Jalan Menuju Hidayah

Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh,

Ahlan wa sahlan, ikhwan wa akhwati fillah, alhamdulillah, ana sangat bersyukur jika ikhwah membuka halaman ini dengan niatan untuk mengenal ana lebih jauh.

Seperti kebanyakan orang, ana dulunya seorang orang yang hanya beridentitas muslim, sangat jauh dari muslim sesungguhnya. Bahkan kewajiban sholat itu sendiri tidak pernah ana rasakan sebuah kewajiban, apalagi kebutuhan. Sehingga ana sangat jarang sekali menegakkannya. Semoga Alloh mengampuni dosa-dosa ana, baik dosa-dosa itu adalah karena kebodohan ana, terlebih lagi dari kesadaran ana sendiri, baik yang ana ketahui (sadari) maupun yang tidak ana sadari. aamiin.

“Sempat sadar….”

Fase ini terus berlanjut, hingga ana kelas XI SMA, ketika itu ana mengikuti salah satu program islam yang sedikit mengenalkan ana dengan diin ini, dan bahkan “sempat menyadarkan ana” dalam beberapa bulan, sayangnya, ini tidak berlangsung begitu lama. Mungkin karena kelemahan hati ana terhadap dunia, atau belum begitu tertanamnya iman itu dihati ana. Program ini baik, namun menurut ana, point pentingnya dalam penyampaian ini tidak begitu memfokuskan pesertanya untuk memahami tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu “mentauhidkan Alloh”.

Konten dari seminar ini sebatas memberikan penyadaran bagi pesertanya untuk bertaubat akan dosa-dosa yang diperbuatnya, sehingga tidak heran, banyak yang kembali lagi kepada kehidupan mereka sebelumnya -kembali melakukan dosa-dosanya- walaupun, disana ana harus mengakui kekuasaan Alloh dalam membolak-balikan hati hamba-Nya. Namun, kalau tidak di-‘pupuk’ dengan bekal yang kuat, tentunya hanya akan berdampak jangka pendek, karena hal ini sesuai dengan pengalaman pribadi ana, sehingga dalam beberapa bulan setelahnya, ana kembali lagi melakukan dosa-dosa dan kembali jauh dari diin. Wallahu musta’an, semoga Alloh melindungi ana dari ketergeliciran dan keterjerumusan ana kedalam kemaksiatan dan kesyirikan amin!

Hidayah itu untuk dicari! bukan untuk ditunggu!

Kebanyakan kita menanyakan kepada saudara-saudara kita, “Kenapa engkau tidak melaksanakan kewajibanmu sebagai seorang muslim?” Maka ia akan menjawab “Iya nih, ana ‘belum dapat hidayah'”. Sungguh ini pemikiran yang bathil, yang secara tidak langsung, ia menyalahkan Alloh, yang tidak menurunkan hidayah kepadanya, yang karenanya ia tidak beribadah. -ana pun dulunya juga demikian-. Namun, kembalilah berpikir saudaraku, bagaimana mungkin Alloh akan memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita jika kita acuh tak acuh terhadap-Nya, terhadap agama-Nya, dan terhadap Rosul-Nya? Bagaimana kita akan mendapatkan rezeki sedangkan kita tidak mencarinya? Apakah kita dengan tidak melakukan apa-apa akan mengatakan “Iya nih belum dapat rezeki”. Bukan itu permasalahannya, permasalahannya kita sendiri yang tidak mencari rezeki tersebut! Begitupun dengan petunjuk-Nya!

Maka, Sungguh indah perkataan syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah rohimahulloh, yang artinya:

“Sesungguhnya, ketika Nabi Adam ‘alaihissalam melakukan dosa, maka ia bertaubat, lalu Rabb-nya memilihnya dan memberi petunjuk kepadanya. Sedangkan Iblis, ia tetap meneruskan dosa dan menghujat, maka Allah melaknat dan mengusirnya. Barangsiapa yang bertaubat, maka ia sesuai dengan sifat Nabi Adam ‘alaihissalam, dan barangsiapa yang meneruskan dosanya serta berdalih dengan takdir, maka ia sesuai dengan sifat Iblis. Maka orang-orang yang berbahagia akan mengikuti bapak mereka dan orang-orang yang celaka akan mengikuti musuh mereka, Iblis.” (Majmuu’ul Fataawaa VIII/64)

Hidayah itu akan datang dan PASTI datang jika kita jujur menginginkannya dan mempunyai niat IKHLASH untuk mendapatkannya, dan mempunyai tekad untuk meraihnya!

Sungguh, ya ikhwah fillah, ini merupakan pengalaman pribadi ana sendiri, baiklah untuk mempersingkat, maka pernyataan diatas bisa ana buktikan dengan pengalaman pribadi ana.

Bulan sya’ban kemarin (1429), tepatnya pada akhir bulan sya’ban, ana berkata pada diri ana, “Sungguh! romadhon-romadhon yang telah perna ana lalui begitu hampa, ana menginginkan semoga bulan romadhan ini akan menjadi ladang pahala bagi ana untuk mendekatkan diri kepada-Nya” setelahnya, maka ana berpikir, bagaimana ana akan sungguh-sungguh jika ana tidak yakin, (maksudnya untuk menanamkan keyakinan tentang Kebenaran-Nya).

Maka mulailah ana memulai pencarian, sebelumnya, ana ingin terlebih dahulu meyakini agama lain adalah bathil sebelum meyakini kebenaran agama ini (Islam). Maka ana pertama kali melakukan riset singkat mengenai yahudi, yang ana dapatkan adalah ketidak-jelasan dan kekaburan, dan seperti apa yang diberitakan dalam firman-Nya yaitu sifat-sifat mereka yang menyembunyikan kebanaran dan menyimpangkan kebenaran shodaqolloh! Kemudian, ana beralih untuk mencoba mengenal nashrani, sangat cepat ana mengingkari agama ini karena pemahaman trinitasnya yang sungguh tidak sejalan dengan fitroh manusia! ana tidak mengecek agama-agama seperti budha, hindu dll. karena telah jelas keyakinan ana terhadap kesesatan mereka, para penyembah dewa/berhala yang bathil.

Setelah berkeyakinan bahwa seluruh agama selain Islam itu bathil, maka ana melanjutkan riset ana untuk lebih mengenal Islam. maka pertama-tama ana ingin mengetahui asal-usul segala kehidupan. Maka pertama kali ana mencari kehidupan terdahulu, Subhanalloh, dari pencarian ini, keyakinan ana semakin bertambah dengan lebih mengenal Robb semesta alam, Alloh ‘azza wa jalla, sebagai Pencipta Yang Hak, Yang Maha Awal lagi Maha Akhir.

Coba tanyakan pada diri kita, “darimana sih asal-muasal kita”, mungkin kita akan menjawab, “ya dari orang tua yang melahirkan kita”, maka tanyakan lagi, “darimana asal-muasal orang-tua kita”, teruus, sampai Nabi Adam, sampai kepada seluruh alam semesta, dan pada Yang Maha Awal, Alloh subhanahu wa ta’ala.

Belum cukup untuk memupuk keimanan? Maka pikirkanlah kedepan! Apakah kita akan hidup abadi? selamanya? ataukah akan mati? maka jika kita menjawab “kita akan mati”, maka kembali pikirkanlah, apakah ketika kita mati, “case-closed, selesai urusan, tidak terjadi apa-apa”? Kita telah meyakini Islam sebagai agama kita, dan Ketetapan Alloh subhanahu wa ta’ala bahwa seluruh manusia tanpa terkecuali akan mengalami kematian dan akan menjalani kehidupan setelahnya, kehidupan yang lebih kekal dibandingkan kehidupan yang fana ini.

Pikirkanlah saudaraku, kita hidup -misalnya- 50 tahun, lalu kita dikuburkan, maka bayangkan, kita berada didalamnya untuk berpuluh-puluh tahun, beratus-ratus tahun, beribu-ribu tahun atau lebih dari itu (yang mana Dia Maha Tahu tentang kapannya hari berbangkit itu)… Untuk menanti datangnya kiamat yang telah kita yakini bersama akan kepastian terjadinya!

Maka apakah kita akan berjudi dengan kehidupan yang bahagia tapi sangat singkat dengan kesengsaraan yang lama -atau bisa jadi kekal- ? Pikirkanlah wahai saudaraku yang berakal!

Maka dari keyakinan itu, semakin meyakini ana untuk benar-benar tunduk dan beribadah kepada-Nya! Lalu ana terus melakukan pencarian tentang kehidupan setelah hidup, maka ana menemukan artikel yang menjelaskan akan dahsyatnya adzab neraka dan kesudahan bagi mereka yang mati diatas kekufuran, kemunafiqan, dan kemaksiatan (dosa-dosa besar dan kecil yang menumpuk)… Maka aku pun sadar begitu bodohnya diriku jika aku mati dalam keadaan hina, begitu buruknya tempat kembali seperti itu! ana pun membaca tentang padang masyar, perjalanan ash-shirot, dan syafa’at Rosululloh, yang semakin menambah kecintaan ana terhadap Alloh dan Rosul-Nya.

Niat ana yang tadinya hanya sebatas “iseng” untuk mengenal Islam untuk ana yakini dengan tidak ada niat kecuali untuk mengenalnya karena Alloh, maka dengan itu Alloh pun memberikan hidayah dan taufiq-Nya dengan sebab itu! subhanalloh wal hamdulillah! Alloh Yang Maha Pemberi Petunjuk dan Maha Adil lagi Maha Bijaksana, semoga Engkau menetapkanku atas petunjuk-Mu dan Engkau lebih mengetahui siapa yang berada diatas petunjuk dan siapa yang berada diatas kesesatan. Maka tempatkanlah aku diatas petunjuk-Mu ya robb! aamin!

Maka mulailah dari saat itu, ana terus meneggakkan sholat lima waktu dan sholat-sholat sunnah lainnya, alhamdulillah, Alloh memberikan ana kenikmatan untuk beribadah kepada-Nya dibulan yang suci lagi diberkahi! Terlebih, Ia membantu ana untuk bisa beribadah dengan baik pada bulan itu, yang dimana disini (di Melbourne), di tiap qiyamul laylnya, di imami oleh seorang hafizh qur’an, yang sangat indah suaranya, dan mengimami kami dengan 1 juz permalam sehingga kami dapat menyempurnakan seluruh sholat malam kami komplit 30 juz. Walhamdulillah!

Mungkin sebagian dari kita akan mengeluh dengan berdiri yang terlalu lama atau sebagainya, sungguh, bercerminlah saudaraku, keluhan itu menandakan kualitas keimanan kita, maka teruslah kita perbaiki keimanan kita, sehingga ibadah kita akan ikhlash. Coba bandingkan, kita bekerja seharian, sedangkan untuk berdiri menyembah-Nya hanya kita sempatkan 2 menit! sungguh BAKHIL! Alloh memberikan kita waktu yang berharga 24 jam! lalu kita membalasnya 2 menit? maka jika hanya berdiri untuk 10 atau 20-30 menit untuk mendapatkan sholat yang khusyu’ atau sedikit lebih lama dari itu seharusnya tidak kita jadikan beban!

Alhamdulillah, Alloh tetap membantu ana untuk beribadah kepada-Nya dan tetap istiqomah sampai setelah selesai romadhon, ana juga sangat mengkhawatirkan dengan akan terjerumusnya ana kembali kepada ana yang dulu, tapi ana terus imbangi dengan selalu berharap kepada-Nya agar ana ditetapkan dijalan-Nya. Dengan kombinasi berimbang dua hal ini, niscaya akan maka akan muncul kecintaan kepada-Nya.

Mengenal Manhaj Salaf melalui bimbingan-Nya

Setelah itu, ana terus memperbaiki diri ana, mengenal ilmu-ilmuNya, dengan ikhlash hanya untuk mencari kebenaran, maka alhamdulillah, ditunjukkan jalan kebenaran itu. Dalam waktu itu, ana meninggalkan hobi ana, seperti musik, fanatik sepakbola, dll. Mungkin ada yang menganggap ana radikal, kaku dll. tidak sama sekali tidak, ana hanyalah ingin berhati-hati, dan tidak ingin terjerumus kepada dosa. Ingat hal yang samar-samar (syubhat) yang tidak ketahui halal atau haramnya, paling tidak kita jauhi untuk menjaga kehormatan kita. Ana teringat dengan kata-kata mutiara yang indah yang selalu membekas dihati ana sampai sekarang, yaitu salah satu perkataan ulama salaf, yang kira-kira bunyinya:

“jika aku mendapatkan dua pilihan, maka pilihan yang lebih dekat dari hawa nafsuku, maka itulah yang aku buang (tinggalkan)”

Inilah yang ana selalu tanamkan di dalam diri ana, untuk selalu mengutamakan kebenaran, daripada akal dan hawa nafsu ana. Dengan ini, alhamdulillah Alloh membimbing ana untuk dapat mengenal manhaj salaf. Karena inilah manhaj yang haq! Dan manhaj yang menampakkan kebenaran secara ilmiyyah menghadang syubhat-syubhat yang mewahana diluar sana. Lagi pula telah jelas, perbedaan yang mendasar yang membedakan artikel-artikel manhaj salaf, dengan artikel-artikel yang tidak bermanhaj salaf. Begitu detailnya SUMBER PETIKAN yang diberikan. Setiap kali ayat atau hadits dikutip, maka serta merta setelahnya dibawakan PENJELASAN PARA SHAHABAT atau TABI’IN atau TABI’UT TABI’IN atau ULAMA SETELAH MEREKA (yang mengikuti mereka dengan baik).

Alhamdulillaah, kedua orang tua ana yang sudah terlebih dahulu mengenal manhaj ini, mengirimkan ana CD-CD MP3 yang bermanhaj salaf yang sangat membantu ana mengenal islam dengan pemahaman yang benar. Ana pun terus mencari ilmu sebisa ana di internet tentunya dengan mengutamakan kaedah-kaedah pengambilan informasi yang jelas, sehingga alhamdulillah, informasi-informasi yang ana dapatkan sesuai dengan pemahaman shahabat.

Seorang thulab pemula yang jahil

Dengan semangat tinggi, maka ana terus membuka pintu lebar-lebar untuk dapat mendapatkan ilmu syar’i yang haq. Alhamdulillah, Alloh membimbing ana terbebas dan terselamatkan dari berbagai macam fitnah yang tersebar didunia maya seperti fitnah terhadap syaikhul islam muhammad bin abdul wahhab, fitnah takfiri, fitnah tabdi’ dll. dan juga terbebas dari pehamaman-pemahaman menyimpang seperti pemahaman Khawarij, Syi’ah, Mu’tazilah, Murji’ah, Sufi, Jahmiyyah, Qodariyyah dan berbagai macam pemahaman sesat lainnya, dan juga terbebas dari jeratan firqoh-firqoh (kelompok-kelompok) seperti Ikhwanul Muslimin (IM), Hizbut Tahrir (HT), Jama’ah Tabligh (JT), Jama’ah Islamiyyah (JI) dan segala harokah-harokah lain. Alhamdulillah.

Seperti kebanyakan para thulab pemula, maka ana pun sangat bersemangat menanamkan berbagai kebaikan dalam diri ana, serta membuang segala keburukan-keburukan dalam diri ana seperti syirik, maksiat dan bid’ah. Menyangkut masalah terakhir, seperti layaknya para thulab lainnya, ana sangat bersemangat untuk memberantas hal ini dalam rangka menegakkan sunnah. Ana bergabung di beberapa forum-forum islam, dengan maksud memberantas hal itu, yang mana ana sangat suka sekali berbantah-bantahan, debat dengan yang berpemahaman menyimpang, hingga terkadang ana melampaui batas. -wallahul musta’an, semoga Alloh menjauhkan sifat-sifat itu dalam diri ana-

Ini yang sangat ana sesalkan, namun ana tetap bersyukur kepada Alloh, yang dengannya kesalahan-kesalahan tadi ana bisa mengambil banyak pelajaran untuk kedepannya. Sungguh, begitu banyak waktu yang terbuang percuma hanya untuk memuaskan hawa nafsu ana, berbantah-bantahan dengan mereka, padahal keinginan awal ana yaitu untuk bisa menegakkan sunnah sekaligus menegakkan hujjah kepada mereka dan menginginkan mereka kembali kepada pemahaman yang benar, namun sayangnya ana malah melakukannya dengan cara yang tidak sesuai sunnah.

Alhamdulillah, ana dinasehati oleh seorang ikhwan, untuk tidak terlalu menghabiskan waktu untuk membantah syubhat mereka, karena telah ada yang lebih ahli dari ana yang sudah membantah mereka. Hanya ada dua kemungkinan dari bantahan ana tersebut, yaitu mengaburkan bantahan yang telah ada (atau terlebih lagi malah menyimpangkannya) atau malah menjauhkan thulab yang lain dari manhaj yang haq ini. Maka ia menasehati ana untuk “nafsi, nafsi” berpikir untuk diri ana sendiri dulu. Fokus untuk mencari kebenaran menuntut ilmu agar ana dapat menemukan dan memperbaiki kesalahan-kesalahan ana. Dan benar, ternyata masih sangat banyak ilmu yang perlu ana pelajari. Semoga Alloh merahmati dan memberkahi ikhwan tersebut. aamiin.

Memanfaatkan Semester Pendek, dengan mendapatkan bimbingan langsung dari ustadz

Alhamdulillah, pada pertengahan bulan dzulhijjah kemarin (1430), tiba saatnya liburan, yang ana manfaatkan sebaik-baiknya untuk menuntut ilmu langsung dari asatidz di Jakarta. Sebelumnya, ana yang dibawa kedua orang tua ana menemui langsung ustadz yazid bin abdil qodir jawwas hafizhohulloh, yang pertama kali beliau nasehati kepada ana yaitu membaca kitabnya, “menuntut ilmu jalan menuju surga”, sebelum membaca kitab-kitab lain.

Kitab ini sangatlah bermanfaat bagi kita para thulab, mengingat perlunya kita mengenal adab-adab, menempatkan posisi kita sebagai penuntut ilmu, menghormati dan menghargai ulama, serta menghormati orang-orang disekitar, dan berbakit kepada kedua orang tua. Banyak hal yang bermanfaat bisa kita peroleh dari kitab ini, semoga para thulab membacan dan memfokuskan kitab ini sebaik-baiknya untuk dapat lebih mengenal adab yang diajarkan manhaj salaf.

Kemudian, ana melanjukan semester pendek ana, yang kebetulan ana mengambil mata kuliah yang dilaksanakan di malang (kerjasama universitas ana dengan UIN Malang). Disana alhamdulillah ana bisa berkenalan dengan ikhwan-ikhwan salafy dan dekat dengan para asatidz disana. Sehingga ana bisa mengambil banyak pelajaran berharga disana. Rencananya pula, ana ingin terus memperkuat ukhuwah ana dengan mereka dengan kembali mengunjungi mereka akhir tahun ini, insya Alloh.

Terus berusaha istiqomah dijalan-Nya untuk dapat benar-benar meneladeni para salafush sholeh

Dengan pengalaman ana yang singkat dan masih sangat baru di manhaj yang haq ini, alhamdulillah ana bisa mengambil pelajaran dengan memperbaiki kesalahan-kesalahan ana (semoga akan terus seperti itu, dan dijauhkan dari sifat sombong, yang menolak kebenaran dan meremehkan manusia (yang menyampaikan kebenaran)). Semoga pengalaman ana ini bisa dapat sama-sama kita ambil pelajarannya dan dapat kita jadikan bahan renungan bersama, sehingga menjadikan kita menjadi muslim ahlus-sunnah yang lebih baik kedepannya aamiiin..

Semoga Alloh membantu kita untuk tetap istiqomah dijalan-Nya dan tetap berjuang menegakkan tauhid dan sunnah di dalam DIRI KITA dan KELUARGA, dan sebisanya mendakwahkannya di lingkungan dan orang-orang terdekat kita baik secara langsung maupun tidak langsung (maya, internet). aaamiiin.

Wallahu ta’ala a’lam bish shawab.

Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya radiyallahu anhum ajmain dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman.

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya, serta tunjukkanlah kepada kami kebatilan itu sebagai sebuah kebatilan, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.

Maha Suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu, saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, saya memohon ampun dan aku bertaubat kepada-Mu.