Category Archives: Adab

Meneladani SIKAP OBYEKTIF Para Ulama Dalam PENGAMBILAN Riwayat

Berkata Syaikhul Islaam dalam minhajus sunnah (secara makna) :

“Kami mengecam para perawi dari kalangan SUNNI secara WAJAR. Kami memiliki tulisan yang tak terhitung jumlahnya, mengenai keadilan para perawi, kelemahan, kejujuran, kesalahan, kedustaan dan prasangka mereka. Dalam hal ini kami selalu bersikap obyektif. Kami akan MENGGUGURKAN (periwayatan) salah seorang dari mereka APABILA DIKETAHUI BANYAK SALAHnya dan(/atau) HAFALANNYA LEMAH, sekalipun ia digelari (orang-orang) dengan wali Allah.”

Bahkan beliau berkata tentang periwayatan MUBTADI’ (secara makna, juga dalam minhajus sunnah) :

“…jika di buku-buku induk hadits ada riwayat dari mubtadi’, (yaitu dari kalangan Khawaarij, Syi’ah [yang bukan rafidhah][1], Murji`ah dan Qadariyah), itu karena riwayat mereka tidak mengajak kepada kefasikan [yaitu riwayatnya tersebut tidak mengajak pada ajaran bid’ahnya]. Namun apabila mubtadi’ tersebut (meriwayatkan suatu riwayat) yang mempromosikan bid’ahnya, (maka riwayatnya tentang hal tersebut) mesti ditolak…”

Pernyataan beliau diatas ini senada dengan pernyataan ibnu Hajar dalam hadi as-sari (yang secara makna) :

“Bila tidak ditemukan selain perawi bid’ah itu, dan hadits itu hanya diriwayatkan olehnya saja, sedangkan ia memiliki sifat JUJUR, BUKAN PENDUSTA, bahkan WARA’, maka riwayatnya BISA DITERIMA.

Namun satu hal… hadits yang ia riwayatkan itu TIDAK ADA HUBUNGAN DENGAN AJARAN BID’AHnya.

KEMASLAHATAN PENGAMBILAN HADITS dan PENYEBARANNYA harus didahulukan dari memberantas bid’ah perawi tersebut.”

Pelajaran yang diambil

Seorang yang SUNNI, tapi BANYAK SALAH atau LEMAH HAFALAN; maka riwayatnya adalah LEMAH, ia tidak bisa dijadikan rujukan, dan riwayatnya tidak bisa dijadikan hujjah (kesunniannya tidaklah mengangkat riwayatnya tersebut); terlebih jika ia PENDUSTA, maka riwayatnya ditolak.

Sebaliknya seorang MUBTADI’, tapi ia jujur, kuat hafalannya, dan wara’; maka riwayatnya yang tidak berkaitan dengan ajaran bid’ahnya; kita ambil. Inilah salah satu diantara pertimbangan dari berbagai pertimbangan yang ada.

Toh kita dapati BANYAK dari para ‘ulama ahlus sunnah, yang masih mengambil riwayat daru orang-orang yang telah keliru dalam ‘manhaj’nya (yang mana kekeliruannya mungkin tidak hanya satu, atau dua; bahkan ada yang memiliki kekeliruan yang banyak dalam hal ini) tapi disisi lain ia SANGAT KUAT dan KOKOH dalam disiplin ilmu lain. Misalkan ia benar-benar kuat dan kokoh dalam ilmu bahasa arab, atau qira’ah, atau tafsiir, atau hadiits, atau fiqh, atau suluk, atau fara`id, atau sejarah. Maka para ulama ahlus sunnah tersebut tetap mengambil kemanfaatan dari mereka tentang hal tersebut, dengan tetap menolak serta mengingkari ajaran bid’ahnya. Sikap seperti ini tentu tidak hanya berlaku pada zaman mereka saja; hal ini akan terus senantiasa berlaku sampai saat ini, pada orang-orang yang memiliki keadaan serupa dengan orang-orang yang mereka dapati! (tidakkah kita mengambil pelajaran dari sikap mereka?)

Jika anda tidak setuju dengan penuturan diatas, dengan tidak mau mengambil sama sekali periwayatan dari orang-orang ‘bermasalah’ (atau orang-orang yang anda ANGGAP ‘bermasalah’); silahkan, itulah yang menjadi pertimbangan anda, dan apa yang anda pertimbangkan tentu TIDAK SAMA dengan pertimbangan orang lain.

Pertimbangan masing-masing orang tentu berbeda-beda, seorang yang memiliki suatu pertimbangan tentu tidak bisa menerapkan pertimbangannya tersebut pada orang lain yang memiliki pertimbangan berbeda.

Maka jangan sampai langsung tebar vonis pada orang lain yang memiliki pertimbangan berbeda dengan pertimbangan yang anda anut. Perhatikan baik-baik permasalahannya, dan jangan sampai tergesa-gesa dalam menghukumi permasalahan, apalagi sampai menghukumi individu-individu terkait permasalahan tersebut.

Ingat penghukuman terhadap suatu masalah itu berat… dan ingat LEBIH BERAT lagi penghukuman (vonis) terhadap individu-individu terkait suatu masalah…

Semoga bermanfaat


Catatan Kaki

[1] Perlu dicamkan baik-baik ‘istilah’ syi’ah yang digunakan para ulama terhadap para perawi hadits BUKAN SYI’AH RAFIDHAH. Karena tidak ada satupun perawi dalam kitab-kitab shahiih yang merupakan SYI’AH RAFIDHAH; karena tidaklah seorang RAAFIDHIY, kecuali ia melegalkan DUSTA yang dibungkusnya dengan ‘taqiyyah’, dan tidaklah seseorang menjadi RAAFIDHI kecuali karena kebencian dan permusuhan yang sengit terhadap para shahabat Nabi, bahkan sampai pada derajat pengkafiran. Na’uudzubillah. Bisa disimak disini penjelasan lebih lengkapnya: http://www.alamiry.net/2014/08/benarkah-imam-bukhari-mengambil-riwayat.html

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, Ilmu

Diantara persiapan yang hendaknya dilakukan pelajar sebelum mendatangi majelis ilmu

Diantara PERKARA PENTING yang sepantasnya DIPERHATIKAN seorang pelajar sebelum mendatangi majelis ilmu adalah MELAKUKAN PERSIAPAN-PERSIAPAN…

Diantara persiapan tersebut adalah:

1. Mempersiapkan buku yang akan dibahas

Kalau tidak punya bukunya, maka dibeli. Kalau tidak mampu beli, maka difotocopy bagian yang akan dibahas.

Ingat… Diantara bukti kesungguhan kita dalam belajar, adalah dengan menyiapkan buku yang akan dibahas…

Dan ingat… Perjuangan kita dalam menyiapkan buku itu akan membuahkan kesungguhan kita dalam mempelajari buku tersebut… Bagaimana tidak? Misalkan seseorang yang memiliki harta yang amat sangat terbatas; tapi dia mau untuk mengeluarkan sebagian hartanya tersebut untuk membeli buku (yang mungkin harganya tersebut menurutnya tidak sedikit)… Tentu hal ini akan memotivasinya untuk tidak menyianyiakan jumlah uang yang telah dibayarkannya untuk membeli buku tersebut…

Tidak heran, kita dapati banyak orang yang tidak istiqamah dalam suatu kajian kitab; karena orang tersebut tidak mau membeli kitab yang dibahas… Atau kalaupun dia punya, dia tidak merenungi ‘nilai’ dari kitab tersebut, sehingga tidak terpikirkan olehnya untuk mendatangi pengkajian kitab tersebut; karena lalainya ia akan SAMUDRA ILMU yang akan ia peroleh dari kitab tersebut (sekalipun kitab yang dibahas tersebut adalah KITAB KECIL yang MURAH harganya)!!! Maka hendaknya kita TIDAK MEREMEHKAN hal ini!!!

2. Membaca materi yang akan dibahas

Sehingga kita telah memiliki gambaran terhadap apa yang akan dibahas. Meskipun apa yang akan dibahas sudah pernah kita ketahui, tetap hendaknya kita membacanya; sehingga lebih menyegarkan kembali ingatan kita tentang pembahasan tersebut; dan yang lebih penting lagi hal tersebut benar-benar tertanam dalam hati-hati kita. Dan ketika kita mendatangi kajiannya maka kita pun sekali lagi diingatkan kembali akan hal tersebut… Jika kita telah melakukan persiapan, dan kembali mendengarkan pemaparannya ketika kajian, bukankah hal tersebut akan benar-benar kokoh dalam ingatan dan hati kita?! Bagaimana lagi jika setelah kajian kita mengulangi materi tersebut?! (sehingga kita TIGA KALI mendalami materi tersebut!!!) Maka dengan hal ini akan semakin kokohlah keilmuan kita tentang materi tersebut… Ini baru SATU MATERI dalam SATU KAJIAN… Bayangkan kalau kita BEBERAPA KAJIAN RUTIN dalam sepekan?! Maka bayangkanlah betapa banyaknya ilmu yang dapat kita serap dipekan tersebut!!!

3. Bahkan kalau perlu, hendaknya kita menyiapkan materi tambahan dari apa yg akan dibahas

Jadi kita tidak hanya mengambil rujukan dari buku yg dibahas saja, tapi juga dari buku lain yang juga membahas dari apa yang akan dipaparkan.

Seperti misalkan ada kajian tafsiir ibnu katsiir tentang surat al faatihah. Maka kita pun tidak hanya melihat tafsiir ibnu katsiir saja, tapi juga melihat tafsir ath thabariy, tafsir al qurthubiy, dan lain-lain, tentang al faatihah…

Sehingga bukan hanya gurunya/pemateri aja yg bersusah payah menyiapkan materi yg diajarkannya; tapi pelajar pun juga turut mempersiapkan bekalnya sebelum ia mendatangi kajian…

Bahkan hal ini sangat bermanfaat bagi pelajar… Diantara manfaatnya:

– (Manfaat pertama) Kalau ia mendapatkan sesuatu yg tidak diketahuinya atau tidak jelas atau janggal baginya dalam persiapan materi tersebut; sehingga ia dapat mempersiapkan pertanyaannya tsb untuk ditanyakan dimajelis (meskipun mungkin pertanyaan yang disiapkannya ini, akan terjawab oleh pemateri pada sesi pemaparan, sebelum sesi tanya jawab)

– (Manfaat kedua) dia bisa menambahkan faidah yang ia dapatkan; yang belum sempat diangkat/dibahas pemateri. Tentunya dengan penuh adab yaitu dalam bentuk pertanyaan (“ustadz saya dapati faidah berikut dikitab anu dan anu; bagaimana penjelasannya?”)…

– (Manfaat ketiga) kita sudah mendapatkan tambahan ilmu, bahkan sbelum mendatangi majelis ilmu…

– (dan manfaat-manfaat lain yang sangat banyak, tidak tersebutkan disini)

Hal ini (yaitu point ke 4 ini) juga bisa dilakukan setelah mendatangi majelis ilmu, yaitu menjabarkan apa yang telah dijelaskan gurunya; dan/atau menjabarkan point-point yang ia tuliskan; sehingga ilmunya tentang materi yang dibahas pun akan lebih meluas… Ini untuk SATU MATERI untuk SATU KAJIAN itu saja… Bayangkan bagaimana perkembangan ilmunya setelah beberapa pertemuan kedepan pada kajian tersebut… Bagaimana lagi jika ia memiliki kajian yang membahas kitab lain?!

Maka yang terbaik… hal ini (yaitu point ke 4 ini), dilakukan SEBELUM DAN SETELAH mendatangi majelis ilmu…

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, Ilmu

Dudukkanlah secara benar persoalan teoritis dan praktis

Misalkan seseorang tau’nya (baik dengan taqlid, atau dengan penelahaan) bahwa berbekam itu membatalkan wudhu…. Maka tidak bisa ia secara sembrono, menerapkan konsekuensi pendapatnya tersebut pada orang lain (yang memiliki pandangan berbeda dengannya, baik itu dengan taqlid; apalagi penelahaan) !

Sehingga ia katakan:

“Engkau tadi berbekam, maka wudhu’mu batal; jika engkau tidak berwudhu’ lagi sebelum shalat, maka engkau sama saja shalat tanpa wudhu. Jika demikian, maka shalatmu tidak sah. Jika demikian, aku tidak akan bermakmum denganmu karena shalatmu tidak sah. Dan jika demikian maka engkau telah beramal dengan kefasiqan, karena sengaja shalat dalam keadaan tidak berwudhu, dan jika demikian, maka engkau ini seorang yang fasiq!”

Lihatlah bagaimana kecacatan orang diatas ini dalam mendudukkan perkara teoritis dalam ranah praktis.

Ia taqlid kepada ulama yang menyatakan batalnya wudhu. Tidak ada masalah dalam hal ini (terlebih lagi jika ia mengikuti berdasarkan kandungan dalilnya), karena memang seorang awam [bukan ulama] tugasnya adalah bertanya dan/atau merujuk pada ulama. Tapi yang menjadi masalah adalah dia menerapkan konsekuensi madzhabnya pada orang lain (sesama muqallid; baik itu yang hanya tahu kesimpulan akhir, terlebih lagi yang beramal berdasarkan kandungan dalil)! Ia menyangka bahwa fatwa yang ia ikuti tersebut wajib ia terapkan konsekuensinya pada orang lain! Sungguh ini kekeliruan yang amat nyata!

Tidak hanya sampai disitu, secara tanpa ilmu ia serampangan menilai tidak sahnya shalat seseorang berdasarkan sudut pandang yang dianutnya; tanpa mempedulikan konteks global tentang permaslaahan tersebut!

Tidak hanya sampai disitu, secara tanpa ilmu ia serampangan dalam bersikap terhadap orang lain, karena konsekuensi dari dua hal sebelumnya; yaitu tidak mau bermakmum padanya dengan mengambil pelaziman dari konsekuensi sudut pandangnya!

Tidak hanya sampai disitu, secara tanpa ilmu ia serampangan dalam memvonis saudaranya “sengaja shalat tanpa wudhu” hanya berdasarkan sudut pandang yang ia anut! Mungkin ia akan membawa dalil “ancaman bagi orang yang sengaja shalat tanpa berwudhu”! Padahal permasalahannya bukan disitu! Permaslaahannya adalah “apakah berbekam itu membatalkan wudhu atau tidak?” !!! Jadi tidak bisa disamakan dua hal ini! Adapun seorang yang buang air, dan ia ingat ia telah buang air, lantas ia sengaja shalat tanpa berwudhu lagi; maka inilah yang dimaksudkan. Adapun dalam permasalahan ini, yang mana ulama berbeda pandangan; tidak bisa secara sembrono kita terapkan sudut pandang yang ada dalam diri kita kepada orang lain!

Tidak hanya sampai disitu, (dan ini adalah rentetan dari point sebelumnya), ia vonis saudaranya tersebut dengan vonis kefasiqan, karena menyangka saudaranya ini termasuk orang-orang yang “sengaja shalat, tanpa didahului wudhu” (karena kesalahpahaman sebelumnnya)! Sudah salah disitu, jatuh lagi ia dalam kesalahan lain dengan memvonis fasiq saudaranya BERDASARKAN SUDUT PANDANG YANG IA ANUT! Laa hawla wa laa quwwata illa billah!

Apakah demikian para ulama dalam kondisi praktis?

Coba pelajari, dua kisah berikut:

1. Pernah khalifah Harun ar Rasyid berbekam, kemudian beliau shalat tanpa berwudhu. Tahukah kita? Bahwa Imam Abu Yusuf al Hanafiy tetap shalat dibekalangnya? Padahal beliau berpendapat “bekam membatalkan wudhu”? Apakah beliau menerapkan kaidah pelaziman diatas?

2. Imam Ahmad (yang mana beliau berpendapat bekam itu membatalkan wudhu) ditanya: “Bolehkan bermakmum kepada seseorang yang berbekam, kemudian ia shalat, tanpa berwudhu kembali?” Apa jawab imam ahmad? Beliau menjawab: “Bagaimana saya tidak shalat dibelakang MALIK bin anas dan SA’ID ibnul Musayyib?!”

Lihat… Imam Ahmad ini TIDAK DITANYA tentang bermakmum pada imam malik dan imam ibnul musayyib… Tapi ditanya “orang umum” yang berpendapat dan beramal dengan pendapatnya imam malik dan imam ibnul musayyib…. Tapi apa jawab beliau? “Bagaimana saya tidak shalat dibelakang imam malik dan imam ibnul musayyib?!”

Disinilah kefaqihan imam ahmad… Amalan muqallid itu cerminan dari Fatwa Mujtahid yang diikutinya…

Jika kita menolak bermakmum dibelakang muqallid yang mengikuti ijtihad ulamanya; maka ini sama saja kita menolak bermakmum dibelakang mujtahid yang memberikan fatwa padanya!

Jika kita melaqabkan dengan laqab-laqab buruk terhadap muqallid tersebut, maka sama saja kita melaqabkan hal yang sama pada mujtahid yang ia ikuti!

Maka sebagaimana hal ini berlaku pada permasalahan ini, maka inipun berlaku pada permasahan-permasalahan FIQIHIYYAH yang lain YANG SANGAT BANYAK!

Jika mujtahid diberi udzur, maka tentunya muqallid lebih pantas diberi udzur!

Kalau mujtahid disatu sisi kita pandang salah, tapi disisi lain kita sadar bahwa dia telah menempuh jalur yang benar, dan dikenal kecintaannya terhadap kebenaran; kemudian dengannya kita memberi udzur. Maka hal yang sama tentunya lebih berhak kita perlakukan kepada para pengikut mujtahid yang juga berkondisikan serupa! Maka tentu lebih ditekankan uduzr bagi muqallid yang tanpa bekgron agama sama sekali, yang bertanya pada mujtahid; kemudian ia mendapatkan kesimpulan akhir penghukuman!

Maka sebagaimana hal ini berlaku pada permasalahan ini, maka inipun berlaku pada permasahan-permasalahan FIQIHIYYAH yang lain YANG SANGAT BANYAK!

Ingat, Imam ahmad dalam teoritisnya, bersikap tegas: “Batal wudhu’ seseorang, apabila ia berbekam”. Tapi lihatlah dalam tataran praktisnya! Apa yang beliau contohkan kepada kita adalah: “Tidak mengapa shalat dibelakang imam yang berpendapat tidak batal wudhu setelah berbekam; kemudian ia mengamalkan pendapatnya (yaitu kita tidak menerapkan konsekuensi pendapat kita padanya!)”

Jadi jangan pakai kaidah “pelaziman” seperti diatas! Bahkan kaidah seperti ini kaidah yang rusak sekali! Maka sebagaimana tidak diterapkan kaidah ‘pelaziman’ pada permasalahan ini, maka inipun berlaku pada permasahan-permasalahan FIQIHIYYAH yang lain YANG SANGAT BANYAK!

Memetik pelajaran darinya…

Kembali kita ingatkan dua hal!

1. Dalam tataran teoritis. Silahkan bersikap tegas dan lugas. Silahkan anda berkata (dengan berdasar ilmu) tantang apa yang kita pandang benar -dari berbagai sudut pandang yang ada-, bahwa inilah kebenaran… Menguatkan apa yang dipandang kuat, dengan penjelasan… Dan melemahkan apa yang dipandang lemah, dengan bantahan..

2. Tapi ketika masuk ke ranah praktis. Jangan berkacamata kuda. Jangan terapkan konsekuensi pendapat kita pada orang lain! Sebagaimana kita dari awal berkata: “dalam hal ini ulama berbeda pendapat”. Maka tentu “ulama akan berbeda pengamalan”. Maka tentu “pengikut ulama akan sejalan dengan ulamanya! Baik mereka yang mengikuti ulama hanya berdasarkan kesimpulan akhir; atau mereka yang mengikuti ulama dengan menelaah prosesnya hingga kesimpulan akhir!”

Jadi jangan mentang-mentang, sudah merasa naik derajat menjadi ‘muttabi’, kemudian sibuk mendebat orang yang lebih jahil darinya (atau bahkan orang lebih alim darinya), kemudian mewajibkan orang tersebut untuk sejalan dengannya!!! Terlebih lagi sampai menerapkan konsekuensi yang ada dalam pandangannya tersebut PADA ORANG LAIN yang berbeda pandangan dengannya! Ini jelas sangat tidak dibenarkan! Bahkan ini cerminan kurang adab, bahkan cerminan kurang faqihnya ia dalam permasalahan tersebut! Imam malik saja ditawarkan agar kitab fiqhnya dijadikan rujukan negara, tapi beliau menolak! Lantas siapa kita yang hanya sebatas ‘mengikuti’ pendapat maalik (contoh), kemudian mewajibkan apa yang kita ikuti tersebut untuk dianut oleh orang lain?!

Dengan diterapkan kaidah pelaziman ini, maka kita akan mendapati orang-orang yang betapa jahilnya mengubar laqab kepada pihak yang menyalahinya… Dari laqab-laqab yang jelek, hingga laqab berbahaya seperti mubtadi'[1. Contohnya qunut shubuh terus menerus.

Para ulama berbeda pendapat tentang penghukuman qunut di shalat shubuh secara terus-menerus menjadi tiga penghukuman:

– Sunnah
– Tidak sesuai sunnah, tapi tidak sampai kepada derajat bid’ah
– Bid’ah

(dari salah satu kajian ustadz Badrusalam)

Nah sekalipun seseorang mengikuti ijtihad ulama yang membid’ahkan qunut shubuh terus-menerus; maka tidak bisa kita serta-merta memvonis mubtadi’ terhadap orang-orang yang berpendapat dan beramal dengan fatwa mujtahidnya!

Silahkan berdiskusi, silahkan kerahkan daya upaya dalam pendekatan teoritis kita kepadanya; menjelaskan apa yang kita pandang benar, dan meluruskan apa yang kita pandang salah. Tapi jangan sampai hal tersebut kita bawa ke ranah pemvonisan person! Yaitu memvonisnya mubtadi’!], fasiq[2. Contohnya seperti jenggot dan isbal (dengan tanpa kesombongan)

Padahal telah nyata bahwa para ulama berselisih paham tentang hukum ‘membiarkan jenggot’ apakah dihukumi wajib atau sunnah! Adapun KLAIM IJMAA’ maka jelas ini kekeliruan yang nyata! (silahkan simak disini: https://www.facebook.com/abuzuhriy/posts/10152242484989660?stream_ref=10)

Maka bagaimanakah kita hendak menerapkan konsekuensi pendapat kita kepada orang lain!? Bahkan bermodalkan dengan itu, maka kita vonis ia dengan kefasiqan?! Tidak takutkah kita bahwa vonis itu akan kembali kepada kita?!

Sama halnya dengan vonis terhadap musbil (silahkan simak: http://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/04/06/hukum-isbal-dalam-islam/)!

Sekiranya kita berpendapat bahwa isbal dengan tanpa kesombongan adalah haram, atau bahkan dosa besar; bukan berarti sudut pandang yang kita anut, kita terapkan pada orang lain! Apalagi sampai memvonis fasiq pada person-personnya!! Maka ini kekeliruan yang amat nyata!], atau bahkan munafiq [3. Contoh nyatanya pada permasalahan “hukum shalat berjamaa’ah di masjid” atau lebih tepatnya “hukum shalat di selain masjid ”

Jika kita berpendapat bahwa hukumnya wajib ‘ain, atau bahkan syarat sah (tentang shalat di belakang imam di masjid); atau bahkan memvonisnya sebagai dosa besar (bagi yang shalat di selain masjid). Maka hal itu merupakan konsekuensi yang kita anut untuk diri kita! Bukan untuk kita terapkan kepada orang lain, dalam ranah praktisnya!

Coba saja berkaca pada realitas.

Misalkan anda berada di mall atau pasar atau kantor atau pabrik; kemudian masuk waktu shalat, kemudian anda adzan dan iqamah di tempat tersebut. kemudian anda menyelenggarakan shalat disana. Bukankah anda MENYALAHI pendapat anda?! Kalau misalkan masih ada masjid disekitaran kantor/mall/pasar/pabrik?! Apa anda memvonis dosa besar pada diri anda?! atau bahkan memvonis nifaq pada diri anda?! Jika tidak, lantas betapa standar gandanya anda dengan mudahnya memvonis orang lain berdasar sudut pandang yang anda anut, yang bahkan anda sendiri menyalahinya!

Maka dalam ranah praktis, terhadap orang yang menyalahi pendapat dan sudut pandang kita, tidak kita terapkan pada mereka konsekeunsi pendapat yang kita anut!

Semoga Allaah menjauhkan kita dari serampangan dalam memvonis individu; yang kita khawatir vonis tersebut akan kembali pada penebarnya, cepat atau lambat! Na’uudzubillaah!], atau bahkan murtad, kafir[4. Contohnya seperti permasalahan “meninggalkan shalat”.

Tidak diragukan lagi meninggalkan shalat merupakan perkara yang amat besar dosanya. Tapi tetaplah kita melihat realitas! Bahwa memang para ulama berbeda pandangan apakah “seorang yang meninggalkan shalat” adalah kufur akbar atau kufur ashghar!

Jangan mentang-mentang kita sudah ‘muttabi’ dan mengikuti pendapat kufur akbar; lantas secara serampangan memvonis “murtad, kafir” pada orang yang menginggalkan shalat!]; atau bahkan thaaghuut [5. Inilah yang amat sangat mengerikan, vonis yang paling berat; yang sangat mengherankannya amat mudah ditebarkan orang-orang jaahil yang hanya modal semangat!

Berawal dari kesalahan/ketergelincirannya yang mengikuti manhaj khawarij dalam menafsirkan beberapa firman Allaah tentang masalah tahkiim; yang mana secara mutlak dianggap sebagai kufur akbar, tanpa memerinci! (simaklah: http://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/630-berhukum-dengan-selain-yang-alloh-turunkan)

Maka jatuh lagi kepada kesalahan berikutnya, yaitu melazimkan pendapatnya yang sesat itu kepada orang lain!

Semoga Allaah menyelamatkan kita dari kejahilan dan kezhaliman, aamiin!]! Karena apa semua ini? Karena melazimkan konsekeunsi pendapatnya pada orang lain! Bahkan mungkin ia akan sangat berani menumpahkan darah seorang muslim (yang dianggapnya kafir) karena pelaziman ini! Na’uudzubillaah!

Maka ingatlah! kita hanya menyampaikan apa yang kita pandang benar, BUKAN untuk MEWAJIBKAN apalagi MEMAKSAKAN agar orang lain sejalan dengan kita (apalagi sampai menerapkan kaidah pelaziman yang ada dalam diri kita pada orang lain)! Apa yang kita pandang benar itu, bukanlah untuk digunakan sebagai pelaziman untuk diri orang lain! Sehingga dengannya kita mudah menebar laqab, mencederai kehormatan, atau mungkin… mengucurkan darah tanpa hak!

Juga menjadi pelajaran bagi kita, misalkan kita seorang penuntut ilmu dari masyarakat yang bermadzhab syafi’iy… kemudian kita pergi ke negri para ulama yang disana mayoritas madzhab fiqhnya hanafiy, atau malikiy atau hanbaliy… Maka jangan sampai kita kembalinya ke negri kita dengan berkaca-mata kuda, dan semata-mata memandang dengan perajihan fiqh yang kita peroleh dari madzhab berlainan, kemudian kita terapkan konsekeunsi pendapat kita tersebut, pada masyarakat kita dengan madzhab kita tersebut!

Maka alangkah agungnya nasehat dari sebagian ulama saudi, yang mewasiatkan para pelajarnya untuk mempelajari kembali madzhab masyarakatnya, dan mengajarkan kitab-kitab madzhab masyarakat sekitar sebagai rujukan fiqhnya… Meskipun tidak terlarang baginya menyalahi sebagian isi dari kitab tersebut; karena condong pada pendapat lain yang ia peroleh dari perjalanan menuntut ilmunya dari beragam ulama! Bahkan wajib baginya untuk menyalahinya, jika memang ia mendapati sudut pandang yang berbeda tersebut lebih dekat kepada kebenaran daripada apa yang tertuang dalam kitab tersebut… Karena sesungguhnya tidak ada satupun kitab yang ma’shuum di bumi ini, kecuali kitaabullaah ‘azza wa jalla!

[Simak: http://rumaysho.com/faedah-ilmu/kuasai-fikih-madzhab-syafii-3144]

Dan memang wasiat diatas mengajarkan pada kita dua hal :

1. Agar jangan sampai kita menyempitkan permasalahan semata-mata hanya berdasarkan apa yang kita dapati. Mentang-mentang 100 gurunya merajihkan pendapat A, maka disangkanya A ini adalah ijma’ (karena itu saja yang ia dapati selama ini). Maka selain A, maka dianggap menyalahi ijma, atau dianggap ghayru mu’tabar !

(Pelajarannya: jangan sampai ‘kesepakatan’ dalam satu perguruan fiqhiyyah dalam sebuah permasalahan, dianggap sebagai kesepakatan seluruh ulama islam! Yang padahal mungkin dalam konteks global, bisa jadi JUMHUUR perguruan fiqhiyyah yang lain justru menyalahi sudut pandang yang dianutnya, sedangkan ia tidak menyadari!!!)

2. Agar jangan sampai kita menerapkan kaidah ‘pelaziman’ pada mereka yang berbeda dengan kita. Juga agar harus kita senantiasa ingat, bahwa madzhab (fiqhiyyah) masyarakat itu diatas madzhab ulama’nya (sebagaimana dikatakan syaikh as sa’diy). Sehingga kita dapat menyikapi mereka dengan baik dan benar.

Wallaahu a’lam

Semoga bermanfaat bagi ana pribadi maupun yang lain.

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, Ilmu

Sembarangan melaqabkan “anjing neraka”

Khawaarij SECARA MUTLAK (yg disebutkan dalam hadits shahih) memanglah anjing-anjing neraka[1. Yaitu berdasarkan hadits shahiih:

عَن أبي أمامةَ، يقولُ : شرُّ قَتلى قُتِلوا تحتَ أَديمِ السَّماءِ، وخيرُ قَتيلٍ مَن قتلوا، كِلابُ أَهْلِ النَّارِ، قد كانَ هؤلاءِ مسلِمينَ فصاروا كفَّارًا

Dari Abu Umaamah, ia berkata: “Mereka (khawaarij) ini sejelek-jelek orang yang dibunuh di bawah naungan langit ini. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh di bawah naungan langit ini adalah orang-orang yang mereka bunuh. (Mereka ini) Anjing-anjing penghuni neraka. Dahulunya mereka muslim, tapi sekarang kaafir*.”

قُلتُ: يا أبا أمامةَ، هذا شيءٌ تقولُهُ ؟

Aku (Abu Ghalib) berkata : Wahai Abu Umaamah, apakah ini perkataan yang datang darimu (semata)?

قالَ: بل سَمِعْتُهُ من رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ

Abu Umaamah menjawab: Bahkan aku mendengar hal seperti itu dari Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam.

(Hasan; HR ibnu Maajah, dihasankan al albaaniy)

*Khilaf diantara salafush shaalih, apakah khawaarij itu kaafir? ataukah masih muslim? Simak: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/03/apakah-khawaarij-kafir.html]

TAPI bukanlah MEMBENARKAN kita sembarangan menjual laqab “anjing-anjing neraka” pada orang-orang (tertentu) yang teracuni pemahaman khawarij!

Yaa akhi… “Anjing-anjing neraka” ini adalah vonis hukuman aakhirat!

Sekalipun ada seorang oknum MATI diatas pemahaman khawarij, TIDAK BERARTI MELEGALKAN kita untuk melaqabkannya “anjing neraka”!

Tahu darimana kita, bahwa nasib di akhiratnya (secara individunya) bahwa ia dipastikan menjadi “anjing neraka” kelak di aakhirat?

“Khawarij anjing-anjing neraka” ini lafazh muthlaq. Adapun “fulan anjing neraka” maka ini muqayyad (dikaitkan pada individu tertentu). Tidak sama keduanya! Bahkan ini perkataan YANG AMAT SANGAT BERBAHAYA, dan juga salah satu bentuk kurang adabnya dihadapan Allaah. yang mana ia seakan-akan hendak mengabarkan dan memastikan nasib akhirat seseorang tertentu dihadapan Allaah!

Sesungguhnya tidak kita pungkiri, dan kita yakin seyakin-yakinnya akan kebenaran sabda nabi “khawarij adalah anjing-anjing neraka”… Tapi ingat berkaitan dengan person, apalagi person-peson (dlm jumlah yg banyak); maka ini kita tidak mengetahui nasib aakhiratnya!

Bukankah khawaarij adalah pelaku dosa besar; yg nasib aakhiratnya dibawah kehendak Allaah? Jika Allaah menghendaki, maka akan diadzabNya; jika Allaah menghendaki, maka Dia akan ampuni?!!!

Maka siapakah kita… hendak mendahului ketentuanNya? Siapakah kita yang hendak mengabarkan dan memastikan khabar ghaib, yang hanya diketahui Allaah?! Maka hendaknya kita bertaqwa kepada Allaah atas lisan/tulisan dan perbuatan kita!

Ini bagi mereka YANG SUDAH MATI diatas pemahaman khawarijnya; dan tidak diketahui ia bertaubat darinya. Maka bagaimana lagi yang MASIH HiDUP! Tentu LEBIH TIDAK DIBENARKAN lagi pemberian vonis seperti ini!!!

Diriwayatkan oleh al Bukhaariy dalam shahiihnya, pernah Rasuulullaah qunut nazilah pada shalat shubuh, yang diantara doa diqunut tersebut adalah:

اللهم العن فلانا وفلانا

Yaa Allaah, laknatlah fulaan dan fulaan [fulan dan fulan ini MASIH HIDUP]

Maka turunlah firmanNya:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ . وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ يَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu… Apakah Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim. Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki; Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(QS Aali ‘Imraan: 128-129)

[HR al Bukhaariy dan selainnya]

Ini doa nabi kepada MUSYRIKIIN… Yang mana pemahamannya, keyakinannya, dan pengamalannya LEBIH JELEK daripada khawaarij!

Tapi lihatlah… Rasuulullaah sendiri DITEGUR ALLAAH… Allaah melarang beliau melaknat KAUM MUSYRIKIN YANG MASIH HIDUP…

Bahkan Allaah berfirman:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu… Apakah Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim

Perhatikan pada firmanNya أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ “Apakah Allaah menerima taubat mereka”

Maka ini jelas mengindikasikan, bahwa selama mereka masih hidup, MASIH ADA KEMUNGKINAN mereka BERTAUBAT, lalu Allaah menerima taubat mereka! Maka jangan sampai kita putus asa terhadap rahmat Allaah atas mereka!

Makanya Allaah melanjutkan firmanNya:

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ يَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki; Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Agar kita sadar KEMAHA KUASAAN ALLAAH… Allaah itu Maha Kuasa membolak-balikkan hati-hati hambaNya… Bisa jadi hari ini kafir yang amat kafir, tapi siapa tahu besok? Bisa jadi hari ini mukmin, tapi siapa tahu besok?

Maka janganlah kita sampai tidak beradab dihadapanNya… Janganlah sok-sok’an dihadapanNya… Janganlah kita mengatakan sesuatu tanpa dasar ilmu (dan pemvonisan kita terhadap nasib akhirat seseorang… ini merupakan perkataan tanpa ilmu!)… Janganlah kita sampai putus asa terhadap rahmat Allaah dalam diri seseorang[2. Simak artikelnya: http://abuzuhriy.com/larangan-berputus-asa-dari-rahmat-allah/]… Jangan sampai kebencian kita terhadapnya dan terhadap perbuatannya; menjadikan kita melampaui batas dalam perkataan dan perbuatan kita…

Maka jangan sampai kita lancang-lancangnya memvonis nasib aakhirat seorang (bahkan ia masih MUSLIM) yang MASIH HIDUP ditengah-tengah kita, yang kita belum tahu akhir hidupnya!

Maka bagaimanakah kita, jika hari ini kita mencelanya demikian; lantas besok keadaan berbalik?! Semoga Allaah menjaga kita dari kesombongan dan kesewenang-wenangan…

Kalaupun dia mati diatas pemahaman dan amalan sesat, menyimpang dan melampaui batas; tapi dia masih mati dalam keadaan muslim…

Maka jangan lupakan ayatNya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala DOSA yang SELAIN dari (SYIRIK) itu, bagi SIAPA yang DIKEHENDAKI-Nya

(an Nisaa’ 48 & 116)

Kebencian kita akan kezhaliman mereka, jangan sampai menjerumuskan kita kepada kezhaliman terhadap diri kita sendiri! Maka jangan sampai kebencian kita pada suatu kaum, menjadikan kita melampaui batas dalam perkataan dan perbuatan kita.

Semoga Allaah menambahkan kepada kita ILMU dan semangat (mengamalkannya)

2 Komentar

Filed under Adab

Diantara adab berkaitan tentang ilmu

Berikut diantara adab yang berkaitan tentang ilmu yang hendaknya kita ketahui dan amalkan :

1. Fatwa itu tugasnya mujtahid. Bukan kita (yang bukan mujtahid)

Apa tugas kita? Tugas kita tinggal BERTANYA. Atau, TINGGAL MERUJUK dan MENGIKUTI tata cara pendalilan dan penghukuman dari para ulama, tentang suatu permasalahan.

Allaah berfirman :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka BERTANYALAH kepada AHLI DZIKR (ULAMA) jika kamu tidak mengetahui (permasalahan agama).

[QS al Anbiyaa: 7 & an Nahl: 43]

Allaah berfirman :

وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ

Kalau mereka MENYERAHKAN (URUSAN) kepada Rasul dan Ulil Amri (ULAMA) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)

[QS. an Nisaa: 83]

Terlebih lagi pada permasalahan-permasalahan pelik, atau permasalahan-permasalahn kontemporer yang butuh kedalam ilmu untuk merumuskannya. Maka ini kita SERAHKAN kepada ULAMA. Bukan malah angkat bicara, bukan malah ikut gabung bersorak-sorak memperburuk keadaan, dll !!!

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara”

Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”.

Beliau menjawab,

الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.”

(HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah)

Imam asy Syaafi’iy berkata:

“Tidak halal bagi seorangpun berfatwa dalam agama Allah kecuali orang yang berilmu tentang kitabullah, nasikh mansukhnya, muhkam dan mutasyabihnya, ta’wil dan tanzilnya, makki dan madaninya dan apa yang diinginkan darinya.

Kemudian ia mempunyai ilmu yang dalam mengenai hadits Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana ia mengenal Al Qur’an. Mempunyai ilmu yang dalam mengenai bahasa arab, sya’ir-sya’ir arab dan apa yang dibutuhkan untuk memahami al qur’an, dan ia mempunyai sikap inshaf (adil) dan sedikit berbicara. Mempunyai keahlian dalam meyikapi perselisihan para ulama.

Barang siapa yang memiliki sifat-sifat ini, silahkan ia berbicara tentang ilmu dan berfatwa dalam masalah halal dan haram, dan barang siapa TIDAK MEMILIKINYA maka ia HANYA BOLEH BERBICARA TENTANG ILMU (yang diketahuinya) namun TIDAK BOLEH BERFATWA”

(Shahih faqih wal mutafaqqih hal 390; dikutip dari salah satu artikel ustadz badrusalam)

2. Jika sudah tahu dan sadar kapasitas diri, kalau kita bukan mujtahid[1. alhamdulillaah jika kita termasuk akan hal ini, karena betapa banyak kita melihat orang yang tidak tahu diri, atau bahkan lupa diri; apakah karena ketergelinciran atau yang lebih parah karena kepongahan!]… Maka tidak boleh bagi kita untuk memberanikan diri untuk mencari sendiri, dan menghukumi sendiri; sedangkan kita TIDAK MEMILIKI alat serta perangkat untuk melakuan hal tersebut,

Karena memang kita bukanlah seorang yang diketahui dan diakui oleh para ulama kapabel untuk melakukan hal itu! Juga, dengan ini… kita malah hanya akan mengada-adakan kedustaan atas nama agama Allaah!

Kalaupun penghukuman tersebut “KEBETULAN” mencocoki kebenaran, tetap saja kita BERDOSA, karena telah menempuh cara yang salah, dan karena kita telah berkata-kata atas nama Allaah tanpa dasar ilmu!

Benar, taqlid buta itu haram! Tapi BUKAN BERARTI kita melepaskan diri SECARA TOTAL dari mujtahid, dengan beristidlal dan beristinbath sendiri, padahal kita BUKAN seorang yang PANTAS melakukannya!

Allaah berfirman:

وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

dan (Allaah mengharamkanmu) berbicara terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui tentang hal tersebut

(Al-A’raf:33)

Allaah berfirman:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”

(An-Nahl: 116).

Diriwayatkan dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah berkata, “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas radhiallahuanhu. menceritakan tentang seorang laki-laki di zaman . yang terluka pada bagian kepalanya, kemudian malamnya ia mimpi basah. Lalu ia disuruh mandi. Maka ia pun mandi. Selesai mandi tubuhnya kejang-kejang lalu mati. Sampailah beritanya kepada Rasulullah ., maka beliau bersabda, yang artinya,

قَتَلُوهُ قَتَلَهُمْ اللَّهُ أَلَمْ يَكُنْ شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالَ

‘Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan/memerangi mereka. Bukankah BERTANYA merupakan OBAT KEBODOHAN?”

(Shahih, HR Ibnu Majah dll)

Maka yang dalam kebodohan, tugasnya hanya satu: “bertanya” (atau menuntut ilmu). Bukan malah berkata dan/atau bertindak!

Beliau juga bersabda:

القضاة ثلاثة: قاضيان في النار و قاض في الجنة، فأما القاضيان اللذان في النار فأحدهما: عرف الحق و قضى بخلافه و الثاني: قضى على جهل، و أما القاضي الذي في الجنة: فهو الذي عرف الحق و قضى به

‘Hakim itu ada tiga (tipe), dua orang MASUK NERAKA dan satu orang masuk surga. Adapun dua orang hakim yang masuk neraka, salah seorang di antaranya adalah orang yang mengetahui kebenaran namun memutuskan dengan hal yang menyelisihinya. Kedua, orang yang MEMUTUSKAN HUKUM berdasarkan KEBODOHAN. Tentang hakim yang masuk surga, ia adalah orang yang mengetahui kebenaran dan menutuskan hukum dengannya’.

(dinilai shahiih al albaaniy dalam shahiih al jaami’)

[Simak lebih lanjut: http://abuzuhriy.com/janganlah-engkau-berkata-tanpa-ilmu/]

3. Kalau sudah tahu suatu permasalahan, tapi hanya sebatas tahu KESIMPULAN HUKUM-nya.Maka ini pengamalan untuk diri kita sendiri.

Bukan malah berdebat kesana-kemari, atau menjadi “cheer leader” sebagai pendukung atau pengingkar, padahal modalnya hanya tahu kesimpulan hukum.

4. Kalau kita sudah mengetahui kesimpulan hukum, disertai istidlalnya DENGAN MENGIKUTI penjelasan para ulama. Maka tugas kita hanya menyampaikan.

– Bukan berarti kita malah berdebat kesana dan kemari kepada orang yang baru tahu “kesimpulan hukum” atau bahkan yang belum tahu kesimpulan hukum… kemudian bertindak otoriter, dengan memaksa orang tersebut untuk mengikuti apa yang kita IKUTI. Padahal mujtahid saja, yang menggali hukum sendiri dengan alat dan perangkat yang dimilikinya. Melarang manusia membeo kepadanya. Lantas siapa kita, yang justru bukan mujtahid, menyerukan bahkan memaksa manusia harus setuju kepada kita?! bahkan kalau mereka belum setuju, serta merta kita katakan bahwa mereka “menolak firman Allaah dan sabda RasulNya”?! Padahal patut dipertanyakan lagi, apakah ketidaksetujuan mereka serta merta melazimkan penolakan mereka terhadap firman Allaah dan sabda RasulNya?!

– Demikian pula, jika seseorang menyelisihi kita, karena mengikuti istidlal dan istinbath yang berbeda, yang juga ternukil dari ulama ahlus sunnah; yang mana pegangannya tersebut diakui oleh para ulama ahlus sunnah akan kehujjahannya, maka apakah kita hendak memaksanya HARUS SEJALAN dan SEPANDANGAN dengan kita? Padahal kitapun HANYA SEBATAS MENGIKUTI istidlal dan istinbath ulama lain sebagaimana dia?! Kalau kita mengajak kepada kebenaran, maka bukankah saudara kita menyelisihi kita karena ingin mengikuti kebenaran?! (simak: http://abuzuhriy.com/meneladani-sikap-para-shahabat-ketika-berselisih-pendapat/)

– Maka bagaimana lagi, jika kita malah mendebat seorang USTADZ apalagi ULAMA; padahal kitapun hanya bermodalkan istidlal dan istinbath yang kita ikuti dari ulama, atau bahkan hanya bermodalkan kesimpulan hukum?!

Ingatlah sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

“Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk mendebat orang yang bodoh atau menandingi para ulama’ atau untuk mencari perhatian manusia, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka”.

(HR at Tirmidziy)

Dan juga sabda beliau:

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِيْ مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفُ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“BUKAN TERMASUK UMMATKU… siapaja yang tidak menghormati orang yang besar dari kami; dan tidak merahmati orang yang kecil dari kami dan tidak mengetahui hak orang yang alim dari kami.”

(Dihasankan oleh Syaikh Al Albany dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir)

Semoga kita dianugerahkan Allaah ilmu yang bermanfaat… aamiin.

Tinggalkan komentar

Filed under Adab

Meneladani Sikap Para Shahabat Ketika Berselisih Pendapat

Rasuulullaah bersabda kepada para shahabat:

لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ إِلاَّ فِى بَنِي قُرَيْظَةَ

“Janganlah seseorang shalat (Ashar), kecuali di (perkampungan) Bani Qurayzhah.”

Ditengah perjalanan, masuk shalat ashar… Maka para shahabat berselisih paham…

(1) Apakah maksud sabda beliau diatas adalah perintah untuk shalat ashar di bani quraizhah? (meskipun sudah diluar waktu)

(2) Ataukah maksud beliau adalah bersegera dalam perjalanan, sehingga shalat asharnya di bani qurayzhah…

Maka dengan perbedaan dua sudut pandang ini, maka timbullah dua pendapat… dan dari dua pendapat ini, timbullah dua pengamalan…

Para shahabat yang memiliki sudut pandang yang pertama, maka mereka menunda shalat, dan baru shalat ashar di bani qurayzhah.

Para shahabat yang memiliki sudut pandang yang kedua, maka mereka segera shalat ashar di tengah perjalanan, meskipun shalatnya tidak di bani qurayzhah…

Maka mereka melaporkan hal ini kepada Rasuulullaah, maka beliau tidak berkomentar, dan tidak mencela satupun dari dua pendapat tersebut…


Yang patut kita perhatikan dalam masalah diatas adalah:

1. Dalil yang digunakan keduanya shahiih

Bahkan terkadang ada permasalahan yang mana ulama hadits pun berselisih paham, apakah derajat haditsnya mencapai derajat shahiih/hasan atau tidak? karena mereka pun berbeda ijtihad dalam menghukumi perawi hadits; atau bahkan berbeda ijtihad dalam merangkum keseluruhan jalan periwayatan…

2. Sekalipun haditsnya sama-sama disepakati shahiih; tapi bisa jadi terbuka perbedaan dari para ulama, terhadap sudut pandang dalam memahaminya.

Dengan perbedaan pemahaman/sudut pandang ini, maka akan ada dua atau lebih pendapat-pendapat. Dan dengan adanya dua sudut pandang ini, maka pasti akan melahirkan DUA PENGAMALAN yang berbeda. Ingat pemahaman/sudut pandang ini BERASAL DARI ULAMA, yang memang memiliki kemampuan untuk berijtihad (yang mana pendapat/ijtihadnya tersebut memang mu’tabar dikalangan ulama ahlus sunnah).

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

“Jika seorang hakim mengadili dan berijtihad, kemudian ijtihadnya benar, maka ia mendapat dua pahala, dan jika seorang hakim berijtihad, lantas ijtihadnya keliru, baginya satu pahala.”

(HR Bukhariy, dan selainnya)

Maka demikian pula orang-orang yang mengikuti mujtahid BERDASARKAN KANDUNGAN DALIL (yang bersebrangan dengan pendapat yang kita ikuti dari mujtahid yang lain)…

Berkata syaikh al-‘Utsaimiin rahimahullåh:

Kita wajib untuk tidak menjadikan perselisihan DIANTARA ULAMA ini sebagai penyebab perpecahan, karena kita seluruhnya menghendaki al-haq, dan kita seluruhnya telah melakukan segala usaha yang ijtihad-nya membawa ke sana.

Maka selama perselisihan itu (seperti ini), sesungguhnya kita tidak boleh menjadikannya sebagai sebab permusuhan dan perpecahan diantara ahlul ilmi, karena sesungguhnya para ulama’ itu selalu berselisih, walaupun di zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Kalau begitu, maka yang menjadi kewajiban bagi thalibul ilmi hendaklah mereka bersatu, dan janganlah mereka menjadikan perselisihan semacam ini sebagai sebab untuk saling menjauhi dan saling membenci.

Bahkan jika engkau berbeda pendapat dengan temanmu berdasarkan kandungan dalil yang engkau miliki, sedangkan temanmu MENYELISIHIMU BERDASARKAN KANDUNGAN DALIL[1. Disinilah point pentingnya! yaitu saudara kita menyelisihi kita karena KANDUNGAN DALIL yang ada padanya (dan itupun karena ia merujuk istidlal dan istimbath ulama salafush shalih, bukan reka-rekaannya)! Dan juga sudut pandang yang berbeda dengan sudut pandang yang kita lihat (sebagaimana dia pun memandang sudut pandang tersebut, berlandaskan sudut pandang ulama salafush shalih, bukan sudut pandang pribadinya semata)!

Maka penyelisihan seperti ini TIDAKLAH TERCELA! Jangan sampai kita serta merta memvonisnya “sesat” atau “pengikut hawa nafsu” atau “pembenci kebenaran” atau “pencari-cari pembenaran” dll!

Lihatlah bagaimana ADAB yang dicontohkan Tabi’in berikut ketika mereka berselisih paham atau menyikapi saudaranya yang beramal berdasarkan dalil.

عَنْ حُصَيْن بْنِ عَبْدِ الرَّ حْـمَنٍ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ أَيُّكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ الَّذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ قُلْتُ أَنَا ثُـمَّ قُلتُ أَمَا إِنِّـي لَـمْ أَكُنْ فِـي صَلاَةٍ وَلَكِنِّـي لُدِغْتُ

Dari Hushain bin Abdurrahman berkata: “Ketika saya berada di dekat Sa’id bin Jubair, dia berkata: “Siapakah diantara kalian yang melihat bintang jatuh semalam?” Saya menjawab: “Saya.” Kemudian saya berkata: “Adapun saya ketika itu tidak dalam keadaan sholat, tetapi terkena sengatan kalajengking.”

قَالَ فَمَاذَا صَنَعْتَ قُلْتُ اسْـتَرْقَيْـتُ قَالَ فَمَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ قُلْتُ حَدِيثٌ حَدَّثَنَاهُ الشَّعْبِـيُّ فَقَالَ وَمَا حَدَّثَكُمُ الشَّعْبِـيُّ قُلْتُ حَدَّثَنَا عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ حُصَيْبٍ اْلأَسْلَمِـيِّ أَنَّهُ قَالَ لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْـنٍ أَوْ حُـمَةٍ

Lalu ia bertanya: “Lalu apa yang anda kerjakan?” Saya menjawab: “Saya minta diruqyah” Ia bertanya lagi: “Apa yang mendorong anda melakukan hal tersebut?”Jawabku: “Sebuah hadits yang dituturkan Asy-Sya’bi kepada kami.” Ia bertanya lagi: “Apakah hadits yang dituturkan oleh Asy-Sya’bi kepada anda?” Saya katakan: “Dia menuturkan hadits dari Buraidah bin Hushaib: ‘Tidak ada ruqyah kecuali karena ‘ain, atau terkena sengatan.'”

فَقَالَ قَدْ أَحْسَـنَ مَنِ انْتَهَى إِلَـى مَا سَـمِـعَ وَلَكِنْ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِـيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ

“Sa’id pun berkata: “Alangkah baiknya orang yang beramal sesuai dengan nash yang telah didengarnya, akan tetapi Ibnu Abbas radhiyallâhu’anhu menuturkan kepada kami hadits dari Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, Beliau bersabda (beliau menyebutkan tentang keutamaan orang yang TIDAK MEMINTA DIRUQYAH; yang mana dapat menjadi golongan yang tidak dihisab dan tidak diazab)”

Lihat betapa indahnya tutur kata Sa’iid ibn Jubair rahimahullah yang sungguh sangat disayangkan adab dan tutur kata seperti ini sudah SANGAT USANG bahkan HAMPIR PUNAH ditengah-tengah kita…

Sungguh sangat indah nasehat al Ustaadz Abul Jauzaa’ yang menjadikanku lebih berhati-hati dalam memilih kata, dan lebih berhati-hati agar tidak tergesa-gesa, dan lebih menguasahakan diri melapangkan hati dalam permasalahan seperti ini, beliau berkata:

“Memang…..banyak ikhwan yang sekarang sadar bahwa permasalahan itu adalah permasalahan yang dikhilafkan para ulama kita. Namun banyak di antaranya, pengakuan itu hanyalah sebatas lisaanul-maqaal saja. Lisaanul-haal nya, adanya dianggap tidak ada. Coba saja tes pada diri kita sendiri (bayangkan saja), seandainya ada teman kita sema’had, teman kita satu kajian ikut nyoblos Pemilu, apa yang ada di benak kita ? Kalau saya dulu : ‘Dia telah menyimpang dari manhaj Salaf’. Dan coba saja reaksi sebagian teman-teman kita ketika mendengar ada sebagian ulama (terutama setelah era wafatnya 3 ulama besar kita) membolehkan partisipasi Pemilu, pasti negatif. Ketika Syaikh Abul-Hasan Al-Ma’ribiy dan Syaikh Mushthafaa Al-‘Adawiy membolehkan partisipasi Pemilu dengan alasan sama dengan masyaikh kibar kita; lisan sebagian rekan-rekan hanya keluar cibiran. Bukan hanya salafiy Indonesia,… salafiy Timur tengah pun banyak yang begitu.

Jadi sekali lagi, kalau pun ada pengakuan khilaf ulama, maka adanya dianggap nggak ada. Iya apa iya ya ?. Kalau saya si merasakan seperti itu. Ada upaya untuk mendelegitimiasi secara ‘terselubung’ keberadaan khilaf itu. Entah dengan alasan ‘tarjih’, atau yang lainnya.

Bagi saya, khilaf adalah khilaf, tarjih adalah tarjih. Khilaf itu memerlukan tarjih, dan tarjih sendiri tidak menafikkan khilaf. Orang yang merajihkan sesuatu, maka hujah tarjih itu adalah bagi dirinya. Tidak meliputi orang yang berseberangan dengannya.”

Beliau juga berkata:

“Menerima pendapat yang ‘kurang familier’ memang butuh ‘perjuangan’. Saya pun mengalami fase sulit ini, dan alhamdulillah, melalui perantaraan seorang teman, pikiran saya menjadi sedikit lebih terbuka. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.

Pendapat membolehkan Pemilu dan berparlemen dalam keadaan tertentu (bersyarat) itu masyhur di kalangan ulama. Namun karena ustadz kita dan rekan-rekan kita hampir semua satu suara mengikuti pendapat yang mengharamkannya secara mutlak, – dan memang itulah yang selama ini kita terima lalu kita yakini kebenarannya secara absolut – , maka siapa saja yang berpendapat dan mengamalkan fatwa ulama yang membolehkan, pasti akan kita terjang. Kita tantang dengan keras, dan tidak jarang keluar statement bahwa orang tersebut telah berubah statusnya. Dari Salafiy menjadi hizbiy.

Sama halnya dengan masalah isbal. Hampir semua ustadz-ustadz kita mengikuti pendapat ulama yang mengharamkannya. Padahal pendapat jumhur, tidak sampai mengaharamkannya. Mengharamkan jika dilakukan dengan kesombongan. Coba,…. kalau ada ikhwan Salafiy yang mengikuti dan mengamalkan pendapat jumhur, niscaya banyak yang mengingkari bahwa ikhwan itu bukan Salafiy. Atau yang mudah saja, …ketika kita melihat seseorang yang memakai celana isbal, maka kesimpulan yang terolah di otak kita mengatakan : ‘Bukan Salafiy’. Atau ketika kita melihatnya hadir di kajian Salafiy, kita akan mengambil kseimpulan : ‘Pasti orang ini belum lama ngaji”.

Sama halnya dengan kasus Ihya At-Turats bagi sebagian orang. Karena semua materi yang ia dengar dari ustadz-ustadznya adalah menghukumi IT itu hizbiy sururiy dan siapa saja yang berhubungan dengannya juga hizbiy sururiy; maka mereka akan menganggap sinis pendapat ulama yang berkesimpulan kebalikan darinya. Dianggapnya, perselisihan masalah ini adalah ghairu mu’tabar. Mereka akan memusuhi semua orang yang menyelisihi pendapat mereka.

Rekan,…..

Selain dikarenakan sedikitnya ilmu, maka ini juga disebabkan oleh faktor ‘kebiasaan informasi’, sehingga itu menjadi mindset kita dalam menyikapi satu permasalahan.

Coba saya tes dengan perintah sederhana berikut. Silakan rekan-rekan menggambar angsa dan kursi dalam waktu 10 detik. Bayangkan saja aktifitas itu di pikiran rekan-rekan semua. Sudah ?

Setelah selesai dibayangkan,…. let me guess….. saya yakin hampir semua rekan-rekan menggambar angsa kepalanya menghadap ke kiri, dan menggambar kursi menghadapnya ke kanan. Bener nggak ?.

Itu semua dikarenakan dari kecil kita diajarkan menggambar angsa itu dari model angka 2 (dua). Dan menggambar kursi itu dari model angka 4 (empat). Itulah kebiasaan yang terpatri yang kemudian menjadi mindset hingga dewasa. Angsa itu identik dengan angka 2 dan kursi itu identik dengan angka 4.

Dan itulah gambar kita dalam menghadapi perbedaan pendapat di kalangan ulama……..

Oleh karena itu rekan…….

Salafiy itu bukanlah orang yang kalau menggambar angsa dengan pola dasar angka 2, dan kalau menggambar kursi dengan pola dasar angka 4. Bisa jadi seorang salafiy menggambar angsa dengan pola dasar huruf S (yang kepala angsa-nya menghadap ke kanan).

Dunia tidaklah sesempit lobang biawak.

# Yuk kita belajar !!”

Sungguh perkataan beliau diatas, hendaknya benar-benar kita renungi dan kita amalkan… Niscaya kita akan mendapatkan ketenangan dan kelapangan dalam hati… Dan jauh dari sikap yang berlebih-lebihan dalam menyikapi permasalahan semacam ini!] yang ada padanya, maka kalian wajib untuk menjadikan diri kalian diatas satu jalan dan hendaklah kecintaan bertambah di antara kalian berdua.”

(Kitabul ilmi, oleh Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hal: 28-30

3. Kalau kita (bahkan para ulama) MENGAKUI akan adanya PERBEDAAN sudut pandang/pemahaman dalam memahami nash diantara mereka… Maka PASTI akan melahirkan PERBEDAAN PENDAPAT… dan PASTI akan melahirkan PERBEDAAN PENGAMALAN…

Kalau MENGAKUI adanya perbedaan pandangan/pemahaman dan pendapat… Maka SEPATUTNYA MENGAKUI akan adanya PERBEDAAN PENGAMALAN… (jangan malah seakan berkata: ‘meski saya akui akan adanya perbedaan pandangan/pemahaman/pendapat, tapi dalam masalah amalan, maka orang lain hanya boleh mengamalkan pendapat yang saya anut’! ini pada hakekatnya menafikkan perbedaan itu sendiri!)

4. Niat mereka SATU (meskipun mereka berbeda sudut pandang/pemahaman bahkan pengamalan, yaitu, sama-sama MENCARI KEBENARAN) dan sama-sama meyakini hanya ada satu kebenaran…

5. Patutnya kita mencontohi SIKAP Rasuulullaah dan sikap sesama para shahabat dalam menyikapi perbedaan DIANTARA MEREKA (maka yang dimaksud adalah perbedaan sesama ahlus sunnah)

Dalam perselisihan ini, bisa saja kelompok pertama berkata:

“Udah jelas-jelas perintah beliau untuk shalat ashar disana kok! udah jelas beliau melarang kita kecuali shalat ashar disana kok! Kok anda malah shalat ashar disini?!”

Bisa jadi kelompok kedua berkata:

“Coba berpikir lebih luas, waktu shalat itu sudah ditentukan… Maka tentulah maksud dari sabda beliau diatas adalah mempercepat perjalanan agar kita tidak shalat ashar, kecuali disana; ini lebih menggabungkan dalil-dalil”

Maka bisa jadi dibantah lagi:

“justru hadits diatas merupakan dalil tersendiri, yang mengecualikan dalil-dalil yang umum. Telah shariih bahwa perintah untuk shalat ashar di bani qurayzhah, dan larangan shalat ashar di tempat yang lain”

Bisa jadi dibantah lagi:

“tidak ada pertentangan, akan tetapi saling mengkompromikan”

(dan seterusnya)

Apapun itu, meskipun mereka berselisih paham, dan saling berargumen… Tapi tetap saja dua golongan diatas, SAMA-SAMA MENGINGINKAN KEBENARAN dari perbedaan yang ada diantara mereka…. Oleh karenanya Rasuulullaah tidak mencela dua kelompok diatas, demikian juga sesama para shahabat…

Benar, kita wajib untuk mencari kebenaran (dari perbedaan tersebut)… tapi apakah sesuatu yang kita pandang benar, menjadi hujjah bagi orang lain agar ia memandang permasalahan seperti apa yang kita pandang? sehingga kalau dia menyalahi kita, maka serta merta kita katakan: “dia tidak cinta kebenaran, tidak menginginkan kebenaran, dan hanya cari pembenaran” ?! (cobalah disimak lagi perkataan syaikh ibnul utsaimiin diatas!)

Penyelisihan saudara kita terhadap pendapat yang kita anut, JANGAN SERTA MERTA kita artikan: “dia sengaja menolak kebenaran, setelah jelas baginya kebenaran” atau kita artikan: “dia hanyalah mencari pembenaran daripada kebenaran” atau kita artikan: “dia itu lebih memilih yang lebih dekat kepada hawa nafsunya, daripada keridhaan Allaah”! Allaahul musta’aan.

Contohilah para shahabat,

Yang mana kita dapati diantara mereka TIDAK ADA yang menghakimi (niat) satu sama lain… Tidak ada yang berkata: “niatnya tidak benar” (padahal niat masalah hati) atau menghakimi “kalian ini hanyalah cari-cari pembenaran” (karena mereka sudah saling mengenal bahwa mereka adlaah para pencari kebenaran, maka tidak patut dipersangkakan buruk “pencari pembenaran”), atau menghakimi “kalian ini hanyalah mengiktui hawa nafsu” (padahal pendapat yang dianut/diikuti adalah pendapat yang beredar diantara ahlul haq)

Contohilah para shahabat,

Adakah kita mendapati, kelompok pertama berkata kelompok kedua:

“Dasar tukang ta’wil, menyalahi hadits yang sudah jelas, apaan tuh klaimnya tunduk kepada dalil?! buktinya ketika dihadapkan dalil, malah berpaling; mana buktimu bahwa engkau ridha islam sebagai agamamu!?”

Adakah kita mendapati kelompok kedua berkata kepada kelompok pertama:

“dasar zhahiriyyah yang buta dalil (mencukupkan dengan satu dalil tapi menolak dalil-dalil lain!), memahami agama sepotong-sepotong, tidak paham fiqh !”

Mereka memang berselisih, saling berargumen… tapi adakah dengan gaya bahasa seperti itu?! lantas siapakah teladan kita jika bergaya bahasa yang demikian?

Permasalahan seperti ini BANYAK SEKALI didalam islaam… Maka ketika menghadapi permasalahan seperti ini… Hendaknya kita kembali merenungi lagi hadits diatas, merenungi PENYIKAPAN Rasuululalah dan PENYIKAPAN SESAMA PARA SHAHABAT… Jangan jadikan hadits diatas sebagai bahan bacaan biasa, sehingga ketika masuk keranah praktek, tidak ada bentuk pengamalannya! Padahal BANYAK SEKALI permasalahan yang serupa dengan hadits diatas !

Niat yang keliru, apalagi tanpa disertai ilmu dan adab; maka akan melahirkan PENYIKAPAN YANG KELIRU…

Semoga Allaah menganugerahkan kita niat yang benar, ilmu yang bermanfa’at dan sikap yang diridhaiNya… Aamiin…

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Adab

Kalimat yang dianggap remeh, padahal besar disisiNya

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً ، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ

“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan, lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu.

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ

Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.”

(HR. al Bukhaariy)

Sebuah ucapan/tulisan yang baik/benar, yang kita ucapkan/tuliskan begitu saja (dengan niat yang lurus)… bisa saja membekas di hati orang lain, yang kemudian dengan ucapan tersebut, kita meraih keutamaan disisiNya.

Sebaliknya, sebuah ucapan/tulisan yang mungkar, yang kita ucapkan begitu saja (akibat tidak menjaga lisan/tulisan kita)… bisa saja menyebabkan kebinasaan bagi diri kita.

Maka perhatikanlah ucapan/tulisan kita… bisa jadi dia akan menjadi penolong bagi kita di hari kiamat (semoga demikian), atau bisa jadi malah menjadi petaka bagi kita di hari kiamat (na’uudzubillaah)…

Alangkah pentingnya bagi kita untuk menjaga apa yang akan terucap/tertulis… Dan alangkah pentingnya untuk memperbanyak beristighfar, agar semoga Dia memaafkan tulisan/ucapan kita yang besar disisiNya, yang kita anggap remeh…

Semoga bermanfaat

[Jakarta, Selasa malam 12 DzulQa’dah 1434 H]

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, Tazkiyatun Nufus

Faidah Siwak

1. Pembersih mulut, serta salah satu cara menggapai ridha Allaah

Rasuulullaah bersabda:

لسِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Siwak merupakan kebersihan bagi mulut dan keridhaan bagi Rabb”.

(Shahiih; HR. Ahmad, irwaul golil no 66)

2. Dianjurkan bersiwak ketika hendak wudhu

Rasuulullaah bersabda:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلىَ أُمَّتِي َلأَمَرْتُهُمْ باِلسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ

“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudhu.”

(HR Bukhaariy, Muslim, dll)

3. Dianjurkan bersiwak ketika hendak shalat

Rasuulullaah bersabda:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلىَ أُمَّتِي َلأَمَرْتُهُمْ باِلسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَّلاَةٍ

“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan shalat”.

(HR al Bukhaariy, Muslim; dll)

4. Dianjurkan bersiwak ketika hendak baca al Qur-aan

Rasuulullaah bersabda:

إن العبد إذا تسوك ثم قام يصلي قام الملك خلفه فيستمع لقراءته فيدنو منه –أو كلمة نحوها – حتى يضع فاه على فيه فما يخرج شيء من القرآن إلا صار في جوف الملك فطهروا أفواهكم للقرآن

“Sesungguhnya seorang hamba bila bersiwak lalu berdiri mengerjakan shalat, maka berdirilah seorang malaikat dibelakangnya lalu mendengarkan bacaannya dengan seksama kemudian dia mendekatinya (perawi berakta: atau beliau mengucapkan kalimat seperti itu) hingga malaikat itu meletakkan mulutnya diatas mulut orang yang membaca al-Qur’an, maka tidaklah keluar dari mulutnya bacaan al-Qur’an itu melainkan langsung ke perut malaikat, oleh sebab itu bersihkanlah mulut-mulut kalian untuk membaca al Qur-aan.

[HR. ibnul-Mubarak dalam kitabnya az-Zuhd no. 1211, al-Mundziri dalam at-Targhiib dan at-Tarhiib dan al-Albani berkata: Hasan shahih (Shahih at-Tarhiib no. 215)]

5. Dianjurkan bersiwak ketika hendak masuk rumah

Telah meriwayatkan Syuraih bin Hani, beliau berkata :

”Aku bertanya kepada ‘Aisyah : “Apa yang dilakukan pertama kali oleh Rasulullah jika dia memasuki rumahnya ?” Beliau menjawab :”Bersiwak”.

(HR Muslim)

6. Dianjurkan bersiwak ketika baru bangun tidur (siang maupun malam)

dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

“Artinya : Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tidur pada malam hari atau siang hari kemudian beliau bangun melainkan beliau pasti gosok gigi terlebih dahulu sebelum berwudhu”

[Shahiih; HR Abu Daud]

7. Bersemangat dalam bersiwak

Dan hadits dari Amir bin Rubai’ah, dia berkata,

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (berulang kali) –hingga aku tidak bisa menghitungnya- bersiwak padahal beliau sedang berpuasa*”

[Hadits Riwayat Ahmad III/445, Abu Dawud no. 2364 dan At-Tirmidzi no. 725 dan Bukhari menyebutkannya secara mu’allaq dalam Bab As-Siwak Ar-Rathbu Wa Al-Yabisu Li Ash-Shaim; kutip dari: almanhaj.or.id]

*Sebagai bantahan pihak yang memakruhkan siwak ketika puasa. Bahkan telah ada ATSAR (dari mu’aadz, dengan sanad yang baik) yang MENGINGKARI PENDAPAT TERSEBUT.

Dari Abdurrahman bin gonim berkata :

“Aku bertanya kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu: Apakah aku bersiwak padahal aku berpuasa?”

Beliau menjawab :”Ya”

Aku berkata : “Di siang hari kapan?”, Beliau berkata :”Di waktu pagi dan sore”.

Aku berkata :”Orang-orang membenci (bersiwak) pada sore hari. Dan mereka berkata (berdalil akan pemakruhan ini dengan mengatakan) bahwa Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bau mulutnya orang yang berpuasa sungguh lebih baik di sisi Allah daripada bau misik”.

Beliau berkata:

“Subhaanallaah! Rasuulullaah sungguh telah memerintahkan mereka untuk bersiwak dan tidaklah layak (bagi mereka) atas apa yang mereka telah diperintahkan oleh Rosulullah, mereka sengaja membuat mulut mereka menjadi berbau busuk. Tidak ada pada perbuatan mereka itu kebaikan sedikitpun, bahkan kejelekan yang ada pada perbuatan mereka itu.”

[HR ath Thabraaniy; Berkata Al-Haafizh dalam “Talkhis” hal 113 : “Sanadnya baik” (Lihat irwaul golil hal 1/106); kutip dari web ustadzfiranda]

Berkata Syaikh Ali Bassam :

“Tidak ada dalil[1. Adapun riwayat:

إِذَا صُمْتُمْ فَاسْتِكُوْا بِالْغَدَاةِ وَلاَ تَسْتَكُوْا بِالْعَشِيِّ

“Jika kalian berpuasa maka bersiwaklah ketika pagi hari dan janganlah kalian bersiwak ketika sore hari” (setelah zawal-pent).

Maka hadits diatas DHA’IF. Dan riwayat ini pun bertentangan dengan atsar dari Mu’aadz diatas. Yang sanadnya lebih baik daripada riwayat diatas.

Hadits diatas diriwayatkan ad Daaruquthni dari hadits Ali bin Abi Tolib, penjelasan tentang kedha’ifannya terdapat dalam irwa’ul ghalil.] pada hadits ini (yaitu hadits لَخُلُوْفُ فَمِ …. ) [untuk memakruhkan bersiwak ketika puasa, -abuzuhriy]. Sebab siwak tidaklah bisa menghilangkan bau yang timbul dari sumbernya yaitu dari lambung, berbeda dengan mulut yang bisa dibersihkan dengan siwak”

(Taudihul Ahkam 1/106; kutip dari ustadzfiranda)

8. Bersungguh-sungguh dalam bersiwak

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy, ia berkata :

“Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia sedang bersiwak dengan siwak yang basah. Dan ujung siwak pada lidahnya dan dia sambil berkata “Uh- uh”. Dan siwak berada pada mulutnya seakan-akan beliau muntah”.

(HR al BUkhaariy, Muslim, dll)

Bahkan Rasuulullaah bersiwak ketika hendak wafat.

Dari ‘Aisyah berkata :

“Abdurrohman bin Abu Bakar As-Sidik menemui Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersandar di dadaku. Abdurrohman membawa siwak yang basah yang dia gunakan untuk bersiwak.

Dan Rasuulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang siwak tersebut (dengan pandangan yang lama).

Dalam riwayat lain ‘Aisyah berkata :

”…maka akupun tahu bahwa beliau menyukainya, lalu aku berkata : ‘Aku ambilkan siwak tersebut untuk engkau?” Maka Rosulullah mengisyaratkan dengan kepalanya (mengangguk-pent) yaitu tanda setuju…”

Maka aku pun lalu mengambil siwak itu dan menggigitnya (untuk dibersihkan-pent) lalu aku membaguskannya kemudian aku berikan siwak tersebut kepada Rosulullah, maka beliaupun bersiwak dengannya. Dan tidaklah pernah aku melihat Rasulullah bersiwak yang lebih baik dari itu.

Dan setelah Rosulullah selesai dari bersiwak dia pun mengangkat tangannya atau jarinya lalu berkata : fii rafiiqil a’la (ke tempat yang paling tinggi), Beliau mengatakannya tiga kali. Kemudian beliau wafat.

(HR al Bukhaariy, Muslim, dll)

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Adab

Metode pembacaan al Qur’an

Tidak setiap orang sama metode membaca al Qur-aannya.

1. Ada yang membaca al Qur-aan melalui mush-haf (yaitu kitab al Qur-aan yang murni, tidak ada terjemahan, tafsiir, dll)

Rasuulullaah bersabda:

من سره أن يحب الله و رسوله فليقرأ في المصحف

“Barangsiapa yang senang dengan cinta Allah dan Rasul-Nya, hendaklah ia membaca al-mushaf (al-qur’an)”

(HR. Ibnu ‘Adiy, Abu Nu’aim, al Baihaqiy, dll; Hasan, Shahiihul Jami’ 6289)

Disebutkan salah seorang guru kami: “disini Rasuulullaah menyebutkan dengan ‘al mush-haf’, menunjukkan keutamaan membaca al Qur-aan melalui mush-haf. wallaahu a’lam”

Metode ini direkomendasi bagi orang-orang yang memang sudah paham bahasa arab, atau paling tidak, ia mengenal sebahagian besar kosakata yang ada dalam al Qur-aan, sehingga ia tahu apa yang sedang ia baca. Apakah berarti terlarang bagi orang yang belum paham bahasa arab, atau belum tahu banyak kosakata yang ada dalam al Qur-aan? tidak demikian, boleh baginya membaca langsung dari mush-haf, dalam rangka menggapai keutamaan diatas.

2. Ada yang membaca al Qur-aan dengan hafalan

Jangan kira, orang yang membaca al Qur-aan hanya yang “membaca kitab” saja. Bahkan termasuk orang yang MEMBACA al Qur-aan, jika ia membaca dari hafalannya! Apakah kita hendak menghukumi Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam TIDAK PERNAH MEMBACA AL QUR-AAN?! (bukankah nabi tidak bisa membaca dan menulis?!)

Metode ini direkomendasi kepada orang-orang yang ingin menghafal ayat-ayat al Qur-aan, atau untuk mengetes hafalannya. Alangkah baiknya dibaca bersama gurunya, atau bersama temannya yang berilmu tentang ilmu al Qur-aan, yang akan mengoreksi hafalannya apabila keliru, dan bacaannya apabila keliru.

3. Ada yang membaca al Qur-aan melalui terjemahan [baik itu berbentuk kitab, atau berbentuk software] (tentunya, bukan terjemahan total, tapi ada ayat al Qur-aannya dan ada terjemahannya)

Mereka yang mengamalkan ini, ingin membaca al Qur-aan disertai tadabbur; hanya saja mereka belum memiliki kemampuan bahasa arab, dan pembendaharaan bahasa arab mereka masih kurang. maka mereka membaca al Qur-aan dengan terjemahan. Setelah baca satu ayat, maka mereka membaca terjemahannya. [disebut ‘mereka’, bukan berarti ‘mereka’ membaca secara berjama’ah lho. hehe]

4. Ada yang membaca al Qur-aan melalui bimbingan guru (tahsin)

Yaitu gurunya membaca ayat, kemudian murid-muridnya mengikuti bacaan gurunya. Kemudian gurunya menyuruh murid-muridnya satu demi satu mengulang bacaannya; sampai ia membaca baik dan benar. Hal ini sangat bermanfa’at bagi mereka yang masih kurang baik bacaannya, sehingga dengan menghadiri majelis-majelis seperti ini akan baiklah dan benarlah cara pembacaan al Qur-aan mereka.

5. Ada yang membaca al Qur-aan melalui kitab-kitab tafsiir.

Ini dalam rangka perwujudan mentadabburi al Qur-aan, bagaimana seseorang hendak mentadabburi al Qur-aan kalau ia tidak memiliki ilmu tentang ayat-ayatNya?! (khususnya lagi ayat-ayat yang membutuhkan penjelasan, agar seseorang bisa memahaminya dengan baik dan benar)

Allaah berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?

(QS. Muhammad : 24)

Metode pembacaan ini juga dalam rangka mengamalkan hadits untuk menuntut ilmu, dan juga dalam rangka mengamalkan hadits untuk mempelajari al Qur-aan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al Qur`an dan mengajarkanya”.

[Diriwayatkan Imam al Bukhari, no. 5027; Fat-hul Bari, 8/692]

Didalam metode inipun ada dua cara:

– pergi ke majelis tafsiir al Qur-aan, dengan bimbingan ulamaa’ dan asaatidzah yang mana kita dibacakan langsung dari kitab-kitab tafsiir para ulama terdahulu (dan ini yang paling afdhal);

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فَلَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَتَعَلَّمَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلَاثٌ خَيْرٌ مِنْ ثَلَاثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنْ الْإِبِلِ

“Sungguh, seorang dari kalian berpagi-pagi berangkat ke Masjid lalu ia mempelajari dua ayat dari Kitabullah (Al Qur’an) adalah lebih baik baginya daripada dua ekor Unta. Dan tiga ayat lebih baik daripada tiga ekor unta serta empat ayat juga lebih baik dari pada empat ekor unta dan dari sejumlah unta.”

dalam riwayat Abu Dawud lafazhnya:

فَلَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَتَعَلَّمَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَإِنْ ثَلَاثٌ فَثَلَاثٌ مِثْلُ أَعْدَادِهِنَّ مِنْ الْإِبِلِ

“Sungguh salah seorang diantara kalian setiap hari datang ke Masjid, mempelajari dua ayat dari Kitab Allah ‘azza wajalla adalah lebih baik baginya daripada dua ekor unta, dua ayat lebih baik daripada tiga unta, seperti bilangan-bilangan unta tersebut.”

[HR. Ahmad, dishahiihkan oleh syaikh al-albaaniy dalam shahiihul jaami’; diriwayatkan pula dengan lafazh yang serupa oleh Muslim dan Abu Dawud (sanadnya pun shahiih, dishahiihkan oleh syaikh al-albaaniy dalam shahiih abi dawud)]

– membeli kitab-kitab tafsiir (tentunya tafsiir PARA ULAMA’ yang berlandaskan manhaj yang shahiih), kemudian ia mempelajari ayat demi ayatnya.

Mana yang lebih utama?

Tidak bisa dimutlakkan mana yang paling utama. Terkadang yang ini lebih utama daripada yang lain. Masing-masing orang berbeda-beda. Dan masing-masing memiliki waktu-waktu yang mana yang satu lebih utama daripada yang lain.

Apapun metodenya, maka mereka semua termasuk dalam sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa membaca satu HURUF dari Kitabullah (Al Qur`an), maka baginya satu pahala kebaikan dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali, aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf dan MIIM satu huruf.”

(HR at Tirmidziy, dan beliau berkata; Hadits ini hasan shahih gharib dari jalur ini)

Semoga bermanfa’at

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, al-Quran

Jangan terburu-buru dalam memvonis orang

Berkata salah seorang salafush shaalih:

“Barangsiapa yang keutamaannya lebih banyak dari kekurangannya, maka kekurangannya itu akan tertutup oleh keutamaannya. Sebaliknya, orang yang kekurangannya mendominasi, maka keutamaannya pun akan tertutupi oleh kesalahannya itu”

Para ulama juga menyebutkan:

“Barangsiapa yang SEDIKIT SALAHnya dan BANYAK BENARnya maka dia adalah seorang ‘AALIM. Dan barangsiapa yang LEBIH BANYAK SALAHNYA DARIPADA BENARNYA maka dia adalah orang yang JAAHIL (bodoh)”

[Jami’ Bayan Fadhli Al-Ilmi karya Ibnu Abdil Barr (II/48); kutip dari almanhaj]

Maka JANGANLAH TERBURU-BURU akhi…

Meskipun kita melihat dalam diri seseorang, ada padanya SATU atau BEBERAPA kekeliruan atau bahkan kesesatan… Maka jangan langsung disematkan dulu padanya “adh dhall”, “faasiq”, “mubtadi”, dll.

Apakah kita SUDAH MENGENAL orang tersebut (dalam keseluruhan aspek) :

– sehingga KITA MENGETAHUI bahwa orang tersebut salahnya lebih banyak dan mendominasinya daripada benarnya?

– sehingga kita mengetahui keburukannya lebih mendominasi daripada kebaikannya?

– sehingga kita mengetahui bahwa kerusakannya lebih mendominasi daripada perbaikannya?

Jika TIDAK MENGETAHUI… Maka JANGAN TERBURU-BURU…

Takutlah akan sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

لَا يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالْفُسُوقِ وَلَا يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ

“Tidaklah seseorang MELEMPAR TUDUHAN kepada orang lain dengan KEFASIQAN, dan tidak pula MENUDUH dengan KEKUFURAN… melainkan (tuduhan itu) akan kembali kepadanya, jika orang yang ia tuduhkan tidak seperti itu.”

(HR. Bukhariy)

Dan INGAT… akhlaq (buruk) WANITA (yang menyebabkan kebanyakan mereka masuk neraka) adalah:

“Andaikata seorang suami berbuat KEBAIKAN SEPANJANG MASA, kemudian seorang istri melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari seorang suami, maka si istri akan mengatakan: ‘aku tidak melihat kebaikan sedikitpun darimu’…”

(sebagaimana diriwayatkan dalam shahiih al bukhaariy)

Na’uudzubillaah

Simak juga: “http://abuzuhriy.com/larangan-sembarangan-memvonis-seseorang-tertentu-dengan-vonis-kafir-atau-ahlul-bidah/

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, Akhlak, Ukhuwwah Islamiyyah