Category Archives: Aqidah

Fakta yang tidak terelakkan

Allah tetaplah Tuhan semesta alam, dan Dia tetap satu-satunya sesembahan yang benar… Meskipun banyak yang menghambakan diri pada selainNya… Meskipun banyak yang menyembah selainNya…

Baca lebih lanjut

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Tauhid Uluhiyyah, Tazkiyatun Nufus

Indahnya Risalah Rasulullah ﷺ

Sesungguhnya Aku Tidaklah Diutus, Kecuali Untuk Menyempurnakan Akhlaq Mulia

Berkata Abu Bakar al-Warraaq rahimahullaah:

إِنَّ اللَّهَ بَعَثَ نَبِيَّهُ ، عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ، لِيَدْعُوَ الْخَلْقَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى ، وَإِنَّمَا طَلَبَ مِنْهُمْ عَمَلَ أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ : الْقَلْبُ ، وَاللِّسَانُ ، وَالْجَوَارِحُ ، وَالْخُلُقُ

Sesungguhnya Allaah mengutus NabiNya ‘alayhish shalaatu was sallam agar mendakwahkan manusia kepada Allaah. (Yang dalam dakwah itu) Mereka hanya diminta tentang empat amalan berikut : amalan hati, amalan lisan, amalan anggota badan, dan berbudi pekerti.

وَإِنَّمَا طَلَبَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْأَرْبَعَةِ ، شَيْئَيْنِ

Dari masing-masing empat ini, beliau meminta dua hal.

أَمَّا الْقَلْبُ ، فَطَلَبَ مِنْهُ تَعْظِيمَ أُمُورِ اللَّهِ تَعَالَى ، وَالشَّفَقَةَ عَلَى خَلْقِهِ

Adapun amalan hati, maka mereka diminta untuk mengagungkan Allaah dan berbuat baik kepada makhluqNya

وَأَمَّا اللِّسَانُ فَطَلَبَ مِنْهُ ذِكْرَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى الدَّوَامِ ، وَمُدَارَاةَ الْخَلْقِ

Adapun amalan lisan, maka mereka diminta untuk senantiasa berdzikir kepada Allaah, dan membahagiakan makhluqNya

وَأَمَّا الْجَوَارِحُ ، فَطَلَبَ مِنْهَا عِبَادَةَ اللَّهِ تَعَالَى ، وَعَنِ الْمُسْلِمِينَ

Adapun amalan anggota badan, maka mereka diminta untuk beribadah kepada Allaah, dan (menolong) kaum muslimiin

وَأَمَّا الْخُلُقُ فَطَلَبَ مِنْهُ الرِّضَا بِقَضَاءِ اللَّهِ تَعَالَى ، وَحُسْنَ الْمُعَاشَرَةِ مَعَ الْخَلْقِ وَاحْتِمَالَ أَذَاهُمْ

Adapun berbudi pekerti, maka mereka diminta ridha terhadap ketetapan Allaah, dan berbuat baik dalam pergaulan mereka terhadap sesama, serta tabah menghadapi gangguan mereka.

(Tanbiihul Ghaafiliin 1/522, via shamela online)

Sungguh indah risalah yang dibawa Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam… Yang mencakup seluruh aspek kehidupan kita, dari sisi hubungan kita dengan Allaah, dan hubungan kita sesama makhluuq; yang dalam penunaian hak-hak ini terbagi menjadi empat bagian: amalan hati, amalan lisan, amalan anggota badan, juga dalam hal berbudi pekerti.

Amalan hati

Adapun amalan hati, maka kita dituntut dua hal:

1. Hanya mengagungkan Allaah semata; tidak boleh kita meninggikan siapapun daripadaNya, termasuk DIRI KITA sendiri.

Sesungguhnya penyebab awal kekufuran manusia kepada Allaah karena pengagungannya kepada selain Allaah, sehingga dia melampaui batas terhadap hal itu hingga menjadikannya kufur kepada Allaah, na’uudzubillaah. Sebagaimana penyebab awal keimanan dalam diri seseorang ketika dia menjadikan Allaah sebagai hal yang teragung dihatinya, dia tinggalkan pengagungannya kepada selainNya, termasuk dirinya sendiri. Maka tempuhlah sebab-sebab menetapnya iman dalam hati kita, dan jauhilah sebab-sebab terhapusnya iman dalam hati kita.

2. Hendaknya kita, -dengan hati kita- berbuat baik kepada makhluqNya.

Yakni dengan menginginkan kebaikan untuk mereka sebagaimana pada diri kita dan tidak menyukai keburukan pada mereka kita benci hal tersebut menimpa diri kita. Maka paling minimalnya adalah hendaknya mereka selamat dari keburukan hati kita: su’zhann, hasad, permusuhan karena pribadi, dan lain-lain.

Amalan lisan

Demikian amalan lisan, maka kita juga dituntut dua hal:

1. Senantiasa mensucikan Allaah, memujiNya, serta mengagungkanNya setoap waktu kita, yang hendaknya lidah kita selalu basah karena hal ini.

Aktifitas dzikir ini akan berefek pada hati kita, yang dengan dzikir ini kita membersihkan hati kita dari kotoran, serta menguatkan hati kita diatas kebenaran.

Demikian pula apabila lisan kita sibuk dengan hal ini, maka kita akan dibimbing untuk melakukan kebaikan lainnya dsri lisan kita (berkata yang benar, berkata jujur, dan tidak keluar darinya kecuali kebaikan); sebaliknya pula, dengan sibuk berdzikir, maka lisan kita akan dipalingkan dari hal-hal yang jelek (perkataan dusta, buruk, jelek maupun yang tidak ada manfaatnya.

Efek lain dari dzikir, adalah pengaplikasian kita terhadap kandungan dzikir yang kita baca; apabila kita senantiasa mensucikanNya (bertasbih), maka kita akan dibimbingNya jauh dari amalan bathil lagi mungkar. Sebagaimana apabila kita senantiasa memujiNya dan membesarkanNya, maka kita akan dibimbing beramal ketaatan dengan penuh kekhusyu’an.

2. Membahagiakan orang lain

Membahagiakan orang lain dengan lisan merupakan puncak kebaikan amalan lisan dalam hubungan kita dengan sesama manusia, terlebih lagi terhadap sesama muslim. Paling minimal yang dapat kita perbuat adalah tidak menyakiti mereka dengan lisan kita. Oleh karenanya ada perkataan yang indah: “apabila engkau tidak dapat membahagiakan orang lain, maka jangan sampai engkau justru menjadi penyebab kesedihan bagi orang lain”. Maka seorang pengikut Rasuulullaah yang benar lagi jujur adalah yang lisannya tidak menyakiti orang lain, bahkan lisan yang sedapat mungkin membahagiakan orang lain.

Amalan anggota badan

Berlaku pula hal yang sama dalam hal amalan anggota badan:

1. Kita dituntut untuk beribadah kepada Allaah (semata).

Kita hanya ruku’ serta sujud kepadaNya, bukan kepada selainNya. Kita sibukkan diri kita dengan menaatiNya karena itulah tujuan hidup kita, karena kita diciptakan hanya untuk beribadah kepadaNya. Pengorbanan kita dengan mau untuk bergerak dan berusaha di jalanNya adakah bukti nyata keimanan yang kita ucapkan dalam lisan kita, dan sebagai bukti bahwa adanya iman di hati kita. Maka apabila seseorang tidak mau ruku’ serta sujud padaNya, maka hendaklah ia introspeksi lagi pengakuan keimanannya kepada Allaah… Jangan-jangan klaimnya ini tidak benar atua bahkan dusta… Hendaknya ia introspeksi lagi keimanan yang ada di hatinya… Jangan-jangan keimanan itu justru telah hilang dihatinya… Na’uudzubillaah…

2. Kita dituntut untuk menolong kaum muslimiin

Karena konsekuensi dari iman kepada Allaah adalah mencintai kaum yang beriman kepada Allaah. Dan wujud nyata kecintaan kita kepada mereka adalah menolong mereka. Menolong disini dengan dua makna: makna yang pertama adalah tolong menolong dalam mewujudkan tujuan hidup bersama (yaitu beribadah kepada Allaah), sehingga kita menolong mereka agar berada diatas jalan Allaah, menolong mereka untuk tetap diatas hal itu, menolong mereka agar jangan sampai keluar dari batasanNya, dan menolong mereka untuk kembali ke jalanNya. Kemidian makna yang kedua adalah tolong menolong dari sisi sosial dan kemanusiaan; sehingga kita menolong mereka dari kesusahan mereka (dari yang paling ringan, sampai yang peling berat). Sesungguhnya pertolongan Allaah itu senantiasa menanugi kita apabila kita senantiasa menolong hambaNya, terlebih hambaNya yang beriman padaNya.

Berbudi pekerti

Kemudian yang terakhir, pada perkara akhlaaq; yang inipun dituntut dua hal:

1. Akhlaq kita kepada Allaah, agar kita menerima segala ketetapanNya

Ingatlah bahwa ketetapanNya itu PASTI BAIK bagi hambaNya, terlebih lagi bagi hambaNya yang beriman. Ingatlah bahwa dibalik ketetapanNya ada perintah untuk sabar (dan ini minimalnya), yakni kita menahan lisan maupun perbuatan kita dari berkata/berbuat dengan perkataan/perbuatan yang tidak diridhaiNya; seperti meratap, menolak takdir, apalagi sampai mencela takdir, apalagi sampai mencelaNya; na’uudzubillaah.

Kemudian setingkat diatas sabar, yaitu ridha; dia tidak hanya menahan diri dari hal yang mungkar, bahkan hatinya dalam keadaan rela ketika mendapati ketetapanNya; kerelaan hatinya ini membimbingnya untuk mengucap istirja (inna lillaahi wa inna ilayhi raaji’uun); itulah yang terucap di lisannya, dan ucapan ini benar-benar dipahami hatinya, benar-benar dengan penghadiran hatinya. Ia benar-benar mengucapnya dengan keridhaan, ketundukan dan kepasrahan terhadap Rabbnya.

Tahukah kita bahwa ternyata masih ada yang tingkatan diatas itu? Ya, itulah syukur. Bukan hanya istrija saja yang keluar dari lisannya, bahkan dalam kondisi seperti ini dia masih menyempatkan memuji Allaah, sebagaimana hal ini merupakan akhlaq dari Rasuulullaah. Apabila beliau mendapati sesuatu yang tidak beliau sukai, maka beliau berucap: “Alhamdulillaah ‘ala kulli haal” (segala puji bagi Allaah dalam segala keadaan). Mengapa demikian? Karena telah terpatri dalam hati-hati mereka segala nikmat yang Allaah berikan pada mereka yang tiada terhingga, sehingga ketika Allaah menguji mereka, maka mereka tetap ingat akan segala kebaikanNya; sehingga mereka tetap mengucapkan kalimat syukur, bahkan pada kondisi yang tidak mereka sukai. Sungguh yang demikian sangat sedikit, maka semoga Allaah menggolongkan kita menjadi termasuk yang sedikit ini, aamiin.

2. Akhlaq kita terhadap makhluuq, agar kita bergaul dengan baik kepada mereka, dan kita sabar terhadap gangguan mereka.

Yang pertama kali harus diingat dalam hal ini yaitu: bahwa Allaahlah yang memerintahkan kita berbuat baik kepada makhluqNya, dan Allaahlah yang memerintahkan kita bersabar dari gangguan mereka. Bahkan ingat pula, ketika kita diganggu, maka inipun terjadi karena ketetapan Allaah; hanya saja hal ini terjadi melalui perantaraan makhluqNya. Maka sebagaimana kita bersabar terhadap ketetapanNya pada perkara yang tidak menyangkut hamba-hambaNya; maka kita pun bersabar pada ketetapanNya yang diujikan pada kita melalui hamba-hambaNya, dengan mengingat ini, maka kita akan lebih terbantu untuk sabar. Jangan hanya melihat bahwa kita berhadapan dengan manusia, tapi lihatlah dari sudut pandang bahwa ini merupakan ujian Allaah atas kita, yang hendaknya kita mencari balasanNya ketika menyikapi hal ini. Maka apabila kita sudah bersudut-pandang demikian, maka tidaklah kita berucap, tidaklah kita berbuat; melainkan hanya karenaNya, dan dengan pertimbangan yang sesuai dengan keridhaanNya.

Semoga pemaparan singkat ini dapat semakin membuka hati kita, dapat semakin menambahkan kecintaan kita kepada Allaah dan RasulNya. Kita lebih tahu lagi akan indahnya agamaNya, yang diwahyukanNya melalui RasulNya yang mulia, Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam; yang tidaklah hal itu memberatkan kita, bahkan memudahkan kita; yang hanya dengan agama ini saja kita dapat berjumpa denganNya dalam keadaan dia ridha kepada kita. Semoga Allaah senantiasa memberikan petunjukNya pada kita semua, menetapkan kita diatas hal itu hingga wafat kita, sehingga kita dibangkitkan diatas hal tersebut, aamiin yaa rabbal ‘aalamiin. Wa shallallaahu wa sallama ‘ala nabiyyina Muhammadin an-nabiyyil ummiyyi wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Aqidah, Tazkiyatun Nufus

Dua Kandungan Mendalam Dibalik Basmalah

Basmalah

Tahukah kita kandungan dibalik ucapan “bismillah” kita sebelum aktifitas kita? Berikut ada dua kandungan mendalam dibaliknya…

1. Ia adalah CERMINAN TAUHIID

Berbahagialah seorang muslim yang diberi hidayah oleh Allaah untuk mengucap “bismillaah” (dengan menyebut nama Allaah)… Mengapa? Karena disaat yang bersamaan, kita dapat orang-orang malah menyertakan seseorang atau sesuatu bersama Allaah (sebagaiamana suatu kaum yang menyertakan Ruh Kudus, dan Nabi ‘Isa; disamping Allaah)[1]. Atau bahkan mereka tidak menyebut Allaah sama sekali, tapi malah menyebut nama-nama selain namaNya; yang diada-adakan oleh nenek moyang mereka yang mereka jadikan sesembahan.

Inilah cerminan kalimat tauhiid… Yaitu kaum muslimin hanya menyebut dan menyanjung Allaah semata, tanpa menyertakan sekutu bagiNya… Tidak seperti ahli kitab yang menjadikan Malaikat (yaitu ruh qudus, yaitu malaikat jibril) maupun Nabi (yaitu Nabi Isa) sebagai tandingan-tandingan bersama Allaah… Tidak pula seperti kaum musyrikin yang menyebut nama-nama sesembahan yang mereka ada-adakan… Na’uudzubillaah…

2. Didalamnya TERKANDUNG TAWAKKAL dan DOA

Ketika seseorang menyebut “bismillaah” sebelum melakukan suatu aktifitas… maka pada hakikatnya dia sedang memohon kepada Allaah: apakah itu memohon diberi pertolongan (isti’anah), ataukah memohon agar dilindungi dari mudharat (isti’adzah), ataukah memohon agar aktifitasnya tersebut diberkahi (tabarruk). Mungkin kebanyakan kita tidak sadar akan hal ini, bukan? Ketahuilah itulah diantara kandungan dari basmalah yang kita baca.

Maka hendaknya sebelum beraktifitas (yaitu aktifitas yang diridhai Allaah), hendaknya kita mengucap namaNya… Sebagai bentuk tawakkal kita kepadaNya… Yang dibalik ucapan tersebut, kita meniatkan dan menghadirkan dalam hati bahwa kita mengucapkan ini sebagai permohonan pertolongan padaNya agar aktifitas tersebut dapat kita tunaikan sebaik-baiknya dengan jalan yang benar. Juga kita memohon perlindungan padaNya dari keburukan-keburukan yang dapat terjadi karena sebab aktifitas tersebut… Yang juga kita memohon keberkahan dariNya dari aktifitas kita tersebut…

Adapun dalam perkara yang tidak diridhai Allaah… Justru tidak dibenarkan menyebut NamaNya… Karena Allaah Maha Suci atas hal tersebut! Tidak pantas dia menyebut nama Allaah, sedangkan aktifitas yang akan dilakukannya justru malah mengundang murkaNya! (Seperti aktifitas riba, penipuan, kedustaan, maupun perkara-perkara lain yang diharamkanNya).. Bahkan sungguh, fithrah seseorang akan menghalanginya untuk mengucap namaNya ketika mereka akan melakukan aktifitas yang tidak diridhaiNya! Kalaupun fithrahnya telah rusak, dan ia menyebut namaNya dalam perkara-perkara buruk, maka Dia Maha Suci akan hal tersebut, dan Dia Tidak Ridha dengan apa yang mereka perbuat, dan hasil dari aktifitasnya tidaklah akan diberkahi olehNya. Na’uudzubillah.

Maka sungguh beruntung apabila seseorang diberikan hidayah islam dan iiman, kemudian dia diberikan hidayah oleh Allaah untuk selalu mengucap basmalah sebelum memulai aktifitasnya (yang diridhai Allaah). Maka semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa diberiNya petunjuk, dan ditetapkan diatasnya hingga wafat kita. Aamiin.


Catatan Kaki

[1] Lihat bagaimana ucapan “basmallah” ini menginspirasi saudara kita yang berasal dari italia ini, sehingga akhirnya ia masuk Islaam.

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Tazkiyatun Nufus

Hal-hal yang menyempurnakan, mencacati, dan merusak tawakkal

=> YANG MENYEMPURNAKAN TAWAKKAL: (1) Apabila seseorang berusaha sendiri terhadap apa yang dimampui, (2) pada perkara yang diperbolehkan syari’at, (3) dengan tetap terus memohon pertolongan Allaah, dan (4) tetap terus menyandarkan hati pada pertologanNya, dan (5) TIDAK menyandarkan hati pada dirinya dan apa yang ia usahakan.

=> TIDAK MENCACATI TAWAKKAL (dengan catatan) : Apabila meminta tolong orang lain pada perkara yang tidak kita mampui pada hal yang diperbolehkan syari’at, dan tetap terus menyandarkan hati kepada Allaah karena hakikat datangnya pertolongan hanyalah dariNya, serta memiliki keinginan keras untuk dapat lepas dari ‘pertolongan’ orang lain agar hati tidak tersandar pada mereka; sehingga ini TIDAK dijadikan sebagai KEBIASAAN

=> MENCACATI TAWAKKAL: Apabila seseorang tidak berusaha sendiri terhadap apa yang dimampui, dan malah meminta tolong pada sesuatu yang ia mampui (meski yang pada usaha yang tidak dilarang); maka ini KEKURANGAN. Dengan hal tersebut, maka ia lemah dalam hal usahanya, yang menunjukan kelemahan hatinya; karena apabila hatinya kuat, maka hati itu akan menggerakkan tenaga/pikiran-nya atau mengeluarkan materi (jika ia punya). Dan ia menjadi KEHINAAN apabila ini menjadi kebiasaannya, karena jelas dalam hal ini hatinya telah tersandar pada usaha orang lain, dan ini lebih jelek derajatnya daripada bersandar usaha sendiri. Yang ia merupakan selemah-lemahnya keimanan.

=> MENCACATI TAWAKKAL: Apabila seseorang berusaha sendiri terhadap apa yang dimampui, tapi malah menempuh usaha yang tidak dibenarkan syari’at. Seperti menerjang hal-hal yang haram, apakah itu riba, penipuan, dll. Penempuannya pada hal-hal yang haram ini merupakan bukti KURANGNYA KEYAKINANnya kepada Allaah dalam hal-hal yang halal. Padahal pada hal-hal yang halal itu ditentukan rizkinya, dan jikalaupun seseorang menempuh hal yang haram, maka tidaklah hal itu ‘menambah jatah’ rizki yang sudah ditentukan untuknya. Kalau seseorang yakin bahwa Allaah pasti memberinya rezki, maka ia akan menempuh jalan yang halal; dan dia tidak mau meraihnya dari hal yang haram, karena menempuh cara yang haram tidaklah ‘mempercepat’ rezki, karena rezki sudah ditentukan dan pasti akan disempurnakan dan akan kita raih sebelum wafat kita; maka janganlah menempuh hal-hal yang diharamkan.

=> MENCACATI atau bahkan sampai MERUSAK TAWAKKAL: Apabila seseorang telah berusaha sendiri terhadap apa yang dimampui dan dibolehkan syari’at, akan tetapi UJUB terhadap usaha/pikiran/materi diri sendiri, tidak menyandarkan hati pada Allaah; sehingga TAKABBUR dihadapanNya, tidak memohon pertolonganNya; apalagi sampai merasa tidak butuh pada pertolonganNya. Apabila takabbur itu disertai dengan perendahannya kepada Allaah atau peninggian dirinya diatas Allaah, maka ini jelas merupakan kekufuran, na’uudzubillah.

=> MERUSAK TAWAKKAL: Apabila ia berusaha sendiri, tetapi malah menyandarkan hatinya selain Allaah (yaitu penyandaran hati dalam bentuk ketundukan dan kecintaan) sehingga memohon pertolongan pada mereka. Maka ini jelas merupakan kekufuran. Sebagaimana penyandaran hati dan permintaan tolong kaum musyrikiin pada dewa-dewa atau patung-patung yang mereka sandarkan hatinya ketika mereka menempuh usaha, yang mereka jadikan tempat permintaan tolong mereka. Padahal apa yang mereka sandarkan hatinya tersebut, dan apa yang mereka mintai tolong tersebut adalah makhluq yang lemah, bahkan lebih lemah dari mereka; yang tidak bisa bersandar pada dirinya sendiri, bahkan tidak mampu menolong dirinya sendiri. Mereka telah menyetarakan makhluuq dengan khaaliq, yang itulah merupakan bentuk kekufuran mereka dalam hal ini. Maka sejelek-jeleknya kekufuran, ketika ia meminta tolong pada selain Allaah, bahkan malah bergantung pada usaha makhluq. Maka ia menggabungkan seluruh jenis kehinaan dalam dirinya, Na’uudzubillaah.

Maka hendaknya kita menguatkan keimanan kita agar kita dapat menyempurnakan tawakkal kita padaNya, serta hendaknya kita menjauhi hal-hal yang dapat mencacatinya atau bahkan yang merusaknya.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Tazkiyatun Nufus

60 Faidah Kajian Syaikh Abdurrazzaaq

Muqaddimah

= > Latar belakang dari tauhiid

1. Tauhiid merupakan maksud penciptaan jin dan manusia

2. Tauhiid merupakan tujuan diutusnya para Rasul.

3. Tauhiid adalah asas tegaknya agama Allaah.

= > Tauhiid bagaikan akar dari sebuah pohon

4. Allaah mempermisalkan tauhiid bagaikan akar dari sebuah pohon. Pohon tegak berdiri dengan akarnya yang kokoh. Adapun jika pohon yang telah tercabut akar-akarnya, maka sudah pasti pohon itu tidak akan berdiri tegak. Demikianlah urgensi tauhiid dalam diri seseorang.

5. Tidak ada manfaat sebuah ketaatan kecuali dengan tauhiid; karena tidaklah amalan ketaatan diterima, kecuali harus memiliki tauhiid didalamnya.

= > Tauhiid adalah fithrah

6. Tidaklah seorang manusia dilahirkan, kecuali ia dalam keadaan bertauhiid; kemudian orang-tuanyalah yang menjadikannya seorang yang keluar dari fitrah (baik itu yahudi, nashrani, maupun penyembah berhala)

7. Tauhiid merupakan fithrah yang paling agung.

= > Keagungan tauhiid

8. Seluruh amal ditentukan dengan tauhiid; jika tauhiiid dikotori dengan syirik, maka amalnya terhapus.

9. Diterima-tidaknya amal, bergantung dengan tegak-tidaknya tauhiid dalam seseorang

= > Tauhiid adalah hak Allaah atas hambaNya

10. Berdasarkan hadits Mu’aadz, yang merupakan hadits agung yang menjeleskan tentang tauhiid

11. Barangsiapa yang menunaikan hakNya, maka akan mendapatkan keselamatan serta kebahagiaan dunia dan aakhirat.

= > Kehidupan yang hakiki adalah kehidupan yang diisi dengan mentauhidkan Allaah

12. Jika seseorang berpaling dan menjauh dari tauhiid, maka pada hakekatnya ia lari dari hal yang terindah dalam hidupnya

13. Tauhiid sebagai orientasi hidup

= > Tercerai-berainya urusan karena tidak mentauhidkan Allaah

14. Orang-orang yang menyekutukan Allaah, maka akan Allaah cerai-beraikan urusannya

15. Salah satu sebab utama perpecahan adalah karena meninggalkan tauhiid

16. Tidak akan tercapai ketentraman dan kemudahan dalam penunaian urusan, kecuali dengan tauhiid.

= > Tauhiid merupakan inti agama, yang dengannya Allaah turunkan kepada manusia melalui wahyu dariNya

17. Seluruh kesyirikan hanyalah diada-adakan oleh manusia; yang sama sekali tidak diturunkan oleh Allaah

18. Seluruh kitab yang diturunkan, intinya adalah meneggakkan tauhiid

19. Seluruh rasul yang diutus, intinya adalah menegakkan tauhiid.

= > Diantara keutamaan-keutamaan Tauhiid

21. Tauhiid mencocoki akal yang lurus. Maka seorang yang berakal, akan dapat menerima tauhiid. Adapun seorang yang akalnya telah rusak, maka ia menolak tauhiid.

22. Sempurnanya tauhiid seseorang seakan-akan ia dinilai dengan satu umat

23. Diperolehnya keselamatan dan ketenangan dengan tauhiid

24. Dianugerahkannya keteguhan, keamanan dan kepemimpinan apabila tauhiid benar-benar ditegakkan di suatu negri

25. Tauhiid merupakan sebaik-baik kebaikan; maka sebaliknya, kesyirikan merupakan seburuk-buruk keburukan

26. Satu amalan tauhiid (yang sempurna), dapat menghapuskan berbagai keburukan (bahkan bisa jadi seluruh keburukan). Sebaliknya satu amalan syirik, maka dapat menghapus kebakan; bahkan memusnahkannya seluruhnya.

27. Tauhiid merupakan kunci surga; tidaklah seseorang dibukakan pintu surga, kecuali ia harus memiliki tauhiid. Maka sebaliknya, surga diharamkan bagi orang-orang yang merusak tauhiidnya.

Hakekat Tauhiid

28. Makna asal tauhiid adalah mengesakan Allaah. Mengesakan Allaah disini yaitu mengesakanNya dalam hal perbuatan-perbuatan yang hanya khusus bagiNya, mengesakanNya dalam nama-nama dan sifat-sifatNya yang sempurna, serta mengesakanNya dalam peribadatan; tidak ada sekutu bagiNya.

29. Dalam hal rububiyyah, maka kita wajib mengimani bahwa Allaah-lah Rabbul ‘aalamiin (Tuhan semesta alam); dialah yang mencipta segala sesuatu, mengatur serta memelihara segala sesuatu. Dialah Yang Memberi rizki seluruh makhluqNya, Dialah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan; Hanya Dialah yang memiliki sifat-sifat ketuhanan, tiada sekutu bagiNya.

30. Adapun dalam nama-nama dan sifat-sifat Allaah; maka kita wajib menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkanNya melalui kitabNya maupun melalui lisan rasulNya (melalui wahyu dariNya). Nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkan tersebut sesuai dengan keagungan dan kebesaranNya; yang semuanya tidak boleh diingkari, tidak pula diserupakan dengan makhluqNya, tidak ditanyakan ‘bagaimana’nya, tidak pula di’bayang’kan ‘bagaimana’nya, tanpa meniadakan maknanya atau tanpa memalingkan maknanya kepada makna yang lain.

31. Adapun dalam ‘Ubudiyyah, maka ini adalah hak absolut bagiNya; tidak boleh mengadakan sekutu-sekutu lain bersamaNya dalam hal ini. Maka kita tidak menyembah (segala sesuatu apapun), kecuali hanya padaNya semata, tiada sekutu bagiNya. Maka segala/seluruh jenis ibadah, hanya boleh ditujukan padaNya. Tidak boleh kita menyembah selainNya, tidak menyembelih pada selainNya, tidak bernadzar pada selainNya, tidak pula berdoa maupun memohon pertolongan/perlindungan kepada selainNya.

32. Barangsiapa yang mati dalam keadaan menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, maka dia masuk neraka. (Maka sebaliknya,) barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, maka akan masuk ke dalam surga.

33. Tauhiid adalah Laa ilaaha illaLLaah. Dalam hal ini, terkandung dua hal: nafiy (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Yaitu tidak ada seseuatu apapun, yang berhak untuk disembah [disini letak peniadaannya], kecuali hanya Allaah [disini letak penetapannya]

34. Tidak sempurna tauhid seseorang, kecuali ia harus memiliki dua sifat tersebut. (Tambahan faidah: Maka kaum muslimiin, yaitu kaum yang mentauhidkan Allaah. Menyalahi dua kelompok manusia: atheis, yang meniadakan seluruh sesembahan; dan politheis, yang menyembah banyak sesembahan. Kaum muslimin, hanyalah menyembah satu sesembahan, yaitu Allaah; dan tidak menyembah sesembahan lain bersamaNya)

35. Maka setiap mukmin, wajib untuk mempelajari, mendalami serta merenungi tauhiid ini.

= > Kandungan tauhiid dalam dzikir

36. Jika seseorang merenungi dzikir-dzikir yang diajarkan oleh Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam; maka ia akan dapati bahwa dzikir-dzikir tersebut bermuara kepada tauhiid, atau memiliki kandungan tauhiid didalamnya.

37. Seperti contoh, salah satu dzikir setelah shalat; yang hendaknya senantiasa kita baca setiap kali selesai shalat. Yaitu dzikir:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ

Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah

Tiada sesembahan (yang berhak diibadahi) selain Allåh, tiada sekutu bagiNya

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Lahul-Mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘ala kulli syay-in qadiir

BagiNya segala Kerajaan, segala Pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu

لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

Tiada daya dan kekuatan melainkan (dengan pertolongan) Allåh

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّه , وَلاَ نَعْ بُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ

Laa ilaaha illallaah, wa laa na’budu illa iyyah

Tiada sesembahan (yang berhak diibadahi) selain Allåh, dan Kami tidak menyembah kecuali kepadaNya

لَهُ النِّعْ مَةُ وَلَهُ الْفَضْل وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ

Lahun-Ni’matu, wa lahul-fadhlu wa lahuts-tsanaa-ul-hasan

Bagi-Nya segala nikmat, anugerah dan pujian yang baik

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّه ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَااِرُوْنَ

Laa ilaaha illallåh, mukhlishiina lahud-diin, walaw karihal-kaafiruun

Tiada sesembahan (yang berhak diibadahi) selain Allaah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir membencinya.

(HR. Muslim)

38. Didalam dzikir diatas, mengandung tiga penekanan terhadap tauhiid:

– Pada kalimat: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ [penafian bahwasanya segala sesuatu selain Allaah tidak berhak untuk disembah; kecuali Allaah (Disini penetapannya). Kemudian menegaskan kembali penetapan bahwa hanya Dia semata yang berhak disembah, dan menegaskan kembali penafian, bahwa Tidak ada sekutu bagiNya]

– Kemudian kalimat tauhiid ditegaskan kembali pada kalimat: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّه , وَلاَ نَعْ بُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ [menafikan segala sesuatu bahwa itu semua tidak memiliki hak untuk disembah; kecuali Allaah (yang dengan ini penetapan bahwa peribadatan itu hanyalah hak bagiNya semata). Kemudian ditekankan lagi dengan bentuk pengikraran: “kami tidaklah menyembah” (disini penafian seluruh aktifitas penyembahan, pada selainNya) “kecuali hanya padaNya” (disini penetapan bahwa seluruh aktifitas penyembahan, hanya milikNya semata)

– Kemudian kalimat tauhiid ini ditegaskan kembali pada kalimat: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّه ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَااِرُوْنَ [menafikan segala sesuatu bahwa itu semua tidak memiliki hak untuk disembah; kecuali Allaah (yang dengan ini penetapan bahwa peribadatan itu hanyalah hak bagiNya semata);. Kemudian ditekankan lagi, bahwa ibadah harus dimurnikan (yang dengannya tidak boleh sama-sekali tercampur dengan kesyirikan sedikitpun); “meskipun orang-orang kafir membencinya” (yaitu kita tetap mengamalkan tauhiid, meski orang-orang kafir tidak membenci hal tersebut) [faidah tambahan: ciri kekufuran adalah kebencian terhadap tauhiid; faidah tambahan lainnya: orang-orang kaafir membenci kalimat tauhiid, pengamalannya maupun para penganut dan pengamalnya; maka hendaknya kita tidak mempedulikan kebencian mereka dengan konsisten mengamalkan tauhiid]

39. Maka dengan mengucapkan kalimat diatas, hendaknya dapat mempertegas/memperkuat tauhiid dalam diri seorang muslim. Maka jangan sampai kita meninggalkan ucapan ini setiap selesai shalat kita; dan jangan sampai pula kita lalai dalam membacanya (sehingga kita membacanya dengan tanpa ada perenungan; sehingga kita terhalang meraih manfaat besar dari kandungannya).

40. Ketika kita membaca kalimat dzikir diatas minimal lima kali, maka dalam sehari kita minimal memperbaharui tauhiid dalam diri kita. Kita senantiasa mengikrarkannya, serta kembali kepadanya. Menjadikan kita lebih kokoh pada kandungannya, yang semoga kita dapat berpaling jauh dari hal-hal yang menyalahinya.

= > Tingginya derajat tauhiid

41. Bahwasanya barangsiapa yang mati dalam keadaan menyempurnakan tauhiidnya, maka ia tidak diadzab maupun tidak dihisab.

42. Maka hendaknya kita serius dalam mempelajari, mendalami, serta mengamalkan tauhiid ini dalam keseharian kita. (sehingga semoga kita dapat menyempurnakan tauhiid; yang kita berharap kita wafat dalam keadaan sempurna tauhiid kita)

Menjaga kesempurnaan tauhiid, dengan menjauhi pembatal/perusak serta pencacatnya

43. Sebagaimana tauhiid memiliki keutamaan besar ketika menyempurnakannya; maka tauhiid pun dapat berkurang kesempurnaannya, atau bahkan hilang/musnah sama sekali dalam diri seseorang.

44. Adapun yang menghancur-leburkan tauhiid adalah syirik akbar, kufur akbar dan nifaq akbar.

45. Adapun yang mencacati tauhiid, yang mengurangi kadarnya dalam diri seseorang adalah syirik ashghar, kufur ashghar, dan nifaq ashghar.

46. Adapun syirik akbar, seperti menyerupakan Allaah dengan makhluqNya dalam hal nama-nama maupun sifat-sifatNya; atau bahkan menyamakan Allaah dengan makhluqNya, baik dari sisi perbuatan-perbuatanNya (atribut ketuhanan), atau dari sisi hak-hakNya yang absolut [seperti: penyembahan, doa, memohon pertolongan/perlindungan, dll]

47. Adapun kufur akbar, seperti: mendustakanNya atau hal-hal yang datang dariNya (seperti: RasulNya, KitabNya, maupun agamaNya), menyombongkan diri atau merendahkanNya, membenciNya (seperti: berpaling dan meninggalkan agamaNya; dengan kebencian), ataupun ragu-ragu terahdapNya atau hal-hal yang datang dariNya.

48. Adapun nifaq akbar, maka asasnya adlaah kebohongan; yaitu menampakkan diri (dihadapan orang-orang muslim) sebagai orang yang beriman. Akan tetapi didalam hatinya kufur terhadap Allah. Bahkan sekembalinya ia kepada kalangan orang-orang kaafir, ia mengakui kekafirannya; bahwa ‘klaim keimanannya’ tersebut hanyalah senda-gurau.

49. Adapun syirik ashghar adalah salah satu jenis kesyirikan; akan tetapi tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari islaam. seperti: bersumpah atas nama selain Allaah, mengatakan: “dengan kehendak Allaah, dan kehendakmu”, atau contoh-contoh lainnya [seperti riyaa’/sum’ah, yang mana seseorang yang beribadah kepada Allaah; akan tetapi juga mengharapkan balasan makhluuq dari ibadahnya tersebut; sehingga ia menyekutukan Allaah, dalam hal pengharapan balasan kepada selain Allaah dalam ibadahnya tersebut. Termasuk pula disini ujub dan takabbur, merasa cukup dengan dirinya bahkan meninggikan dirinya; sehingga dia menyekutukan Allaah dengan ‘diri’nya sendiri.]

50. Adapun kufur ashghar seperti membunuh (termasuk disni membunuh dirinya sendiri; ia masuk kedalam kekufuran, karena ia telah kufur terhadap nikmat hidup yang Allaah berikan padanya), berzina, mencela nasab, dan lain-lain.

51. Adapun nifaq ashghar, seperti: berdusta, melanggar janji, berhianat, melampaui batas dalam bertengkar.

52. Maka hendaknya kita berhati-hati dengan senantiasa memperhatikan tauhiid kita. Menjaganya dari pembatal/perusaknya, dan menjaganya dari hal-hal yang mencacatinya atau yang mengurangi kadarnya.

= > Al-Qur`aan mengajarkan tauhiid kepada kita

53. Ayat termulia dalam al-Qur`aan, yaitu ayat kursi; seluruh isinya adalah tauhiid.

54. 1/3 al-Qur`aan, yaitu surat al-Ikhlaash; seluruh isinya pun adalah tauhiid.

55. al-Fatihah, surat pembuka kitaab, serta induknya al-Qur`aan; maka didalamnya menjelaskan tauhiid serta keutamaan dibaliknya.

56. Maka dengan senantiasa mempelajari, membaca, merenungi dan mengamalkan al-Qur`aan -yang didalamnya menjelaskan kepada kita segala hal yang berkaitan tentang tauhiid- maka kita dapat menyempurnakan tauhiid kita, serta dengannya kita dapat menjaga kesempurnaan tersebut.

Penutup

57. Para nabi itu satu agama; yaitu mereka semua hanya menyembah kepada Allaah, tidak menyembah kepada selainNya; dan mereka menyeru pada hal itu. Yang berbeda hanyalah tata-cara peribadatannya semata.

58. Intisari dari seluruh pengutusan Rasul adalah ditegakkannya tauhid.

59. Demikian pula, intisari diturunkannya seluruh kitab, adalah dengan tertegakknya tauhiid.

60. Kehidupan hakiki adalah kehidupan dengannya seseorang menegakkan tauhiid didalamnya; yang mana ia menjalankan tujuan utama ia diciptakan.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Tauhid Asma' Wa Sifat, Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah

Tidak Gratis

Ibrahim bin Adham pernah hendak memasuki pemandian, kemudian dia dicegat dan dikatakan padanya: “Jangan masuk padanya, kecuali dengan membayar”.

Maka dia pun menangis, dan berkata: “Yaa Allaah… aku tidak diizinkan masuk ke rumah para syaithan dengan gratis… Maka bagaimanakah aku bisa masuk ke rumah para nabi dan shiddiqiin dengan gratis?!”[1]


Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ

“Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga.”

(HR. Al-Tirmidziy, dll; dan beliau menghasankannya)

Allaah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu`min[2] DIRI dan HARTA mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur`aan. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

(at-Taubah: 111)

Maka pastikan anda termasuk orang-orang yang lurus dan benar keimanannya… Yaitu DIRI dan HARTA anda, hanya anda persembahkan sepenuhnya untuk Allaah… Dan disitulah letak mahalnya… Maka pengorbanan apa dari DIRI dan HARTA anda yang sudah anda kerahkan?

Apa dari DIRI anda yang telah anda korbankan? Apa anda mau berhenti dari kemalasan meninggalkan kewajiban-kewajiban? Apa anda mau berhenti serta meninggalkan segala keharaman yang selaras dengan hawa nafsu anda? Bukankah anda mengakui bahwa anda adalah HAMBA Allaah? Bukankah anda mengakui Allaah sebagai Tuhan anda? Bukankah anda mengakui bahwa Allaah adalah Tuhan semesta alam? Bukankah Dia MEMILIKI HAK ABSOLUT untuk MENGATUR serta MEMERINTAH? Apakah Dia telah anda jadikan sebagai satu-satunya sesembahan yang disembah; dengan anda hanya benar-benar menyembahNya, bahkan anda mengorbankan hawa nafsu anda hanya untukNya jika ia bersebrangan?! Darisitulah kita belajar PENGORBANAN DIRI terhadap Allaah.

Apa dari HARTA anda yang telah anda ‘korban’kan untukNya? Apa anda mau hanya mencari harta dari jalan yang halal? Jika telah diambil dari hal yang halal, apa anda ringan untuk mengeluarkan nafkah untuk diri dan keluarga, zakat untuk penerimanya, serta sedekah? Apa anda menahan harta anda untuk mengeluarkannya dalam keharaman? Apa anda merasa berat karena merasa harta adalah usaha anda sendiri, padahal hakekatnya ia adalah milik Allaah dan titipanNya untuk anda?! Disitulah hendaknya kita belajar PENGORBANAN dari sisi HARTA kita.

Semoga kita termasuk hamba-hambaNya yang beriman, dengan iman yang benar dan lurus; yang benar-benar mempersembahkan DIRI dan HARTA kita sepenuhnya untuk Allaah.. aamiin…


Catatan Kaki

[1] Redaksinya:

وَذُكِرَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَمَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُ أَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ الْحَمَّامَ ، فَمَنَعَهُ صَاحِبُ الْحَمَّامِ ، وَقَالَ لَا تَدْخُلُ إِلَّا بِالْأُجْرَةِ ، فَبَكَى إِبْرَاهِيمُ وَقَالَ : اللَّهُمَّ لَا يُؤْذَنُ لِي أَنْ أَدْخُلَ بَيْتَ الشَّيَاطِينِ مَجَّانًا ، فَكَيْفَ لِي بِدُخُولِ بَيْتِ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ مَجَّانًا

(Tanbiihul Ghaafiliin hlm. 49, daar ibnul Jauziy; teks arabnya dikutip via Islamweb, terjemahannya merujuk pada terjemahan Pustaka Azzam)]

[2] Yaitu seorang yang benar-benar JUJUR dalam keimanannya, seorang yang mengklaim dirinya “beriman” maka ia akan benar-benar diuji oleh Allaah tentang klaimnya tersebut. sebagaimana firmanNya:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ . وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang BENAR dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang DUSTA.

(al-‘Ankabuut: 1-2)

Demikian pula firmanNya:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِن دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu, yang (mereka) tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(at-Tawbah: 16)

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Tazkiyatun Nufus

Harapkanlah cintaNya dengan bersungguh-sungguh menempuh jalan yang dicintaiNya

Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ اللهَ ، إذا أحبَّ عبدًا ، دعا جبريلَ فقال : إنِّي أحبُّ فلانًا فأحِبَّه . فيُحبُّه جبريلُ . ثمَّ يُنادي في السَّماءِ فيقولُ : إنَّ اللهَ يُحبُّ فلانًا فأحِبُّوه . فيُحبُّه أهلُ السَّماءِ . ثمَّ يُوضعُ له القَبولُ في الأرضِ

Sesungguhnya jika Allaah mencintai seorang hamba, maka Dia menyeru (malaikat) jibriil: “Sesungguhnya Aku mencintai si fulaan, maka cintailah ia.” Maka malaikat jibriil pun mencintainya, lalu ia menyeru kepada penduduk langit dengan berkata: “Sesungguhnya Allaah mencintai fulaan, maka hendaklah kalian semua mencintainya” maka mereka semua pun mencintainya. Kemudian ditanamkan kecintaan padanya di bumi.

وإذا أبغض عبدًا دعا جبريلَ فيقولُ : إنِّي أُبغِضُ فلانًا فأبغِضْه . فيُبغضُه جبريلُ . ثمَّ يُنادي في أهلِ السَّماءِ : إنَّ اللهَ يُبغِضُ فلانًا فأبغِضوه . فيُبغِضونه . ثمَّ تُوضعُ له البغضاءُ في الأرضِ

Dan jika (Allaah) memurkai seorang hamba, maka Dia menyeru pada (malaikat) jibriil: “Sesungguhnya Aku memurkai si fulaan, maka murkailah ia”, maka jibriil pun memurkainya. Kemudian dia menyeru kepada penduduk langit: “sesunguhnya Allaah memurkai fulaan, maka hendaklah kalian semua memurkainya!” Maka merekapun memurkainya. Kemudian ditanamkanlah kebencian terhadapnya di bumi.

(HR Muslim)

Maka tidakkah hadits diatas ini diambil pelajaran oleh orang-orang yang bersusah-payah mencari kecintaan makhluuq tapi malah mengorbankan keridhaan Sang Pencipta!?!

1. Allaah murka kepadanya

2. Dia juga tanamkan kemurkaan itu pada makhluqNya yang paling mulia

3. Dan juga ditanamkan pula kebencian itu di bumi

Maka kalaupun ia mendapatkan ‘kecintaan’ dari makhluuq, maka kecintaan tersebut didapatkan dari orang-orang seperti dirinya atau dari orang-orang jaahil…

Apalah artinya mendapatkan kecintaan dari beberapa orang yang belum tentu kecintaan mereka itu mengartikan keridhaan Allaah?! terlebih lagi jika ‘cara meraih kecintaan mereka’ ditempuh dari jalan-jalan yang dimurkai Allaah… maka tentu hal ini tidak akan mendatangkan kecintaanNya… Demikian pula adanya kecintaan yang datang dari orang-orang yang mencintanya maka dapat dipastikan bukan didasarkan karena Allaah; tapi karena kebodohan atau hawa nafsu mereka…

Tapi jika seseorang mengharapkan kecintaan Allaah… Maka hendaklah dia bersungguh-sungguh menempuh jalan yang diridhaiNya[1. Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَـى قَالَ : مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu YANG LEBIH AKU CINTAI, daripada perkara-perkara yang AKU WAJIBKAN kepadanya. Hamba-Ku TIDAK HENTI-HETINYA mendekat kepada-Ku dengan nawaafil (ibadah-ibadah sunnah), hingga Aku mencintainya…”

(Diriwayatkan al Bukhaariy dan selainnya)]… Maka sungguh ia akan mendapatkan kecintaan Allaah -dan sungguh cintaNya itu sudah cukup-, dan cintaNya itu, akan disertai pula kecintaan penduduk langit… dan ia pun akan dicintai wali-waliNya karena sebagaimana Dia menjadikan mereka cinta kepada ketaatan kepadaNya, maka Dia pun akan menjadikan mereka cinta terhadap orang yang dicintaiNya yang jujur mencintaNya… meskipun mereka itu sangat sedikit…

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Aqidah, Tazkiyatun Nufus