Category Archives: Akhlak

Seburuk-buruk teman

Seburuk-buruk teman… adalah mereka yang membenarkanmu saat engkau salah… Engkau yang tadinya sadar akan kesalahanmu; malah akhirnya merasa benar, karena pembelaan kawanmu…

Teman jenis seperti inilah yang akan disesali pada hari kiamat kelak, Allah berfirman tentang penyesalan orang yang memiliki teman seperti ini: يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا] [[Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si A itu teman akrab(ku). (al-Furqan: 28)]]

Kita, sebagai teman, jangan sampai membenar-benarkan teman kita yang sedang salah… Ingatkan dan luruskan ia ketika salah… Bukan malah membelanya membabi buta, padahal kita tahu ia salah…

Dan kita, terhadap teman yang selalu menasehati kita; maka jangan pernah tinggalkan mereka hanya karena mereka selalu mengingatkan serta meluruskan kita… Bersabarlah untuk tetap bersama-sama mereka… Karena Allah telah memerintahkan kita akan hal tersebut…

Allah berfirman: وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا [[Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan sore hari yang mengharapkan keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya, yang keadaannya itu melewati batas. (al-Kahfi: 28)]]

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Tazkiyatun Nufus

Indahnya Risalah Rasulullah ﷺ

Sesungguhnya Aku Tidaklah Diutus, Kecuali Untuk Menyempurnakan Akhlaq Mulia

Berkata Abu Bakar al-Warraaq rahimahullaah:

إِنَّ اللَّهَ بَعَثَ نَبِيَّهُ ، عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ، لِيَدْعُوَ الْخَلْقَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى ، وَإِنَّمَا طَلَبَ مِنْهُمْ عَمَلَ أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ : الْقَلْبُ ، وَاللِّسَانُ ، وَالْجَوَارِحُ ، وَالْخُلُقُ

Sesungguhnya Allaah mengutus NabiNya ‘alayhish shalaatu was sallam agar mendakwahkan manusia kepada Allaah. (Yang dalam dakwah itu) Mereka hanya diminta tentang empat amalan berikut : amalan hati, amalan lisan, amalan anggota badan, dan berbudi pekerti.

وَإِنَّمَا طَلَبَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْأَرْبَعَةِ ، شَيْئَيْنِ

Dari masing-masing empat ini, beliau meminta dua hal.

أَمَّا الْقَلْبُ ، فَطَلَبَ مِنْهُ تَعْظِيمَ أُمُورِ اللَّهِ تَعَالَى ، وَالشَّفَقَةَ عَلَى خَلْقِهِ

Adapun amalan hati, maka mereka diminta untuk mengagungkan Allaah dan berbuat baik kepada makhluqNya

وَأَمَّا اللِّسَانُ فَطَلَبَ مِنْهُ ذِكْرَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى الدَّوَامِ ، وَمُدَارَاةَ الْخَلْقِ

Adapun amalan lisan, maka mereka diminta untuk senantiasa berdzikir kepada Allaah, dan membahagiakan makhluqNya

وَأَمَّا الْجَوَارِحُ ، فَطَلَبَ مِنْهَا عِبَادَةَ اللَّهِ تَعَالَى ، وَعَنِ الْمُسْلِمِينَ

Adapun amalan anggota badan, maka mereka diminta untuk beribadah kepada Allaah, dan (menolong) kaum muslimiin

وَأَمَّا الْخُلُقُ فَطَلَبَ مِنْهُ الرِّضَا بِقَضَاءِ اللَّهِ تَعَالَى ، وَحُسْنَ الْمُعَاشَرَةِ مَعَ الْخَلْقِ وَاحْتِمَالَ أَذَاهُمْ

Adapun berbudi pekerti, maka mereka diminta ridha terhadap ketetapan Allaah, dan berbuat baik dalam pergaulan mereka terhadap sesama, serta tabah menghadapi gangguan mereka.

(Tanbiihul Ghaafiliin 1/522, via shamela online)

Sungguh indah risalah yang dibawa Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam… Yang mencakup seluruh aspek kehidupan kita, dari sisi hubungan kita dengan Allaah, dan hubungan kita sesama makhluuq; yang dalam penunaian hak-hak ini terbagi menjadi empat bagian: amalan hati, amalan lisan, amalan anggota badan, juga dalam hal berbudi pekerti.

Amalan hati

Adapun amalan hati, maka kita dituntut dua hal:

1. Hanya mengagungkan Allaah semata; tidak boleh kita meninggikan siapapun daripadaNya, termasuk DIRI KITA sendiri.

Sesungguhnya penyebab awal kekufuran manusia kepada Allaah karena pengagungannya kepada selain Allaah, sehingga dia melampaui batas terhadap hal itu hingga menjadikannya kufur kepada Allaah, na’uudzubillaah. Sebagaimana penyebab awal keimanan dalam diri seseorang ketika dia menjadikan Allaah sebagai hal yang teragung dihatinya, dia tinggalkan pengagungannya kepada selainNya, termasuk dirinya sendiri. Maka tempuhlah sebab-sebab menetapnya iman dalam hati kita, dan jauhilah sebab-sebab terhapusnya iman dalam hati kita.

2. Hendaknya kita, -dengan hati kita- berbuat baik kepada makhluqNya.

Yakni dengan menginginkan kebaikan untuk mereka sebagaimana pada diri kita dan tidak menyukai keburukan pada mereka kita benci hal tersebut menimpa diri kita. Maka paling minimalnya adalah hendaknya mereka selamat dari keburukan hati kita: su’zhann, hasad, permusuhan karena pribadi, dan lain-lain.

Amalan lisan

Demikian amalan lisan, maka kita juga dituntut dua hal:

1. Senantiasa mensucikan Allaah, memujiNya, serta mengagungkanNya setoap waktu kita, yang hendaknya lidah kita selalu basah karena hal ini.

Aktifitas dzikir ini akan berefek pada hati kita, yang dengan dzikir ini kita membersihkan hati kita dari kotoran, serta menguatkan hati kita diatas kebenaran.

Demikian pula apabila lisan kita sibuk dengan hal ini, maka kita akan dibimbing untuk melakukan kebaikan lainnya dsri lisan kita (berkata yang benar, berkata jujur, dan tidak keluar darinya kecuali kebaikan); sebaliknya pula, dengan sibuk berdzikir, maka lisan kita akan dipalingkan dari hal-hal yang jelek (perkataan dusta, buruk, jelek maupun yang tidak ada manfaatnya.

Efek lain dari dzikir, adalah pengaplikasian kita terhadap kandungan dzikir yang kita baca; apabila kita senantiasa mensucikanNya (bertasbih), maka kita akan dibimbingNya jauh dari amalan bathil lagi mungkar. Sebagaimana apabila kita senantiasa memujiNya dan membesarkanNya, maka kita akan dibimbing beramal ketaatan dengan penuh kekhusyu’an.

2. Membahagiakan orang lain

Membahagiakan orang lain dengan lisan merupakan puncak kebaikan amalan lisan dalam hubungan kita dengan sesama manusia, terlebih lagi terhadap sesama muslim. Paling minimal yang dapat kita perbuat adalah tidak menyakiti mereka dengan lisan kita. Oleh karenanya ada perkataan yang indah: “apabila engkau tidak dapat membahagiakan orang lain, maka jangan sampai engkau justru menjadi penyebab kesedihan bagi orang lain”. Maka seorang pengikut Rasuulullaah yang benar lagi jujur adalah yang lisannya tidak menyakiti orang lain, bahkan lisan yang sedapat mungkin membahagiakan orang lain.

Amalan anggota badan

Berlaku pula hal yang sama dalam hal amalan anggota badan:

1. Kita dituntut untuk beribadah kepada Allaah (semata).

Kita hanya ruku’ serta sujud kepadaNya, bukan kepada selainNya. Kita sibukkan diri kita dengan menaatiNya karena itulah tujuan hidup kita, karena kita diciptakan hanya untuk beribadah kepadaNya. Pengorbanan kita dengan mau untuk bergerak dan berusaha di jalanNya adakah bukti nyata keimanan yang kita ucapkan dalam lisan kita, dan sebagai bukti bahwa adanya iman di hati kita. Maka apabila seseorang tidak mau ruku’ serta sujud padaNya, maka hendaklah ia introspeksi lagi pengakuan keimanannya kepada Allaah… Jangan-jangan klaimnya ini tidak benar atua bahkan dusta… Hendaknya ia introspeksi lagi keimanan yang ada di hatinya… Jangan-jangan keimanan itu justru telah hilang dihatinya… Na’uudzubillaah…

2. Kita dituntut untuk menolong kaum muslimiin

Karena konsekuensi dari iman kepada Allaah adalah mencintai kaum yang beriman kepada Allaah. Dan wujud nyata kecintaan kita kepada mereka adalah menolong mereka. Menolong disini dengan dua makna: makna yang pertama adalah tolong menolong dalam mewujudkan tujuan hidup bersama (yaitu beribadah kepada Allaah), sehingga kita menolong mereka agar berada diatas jalan Allaah, menolong mereka untuk tetap diatas hal itu, menolong mereka agar jangan sampai keluar dari batasanNya, dan menolong mereka untuk kembali ke jalanNya. Kemidian makna yang kedua adalah tolong menolong dari sisi sosial dan kemanusiaan; sehingga kita menolong mereka dari kesusahan mereka (dari yang paling ringan, sampai yang peling berat). Sesungguhnya pertolongan Allaah itu senantiasa menanugi kita apabila kita senantiasa menolong hambaNya, terlebih hambaNya yang beriman padaNya.

Berbudi pekerti

Kemudian yang terakhir, pada perkara akhlaaq; yang inipun dituntut dua hal:

1. Akhlaq kita kepada Allaah, agar kita menerima segala ketetapanNya

Ingatlah bahwa ketetapanNya itu PASTI BAIK bagi hambaNya, terlebih lagi bagi hambaNya yang beriman. Ingatlah bahwa dibalik ketetapanNya ada perintah untuk sabar (dan ini minimalnya), yakni kita menahan lisan maupun perbuatan kita dari berkata/berbuat dengan perkataan/perbuatan yang tidak diridhaiNya; seperti meratap, menolak takdir, apalagi sampai mencela takdir, apalagi sampai mencelaNya; na’uudzubillaah.

Kemudian setingkat diatas sabar, yaitu ridha; dia tidak hanya menahan diri dari hal yang mungkar, bahkan hatinya dalam keadaan rela ketika mendapati ketetapanNya; kerelaan hatinya ini membimbingnya untuk mengucap istirja (inna lillaahi wa inna ilayhi raaji’uun); itulah yang terucap di lisannya, dan ucapan ini benar-benar dipahami hatinya, benar-benar dengan penghadiran hatinya. Ia benar-benar mengucapnya dengan keridhaan, ketundukan dan kepasrahan terhadap Rabbnya.

Tahukah kita bahwa ternyata masih ada yang tingkatan diatas itu? Ya, itulah syukur. Bukan hanya istrija saja yang keluar dari lisannya, bahkan dalam kondisi seperti ini dia masih menyempatkan memuji Allaah, sebagaimana hal ini merupakan akhlaq dari Rasuulullaah. Apabila beliau mendapati sesuatu yang tidak beliau sukai, maka beliau berucap: “Alhamdulillaah ‘ala kulli haal” (segala puji bagi Allaah dalam segala keadaan). Mengapa demikian? Karena telah terpatri dalam hati-hati mereka segala nikmat yang Allaah berikan pada mereka yang tiada terhingga, sehingga ketika Allaah menguji mereka, maka mereka tetap ingat akan segala kebaikanNya; sehingga mereka tetap mengucapkan kalimat syukur, bahkan pada kondisi yang tidak mereka sukai. Sungguh yang demikian sangat sedikit, maka semoga Allaah menggolongkan kita menjadi termasuk yang sedikit ini, aamiin.

2. Akhlaq kita terhadap makhluuq, agar kita bergaul dengan baik kepada mereka, dan kita sabar terhadap gangguan mereka.

Yang pertama kali harus diingat dalam hal ini yaitu: bahwa Allaahlah yang memerintahkan kita berbuat baik kepada makhluqNya, dan Allaahlah yang memerintahkan kita bersabar dari gangguan mereka. Bahkan ingat pula, ketika kita diganggu, maka inipun terjadi karena ketetapan Allaah; hanya saja hal ini terjadi melalui perantaraan makhluqNya. Maka sebagaimana kita bersabar terhadap ketetapanNya pada perkara yang tidak menyangkut hamba-hambaNya; maka kita pun bersabar pada ketetapanNya yang diujikan pada kita melalui hamba-hambaNya, dengan mengingat ini, maka kita akan lebih terbantu untuk sabar. Jangan hanya melihat bahwa kita berhadapan dengan manusia, tapi lihatlah dari sudut pandang bahwa ini merupakan ujian Allaah atas kita, yang hendaknya kita mencari balasanNya ketika menyikapi hal ini. Maka apabila kita sudah bersudut-pandang demikian, maka tidaklah kita berucap, tidaklah kita berbuat; melainkan hanya karenaNya, dan dengan pertimbangan yang sesuai dengan keridhaanNya.

Semoga pemaparan singkat ini dapat semakin membuka hati kita, dapat semakin menambahkan kecintaan kita kepada Allaah dan RasulNya. Kita lebih tahu lagi akan indahnya agamaNya, yang diwahyukanNya melalui RasulNya yang mulia, Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam; yang tidaklah hal itu memberatkan kita, bahkan memudahkan kita; yang hanya dengan agama ini saja kita dapat berjumpa denganNya dalam keadaan dia ridha kepada kita. Semoga Allaah senantiasa memberikan petunjukNya pada kita semua, menetapkan kita diatas hal itu hingga wafat kita, sehingga kita dibangkitkan diatas hal tersebut, aamiin yaa rabbal ‘aalamiin. Wa shallallaahu wa sallama ‘ala nabiyyina Muhammadin an-nabiyyil ummiyyi wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Aqidah, Tazkiyatun Nufus

Selalu uji perkataanmu dengan perbuatanmu

Perkataanmu tidaklah berguna apabila ia perbuatanmu menyatakan sebaliknya

Sungguh indah perkataan Ibraahiim at-Taymiy:

مَا عَرَضْتُ قُولِي عَلَى عَمَلِي إِلَّا خَشِيتُ أَنْ أَكُونَ مُكَذِّبًا

“Tidaklah aku membandingkan antara PERKATAANKU atas AMALANKU; melainkan aku takut menjadi seorang PENDUSTA”

Karena seseorang yang memperbagus perkataannya, dengan sebagus-bagusnya perkataan; tapi perkataannya tersebut tidak terealisasi dan terbuktikan pada amalannya; maka dikhawatirkan bahwa orang ini bisa termasuk golongan pendusta.

Sekiranya orang yang menghiasi dirinya dengan ILMU tersebut tujuannya untuk BERAMAL dengannya (untuk kehidupan akhiratnya), maka PASTI ilmu tersebut akan menjadikan dirinya terhiasi dengan AMAL. Sedangkan orang yang menghiasi dirinya dengan ILMU semata-mata hanya untuk tujuan duniawi; maka illmu tersebut tidak akan menghiasinya dengan AMAL.

Tidakkah kita lihat bagaimana Allaah mencela para penyair?

Allaah berfirman:

وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ

dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?

(asy-Syu’araa`: 226)

Bahkan inilah perbuatan yang paling dibenci oleh Allaah, sebagaimana firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

(ash-Shaff: 2-3)

Maka hendaknya kita senantiasa menguji setiap perkataan kita dengan perbuatan kita. Jangan sampai kita termasuk para pendusta, karena mengatakan sesuatu tapi justru kita menyelisihi perkataan tersebut.

Siapa saja orang yang perkataannya menyalahi perbuatannya?

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Tazkiyatun Nufus

Manusia tempatnya AIB (kesalahan dan kekurangan)

Menutup Aib

Jika kita mengetahui dan menyadari bahwa manusia itu tempatnya AIB (kesalahan dan kekurangan)
Maka:

1. Kebaikan dari Allaah, apabila Dia menutupi kebanyakan aib-aib kita dihadapan manusia. Hakikat baiknya seseorang itu karena sedikitnya aib yang tampak darinya, dan banyaknya aib yang Allaah tutup baginya. Jadi apa yang mau dibanggakan padahal kita sendiri mengetahui dan mengakui kita banyak aib, yang itu ditutupi Allaah dari manusia? (Kalau menganggap nggak punya aib, maka ini bukti kurang introspeksi diri, atau justru sibuk dengan aib orang sehingga luput dengan aib-aib sendiri)

2. Berusahalah mengenali aib-aib kita, dan berusahalah memperbaikinya; bukannya malah sengaja menampakkannya bahkan berbangga dengannya. Bahkan Allaah benci terhadap seseorang yang berbangga dengan aibnya, Allaah juga benci terhadap seseorang yang telah Allaah tutup aibnya, tapi dia malah menceritakan aibnya tersebut! Na’uudzubillaah!

3. Berusahalah berteman dengan teman-teman shaalih, yang dengannya mereka mengingatkan kita tentang aib kita. Terkadang kita sudah mencari aib, tapi tidak dapat kita deteksi sendiri; baru bisa dideteksi teman kita, sehingga dia mengingatkan kita, yang dengannya kita dapat mengenal aib tersebut dan memperbaikinya. Dan sebaik-baik teman, adalah yang mengingatkan aib kita secara empat mata.

4. Berusahalah menutupi aib-aib orang lain (yg memang tidak menampakkan dan tidak berbangga dengan aibnya). karena jika kita menutup aib mereka, maka Allaah akan tutup aib-aib kita di DUNIA dan di AAKHIRAT. Sebaliknya, jika kita malah membongkar aib yang tidak sepantasnya dibongkar, atau menonjolkan pada seseorang sebuah aib yang sebenarnya tidak pantas ditonjolkan padanya; apalagi sampai mencari-cari aib mereka. Maka berhati-hatilah, maka Allaah akan mencari-cari aib kita; yang dengannya akan tersingkaplah aib kita dihadapan manusia. Maka hendaknya kita melakukan ini karena Allaah (bukan hanya karena dia tidak berbuat jelek kepada kita), sehingga kalaupun kita mendapati orang lain membongkar aib kita; maka jangan sampai kita malah membalas membongkar aibnya, padahal aibnya tersebut tidak pantas dibongkar. Dibongkarnya aib kita, bukan berarti menjadikan ‘halal’ membongkar aib orang yang tidak pantas dibongkar.

5. Ketika aib-aib ditampakkan di DUNIA. Maka masih ada kesempatan untuk bertaubat, agar kita lepas dari aib tersebut. Masih untung aib kita hanya disimak beberapa manusia (berapa paling banyak? Ratusan? Ribuan? Jutaan?)… daripada nanti jika aib kita di tampakkan dihadapan SELURUH MANUSIA (dari nabi adam sampai manusia terakhir)?!

Setelah mengusahakan hal diatas, maka semoga Allaah mewafatkan kita dalam keadaan aib-aib kita ditutupiNya. Karena seorang yang ditutupi aibnya di dunia, lebih berhak ditutupi lagi di aakhirat.
Sudahkah anda membaca dzikir:

اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِيْ، وَآمِنْ رَوْعَاتِيْ

Allahummastur ‘awraatiy, wa aamin råw-‘aatiy

Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut.

Bacalah… Dengan penghadiran hati… Semoga diijabah… Aamiin

1 Komentar

Filed under Akhlak

Sering-seringlah menyenangkan hati IBU

Ampunilah Kedua Orang tuaku

Sering-seringlah menyenangkan hati IBU…

Jangan sampai karena terlalu sibuk terhadap diri sendiri… Jadi lupa dengan ibu…

Baru ingat pas beliau udah tiada… Kita kemana aja ketika beliau masih dalam keadaan sehat?

Atau sebaliknya… Baru ingat untuk berbakti kepada ibu… Ketika nyawa udah di kerongkongan… Ketika itu kita tidak dapat melakukannya… Meski ibu kita masih sehat…

Berikut ada kisah yang amat sangat menarik, yang semoga dapat kita ambil pelajaran, yang diharapkan dengannya kita dapat semakin memperbaiki hubungan kita dengan ibu kita (termasuk disini KEDUA ORANG TUA kita)…

Berkata Ustadz Syafiq Riza Basalamah pada salah satu majelisnya :

“Saya ingin bercerita kisah nyata yang saya dengar dari syaikh saat menuntut ilmu di Madinah. Semoga saya dan kita semua yg hadir (di majelis ini), bisa mendapat ibrah & faidah.dari kisah ini:

Sepasang suami istri, telah menikah 21 tahun lamanya, namun suami ini jarang sekali mengunjungi ibu-nya sendiri kecuali hanya pada hari raya saja.

Di suatu malam istri bertanya, “Wahai Suamiku, tidak inginkah kau keluar malam ini dengan seorang wanita?” Suami terkejut. “bersama seorang wanita? Apa maksudmu? Aku tak mengerti?
Sang istri berkata, “iya, Seorang wanita, Ibu-mu… Ibu-mu, wahai suamiku..”.

Si suami terheran dan terdiam, merenungkan dan menyadari bahwa selama ini ia tak memiliki waktu khusus dengan ibunya. Terlebih di usia 40 tahun ini ia sibuk dg istri , keluarga dan pekerjaannya.

Ia pun segera menelpon ibu-nya, hanya untuk mengajak makan malam bersama…

Saat si anak mengutarakan keinginannya, ibu-nya terheran-heran dan bingung:

“Ada apa anakku? Apa yang terjadi? Ada apa dengan istri & anak2mu? Ada apa? Kenapa tiba-tiba mengajakku pergi?” Tanya sang ibu.

Jawab sang anak: “Tidak ibu, istri & anak-anaku baik, pekerjaan ku juga lancar dan tidak ada apa-apa, sungguh bu tidak ada apa-apa. Begini Ibu… Aku hanya ingin mengajak ibu makan malam. Bagaima bu ? bisa yaa”

Di ujung telepon, sang ibu sangat terharu. Karena setelah sekian lama, akhirnya ia memiliki waktu khusus bersama puteranya seperti tak kala dahulu menyusui, mendidik dan mengantar puteranya sekolah.

Sore itu juga putera-nya menuju rumah sang ibu, sesampai di rumah ibunya, terlihat dengan jelas ibunya sudah berdiri di depan pintu rumah dengan pakaian rapih senyum yang tulus menyambut puteranya.

Sesampai di rumah sang ibu, terlihat beliau sudah berdiri di depan pintu rumah dengan pakaian yang begitu rapi, dan senyum yang teramat tulus untuk menyambut anak tercintanya. Sangat terlihat bahwa ibu-nya tak ingin terbuang waktunya barang sedetikpun.

Setelah salam keduanya menuju mobil dan masuklah ke dalam mobil, senyum kebahagiaan terus terlihat jelas dipipi sang ibu, sepanjang perjalananpun sang ibu memperhatikan puteranya dan tersenyum kepada puteranya hingga berkatalah Ibu “Nak, ibu sangat berbahagia sekali malam ini .. terimakasih ya nak…”. Puteranya pun membalasnya, “sama bu begitu juga aku, bu..”, sambil mencium tangan sang ibu. Lalu mereka pun berangkat menuju restoran.

Setelah tiba di restoran keduanya duduk dan tak berapa lama makanan telah terhidang… Si ibu menuangkan minuman ke gelas anaknya dan sesekali menyuapkan hidangan ke mulut anaknya demikian seterusnya episode kasih sayang ibu dan anak berlanjut. Si Ibu seakan tak ingin melewatkan waktu terbuang sedikitpun. Sungguh tampak sekali kerinduan dan kasih sayang yang (mungkin) tak dimiliki oleh istrinya sekalipun…

Dilanjutkan oleh ustadz bahwa singkat cerita, tak lama beberapa pekan dari makan malam tersebut, sang ibunda pun meninggal dunia… Inna lillahi wa inna ilayhi rojiun.

Masya Allah … Qodarallah . Pertemuan makan malam itu adalah keberkahan terakhir bagi si anak dan ibunya. Si anak menyesali diri akan yang telah di perbuatnya selama ini.

Ya… itulah malam terakhir(nya bersama ibunya)… sungguh episode hidup yang memang di atur oleh Allah jalla Jalaaluhu… Kenyataan yang harus di terima dengan keihklasan dan dengan mengharap kepada Allah atas Mahabbah(Cinta), Al-Khauf (Takut) dan Ar-Rajaa’ (Harap) serta Ashma Wash shifat Allah, si anak berdoa agar Allah jalla jalaluhu menempatkan ibunda tercinta di sisi nya.

Beberapa hari setelah kepergian sang ibu, si anak mendadak di hubungi oleh seseorang yang mengaku sebagai manager dari salah satu restoran.

“Assalamu’alaykum, apakah benar anda bernama fulan bin fulan? , Naam benar, itu nama saya,.. jawab si anak… “Bapak, Anda dan sekeluarga diundang oleh seseorang untuk makan malam nanti di restoran kami,” ujar manager restoran tersebut. “Oh begitu..sambil keheranan Kalau boleh tahu, siapa yang mengundang ya, pak?” ujarnya dengan keheranan. “Seseorang pak,” jawab si manager.

Singkat cerita Ia pun datang bersama keluarga memenuhi undangan makan malam. Lalu ia bertanya kepada pramusaji “Maaf mas, sebenarnya siapa yang mengundang kami kesini? Mana ya orangnya?”. Jawab si pramusaji : “Saya tidak tahu pak, Silakan duduk dulu pak saya nanti saya tanyakan ke bagian front office.”

Tak lama… pramusaji datang kembali Pramu saji tersebut menjelaskan bahwa tempat dan menu ini sudah dipesan beberapa pekan yang lalu namun pramu saji menegaskan kami untuk tenang karena semua sudah di bayar oleh si pemesan. Pramu saji pun mohon maaf karena ternyata front office sudah berusaha menghubungi si pemesan namun tidak berhasil. Si anak, istri dan keluarganya pun semakin heran…

Ditengah keheranan nya keluarga tersebut mendengar nama pemesan adalah nama yang sangat tidak asing di telinga keluarga bahkan si anak… Nama pemesannya adalah Ibunda tercinta yang telah wafat namun sudah memesan menu, tata letak persis seperti pertemuan makan malam terakhir mereka.

Jadilah kita manusia yang hidup – bukan bangkai hidup.”

(Selesai kisah yang dibawakan Ustadz Syafiq Riza Basalamah; dikutip dari Abu‬ Hanifa Asep Yusuf yang ditulis pada 08 Sya’baan 1436 H / 25 Mei 2015)

Semoga Allaah mengampuni kesalahan kita, dan kesalahan kedua orang tua kita… Serta semoga rahmat Allaah senantiasa meliputi mereka (selama hidupnya hingga wafatnya hingga akhir zaman) sebagaimana keduanya menyayangi kita sepanjang hidup mereka… Aamiin

[Jakarta, 11 Syawwaal 1436 H]

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Keluarga

Orang yang PALING DIBENCI Rasuulullaah ﷺ

Akhlak Buruk

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إن أبغضكم إليَّ وأبعدكم مني في الآخرة أسْوَؤُكم أخلاقًا

Sesungguhnya orang yang PALING AKU BENCI diantara kalian dan PALING JAUH TEMPATNYA dari di aakhirat adalah orang yang BURUK AKHLAQnya.

[Diriwayatkan Ahmad, al-Bayhaqiy dan selainnya; ash-shahiihah (791)]

Dalam riwayat at-tirmidziy (dan beliau menghasankannya), dijelaskan:

وَأَبْغَضُكُمْ إِلَيَّ الثَّرْثَارُونَ الْمُتَشَدِّقُونَ ، الْمُتَفَيْهِقُونَ

Adapun yang PALING AKU BENCI adalah ats-tsartsaaruun, al-mutasyaddiquun, dan al-mutafayhiquun.

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ : قَدْ عَرَفْنَا الثَّرْثَارِينَ الْمُتَشَدِّقِينَ ، فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ ؟

Para shahabat bertanya, adapun ats-tsartsaariin dan al-mutatsyaddiqiin kami mengetahuinya, lantas siapa itu mutafayhiquun?

Dijwab Rasuulullaah:

هُمُ الْمُتَكَبِّرُونَ

Mereka adalah orang-orang yang sombong.

Adapun ats-tsatsaaruun, maka dia adalah orang yang banyak omong dengan pembicaraan yang menyimpang dari kebenaran.

Adapun mutasyaddiquun orang yang berbicara dengan suara lagak untuk menunjukkan kefasihannya, dan bangga dengan perkataannya.

Adapun mutafayhiquun, sebagaimana yang disebutkan Rasuulullaah yaitu orang yang sombong, yakni dalam hal berbicara keras panjang lebar dengan disertai perasaan sombong dan pongah seakan dirinya lebih hebat dari yang lainnya.

(Faidah dari Ust Abu Ihsan, kutip dari almanhaj)

Sebaliknya… Hendaknya kita mengetahui… Bahwa orang yang PALING DICINTAI RASUULULLAAH adalah orang yang PALING BAIK AKHLAQNYA…

Sesungguhnya Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat kelak, yaitu orang yang terbaik akhlaknya.”

Maka semoga kita termasuk orang-orang yang berakhlaq baik… berakhlaq baik kepada Allaah dan berakhlaq baik kepada sesama manusia. Dan bukan termasuk orang yang buruk akhlaqnya, yang buruk akhlaqnya kepada Allaah yang buruk akhlaqnya kepada sesama manusia… Aamiin.

اللَّهُمَّ جَنِّبْنا مُنْكَرَاتِ الأَخْلاقِ ، وَالأَهْوَاءَ ، وَالأَدْوَاءَ

Allaahumma jannibnaa munkaraatil akhlaaq, wal ahwaa`, wal adwaa`


Ya Allaah jauhkanlah kami dari berbagai macam kemungkaran akhlaaq, hawa nafsu, dan segala macam penyakit

اللَّهُمَّ اهْدِنا لأَحْسَنِ الأَخْلاقِ ، فَإِنَّهُ لا يَهْدِي لأَحْسَنِهَا إِلا أَنْتَ ، وَاصْرِفْ عَنّا سَيِّئَهَا لا يَصْرِفُ عَنّا سَيِّئَهَا إِلا أَنْتَ 

Allaahummahdinaa li ahsanil akhlaaq, fa innahu laa yahdi li ahsanihaa illaa anta, washrif ‘anna sayyi`ahaa, laa yashrifu ‘anna sayyi`ahaa illa anta

Yaa Allaah tunjukilah kepada kami akhlaq yang paling bagus, sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada akhlaq yang paling bagus kecuali Engkau. Dan jauhkanlah dari kami akhlaq yang buruk, tidak ada yang dapat menjauhkan keburukan akhlaq dari kami kecuali Engkau.

Aamiin.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak

Membedah Ghibah : Empat Jenis Ghibah

Membedah Ghibah: Empat Jenis Ghibah

Berkata al-Imaam Abul Laits as-Samarqandiy berkata dalam tanbiihul ghaafiliin:

الْغِيبَةُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ

Ghibah (menggunjing) itu ada empat bentuk:

فِي وَجْهٍ هِيَ كُفْرٌ

Dalam bentuknya sebagai kekufuran

وَفِي وَجْهٍ هِيَ نِفَاقٌ

Dalam bentuknya sebagai kemunafiqan

وَفِي وَجْهٍ هِيَ مَعْصِيَةٌ

Dalam bentuknya sebagai maksiat

وَالرَّابِعُ مُبَاحٌ وَهُوَ مَأْجُورٌ

Dalam bentuknya sebagai sesuatu yang diperbolehkan, bahkan berpahala.

فَأَمَّا الْوَجْهُ الَّذِي هُوَ كُفْرٌ فَهُوَ أَنْ يَغْتَابَ الْمُسْلِمَ ، فَيُقَالُ لَهُ لَا تَغْتَبْ فَيَقُولُ لَيْسَ هَذَا غَيْبَةٌ وَأَنَا صَادِقٌ فِي ذَلِكَ. فَقَدِ اسْتَحَلَّ مَا حَرَّمَ اللَّهُ تَعَالَى ، وَمَنِ اسْتَحَلَّ مَا حَرَّمَ اللَّهُ تَعَالَى صَارَ كَافِرًا نَعُوذُ بِاللَّهِ

Adapun ghibah dalam bentuk kekufuran, yaitu apabila ia mengghibah seorang muslim (yang tidak berhak untuk dighibah), maka kemudian dikatakan padanya: “Jangan berghibah!” Maka ia malah berkata: “Ini bukan ghibah, dan aku benar dalam melakukan ini” (padahal dalam hatinya ia tahu bahwa dia sedang mengghibah, -az); Maka dia telah menghalalkan apa yang Allaah ta’aala haramkan, sedangkan barangsiapa yang menghalalkan apa yang telah Allaah ta’aala haramkan menjadikan (pelakunya) kaafir, na’uudzubillah!

وَأَمَّا الْوَجْهُ الَّذِي هُوَ نِفَاقٌ ، فَهُوَ أَنْ يَغْتَابَ إِنْسَانًا فَلَا يُسَمِّيهِ عِنْدَ مَنْ يَعْرِفُ أَنَّهُ يُرِيدُ مِنْهُ فُلَانًا ، فَهُوَ يَغْتَابُهُ وَيَرَى مِنْ نَفْسِهِ أَنَّهُ مُتَورِّعٌ ، فَهَذَا هُوَ لِلنِّفَاقِ.

Adapun dalam bentuknya sebagai nifaaq, yaitu ketika ia mengghibahi orang tertentu tanpa menyebut nama orang tersebut, tapi hal itu disebutkannya pada orang-orang yang mengenal dan mengetahui orang yang disebutnya tersebut, sehingga mereka benar-benar tahu bahwa yang dimaksudkannya tersebut adalah “fulaan”. Maka dia telah menggunjingnya, namun dia menganggap dia terbebas[1] dari itu, maka justru disinilah kemunafiqan tersebut!

وَأَمَّا الَّذِي هُوَ مَعْصِيَةٌ ، فَهُوَ أَنْ يَغْتَابَ إِنْسَانًا وَيُسَمِّيَهُ وَيَعْلَمَ أَنَّهَا مَعْصِيَةٌ فَهُوَ عَاصٍ ، وَعَلَيْهِ التَّوْبَةُ

Adapun ghibah dalam bentuk ma’shiyah, maka ia apabila seseorang mengghibahi seseorang dengan menyebut nama, dan dia mengetahui bahwa ia melakukan maksiat (dengan ghibahnya tersebut); maka inilah merupakan maksiat. Dan atasnya (wajib) taubat (sebagaimana tiga perkara sebelumnya, -az)

وَالرَّابِعُ أَنْ يَغْتَابَ فَاسِقًا مُعْلِنًا بِفِسْقِهِ أَوْ صَاحِبَ بِدْعَةٍ فَهُوَ مَأْجُورٌ ، لِأَنَّهُمْ يَحْذَرُونَ مِنْهُ إِذَا عَرَفُوا حَالَهُ

Adapun bentuk keempat, yaitu mengghibahi orang-orang faasiq yang terang-terangan menampakkan kefasiqannya, atau para penyeru kebid’ahan[2. Tetap dalam perkara ini kita tetap harus berhati-hati, jangan sampai hanya berdasarkan prasangka semata. Jikalau orang yang kita anggap masuk dalam kategori keempat ini ternyata sebenarnya tidak berhak dighibahi, maka terjerumuslah kita dalam dosa ghiibah! Kemudian…

Kalaupun memang orang termasuk boleh dighibahi, maka cukup yang dijelaskan apa yang perlu dijelaskan. Tidak menyerembet kepada masalah lain (bentuk fisik, tata-cara berbicara, dll) yang tidak ada sangkut pautnya dengan kefasiqan maupun kesesatan, maka jika seperti ini, maka kita tetap terjerumus dalam ghibah!

Maka berhati-hatilah! Jangan sampai kita terjatuh dalam perbuatan DOSA BESAR yang mengerikan ini. Yang lebih parahnya, justru kita mengira kita tidak melakukannya, bahkan mengira sedang beribadah; padahal realitanya tidak demikian, na’uudzubillaah!]; maka justru dia mendapatkan pahala, sebab dia telah memperingatkan manusia dan mereka dapat mewaspadai darinya bila mereka mengetahui keadaannya.

Semoga bermanfaat


Catatan Kaki

[1] Sifat ini persis sebagaimana yang Allaah firmankan tentang orang-orang munaafiq:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ . أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشْعُرُونَ

Jika dikatakan kepada mereka: “jangan berbuat kerusakan dimuka bumi”, maka mereka berkata: “Sesungguhnya kami hanyalah berbuat perbaikan”. Nyatalah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka sendiri tidak sadar.

(al-Baqarah: 11-12)

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak