doa-kita-dikabulkan-allah/

[3] Doa ini diambil dari hadits yang diriwayatkan at-Tirmidziy, Abu Daawud, ibnu Maajah, Ahmad, dan selainnya. Hadits dari Buraydah al-Aslamiy radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasuulullaah shallaallahu ‘alayhi wa sallam mendengar seorang yang membaca (dalam permualaan) doanya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Allaahumma inni as`aluka bi`anna asyhadu annaka antaLLaah, laa ilaaha illa anta, al-ahadush shamad, alladziy lam yalid, wa lam yuulad, wa lam yakun lahu kufuwan ahad.

Ya Allaah aku memohon kepadaMu, dengan mempersaksikan bahwasanya Engkau adalah Allaah, al-Ahad (Yang Maha Esa) dan ash-Shamad (bergantung padaMu seluruh makhlukMu), yang tidak beranak, tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu/seorang pun yang setara dengan Dia.

Maka beliau shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى

Demi (Dzat) yang jiwaku berada di TanganNya, sungguh dia telah meminta kepada Allaah dengan namaNya yang paling agung; yang tidaklah seseorang berdoa dengan seruan ini, kecuali pasti akan diijabah, dan jika ia meminta dengan seruan ini maka pasti akan diberi(Nya)

(Redaksi at-Tirmidziy)

[4] Dari Anas bin Maalik, bahwasanya pernah suatu ketika Rasuulullaah (shalallaahu ‘alayhi wa sallam) duduk di suatu halaqah, dan datanglah seorang lelaki; kemudian dia shalat, dia ruku’, sujud hingga tasyahud; dan dia pun berdoa (dalam tasyahudnya), yang dalam doanya dia berkata:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ ، لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ ، الْمَنَّانُ ، بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ ، يَا ذَا الْجَلالِ وَالإِكْرَامِ ، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ

Allaahumma inni as`aluka bi`anna lakal hamd; laa ilaaha illa anta, al-hannaan al-mannaan, badii’us samaawaati wal ardh. Yaa dzal jalaali wal ikraam. Ya Hayyu yaa Qayyum, allaahumma inni as`aluka…

Yaa Allaah aku memohon kepadaMu dengan (mempersaksikan) bahwasanya bagiMulah segala pujian, tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau, wahai Al-Mannaan (Yang Maha Mengkaruniakan nikmat)… Yang Menciptakan langit dan bumi… Wahai Pemilik segala keagungan dan Wahai Pemilik Segala kemuliaan… Yaa Allaah aku memohon kepadaMu…

Maka Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَقَدْ دَعَا بِاسْمِ اللَّهِ الأَعْظَمِ ، الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ ، وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى

Sungguh dia telah berdoa dengan nama Allaah yang paling agung… Yang mana jika berdoa dengan seruan ini, maka pasti akan diijabah… dan jika meminta dengan seruan ini, maka pasti akan diberi…

(HR Abu Daawud, at-Tirmidziy, an-Nasaa`iy, ibn Maajah, dan selainnya)

[5] Berkata Abu Bakar Radhiyallaahu ‘anhu

عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي

(Wahai Rasuulullaah) Ajarkanlah aku suatu doa yang dapat kupanjatkan dalam shalatku

Maka beliau bersabda:

قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Ucapkanlah: Allaahumma inni zhalamtu nafsiy zhulman katsiiran, wa laa yaghfirudz dzunuuba illa anta, faghfirliy maghfiratan min ‘indik, warhamniy, innaka antal ghafuurur rahiim. (Yaa Allaah, aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang banyak; sedangkan tidak ada yang mengampuni dosa, melainkan Engkau; maka ampunilah aku dengan maghfirah yang datang darimu; serta rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Mengampun lagi Maha Penyayang)

[HR al-Bukhaariy, Muslim, at-Tirmidziy, dan selainnya]

[6] Dari Abu Musa al-Asy’ariy bahwa beliau pernah mendengar Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam berdoa:

رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي ، وَجَهْلِي وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي كُلِّهِ ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطَايَايَ ، وَعَمْدِي ، وَجَهْلِي ، وَهَزْلِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ ، وَمَا أَخَّرْتُ ، وَمَا أَسْرَرْتُ ، وَمَا أَعْلَنْتُ ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ ، وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Rabbighfirliy khathii`atiy, wa jahliy, wa israafiy fiy amriy kullih, wa maa anta a’lamu bihi minniy… Allaahummaghfirliy khathaaya, wa ‘amdiy, wa jahliy, wa hazliy, wa kulli dzalika ‘indiy… Allaahummaghfirliy, maa qaddamtu, wa maa akhkhartu, wa maa asrartu, wa maa anta a’lantu… antal muqaddam, wa antal mu`akhkhir, wa anta ‘ala kulli syay`in qadiir

(HR al-Bukhaariy, dan selainnya)

[7] Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada Syaddad bin Aus radhiyallaahu ‘anhu:

سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ:

Sayyidul Istighfar adalah ucapanmu:

” اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ.”

Allaahumma anta rabbiy laa ilaaha illa anta… khalaqtaniy wa ana ‘abduk… wa ana ‘ala ahdik wa wa’dik mastatha’tu… a’uudzu bika min syarri maa shana’tu… abuu`u laka bi ni’matika ‘alayya… wa abuu`u bi dzanbiy… faghfirliy, fa innahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta…

“Ya Allah, engkau adalah Rabku, tidak ada ilah yang haq selain-Mu. Engkaulah yang menciptaku dan aku adalah hamba-Mu. Aku selalu di atas perjanjian dan ketetapan-Mu sesuai kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu atasku, dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sebab hanya tidak ada yang dapat mengampuni dosa, kecuali Engkau”

(kemudian beliau bersabda) Siapa yang mengucapkannya di siang hari seraya meyakininya, lalu mati pada hari itu sebelum sore; maka ia termasuk ahli surga. Dan siapa mengucapkannya di malam hari seraya meyakininya, lalu mati sebelum pagi, maka ia termasuk penghuni surga.”

[8]

Dari ibnu Mas’uud radhiyallaahu ‘anhumaa bahwa Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَا قَالَ عَبْدٌ قَطُّ إِذَا أَصَابَهُ هَمٌّ وَحَزَنٌ

“Tidaklah seorang hamba pun ketika dilanda sakit dan sedih (membaca doa berikut) :

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ ، وَابْنُ عَبْدِكَ ، وَابْنُ أَمَتِكَ ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ ، أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي ، وَنُورَ صَدْرِي ، وَجِلَاءَ حُزْنِي ، وَذَهَابَ هَمِّي

ALLAHUMMA INNI ‘ABDUKA WABNU ‘ABDIKA WABNU AMMATIKA, NASHIYATI BIYADIKA MADLIN FI HUKMIKA ‘ADLUN FI QADLA`UKA, AS`ALUKA BIKULLI ISMIN HUWA LAKA SAMMAITUKA BIHI NAFSAKA AU ANZALTAHU FI KITABIKA AU ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHALQIKA AU ISTA`TSARTA BIHI FI ‘ILMIL GHAIB ‘INDAKA AN TAJ’ALAL QUR`AN RABI’A QALBI WA NURA SHADRI WA JILA`A HUZNI WA DZAHAABA HAMMI

(Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu, (Adam) dan anak hamba perempuanMu (Hawa), ubun-ubunku di tanganMu, keputusanMu berlaku padaku, qadlaMu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diriMu, yang Engkau turunkan dalam kitabMu. Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisiMu, hendaknya Engkau jadikan Al Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihan),

إِلَّا أَذْهَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمَّهُ ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ حُزْنِهِ فَرَحًا

kecuali Allah ‘azza wajalla akan menghilangkan kesedihan dan menggantikan kedukaan menjadi kebahagiaan.”

Para shahabat bertanya;

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، يَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَتَعَلَّمَ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ ؟

Wahai Rasulullah, sepantasnyalah kami mempelajari kalimat-kalimat itu.

Beliau menjawab:

أَجَلْ ، يَنْبَغِي لِمَنْ سَمِعَهُنَّ أَنْ يَتَعَلَّمَهُنَّ

“Benar, sepantasnya orang yang mendengarnya untuk mempelajarinya.”

[9] Dari ibnu ‘Umar bahwa ia berkata:

قلما كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ مِنْ مَجْلِسٍ حَتَّى يَدْعُوَ بِهَؤُلَاءِ الدَّعَوَاتِ لِأَصْحَابِهِ

Jarang Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam berdiri dari majlis, (kecuali) sampai beliau berdoa dengan doa berikut untuk para shahabatnya:

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

Allaahummaqsim lana min khasy`yatika ma yahuulu baynanaa wa bayna ma’aashiik, wa min thaa’atika maa tuballighuna bihi jannatak, wa minal yaqiini maa tuhawwinu bihi ‘alayna mushiibatid dunya, wa matti’na bi asmaa’ina, wa abshaarina, wa quwwatina maa ahyaytanaa waj’alhul waaritsa minna, waj’al tsa’ranaa ‘ala man zhalamanaa, wanshurnaa ‘ala man ‘aadaanaa, wa laa taj’al mushiibatanaa fii diininaa, wa laa taj’alid dunyaa akbara hamminaa wa laa mablagha ‘ilminaa, wa laa tusallith ‘alaynaa man laa yarhamunaa

“Ya Allah, berikanlah kami bagian dari sifat takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari perbuatan-perbuatan dosa kepada-Mu, dari ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan kami ke surga-Mu, dari keyakinan yang akan meringakan musibah-musibah dunia pada kami. Tolonglah kami menghadapi mereka yang memusuhi kami. Janganlah Engkai jadikan musibah kami berkenaan dengan agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai keinginan terbesar kami, dan puncak pengetahuan kami. Dan janganlah Engkau jadikan penguasa kepada kami orang yang tidak mengasihi kami.”

(Diriwayatkan at-Tirmidziy, an-Nasaa`iy dan selainnya)

[10] dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallaahu ‘anhu bahwa ia berkata:

احْتُبِسَ عَنَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ غَدَاةٍ عَنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ حَتَّى كِدْنَا نَتَرَاءَى عَيْنَ الشَّمْسِ ، فَخَرَجَ سَرِيعًا فَثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَجَوَّزَ فِي صَلَاتِهِ ، فَلَمَّا سَلَّمَ دَعَا بِصَوْتِهِ ، فَقَالَ لَنَا :

Pada suatu pagi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tertahan dari kami untuk shalat shubuh hingga hampir saja kami melihat matahari, beliau keluar dengan cepat lalu shalat diiqamati, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam shalat dan mempercepatnya, saat salam beliau memanggil dengan suara keras, beliau bersabda pada kami:

عَلَى مَصَافِّكُمْ كَمَا أَنْتُمْ

Tetaplah di shaf-shaf kalian seperti ini.

ثُمَّ انْفَتَلَ إِلَيْنَا ، ثُمَّ قَالَ

Setelah itu beliau meninggalkan kami lalu bersabda

أَمَا إِنِّي سَأُحَدِّثُكُمْ مَا حَبَسَنِي عَنْكُمُ الْغَدَاةَ أَنِّي قُمْتُ مِنَ اللَّيْلِ فَتَوَضَّأْتُ وَصَلَّيْتُ مَا قُدِّرَ لِي ، فَنَعَسْتُ فِي صَلَاتِي حَتّى اسْتَثْقَلْتُ

“Ingat, sesungguhnya aku akan memberitahukan kepada kalian apa yang menahanku dari kalian pagi ini. Di sebagian malam aku bangun lalu wudhu dan shalat semampuku, saat shalat aku mengantuk hingga tertidur.

فَإِذَا أَنَا بِرَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، قُلْتُ : ” لَبَّيْكَ رَبِّ ” ، قَالَ : فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى ؟ قُلْتُ : ” لَا أَدْرِي ” قَالَهَا ثَلَاثًا

Tiba-tiba aku berada dihadapan Rabbku Tabaraka wa Ta’ala dalam wujud yang paling indah lalu berfirman: ‘Hai Muhammad, ‘aku menjawab: Baik, Rabb. Dia bertanya: ‘Tahukah kamu apa yang diperdebatkan malaikat tertinggi? ‘ Beliau menjawab: Rabb aku tidak tahu.’ (Kata Mu’adz) Beliau mengucapkan tiga kali,

قَالَ : فَرَأَيْتُهُ وَضَعَ كَفَّهُ بَيْنَ كَتِفَيَّ حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ أَنَامِلِهِ بَيْنَ ثَدْيَيَّ ، فَتَجَلَّى لِي كُلُّ شَيْءٍ وَعَرَفْتُ

(beliau besabda) aku melihatNya lalu Ia meletakkan tanganNya di atas pundakku hingga aku merasakan dinginnya ujung-ujung jariNya diantara dadaku lalu segala sesuatu terlihat jelas olehku dan aku mengetahui.

فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، قُلْتُ : ” لَبَّيْكَ رَبِّ ” ، قَالَ : فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى ؟ قُلْتُ : ” فِي الْكَفَّارَاتِ ” ،

Dia berfirman: ‘Hai Muhammad’, aku menjawab: Kupenuhi panggilanmMu, wahai Rabb. Dia bertanya: ‘Tahukah kamu apa yang diperdebatkan malaikat tertinggi? ‘ Aku menjawab: Tentang Penebus (dosa).

قَالَ : مَا هُنَّ ؟ قُلْتُ : ” مَشْيُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ ، وَالْجُلُوسُ فِي الْمَسَاجِدِ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ ، وَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي الْمَكْرُوهَاتِ ”

Dia bertanya: Apa itu? Aku menjawab: Melangkahkan kaki menuju (shalat) jamaah, duduk dimasjid setelah shalat, menyempurnakan wudhu pada saat tidak disukai’

، قَالَ : فِيمَ ؟ قُلْتُ : ” إِطْعَامُ الطَّعَامِ ، وَلِينُ الْكَلَامِ ، وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ”

Dia bertanya: ‘Apa lagi (yang mereka perbincangkan)?’ Maka aku menjawab: memberi makan, melunakkan kata-kata, shalat di malam hari saat orang-orang tidur.’

قَالَ : سَلْ

Dia berfirman: Mintalah,

قُلْتُ : ” اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي ، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ ، أَسْأَلُكَ حُبَّكَ ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ ،

Kuucapkan: ALLAHUMMA INNI AS`ALUKA FI’LAL KHAIRAAT WA TARKAL MUNKARAAT WA HUBBAL MASAAKIIN WA AN TAGHFIRALII WA TARHAMNII WA IDZA ARADTA BI IBAADIKA FITNATAN FAQBIDLNI ILAKA GHARA MAFTUNN AS`ALUK HUBBAKJA WA HUBBA MAN YUHIBBUKA WA HUBBA AMALIN YUQARRIBU ILA HUBBIKA.’ (Ya Allah, sesungguhnya aku meminta-Mu berbuat kebaikan, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, ampunilah aku dan rahmatilah aku, bila Engkau menghendaki suatu fitnah pada hamba-hambaMu, wafatkan aku kepadaMu dalam keadaan tidak terkena fitnah, aku mengharap cintaMu, cintanya orang yang mencintaiMu, cinta pada amalan yang mendekatkanku pada cintaMu).

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّهَا حَقٌّ فَادْرُسُوهَا ، ثُمَّ تَعَلَّمُوهَا

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya itu benar, pelajarilah, ” (Kata Mu’aadz) maka mereka pun mempelajarinya.

[11] Dari Rifaa’ah bin Raafi’ az-Zuraqiy bahwa ia berkata:

: كَانَ يَوْمُ أُحُدٍ انْكَفَأَ الْمُشْرِكُونَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ketika kaum Musyrikin mundur dari gunung Uhud, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berseru

اسْتَوُوا حَتَّى أُثْنِيَ عَلَى رَبِّي

“naiklah kepadaku, Aku akan memuji Rabb-ku“.

فَصَارُوا خَلْفَهُ صُفُوفًا فَقَالَ

Pasukan kaum Muslimin pun membuat barisan di belakang beliau. Lalu beliau berdoa

اللهم لك الحمدُ كلُّه ، اللهم لا قابضَ لما بسطتَ ، و لا مُقَرِّبَ لما باعدتَ ، و لا مُباعِدَ لما قرَّبتَ ، و لا مُعطِيَ لما منعْتَ ، و لا مانعَ لما أَعطيتَ اللهم ابسُطْ علينا من بركاتِك و رحمتِك و فضلِك و رزقِك ، اللهم إني أسألُك النَّعيمَ المقيمَ الذي لا يحُولُ و لا يزولُ اللهم إني أسألُك النَّعيمَ يومَ العَيْلَةِ ، و الأمنَ يومَ الحربِ ، اللهم عائذًا بك من سوءِ ما أُعطِينا ، و شرِّ ما منَعْت منا اللهم حبِّبْ إلينا الإيمانَ وزَيِّنْه في قلوبِنا ، وكَرِّه إلينا الكفرَ والفسوقَ والعصيانَ واجعلْنا من الراشدين اللهم توفَّنا مسلمِين ، و أحْيِنا مسلمِين و ألحِقْنا بالصالحين ، غيرَ خزايا ، و لا مفتونين اللهم قاتِلِ الكفرةَ الذين يصدُّون عن سبيلِك ، و يُكذِّبون رُسُلَك ، و اجعلْ عليهم رِجزَك و عذابَك قاتِلِ الكفرةَ الذينأُوتوا الكتابَ ، إلهَ الحقِّ

“Ya Allah, untuk-Mu segala pujian. Ya Allah tidak ada yang bisa mengenggam apa yang Engkau bentangkan, tidak ada yang bisa mendekatkan apa yang Engkau jauhkan, tidak ada yang bisa menjauhkan apa yang engkau dekatkan, tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau tahan, dan tidak ada yang bisa menahan apa yang telah Engkau beri. Ya Allah keberkahan-Mu kepada kami, juga rahmat-Mu, juga karunia-Mu dan rizki-Mu. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kenikmatan yang kekal yang tidak berlalu dan tidak pula hilang. Ya Allah aku memohon kepada-Mu kenikmatan di saat kefakiran, dan keamanan di saat ketakutan. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang telah Engkau berikan kepada kami, dan dari kejelekan apa saja yang telah Engkau tahan dari kami. Ya Allah, buatlah kami mencintai keimanan dan hiasi hati-hati kami dengan iman. Dan buatlah kami membenci kekufuran, kefasikan serta kemaksiatan. Dan jadikanlah kami di orang-orang yang mengikuti petunjuk. Ya Allah, wafatkan kami dalam keadaan Islam, hidupkan kami dalam keadaan Islam dan kumpulkanlah kami bersama dengan orang orang shalih yang tidak hina dan tidak pula terfitnah.Ya Allah… binasakanlah orang-orang kafir yang menyimpang dari jalan-Mu, yang mendustakan rasul-rasul-Mu, dan timpakanlah hukuman dan adzab-Mu atas mereka. Yaa Allah, binasakanlah orang-orang kafir yang telah diberi kitab! Wahai sesembahan yang Maha Benar..!“”

(HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, al-Haakim, al-Bayhaqiy, dan selainnya)

[12] Dari ibnu abi aufa, bahwasanya Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pernah mendoakan pada pasukan ahzaab:

اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ ، سَرِيعَ الْحِسَابِ ، اهْزِمْ الْأَحْزَابَ ، اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ

Ya Allaah, (Dzat) Yang menurunkan al-Kitaab, yang cepat perhitungan(Nya), cerai-beraikanlah pasukan ahzaab. Ya Allaah, goncangkanlah mereka

[HR al-Bukhaariy, Muslim, at-Tirmidziy (dan ini lafazhnya), dan selainnya]

[13] dari ‘Aa`isyah radhiyallaahu ‘anha bahwasanya beliau berkata:

أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَهَا هَذَا الدُّعَاءَ

Bahwasanya Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam mengajarkan kepadanya doa berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ , عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ , مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ , وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ , عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ , مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ , اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ , وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ , اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ , وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ , وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ , وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ , وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

Allaahumma innaa nas-aluka minal khayri kullih, ‘aajilihi wa aajilihi, maa ‘ilminaa wa maa lam na’lam, Wa na’uudzubika minasy syarri kullih, ‘aajilihi wa aajilihi, maa ‘alimna minhu, wa maa lam na’lam. Allaahumma inna nas-aluka min khayri maa sa-alaka ‘abduka wa nabiyyuka, Wa na’uudzubika min syarristi’aadza minhu ‘abduka wa nabiyyuka. Allaahumma inna nas-alukal jannata wa maa qarraba ilayhaa min qawlin aw amalin. Wa na’uudzubika minan naari, wa maa qarraba ilayha min qawlin aw ‘amalin. Wa nas-aluka an taj’-‘al kulla qadhaa-in qadhaytahu lana khayran.

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu semua kebaikan, baik yang cepat (di dunia) maupun yang di tangguhkan (di akhirat), yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui. Dan kami berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang cepat (di dunia) maupun yang di tangguhkan (di akhirat), yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan yang di mohonkan hamba-Mu dan Nabi-Mu kepada-Mu, dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan yang hamba-Mu dan Nabi-Mu berlindung darinya kepada-Mu. Ya Allah, sungguh kami memohon surga kepada-Mu dan semua yang mendekatkan diri kami kepadanya dari perkataan atau perbuatan. Dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka dan semua yang mendekatkan diri-diri kami kepadanya dari perkataan dan perbuatan. Dan kami memohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan semua ketentuan yang Engkau tentukan kepadaku sebagai kebaikan.”

[HR. Ahmad, ibnu Maajah (dan ini redaksinya), dan selainnya]

[14] dari Mu’aadz radhiyallaahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata:

أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بِيَدِي ، فَقَالَ لِي

Suatu hari Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam mengambil tanganku dan bersabda kepadaku:

” يَا مُعَاذُ ، وَاللَّهِ إِنِّي لأُحِبُّكَ ”

“Wahai Mu’aadz; Demi Allaah, sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu”

فَقُلْتُ : بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي ، وَاللَّهِ إِنِّي لأُحِبُّكَ

Maka kukatakan: Ayahku dan ibuku menjadi tebusanmu, demi Allaah sesungguhnya akupun benar-benar mencintai anda

(beliau bersabda)

يَا مُعَاذُ إِنِّي أُوصِيكَ ، لا تَدَعَنَّ أَنْ تَقُولَ دُبُرَ كُلِّ صَلاةٍ

Wahai Mu’aadz, sesungguhnya aku wasiatkan padamu agar jangan sekalipun engkau tinggalkan untuk membaca (doa ini) pada setiap dubur shalat [yaitu pada tasyahud akhir, sebelum salam]

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Allaahumma a’inniy ‘ala dzikrika wa syukrika wa hushni ibaadatik

Ya Allaah, bantulah aku untuk senantiasa berdzikir padaMu, mensyukuriMu, dan memperbaiki ibadah (yang kupersembahkan) untukMu.

[HR Ahmad, an-Nasaa`iy, ibnu Khuzaymah (dan ini redaksinya), dan selainnya]

[15] Berkata as-Saa`ib:

صَلَّى بِنَا عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ صَلَاةً فَأَوْجَزَ فِيهَا فَقَالَ لَهُ بَعْضُ الْقَوْمِ لَقَدْ خَفَّفْتَ أَوْ أَوْجَزْتَ الصَّلَاةَ فَقَالَ أَمَّا عَلَى ذَلِكَ فَقَدْ دَعَوْتُ فِيهَا بِدَعَوَاتٍ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَامَ تَبِعَهُ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ هُوَ أُبَيٌّ غَيْرَ أَنَّهُ كَنَى عَنْ نَفْسِهِ فَسَأَلَهُ عَنْ الدُّعَاءِ ثُمَّ جَاءَ فَأَخْبَرَ بِهِ الْقَوْمَ

Ammar bin Yasir pernah shalat bersama (mengimami) kami, dan ia mempersingkat shalatnya. Lalu sebagian orang bertanya kepadanya, ‘Engkau telah meringankan -mempersingkat- shalat? ‘ Ia menjawab, ‘Dalam shalat tadi aku memanjatkan doa dengan doa yang kudengar dari Rasulullah Shalallah ‘Alaihi Wa Sallam.’ Lalu ia bangkit dan diikuti oleh seseorang -dia adalah Ubay, tetapi ia menyamarkan dirinya- lalu ia bertanya kepadanya tentang doa. Kemudian ia datang dan memberitahukan doa tersebut kepada kaumnya,

اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِي اللَّهُمَّ وَأَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى وَأَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ وَأَسْأَلُكَ الرِّضَاءَ بَعْدَ الْقَضَاءِ وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ

Allahumma wa nas-aluka khasy-yataka fil ghaybi wasy syahaadah, Wa nas-aluka kalimatal haqqi fir ridhaa wal ghadhab, wa nas-alukal qashda fi faqr wal ghina, wa nas-aluka na’iiman laa yanfad, wa nas-aluka qurrata ‘ainin laa tanqathi’, wa nas-aluka ar ridhaa`a ba’dal qadhaa`i, wa nas-aluka bardal ‘aisy ba’dal mawt, Wa nas-aluka ladzdzatan nazhari ila wajhika, wasy syawqa ila liqaa-ika fiy ghayri dharaa-a mudhirratin wa laa fitnatin mudhillah, Allahumma zayyinnaa bi ziinatil iimaan waj ‘alnaa hudaatan muhtadiin

‘Ya Allah dengan ilmu-Mu terhadap hal gaib dan kekuasaan-Mu atas makhluk, hidupkanlah aku selagi Engkau mengetahui bahwa hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika Engkau mengetahui bahwa mati lebih baik bagiku. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu saat nampak ataupun saat tidak nampak. Aku memohon kesederhanaan saat fakir dan kaya. Aku memohon kenikmatan tanpa habis dan kesenangan tanpa henti. Aku memohon keridhaan setelah adanya keputusan, dan kenyamanan hidup setelah mati dan kelezatan memandang kepada wajah-Mu serta keridhaan berjumpa dengan-Mu tanpa ada bahaya yang membahayakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami orang yang menyampaikan hidayah dan yang mendapatkan hidayah.”

[Diriwayatkan Ahmad, an-Nasaa`iy (dan ini redaksinya), ibnu Hibbaan, al-Haakim, dan selainnya]

[16] dari Zirrin bin Hubays, dia berkata:

أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ كَانَ قَائِمًا يُصَلِّي ، فَلَمَّا بَلَغَ رَأْسَ الْمِائَةِ مِنَ النِّسَاءِ ، أَخَذَ يَدْعُو ، فَقَالَ الَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” سَلْ تُعْطَهْ ” ، ثَلاثًا ، فَقَالَ :

bahwasanya ibnu Mas’uud pernah shalat; dia membaca surah an-Nisaa` dan telah membaca seratusan ayat. Kemudian dia berdoa. Maka Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “mintalah, pasti akan diberi” sebanyak tiga kali. Maka beliau berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا لا يَرْتَدُّ ، وَنَعِيمًا لا يَنْفَدُ ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْلَى جُنَّةِ الْخُلْدِ

Allaahumma inni as`aluka imaanan laa yartad, wa na’iiman laa yanfad, wa muraafaqatan muhammadin shallallaahu ‘alayhi wa sallam fi a’la jannatil khuld.

“Ya Allah saya meminta kepada-Mu keimanan yang tidak akan berubah dengan kemurtadan, kenikmatan yang tiada putus, dan (aku memohon kepada-Mu) agar menjadi pendamping Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam di derajat tertinggi dari surga yang kekal.”

(Diriwayatkan Ahmad, ibnu Hibbaan [dan ini redaksinya], dan selainnya)

[17] Berkata Syahr bin Hawsyab:

قُلْتُ لِأُمِّ سَلَمَةَ : يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ ، مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ عِنْدَكِ

Aku bertanya pada Ummu salamah: ‘Wahai Ummul Mu`miniin, doa apa yang sering dibaca Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam jika beliau bersama anda…

قَالَتْ : كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ

Beliau berkata: Adalah doa yang selalu dipanjatkan beliau:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Yaa Muqallibal quluub, tsabbit qalbiy ‘ala diinik

Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati; tetapkanlah hatiku diatas agamaMu

قَالَتْ : فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا لأَكْثَرِ دُعَاءَكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ ؟ قَالَ

Beliau berkata: “Kemudian aku bertanya pada Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam; wahai Rasuulullaah, (mengapa) betapa sering anda berdoa: Yaa Muqallibal quluub, tsabbit qalbiy ‘ala diinik (Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati; tetapkanlah hatiku diatas agamaMu)? Maka beliau bersabda:

يَا أُمَّ سَلَمَةَ : إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلَّا وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun melainkan hatinya berada diantara dua jari diantara jari-jari Allah, siapa yang Allah kehendaki (untuk diluruskan), maka Dia akan meluruskannya dan siapa yang Allah kehendaki (untuk dibelokkan), maka Dia akan membelokkannya

[HR at-Tirmidziy (ini redaksinya), dan selainnya]

[18] Dari Jaabir bin ‘Abdillaah radhiyallaahu ‘anhumaa, bahwa beliau berkata:

قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku

أَلَا تُرِيحُنِي مِنْ ذِي الْخَلَصَةِ وَكَانَ بَيْتًا فِي خَثْعَمَ يُسَمَّى الْكَعْبَةَ الْيَمانِيَةَ

“Wahai Jarir, pimpinlah pasukan kaum muslimin ke Dzil Khalashah suatu tempat ibadah orang-orang Khats’am yang disebut Ka’bah Yamaniah.”

فَانْطَلَقْتُ فِي خَمْسِينَ وَمِائَةِ فَارِسٍ مِنْ أَحْمَسَ وَكَانُوا أَصْحَابَ خَيْلٍ وَكُنْتُ لَا أَثْبُتُ عَلَى الْخَيْلِ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي حَتَّى رَأَيْتُ أَثَرَ أَصَابِعِهِ فِي صَدْرِي وَقَالَ

Maka aku segera berangkat bersama seratus lima puluh pasukan penunggang kuda yang tangguh. Namun pada waktu itu aku tidak bisa diam di atas kudaku. Maka beliau memukul dadaku dengan tangannya hingga aku dapat melihat bekas jari-jari beliau di dadaku. Beliau berdo’a:

اللَّهُمَّ ثَبِّتْهُ وَاجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا

“Ya Allah, kokohkanlah ia dan jadikanlah dia orang yang dapat memberi petunjuk dan ditunjuki.”

فَانْطَلَقَ إِلَيْهَا فَكَسَرَهَا وَحَرَّقَهَا ثُمَّ بَعَثَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ جَرِيرٍ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا جِئْتُكَ حَتَّى تَرَكْتُهَا كَأَنَّهَا جَمَلٌ أَجْرَبُ

Lalu dia berangkat kemudian menghancurkan dan membakarnya dengan api. Setelah itu Jarir mengutus seseorang untuk mengabarkan kemenangan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah sampai, utusan itu berkata kepada Rasulullah; ‘ Tidaklah aku menemuimu kecuali aku telah meninggalkan rumah itu dalam keadaan terbakar hingga seakan-akan seekor unta berkudisan (berwarna hitam).’

فَبَارَكَ فِي خَيْلِ أَحْمَسَ وَرِجَالِهَا خَمْسَ مَرَّاتٍ

Maka kemudian Rasulullah memberkahi kuda-kuda yang tangguh dan para penunggangnya sebanyak lima kali.

[19] Dari ‘Aliy radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata:

قُلْ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ وَالسَّدَادِ سَدَادَ السَّهْمِ

“Ucapkanlah (doa) : ALLAAHUMMAH DINII WASADDIDNII WADZKUR BILHUDAA HIDAAYATAKATH THORIIQO WASSADAADI SADAADAS SAHMI “Ya Allah, berikanlah petunjuk kepadaku. Berilah aku jalan yang lurus. Jadikan petunjuk-Mu sebagai jalanku dan kelurusan hidupku selurus anak panah.”

Dalam redaksi yang lain:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ

Allaahumma inni as-alukal huda, was-sadaad

(Diriwayatkan Muslim, dan selainnya)

[20] Dari ibnu Mas’uud bahwa ia berkata:

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ : ” اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Dari Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam, bahwasanya beliau pernah berdoa: “Allaahumma inniy as`alukal huda, wat tuqaa, wal ‘afaafa, wal ghina” [Ya Allaah, aku memohon kepadaMu petunjuk, ketaqwaan, ‘afaaf (jauhnya diriku dari perkara haram), dan kecukupan (dalam perkara halal, yang selamat dari kecondongan pada yang haram, dan kerakusan)]

(Diriwayatkan Muslim, dan selainnnya)

[21] Hadits dari ibnu Mas’uud, bahwasanya beliau berkata:

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَدْعُو

Dari Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bahwasanya beliau pernah berdoa:

اللَّهُمَّ احْفَظْنِي بِالإِسْلامِ قَائِمًا ، وَاحْفَظْنِي بِالإِسْلامِ قَاعِدًا ، وَاحْفَظْنِي بِالإِسْلامِ رَاقِدًا ، وَلا تُشْمِتْ بِي عَدُوًّا حَاسِدًا ، وَاللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ خَزَائِنُهُ بِيَدِكَ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ كُلِّ شَرٍّ خَزَائِنُهُ بِيَدِكَ

Allaahummahfazhnaa bil-islaam qaa`iman, Wahfazhna bil-islaam qaa’idan, wahfazhna bil-islaam raaqidan, Wa laa tusymit binaa ‘aduwwan wa laa haasidan. Allaahummaa inna nas`aluka min kulli khayri khazaainuhu biyadik. Wa na’uudzubika min kulli syarri khazaa`inuhu biyadik

Yaa Allaah jagalah kami dengan islam ini ketika kami berdiri, jagalah kami dengan islam ini ketika kami duduk, jagalah kami dengan islam ini ketika kami tidur, dan janganlah Engkau jadikan musuh-musuh dan orang-orang yang hasad kepada kami gembira karena kedukaan kami. Yaa Allaah, kami memohon kepadaMu dari segala pembendaraan kebaikan yang berada di TanganMu, dan kami berlindung kepadaMu dari segala pembendaraan keburukan yang juga ada di TanganMu.

(Diriwayatkan al-Haakim, dan selainnya)

[22] Dari ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhumaa, bahwasanya beliau berkata:

أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ ، يَقُولُ

Bahwasanya Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pernah berdoa:

” اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي ، أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ

Allaahumma laka aslamtu wa bika aamantu. Wa ‘alayka tawakkaltu, wa ilayka anabtu, wa bika khashamtu, Allaahumma inni a’uudzu bi’izzatika laa ilaaha illa anta an-tudhillaniy, Antal hayyu alladziy la yamuut, wal jinnu wal insu yamuut…

Yaa Allaah… kepadaMu aku berserah diri… kepadaMu aku beriman… KepadaMu aku bertawakkal… kepadaMu aku kembali… dan dengan-(nama)Mu aku membela… Yaa Allaah… sesungguhnya aku berlindung dengan keperkasaanMu, tiada sesembahan yang berhak disembah selainMu, agar Engkau tidak menyesatkanku… Sesungguhnya Engkau Maha Hidup yang tidak pernah mati, sedangkan jin dan manusia mati.

[23] Berkata Abu Musa al-Asy’ariy dalam khutbah beliau:

خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم فقال :

Rasuulullaah berkhutbah kepada kami pada hari ini dengan khutbah beliau:

أيها الناس ، اتقوا هذا الشرك ؛ فإنه أخفى من دبيب النمل ،

فقال له من شاء أن يقول : وكيف نتقيه وهو أخفى من دبيب النمل يا رسول الله ؟ قال

Wahai manusia, takutlah dengan syirik ini… karena ia lebih lebih samar daripada jejak langkah semut.

Maka berkata kepada beliau seorang yang dikehendaki untuk mengucap: “Wahai Rasuulullaah, Maka bagaimanakah kami takut padanya, sedangkan ia lebih samar daripada langkah semut?” Maka beliau bersabda:

قولو اللهم إنا نعوذ بك من أن نشرك بك شيئا نعلمه ونستغفرك لما لا نعلم

Ucapkanlah: Allaahummaa inna na’uudzubika min an usyrika bika syay`an na’lamuh, wa nastaghfiruka lima laa na’lam (ya Allaah, kami berlindung padaMu dari menyekutukanMu dengan sesuatupun sedangkan kami mengetahui; dan kami memohon ampun padaMu terhadap apa-apa yang tidak kami ketahui)

[Diriwayatkan ‘Abdurrazzaaq dalam mushannafnya]

[24] ‘Aashim bin Humayd berkata:

سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَاذَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ بِهِ قِيَامَ اللَّيْلِ قَالَتْ

Aku bertanya kepada ‘Aa`isyah; “Dengan apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membuka shalat malamnya? ia menjawab:

لَقَدْ سَأَلْتَنِي عَنْ شَيْءٍ مَا سَأَلَنِي عَنْهُ أَحَدٌ قَبْلَكَ كَانَ يُكَبِّرُ عَشْرًا وَيَحْمَدُ عَشْرًا وَيُسَبِّحُ عَشْرًا وَيَسْتَغْفِرُ عَشْرًا وَيَقُولُ

“Kamu telah menanyakan kepadaku sesuatu yang tidak pernah ditanyakan oleh orang lain sebelumnya. Beliau bertakbir sepuluh kali, bertahmid sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, beristighfar sepuluh kali lalu berdo’a;

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي وَعَافِنِي

“Ya Allah, ampunilah aku, tunjukkanlah aku, limpahkanlah rizki kepadaku, berilah kesehatan pada diriku, ”

وَيَتَعَوَّذُ مِنْ ضِيقِ الْمُقَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

(beliau melanjutkan) dan beliau juga berlindung dari sempitnya tempat berdiri pada hari kiamat

[Diriwayatkan ibnu Maajah dan selainnya]

[25] Dari Zaid bin Arqam Radhiallahu’anhu, dia berkata,

لَا أَقُولُ لَكُمْ إِلَّا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ، كَانَ يَقُولُ

“Aku tidak akan mengatakan kepada kalian kecuali seperti apa yang pernah diucapkan Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam dalam doanya yang berbunyi,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ ، وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, ketakutan, kekikiran, kepikunan, dan siksa kubur. Ya Allah, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku, sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat mensucikannya, Engkaulah yang menguasai dan yang menjaganya. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak berguna, hati yang tidak khusyu’, diri yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak terkabulkan.”

(HR. Muslim, dan selainnya)

[26] Dari Jaabir ibn ‘Abdillaah radhiyallaahu ‘anhumaa bahwa beliau berkata:

: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الِلَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ :

Aku mendengar bah Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pernah berdoa:

الِلَّهِمْ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ

Allaahumma inni as`alike ‘ilman naafi’aa, wa rizqan thayyiba, wa ‘amalan mutaqabbala.

[HR ibnu Maajah, dan selainnya]

[27] dari Anas bin maalik, bahwa beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، كَانَ يَدْعُو

Bahwasanya sesungguhnya Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pernah berdoa:

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي ، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي ، وَارْزُقْنِي عِلْمًا تَنْفَعُنِي بِهِ

Allaahummanfa’niy bima ‘allamtaniy, wa ‘allimniy maa yanfa’uniy, warzuqniy ‘ilman tanfa’uni bih.

Yaa Allaah berilah kemanfaatan kepadaku dari apa-apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, dan ajarkanlah kami apa-apa yang dapat bermanfaat bagiku, dan tambahanlah kepadaku ilmu yang yang dengannya Engkau memberi manfaat kepadaku…

(HR al-Haakim, dan selainnya)

[28] Dari Jaabir bahwasanya beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pernah berdoa:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي لأَحْسَنِ الأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الأَخْلاقِ ، فَإِنَّهُ لا يَهْدِي لأَحْسَنِهَا إِلا أَنْتَ ، وَقِنِي سَيِّءَ الأَعْمَالِ وَسَيِّءَ الأَخْلاقِ ، فَإِنَّهُ لا يَقِي سَيِّئَهَا إِلا أَنْتَ

Allaahummahdini li ahsanil akhlaaq, fa innahu laa yahdi li ahsanihaa illaa anta
washrif ‘anni sayyi`ahaa, laa yashrifu ‘anna sayyi`ahaa illa anta

Yaa Allaah tunjukilah kepadaku amal dan akhlaq yang paling bagus, sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah dariku akhlaq yang burke, dan amal yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya kecuali Engkau.

(Diriwayatkan Abu Nu’aym dalam shifatun nifaaq)

[29] Dari Quthbah bin Maalik, bahwa ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ

Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam pernah berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ , وَالْأَعْمَالِ , وَالْأَهْوَاءِ

Allaahumma inni a’uudzubika min munkaraatil akhlaaq, wal a’maal, wal ahwaa`

Ya Allaah aku berlindung padaMu dari munkarnya akhlaq, amal dan hawa nafsu.

(Diriwayatkan at-Tirmidziy, dan selainnya)

[30] Dari Quthbah bin Maalik, bahwa ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ

Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam pernah berdoa:

اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ الأَخْلاقِ ، وَالأَهْوَاءِ ، وَالأَسْوَاءِ ، وَالأَدْوَاءِ

Allaahumma inni a’uudzubika min munkaraatil akhlaaq, wal a’maal, wal adwaa`

Ya Allaah aku berlindung padaMu dari munkarnya akhlaq, amal dan penyakit.

(Diriwayatkan ibnu Hibbaan, dan selainnya)

[31] Dari Abu Hurayrah bahwa ia berkata:

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال تعوذوا بالله من جهد البلاء ودرك الشقاء وسوء القضاء وشماتة الأعداء

Dari Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Berlindunglah kepada Allaah dari susahnya balaa`, hinanya kesengsaraan, keburukan qadhaa`, dan kegembiraan musuh”

(Diriwayatkan al-Bukhaariy, dan selainnya)

[32] Dari Anas bin Maalik, bahwa ia berkata:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يدعو أعوذ بك من البخل والكسل وأرذل العمر وعذاب القبر وفتنة الدجال وفتنة المحيا والممات

Bahwasanya Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pernah berdoa: “(Allaahumma inni) A’uudzubika minal bukhli wal kasali wal ardzalil ‘umur, wa ‘adzaabil qabri, wa fitnatid dajjaal, wa fitnatil mahyaa wal mamaat” ([Ya Allaah, sesungguhnya aku) berlindung padaMu dari kekikiran, kemalasan, umur yang menjadikan pikun, siksa kubur dan fitnah dunia dan fitnah kematian)

(Diriwayatkan al-Bukhaariy)

[33] Dari Anas bin Maalik, bahwa ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ فِي دُعَائِهِ

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pernah memanjatkan dalam doanya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ ، وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ ، وَالْقَسْوَةِ وَالْغَفْلَةِ ، وَالْعَيْلَةِ وَالذِّلَّةِ وَالْمَسْكَنَةِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ ، وَالْكُفْرِ ، وَالْفُسُوقِ ، وَالشِّقَاقِ ، وَالنِّفَاقِ ، وَالسُّمْعَةِ ، وَالرِّيَاءِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الصَّمَمِ ، وَالْبَكَمِ ، وَالْجُنُونِ ، وَالْجُذَامِ ، وَالْبَرَصِ ، وَسَيِّئِ الْأَسْقَامِ

Allaahumma inni a’uudzubika minal ‘ajzi, wal kasal, wal jubni, wal haram, wal qaswah, wal ghaflah, wal ‘aylah, wadz dzillah, wal maskanah… a’uudzubika minal faqri, wal kufri, wal fusuuq, wasy syiqaaq, wan nifaaq, was sum’ah, war riyaa`… a’uudzubika minash shamam, wal bakam, wal junuun, wal judzaam, wal barash, wa sayyi`il asqaam

Yaa Allaah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ketidakberdayaan, kemalasan, kepengecutan, kebakhilan, kepikunan, kekerasan hati, kelalaian, kemelaratan, kehinaan serta kerendahan… Dan aku berlindung kepadaMu dari kefakiran, kekufuran, kefasikan, kesesatan, kemunafikan, sum’ah serta riyaa’… Dan aku berlindung kepadaMu dari penyakit tuli, bisu, gila; penyakit kusta, penyakit sompak, serta segala penyakit yang buruk…

(Diriwayatkan al-Bayhaqiy dalam sunan al-Kubra)

[34] Dari Abul Yusr (Ka’ab bin ‘Amru), beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو ، فَيَقُولُ

Bahwasanya Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pernah berdoa, maka beliau mengucap:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَرَمِ وَالتَّرَدِّي ، وَالْهَدْمِ وَالْغَمِّ ، وَالْحَرِيقِ وَالْغَرَقِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ ، وَأَنْ أُقْتَلَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا

Allaahumma inni a’uudzubika minal harami wal hadmi wal ghammi wal hariqi wal gharaq… Wa na’uudzubika an yatakhbbthanasy syaithaana ‘indal mawt… wa na’uudzubika an namuutu fi sabiilika mudbiriin… Wa na’uudzubika an namuutu ladiighiin

Yaa Allaah sesungguhnya aku berlindung padaMu dari kepikunan, jatuh dari tempat yang tinggi, tertimpa reruntuhan, kesedihan, kebakaran, dan tenggelam… Dan aku berlindung kepada-Mu dari bujukan setan saat sakaratul maut… Dan aku berlindung kepadaMu dari kematian saat lari dari perang di jalan-Mu… Dan Baku berlindung kepadaMu dari kematian sengatan binatang melata.

(Diriwayatkan an-Nasaa`iy, dan selainnya)

[35] Dari ‘Aa`isyah beliau berkata:

أن رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم كان يَدْعو في الصلاةِ

Bahwasanya Rasuulullaah berdoa dalam shalatnya:

اللَّهُمَّ إني أعوذُ بك مِن عَذابِ القَبر، وأعوذُ بك مِن فِتنَةِ المَسيحِ الدَّجَّالِ، وأعوذُ بك مِن فِتنَةِ المَحْيا وفِتنَةِ المَماتِ، اللَّهُمَّ إني أعوذُ بك مِنَ المَأثَمِ والمَغْرَمِ

Allaahumma inni a’uudzubika min ‘adzaabil qabr, wa a’uudzubika min fitnatil masiihid dajjaal, wa a’uudzubika min fitnatil mahya wal mamaat… Allaahumma inni a’uudzubika minal ma’tsami wal maghrami.

Ya Allaah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dari fitnah Dajjal, dan dari fitnah kehidupan dan kematian… Yaa Allaah aku berlindung kepadaMu dari banyak berbuat dosa dan berhutang…

فقال له قائِلٌ : ما أكثَرَ ما تَستَعيذُ مِنَ المَغرَمِ ؟

Maka salah seorang berkata pada beliau: Mengapa betapa banyaknya anda berlindung dari hutang?

فقال : إنَّ الرجلَ إذا غَرِمَ، حدَّثَ فكَذَبَ، ووعَدَ َفأخْلَفَ

Beliau bersabda: Sesungguhnya kalau seorang sedang berhutang; jika ia berucap, ia akan berbohong; dan jika ia berjanji, ia akan menyalahi.

[36] Dari Syakal bin Humayd radhiyallaahu ‘anhu bahwa beliau berkata:

يا رسولَ اللَّهِ علِّمني تَعوُّذًا أتعوَّذُ بِهِ

Wahai Rasuulullaah ajarkan kepadaku doa perlindungan, yang untuk mohonkan perlindungan (kepada Allaah) dengan hal itu.

فأخذَ بكفي فقالَ

Maka beliau meraih tanganku dan berkata:

قُل: اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بِكَ مِن شرِّ سمعي، ومِن شرِّ بصَري، ومِن شرِّ لِساني، ومِن شرِّ قلبي، ومن شرِّ مَنيِّي

Ucapkanlah: Allaahumma inni a’uudzubika min syarri sam’iy, wa min syarri bashariy, wa min syarri lisaaniy, wa min syarri qalbiy, wa min syarri maniyyi. (Yaa Allaah, aku berlindung padaMu dari kejelekan pendengaranku, dan dari kejelekan pandanganku, dan dari kejelekan lisanku, dan dari kejelekan hatiku, dan dari kejelekan air maniku [yakni kemaluanku])

(Diriwayatkan at-Tirmidziy [dan ini redaksinya], ibnu Maajah, dan selainnya)

[37] Dari ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhumaa bahwasanya beliau berkata:

كانَ من دعاءِ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ

Diantara doa yang dibaca Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam adalah:

اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بِكَ من زَوالِ نعمتِكَ ، وتحويلِ عافَيتِكَ ، وفُجاءةِ نقمتِكَ ، وجميعِ سُخْطِكَ

Allaahumma inni a’uudzubika min zawaali ni’matik, wa tahwiili ‘aafiyatik, wa fujaa`ati niqmatik, wa jamii’i sukhthik.

Ya Allah kami berlindung kepadaMu dari hilangnya nikmatMu, berubahnya ampunanMu, adzabMu yang tiba-tiba, serta dari seluruh kemurkaanMu.

(Diriwayatkan Abu Daawud, dan selainnya)

[38] Dari Farwah bin Naufal bahwa beliau berkata:

سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ دُعَاءٍ كَانَ يَدْعُو بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَتْ

Aku bertanya pada ‘Aa`isyah mengenai doa yang dibaca Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam, maka beliau berkata:

كَانَ يَقُولُ : ” اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ وَشَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ

Beliau pernah berdoa: “Allaahuma inni a’uudzubika min syarri maa ‘amiltu, wa min syarri ma lam a’mal” (Yaa Allaah, aku berlindung dari keburukan atas apa-apa yang aku amalkan, dan dari keburukan apa-apa yang belum aku amalkan)

[HR Muslim, dan selainnya]

[39] Dari ‘Aliy bin abi Thaalib radhiyallaahu ‘anhu bahwa beliau berkata:

أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم كان يقولُ آخِرَ ما يقولُ بين التَّشهُّدِ والتَّسليمِ

Adalah Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam membaca (doa berikut) diantara bacaan tasyahud dan salam:

اللَّهمَّ اغفِرْ لي ما قدَّمْتُ وما أخَّرْتُ وما أسرَرْتُ وما أعلَنْتُ وما أسرَفْتُ وما أنت أعلَمُ به منِّي أنتَ المُقدِّمُ وأنتَ المُؤخِّرُ لا إلهَ إلَّا أنتَ

Allaahummaghfirli maa qaddamtu, wa maa akhkhartu, wa maa asrartu, wa maa asraftu, wa maa anta a’lamu bihi minni… antal muqaddim, wa antal mu`akhkhir… laa ilaaha illa anta… ((Yaa Allaah, aku memohon ampun padaMu dari dosa-dosaku terdahulu, dari dosa-dosaku yang akan datang, dosa-dosaku yang tersembunyi, dosa-dosaku yang terang-terangan, sikap berlebih-lebihanku, dan seluruh kekurangan dan keburukanku yang Engkau lebih Mengetahuinya daripadaku… Engkau Maha Memajukan, dan Maha Mengakhirkan… Tiada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Engkau))

[40] Berkata ‘Imraan ibn Hushayn (atau selainnya) :

أَنَّ حُصَيْنًا أَوْ حَصِينًا أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ

Bahwasanya seseorang bernama Hushain atau Hashin datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata;

يَا مُحَمَّدُ لَعَبْدُ الْمُطَّلِبِ كَانَ خَيْرًا لِقَوْمِهِ مِنْكَ كَانَ يُطْعِمُهُمْ الْكَبِدَ وَالسَّنَامَ وَأَنْتَ تَنْحَرُهُمْ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ فَقَالَ لَهُ مَا تَأْمُرُنِي أَنْ أَقُولَ قَالَ

“Wahai Muhammad, sungguh Abdul Muthallib adalah orang terbaik bagi kaumnya daripada kamu. Ia memberi makan kaumnya dengan hati dan punuk unta, sementara kamu menyembelih mereka.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sebagaimana yang di kehendaki Allah. Laki-laki itu berkata lagi; “Lalu apa yang anda suruh untuk aku katakan?.” Beliau bersabda:

قُلْ اللَّهُمَّ قِنِي شَرَّ نَفْسِي وَاعْزِمْ لِي عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِي

“Katakanlah: Allahumma Qinii syarra nafsi wa ‘A’zimlii ‘ala ‘arsyadi amrii (Ya Allah, jagalah daku dari kejahatan diriku dan tunjukilah daku kepada kebaikan urusanku).”

قَالَ فَانْطَلَقَ فَأَسْلَمَ الرَّجُلُ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ إِنِّي أَتَيْتُكَ فَقُلْتَ لِي

قُلْ اللَّهُمَّ قِنِي شَرَّ نَفْسِي وَاعْزِمْ لِي عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِي فَمَا أَقُولُ الْآنَ قَالَ

‘Imran bin Hushain berkata; “Lalu laki-laki itu itu pergi dan masuk Islam, kemudian datang lagi sambil berkata; “Aku datang kepadamu lalu engkau menyuruhku untuk membaca; Allahumma Qinii syarra nafsii wa ‘A’zimlii ‘ala ‘arsyadi amrii (Ya Allah, jagalah daku dari kejahatan diriku dan tunjukilah daku kepada kebaikan urusanku), lantas apa yang aku katakan sekarang?.”, maka beliau bersabda:

قُلْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَخْطَأْتُ وَمَا عَمَدْتُ وَمَا عَلِمْتُ وَمَا جَهِلْتُ

“Katakanlah; Allahummaghfirlii maa asrartu wamaa ‘a’lantu wamaa akhtha’tu wamaa ‘amadtu wamaa ‘alimtu wa maa jahiltu (Ya Allah, ampunilah daku dari dosa yang tersembunyi dan yang nampak, yang lalai maupun yang disengaja, yang aku tahu maupun tidak).”

[Diriwayatkan Ahmad, ibnu Hibbaan, dan selainnya]

[41] Dari ‘Aliy radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata:

أنَّ مُكاتبًا جاءَهُ فقالَ : إنِّي قد عَجزتُ عَن كتابتي فأعنِّي

bahwasanya seorang budak yang ingin memerdekakan dirinya pernah mendatanginya dan berkata: “Sesungguhnya aku telah tidak sanggup untuk melunasi diriku, maka tolonglah aku.”

قالَ : ألا أعلِّمُكَ كلِماتٍ علَّمَنيهنَّ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ لو كانَ عَليكَ مثلُ جَبلِ صيرٍ دينًا أدَّاهُ اللَّهُ عَنكَ ، قالَ

‘Ali bin Abi Thalib berkata: “Maukah kamu aku ajarkah beberapa doa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajariku, jikalau kamu mempunyai hutang seperti gunung Shir sebagai hutang, niscaya Allah akan melunaskan hutangmu, ucapkanlah:

اللَّهمَّ اكفني بِحلالِكَ عن حرامِكَ ، وأغنِني بِفَضلِكَ عَن سواكَ

Allaahummakfiniy bi halaalika ‘an haraamika, wa aghniniy bi fadhlika ‘an siwaak

Ya Allaah, cukupkanlah aku (dari rizki) yang Engkau halalkan, dari (rizki) yang Engkau haramkan. Dan cukupkanlah aku dengan karuniaMu dari (butuh kepada) selainMu

(Diriwayatkan at-tirmidziy, dan selainnya)

[42] Dari ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhumaa bahwa beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو يَقُولُ

Adalah Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam berdoa :

اللَّهُمَّ قَنِّعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي ، وَبَارِكْ لِي فِيهِ ، وَاخْلُفْ عَلَى كُلِّ غَائِبَةٍ لِي بِخَيْرٍ

Allaahumma qanni’ni bi maa razataniy, wa baarikliy fiih. wakhlif ‘ala kulli ghaa`ibatin liy bi khayrin.

Ya Allaah cukupkanlah (hati) kami dengan apa-apa yang engkau rizkikan pada kami, dan berkahilah kami didalam rizki tersebut, dan gantilah atas kami apa-apa yang hilang dari kami dengan kebaikan.

[Diriwayatkan al-Haakim, dan beliau menshahiihkannya, disepakati adz-dzahabiy]

[43] Dari Anas bin Maalik radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata:

أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ كان يقولُ

Bahwasanya Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam berdoa:

اللَّهمَّ إني أعوذُ بك من الفقرِ ، وأعوذُ بك من القِلَّةِ والذِّلَّةِ ، وأعوذُ بك أن أَظْلِمَ أو أُظْلَمَ

Allaahumma inni a’uudzubika minal faqr, wa a’uudzubika minal qillati wadz dzillah, wa a’uudzubika min azhlim au uzhlam.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran… aku berlindung kepada-Mu dari kekurangan dan kehinaan… Dan kami berlindung kepadaMu dari melakukan kezhaliman atau dizhalimi…

(Diriwayatkan an-Nasaa`iy)

[44] Dari Abu Hurayrah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata:

كانَ مِن دعاءِ النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ

Adalah diantara doa yang dibaca Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بِكَ مِن عِلمٍ لا ينفعُ ، ومِن قلبٍ لا يخشعُ ، ومِن نَفسٍ لا تشبَعُ ، ومِن دعاءٍ لا يُسمَعُ

Allaahumma inni a’uudzubika min ‘ilmin laa yanfa’ wa min qalbin laa yakhsya’, wa min nafsin laa tasyba’, wa min du’aa`in laa yusma’.

Yaa Allaah, aku berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak merasa puas dan dari doa yang tidak didengar

[Diriwayatkan at-tirmidziy, an-Nasaa`iy, ibnu Maajah, dan selainnya]

[45] Dari Abu Hurayrah radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata:

كانَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ يقولُ

Adalah Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam berdoa:

اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بِكَ منَ الجوعِ ، فإنَّهُ بئسَ الضَّجيعُ ، وأعوذُ بِكَ منَ الخيانةِ ، فإنَّها بئستِ البِطانةُ

Allaahumma inni a’uudzubika minal juu’i, fa innahu bi`sadh`dhajii’, wa a’uudzubika minal khiyaanah, fa innahaa bi`satil bithaanah

(Yaa Allaah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kelaparan; karena ia seburuk-buruk teman tidur. dan aku berlindung kepadaMu dari khianat, karena ia seburuk-buruk (sifat yang dimiliki) teman kepercayaan.

[46] Dari ‘Abdullaah bin ‘Amruu radhiyallaahu ‘anhumma, beliau berkata:

أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ كان يدعو بهؤلاءِ الكلماتِ

Bahwasanya Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam berdoa dengan kalimat ini:

اللَّهمَّ إني أعوذُ بك من غلبةِ الدَّيْنِ وغلبةِ العدوِّ ، وشماتةِ الأعداءِ

Allaahumma inni a’uudzubika min ghalabatid`dayn, wa ghalabatil ‘aduw, syamaatatil a’daa`.

Yaa Allaah, aku berlindung kepadaMu dari tekanan hutang, tekanan musuh, dan kegembiraan musuh.

(Diriwayatkan Ahmad, an-Nasaa`iy, dan selainnya)

[47] Dari Abu Hurayrah, beliau berkata:

كان يقولُ في دعائِه

Adalah (Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam) mengucap (ini) dalam doa beliau:

اللَّهمَّ ! إنِّي أعوذُ بك من جارِ السَّوءِ في دارِ المُقامةِ ؛ فإنَّ جارَ الباديةِ يتحوَّلُ

Allaahumma inni a’uudzubika min jaaris-suu` fi daaril muqaamah, fa inna jaaral baadiyah yatahawwal.

Ya Allaah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari buruknya tetangga yang jahat di tempat mukim kami… Karena tetangga orang-orang badui (desa) itu berpindah-pindah

(HR. an-Nasaa`iy, ibnu Hibbaan, dan selainnya)

[48] Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir al-Juhaniy, beliau berkata:

أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، كَانَ يَقُولُ

Bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ يَوْمِ السُّوءِ ، وَمِنْ لَيْلَةِ السُّوءِ ، وَمِنْ سَاعَةِ السُّوءِ ، وَمِنْ صَاحِبِ السُّوءِ ، وَمِنْ جَارِ السُّوءِ فِي دَارِ الْمُقَامَةِ ”

Allaahumma inni a’uudzubika min yawmis suu` wa min laylatis suu`, wa min saa’atis suu`, wa min shaahibis suu`, wa min jaaris suu` fi daril maqaamah.

Ya Allaah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari hari(siang) yang buruk, malam yang buruk, teman yang buruk, serta tetangga yang buruk di tempat mukim kami…

(HR ath-Thabraaniy dalam mu’jamul kabiir-nya)

[49] Berkata ibnu ‘Abbaas:

كانَ النبي صلَّى اللَّه عليه وسلم يدعو يقولُ

Adalah Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam berdoa dengan mengucap:

ربِّ أَعِنِّي ولاَ تُعِن عليَّ وانصُرني ولاَ تنصر عليَّ وامْكُر لي ولاَ تمْكُر عليَّ واهدني ويسِّرِ الْهدى لي وانصرني على من بغى عليَّ ربِّ اجعلني لَكَ شَكَّارًا لَكَ ذَكَّارًا لَكَ رَهَّابًا لَكَ مطواعًا لَكَ مخبتًا إليْكَ أوَّاهًا منيبًا ربِّ تقبَّل توبتي واغسل حوبتي وأجب دعوتي وثبِّت حجَّتي وسدِّد لساني واهدِ قلبي واسلُل سخيمةَ صدري / قلبي

Rabbi a’inni wa laa tu’in ‘alayya, wanshurniy wa laa tanshur ‘alayya, wamkurliy wa laa tamkur ‘alayya. wahdiniy wa yassiril huda liy, wanshurniy ‘ala man bagha ‘alayya.

rabbij’alni laka syakkaara, laka dzakkara, laka rahhaba, laka mithwaa’aa, laka mukhbitaa, ilayka awwaahan munibaa…

rabbi taqabbal taubatiy, waghsil hawbatiy, wa ajib da’watiy, wa tsabbit hujjatiy, wa saddid lisaaniy, wahdi qalbiy, waslul sakhiimata shadriy/qalbiy

Wahai Tuhan kami… tolonglah kami, jangan Engkau tolong (orang yang hendak mencelakakan) atas diri-diri kami… Belalah kami, jangan Engkau bela (orang yang hendak mencelakakan) atas diri-diri kami… Berilah makar (orang-orang yang hendak mencelakakan kami) untuk kami, jangan jadikan (orang-orang yang hendak mencelakakan kami) memberi makar atas kami… Berilah kami petunjuk dan mudahkanlah petunjuk itu untuk kami… Dan tolonglah kami atas orang-orang yang berbuat kezhaliman atas kami…

Wahai Tuhan kami jadikanlah kami (termasuk hamba-hambaMu yang pandai) bersyukur kepadaMu, berdzikir kepadaMu, selalu taat kepadaMu, banyak berdoa kepadaMu, serta selalu kembali bertaubat kepadaMu…

Wahai Tuhan kami terimalah taubat kami, bersihkanlah dosa-dosa kami, ijabahlah doa-doa kami, tetapkanlah hujjah-hujjah kami, berilah petunjuk hati-hati kami, luruskanlah lidah-lidah kami, dan hilangkanlah belenggu dalam hati-hati/dada-dada kami…

(Diriwayatkan Diriwayatkan al-Bukhaariy [dalam adabul mufrad], Ahmad, at-Tirmidziy, Abu Daawud, ibnu Maajah dan selainnya)

[50] Berkata ‘Abdullaah bin Mas’uud radhiyallaahu ‘anhumaa:

كُنَّا لا نَدْرِي مَا نَقُولُ إِذَا جَلَسْنَا فِي الصَّلاةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ عَلِمَ جَوَامِعَ الْكَلِمِ ، وَخَوَاتِمَهُ ،

Dahulu kami tidak mengetahui apa yang mesti kami baca jika kami duduk dalam shalat. Dan adalah Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam telah mengajarkan kalimat yang ringkas namun dalam, beserta penutupnya.

(Kemudian perawi berkata)

: فَذَكَرَ التَّشَهُّدَ

Maka disebutkanlah (apa yg dibaca dlm) tasyahud

(Kemudian Ibnu Mas’uud melanjutkan)

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا كَلِمَاتٍ ، كَمَا يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ

Adalah Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam mengajarkan kami sebuah doa, sebagaimana beliau mengajarkan kami (apa yg hendak dibaca dalam) tasyahud, (dan doa tersebut adalah)

اللَّهُمَّ أَلَّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلامِ ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا ، وَمَا بَطَنَ ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا ، وَأَبْصَارِنَا ، وَقُلُوبِنَا ، وَأَزْوَاجِنَا ، وَذُرِّيَّاتِنَا ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ ، مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ ، قَابِلِينَ لَهَا وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا

Allaahumma allaf bayna quluubinaa wa ashlih dzaata bayninaa, wahdina subulas salaam, wa najjina minazh zhulumaati ilan nuur, wa jannibnal fawaahisy: maa zhahara minhaa wa maa bathan, wa baariklanaa fii asmaa’inaa wa abshaarina wa quluubinaa, wa azwaajinaa, wa dzurriyaatinaa. Wa tub’ ‘alaynaa, innaka antat tawwaabur rahiim. Waj’alna syaakiriin Li ni’matik, mutsniina bihaa ‘alayk, qaabiliina lahaa wa atimmahaa ‘alayna

Ya Allah, satukanlah hati-hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami serta tunjukkanlah kami kepada jalan-jalan keselamatan, selamatkanlah kami daripada kegelapan (untuk engkau tunjukkan) menuju cahaya, halangilah kami dari (segala bentuk) kekejian: yang nyata maupun yang tersembunyi, dan berkahilah pendengaran kami, penglihatan kami, hati-hati kami, isteri-isteri kami, dan keturunan-keturunan kami. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat Lagi Maha Penyayang. Jadikanlah kami tergolong menjadi golongan orang-orang yang bersyukur dengan nikmatMu, yang menyanjungMu dengannya, menerimanya dan (sehingga Engkau pun) menyempurnakannya (nikmat itu) atas kami.

[HR al-Haakim, dan dikatakan beliau: shahiih, berdasarkan syarat Muslim]

[51] Dari Sa’ad bin abi Waqqaash radhiyallaahu ‘anhu bahwa beliau berkata, bahwa Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ، فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

Doanya Dzun-Nuun, yang dia berdoa dengannya ketika berada dalam perut ikan paus: “laa ilaaha illa anta, subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimin” (tidak ada sesembahan [yang berhak diibadahi] melainkan Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang menzhalimi diri) Maka sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa (dengan doa itu) dalam keadaan apapun, kecuali akan diijabahkan Allaah baginya (permintaan yang ia minta).

(DIriwayatkan Ahmad, at-Tirmidziy, dan selainnya)

[52] Menutup doa dengan shalawat, sebagai salah satu usaha kita untuk terkabulnya doa kita. Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إن الدعاء موقوف بين السماء والأرض لا يصعد منه شيء حتى تصلي على نبيك صلى الله عليه وسلم

Sesungguhnya doa tertahan antara langit dan bumi, tidak naik darinya (kepadaNya) satu apapun sehingga engkau membaca shalawat atas Nabi engkau -shallallaahu ‘alaihi wasallam-

(HR. at-Tirmidziy)

 

Tinggalkan komentar

Filed under Doa, Ibadah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s