Category Archives: Tauhid Uluhiyyah

Fakta yang tidak terelakkan

Allah tetaplah Tuhan semesta alam, dan Dia tetap satu-satunya sesembahan yang benar… Meskipun banyak yang menghambakan diri pada selainNya… Meskipun banyak yang menyembah selainNya…

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Tauhid Uluhiyyah, Tazkiyatun Nufus

60 Faidah Kajian Syaikh Abdurrazzaaq

Muqaddimah

= > Latar belakang dari tauhiid

1. Tauhiid merupakan maksud penciptaan jin dan manusia

2. Tauhiid merupakan tujuan diutusnya para Rasul.

3. Tauhiid adalah asas tegaknya agama Allaah.

= > Tauhiid bagaikan akar dari sebuah pohon

4. Allaah mempermisalkan tauhiid bagaikan akar dari sebuah pohon. Pohon tegak berdiri dengan akarnya yang kokoh. Adapun jika pohon yang telah tercabut akar-akarnya, maka sudah pasti pohon itu tidak akan berdiri tegak. Demikianlah urgensi tauhiid dalam diri seseorang.

5. Tidak ada manfaat sebuah ketaatan kecuali dengan tauhiid; karena tidaklah amalan ketaatan diterima, kecuali harus memiliki tauhiid didalamnya.

= > Tauhiid adalah fithrah

6. Tidaklah seorang manusia dilahirkan, kecuali ia dalam keadaan bertauhiid; kemudian orang-tuanyalah yang menjadikannya seorang yang keluar dari fitrah (baik itu yahudi, nashrani, maupun penyembah berhala)

7. Tauhiid merupakan fithrah yang paling agung.

= > Keagungan tauhiid

8. Seluruh amal ditentukan dengan tauhiid; jika tauhiiid dikotori dengan syirik, maka amalnya terhapus.

9. Diterima-tidaknya amal, bergantung dengan tegak-tidaknya tauhiid dalam seseorang

= > Tauhiid adalah hak Allaah atas hambaNya

10. Berdasarkan hadits Mu’aadz, yang merupakan hadits agung yang menjeleskan tentang tauhiid

11. Barangsiapa yang menunaikan hakNya, maka akan mendapatkan keselamatan serta kebahagiaan dunia dan aakhirat.

= > Kehidupan yang hakiki adalah kehidupan yang diisi dengan mentauhidkan Allaah

12. Jika seseorang berpaling dan menjauh dari tauhiid, maka pada hakekatnya ia lari dari hal yang terindah dalam hidupnya

13. Tauhiid sebagai orientasi hidup

= > Tercerai-berainya urusan karena tidak mentauhidkan Allaah

14. Orang-orang yang menyekutukan Allaah, maka akan Allaah cerai-beraikan urusannya

15. Salah satu sebab utama perpecahan adalah karena meninggalkan tauhiid

16. Tidak akan tercapai ketentraman dan kemudahan dalam penunaian urusan, kecuali dengan tauhiid.

= > Tauhiid merupakan inti agama, yang dengannya Allaah turunkan kepada manusia melalui wahyu dariNya

17. Seluruh kesyirikan hanyalah diada-adakan oleh manusia; yang sama sekali tidak diturunkan oleh Allaah

18. Seluruh kitab yang diturunkan, intinya adalah meneggakkan tauhiid

19. Seluruh rasul yang diutus, intinya adalah menegakkan tauhiid.

= > Diantara keutamaan-keutamaan Tauhiid

21. Tauhiid mencocoki akal yang lurus. Maka seorang yang berakal, akan dapat menerima tauhiid. Adapun seorang yang akalnya telah rusak, maka ia menolak tauhiid.

22. Sempurnanya tauhiid seseorang seakan-akan ia dinilai dengan satu umat

23. Diperolehnya keselamatan dan ketenangan dengan tauhiid

24. Dianugerahkannya keteguhan, keamanan dan kepemimpinan apabila tauhiid benar-benar ditegakkan di suatu negri

25. Tauhiid merupakan sebaik-baik kebaikan; maka sebaliknya, kesyirikan merupakan seburuk-buruk keburukan

26. Satu amalan tauhiid (yang sempurna), dapat menghapuskan berbagai keburukan (bahkan bisa jadi seluruh keburukan). Sebaliknya satu amalan syirik, maka dapat menghapus kebakan; bahkan memusnahkannya seluruhnya.

27. Tauhiid merupakan kunci surga; tidaklah seseorang dibukakan pintu surga, kecuali ia harus memiliki tauhiid. Maka sebaliknya, surga diharamkan bagi orang-orang yang merusak tauhiidnya.

Hakekat Tauhiid

28. Makna asal tauhiid adalah mengesakan Allaah. Mengesakan Allaah disini yaitu mengesakanNya dalam hal perbuatan-perbuatan yang hanya khusus bagiNya, mengesakanNya dalam nama-nama dan sifat-sifatNya yang sempurna, serta mengesakanNya dalam peribadatan; tidak ada sekutu bagiNya.

29. Dalam hal rububiyyah, maka kita wajib mengimani bahwa Allaah-lah Rabbul ‘aalamiin (Tuhan semesta alam); dialah yang mencipta segala sesuatu, mengatur serta memelihara segala sesuatu. Dialah Yang Memberi rizki seluruh makhluqNya, Dialah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan; Hanya Dialah yang memiliki sifat-sifat ketuhanan, tiada sekutu bagiNya.

30. Adapun dalam nama-nama dan sifat-sifat Allaah; maka kita wajib menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkanNya melalui kitabNya maupun melalui lisan rasulNya (melalui wahyu dariNya). Nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkan tersebut sesuai dengan keagungan dan kebesaranNya; yang semuanya tidak boleh diingkari, tidak pula diserupakan dengan makhluqNya, tidak ditanyakan ‘bagaimana’nya, tidak pula di’bayang’kan ‘bagaimana’nya, tanpa meniadakan maknanya atau tanpa memalingkan maknanya kepada makna yang lain.

31. Adapun dalam ‘Ubudiyyah, maka ini adalah hak absolut bagiNya; tidak boleh mengadakan sekutu-sekutu lain bersamaNya dalam hal ini. Maka kita tidak menyembah (segala sesuatu apapun), kecuali hanya padaNya semata, tiada sekutu bagiNya. Maka segala/seluruh jenis ibadah, hanya boleh ditujukan padaNya. Tidak boleh kita menyembah selainNya, tidak menyembelih pada selainNya, tidak bernadzar pada selainNya, tidak pula berdoa maupun memohon pertolongan/perlindungan kepada selainNya.

32. Barangsiapa yang mati dalam keadaan menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, maka dia masuk neraka. (Maka sebaliknya,) barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, maka akan masuk ke dalam surga.

33. Tauhiid adalah Laa ilaaha illaLLaah. Dalam hal ini, terkandung dua hal: nafiy (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Yaitu tidak ada seseuatu apapun, yang berhak untuk disembah [disini letak peniadaannya], kecuali hanya Allaah [disini letak penetapannya]

34. Tidak sempurna tauhid seseorang, kecuali ia harus memiliki dua sifat tersebut. (Tambahan faidah: Maka kaum muslimiin, yaitu kaum yang mentauhidkan Allaah. Menyalahi dua kelompok manusia: atheis, yang meniadakan seluruh sesembahan; dan politheis, yang menyembah banyak sesembahan. Kaum muslimin, hanyalah menyembah satu sesembahan, yaitu Allaah; dan tidak menyembah sesembahan lain bersamaNya)

35. Maka setiap mukmin, wajib untuk mempelajari, mendalami serta merenungi tauhiid ini.

= > Kandungan tauhiid dalam dzikir

36. Jika seseorang merenungi dzikir-dzikir yang diajarkan oleh Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam; maka ia akan dapati bahwa dzikir-dzikir tersebut bermuara kepada tauhiid, atau memiliki kandungan tauhiid didalamnya.

37. Seperti contoh, salah satu dzikir setelah shalat; yang hendaknya senantiasa kita baca setiap kali selesai shalat. Yaitu dzikir:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ

Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah

Tiada sesembahan (yang berhak diibadahi) selain Allåh, tiada sekutu bagiNya

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Lahul-Mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘ala kulli syay-in qadiir

BagiNya segala Kerajaan, segala Pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu

لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

Tiada daya dan kekuatan melainkan (dengan pertolongan) Allåh

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّه , وَلاَ نَعْ بُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ

Laa ilaaha illallaah, wa laa na’budu illa iyyah

Tiada sesembahan (yang berhak diibadahi) selain Allåh, dan Kami tidak menyembah kecuali kepadaNya

لَهُ النِّعْ مَةُ وَلَهُ الْفَضْل وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ

Lahun-Ni’matu, wa lahul-fadhlu wa lahuts-tsanaa-ul-hasan

Bagi-Nya segala nikmat, anugerah dan pujian yang baik

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّه ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَااِرُوْنَ

Laa ilaaha illallåh, mukhlishiina lahud-diin, walaw karihal-kaafiruun

Tiada sesembahan (yang berhak diibadahi) selain Allaah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir membencinya.

(HR. Muslim)

38. Didalam dzikir diatas, mengandung tiga penekanan terhadap tauhiid:

– Pada kalimat: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ [penafian bahwasanya segala sesuatu selain Allaah tidak berhak untuk disembah; kecuali Allaah (Disini penetapannya). Kemudian menegaskan kembali penetapan bahwa hanya Dia semata yang berhak disembah, dan menegaskan kembali penafian, bahwa Tidak ada sekutu bagiNya]

– Kemudian kalimat tauhiid ditegaskan kembali pada kalimat: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّه , وَلاَ نَعْ بُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ [menafikan segala sesuatu bahwa itu semua tidak memiliki hak untuk disembah; kecuali Allaah (yang dengan ini penetapan bahwa peribadatan itu hanyalah hak bagiNya semata). Kemudian ditekankan lagi dengan bentuk pengikraran: “kami tidaklah menyembah” (disini penafian seluruh aktifitas penyembahan, pada selainNya) “kecuali hanya padaNya” (disini penetapan bahwa seluruh aktifitas penyembahan, hanya milikNya semata)

– Kemudian kalimat tauhiid ini ditegaskan kembali pada kalimat: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّه ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَااِرُوْنَ [menafikan segala sesuatu bahwa itu semua tidak memiliki hak untuk disembah; kecuali Allaah (yang dengan ini penetapan bahwa peribadatan itu hanyalah hak bagiNya semata);. Kemudian ditekankan lagi, bahwa ibadah harus dimurnikan (yang dengannya tidak boleh sama-sekali tercampur dengan kesyirikan sedikitpun); “meskipun orang-orang kafir membencinya” (yaitu kita tetap mengamalkan tauhiid, meski orang-orang kafir tidak membenci hal tersebut) [faidah tambahan: ciri kekufuran adalah kebencian terhadap tauhiid; faidah tambahan lainnya: orang-orang kaafir membenci kalimat tauhiid, pengamalannya maupun para penganut dan pengamalnya; maka hendaknya kita tidak mempedulikan kebencian mereka dengan konsisten mengamalkan tauhiid]

39. Maka dengan mengucapkan kalimat diatas, hendaknya dapat mempertegas/memperkuat tauhiid dalam diri seorang muslim. Maka jangan sampai kita meninggalkan ucapan ini setiap selesai shalat kita; dan jangan sampai pula kita lalai dalam membacanya (sehingga kita membacanya dengan tanpa ada perenungan; sehingga kita terhalang meraih manfaat besar dari kandungannya).

40. Ketika kita membaca kalimat dzikir diatas minimal lima kali, maka dalam sehari kita minimal memperbaharui tauhiid dalam diri kita. Kita senantiasa mengikrarkannya, serta kembali kepadanya. Menjadikan kita lebih kokoh pada kandungannya, yang semoga kita dapat berpaling jauh dari hal-hal yang menyalahinya.

= > Tingginya derajat tauhiid

41. Bahwasanya barangsiapa yang mati dalam keadaan menyempurnakan tauhiidnya, maka ia tidak diadzab maupun tidak dihisab.

42. Maka hendaknya kita serius dalam mempelajari, mendalami, serta mengamalkan tauhiid ini dalam keseharian kita. (sehingga semoga kita dapat menyempurnakan tauhiid; yang kita berharap kita wafat dalam keadaan sempurna tauhiid kita)

Menjaga kesempurnaan tauhiid, dengan menjauhi pembatal/perusak serta pencacatnya

43. Sebagaimana tauhiid memiliki keutamaan besar ketika menyempurnakannya; maka tauhiid pun dapat berkurang kesempurnaannya, atau bahkan hilang/musnah sama sekali dalam diri seseorang.

44. Adapun yang menghancur-leburkan tauhiid adalah syirik akbar, kufur akbar dan nifaq akbar.

45. Adapun yang mencacati tauhiid, yang mengurangi kadarnya dalam diri seseorang adalah syirik ashghar, kufur ashghar, dan nifaq ashghar.

46. Adapun syirik akbar, seperti menyerupakan Allaah dengan makhluqNya dalam hal nama-nama maupun sifat-sifatNya; atau bahkan menyamakan Allaah dengan makhluqNya, baik dari sisi perbuatan-perbuatanNya (atribut ketuhanan), atau dari sisi hak-hakNya yang absolut [seperti: penyembahan, doa, memohon pertolongan/perlindungan, dll]

47. Adapun kufur akbar, seperti: mendustakanNya atau hal-hal yang datang dariNya (seperti: RasulNya, KitabNya, maupun agamaNya), menyombongkan diri atau merendahkanNya, membenciNya (seperti: berpaling dan meninggalkan agamaNya; dengan kebencian), ataupun ragu-ragu terahdapNya atau hal-hal yang datang dariNya.

48. Adapun nifaq akbar, maka asasnya adlaah kebohongan; yaitu menampakkan diri (dihadapan orang-orang muslim) sebagai orang yang beriman. Akan tetapi didalam hatinya kufur terhadap Allah. Bahkan sekembalinya ia kepada kalangan orang-orang kaafir, ia mengakui kekafirannya; bahwa ‘klaim keimanannya’ tersebut hanyalah senda-gurau.

49. Adapun syirik ashghar adalah salah satu jenis kesyirikan; akan tetapi tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari islaam. seperti: bersumpah atas nama selain Allaah, mengatakan: “dengan kehendak Allaah, dan kehendakmu”, atau contoh-contoh lainnya [seperti riyaa’/sum’ah, yang mana seseorang yang beribadah kepada Allaah; akan tetapi juga mengharapkan balasan makhluuq dari ibadahnya tersebut; sehingga ia menyekutukan Allaah, dalam hal pengharapan balasan kepada selain Allaah dalam ibadahnya tersebut. Termasuk pula disini ujub dan takabbur, merasa cukup dengan dirinya bahkan meninggikan dirinya; sehingga dia menyekutukan Allaah dengan ‘diri’nya sendiri.]

50. Adapun kufur ashghar seperti membunuh (termasuk disni membunuh dirinya sendiri; ia masuk kedalam kekufuran, karena ia telah kufur terhadap nikmat hidup yang Allaah berikan padanya), berzina, mencela nasab, dan lain-lain.

51. Adapun nifaq ashghar, seperti: berdusta, melanggar janji, berhianat, melampaui batas dalam bertengkar.

52. Maka hendaknya kita berhati-hati dengan senantiasa memperhatikan tauhiid kita. Menjaganya dari pembatal/perusaknya, dan menjaganya dari hal-hal yang mencacatinya atau yang mengurangi kadarnya.

= > Al-Qur`aan mengajarkan tauhiid kepada kita

53. Ayat termulia dalam al-Qur`aan, yaitu ayat kursi; seluruh isinya adalah tauhiid.

54. 1/3 al-Qur`aan, yaitu surat al-Ikhlaash; seluruh isinya pun adalah tauhiid.

55. al-Fatihah, surat pembuka kitaab, serta induknya al-Qur`aan; maka didalamnya menjelaskan tauhiid serta keutamaan dibaliknya.

56. Maka dengan senantiasa mempelajari, membaca, merenungi dan mengamalkan al-Qur`aan -yang didalamnya menjelaskan kepada kita segala hal yang berkaitan tentang tauhiid- maka kita dapat menyempurnakan tauhiid kita, serta dengannya kita dapat menjaga kesempurnaan tersebut.

Penutup

57. Para nabi itu satu agama; yaitu mereka semua hanya menyembah kepada Allaah, tidak menyembah kepada selainNya; dan mereka menyeru pada hal itu. Yang berbeda hanyalah tata-cara peribadatannya semata.

58. Intisari dari seluruh pengutusan Rasul adalah ditegakkannya tauhid.

59. Demikian pula, intisari diturunkannya seluruh kitab, adalah dengan tertegakknya tauhiid.

60. Kehidupan hakiki adalah kehidupan dengannya seseorang menegakkan tauhiid didalamnya; yang mana ia menjalankan tujuan utama ia diciptakan.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Tauhid Asma' Wa Sifat, Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah

Bagaikan Menghadapi Badai Ekstrim

Ketika kita berhadapan dengan badai ekstrim, tentulah yang pertama kali kita cari adalah pegangan yang kokoh yang dengannya kita dapat berpegang padanya dengan sekuat yang kita mampu, agar kita tidak terbawa arus badai.

Karena kalaulah kita mengambil pegangan yang lemah; maka pasti kita akan menjadi korban badai…

Dan kalaulah kita sudah mengambil pegangan yang kuat, tapi kita tidak memegang erat pegangan tersebut; maka kita pun akan terhempas dan terombang ambingkan badai…

Perlu kita ketahui… Kehidupan dunia ini, serupa dengan perumpamaan diatas…

Sebagaimana kita harus mencari pegangan yang kuat, kita pun juga dituntut untuk memegang erat-erat pegangan yang kuat tersebut…

Adapun yang berpegangan dengan pegangan yang lemah, merekalah orang-orang yang mengambil agama selain islaam…

Adapun yang tidak memegang erat pegangan yang kuat; adalah kaum muslimin yang tidak berpegang teguh diatas agama mereka, sehingga mereka terombang-ambingkan oleh fitnah dunia.

Demikianlah perumpamaan dalam menghadapi kehidupan dunia yang fana yang penuh dengan ujian… Ingatlah bahwa akhir pertaruhan dari ujian ini adalah keimanan kita.. Maka semoga kita dapat benar-benar menjaganya dengan tetap terus berpegang teguh diatasnya…

Semoga Allaah menetapkan dan meneguhkan kita tetap diatas keislaman hingga akhir hayat kita, aamiin.

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Manhaj, Manhaj Ahlus-Sunnah wal Jama'ah, Tauhid Uluhiyyah

Hakikat Tasbih (makna lain ‘tasbih’)

Mungkin sebagian kita, jika disebutkan TASBIH (mensucikan Allaah), maka langsung membawanya kepada ucapan/dzikir “subhaanallaah”. Ini benar, tapi jika pemahaman/pandangan kita tersebut dalam rangka MENCUKUPKAN makna TASBIIH hanya pada “dzikir subhaanallaah”, maka ini kekeliruan.

Ketahuilah, ketika kita “mengerjakan apa-apa yang Allaah wajibkan (semampu kita), dan meninggalkan apa-apa yang dilarangNya” maka inilah HAKIKAT TASBIIH!

Dan memang benar…

– Bukankah ketika kita bertaubat kepadaNya, dalam rangka kita mensucikan diri kita dihadapanNya? dalam rangka agar Dia mensucikan amalan kita dari keburuka yang sudah kita kerjakan?

– Bukankah ketika kita melakukan perintahNya dan ketika kita meninggalkan laranganNya, maka kita ‘mensucikan’ amalan kita dari berbuat durhaka kepadaNya?

– Bukankah niat kita ketika melakukan perintahNya, dan meninggalkan laranganNya, adalah untuk MENSUCIKAN DIRI kita dihadapanNya dan dalam rangka MENGAGUNGKANNYA ?!

– Bukankah jika kita melakukan laranganNya atau meninggalkan perintahNya; merupakan wujud pembangkangan padaNya, yang ini berkebalikan dari hakikat tasbih?!

– Bukankah ketika Allaah memerintahkan kita untuk MENDIRIKAN SHALAT WAJIB, maka Dia memerintahkannya dengan menggunakan kalimat “tasbih”!?

Simaklah firmanNya:

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ …. وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ

Maka BERTASBIHLAH kepada Allaah, di waktu petang [dan ini perintah shalat maghrib dan ‘isya], dan diwaktu shubuh [ini perintah shalat fajar/shubuh], …. (sampai pada firmanNya) … Dan diwaktu ‘ashiyy’ [ini perintah shalat ‘ashar], dan diwaktu zhuhur [ini perintah untuk melaksanakan shalat zhuhur]

(ar Ruum: 17-18, tafsiir ath thabariy)

– Bukankah secara fithrah, ketika kita melihat kemaksiatan, maka kita mengucap “SUBHAANALLAAH” (Maha Suci Allaah)!?[1. Bahkan ketika kita mendengar berita buruk (yang disebarkan kepada kaum mukminiin dan mukminat) maka diperintahkanNya untuk mengucap: SUBHAANAKA HAADZA BUHTAANUN ‘AZHIIM [Maha Suci Engkau (Ya Allaah), ini merupakan kebohongan yang besar]

Apakah kita lupa akan sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

Agama itu an Nashiihah

قَالُوْا : لِمَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟

(para shahabat bertanya) untuk siapa wahai Rasuulullaah?

لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ أَوْ لِلمُؤْمِنِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ

Untuk Allaah, untuk kitabNya, untuk rasulNya, untuk para pemimpin muslimiin atau mu’miniin, dan rakyat-rakyatnya.

(HR Muslim)

Bukankah “Na sha ha” bersinonimkan “kha la sha” (mensucikan/memurnikan) ?!

Bukankah “an nashiihatu li LLaah” adalah dalam rangka kita mensucikanNya dari berbagai keburukan, dalam rangka mensucikanNya dari kekurangan, dalam rangka memurnikan peribadatan kepadaNya ?!

Bukankah “an nashiihatu li kitaabihi” adalah dalam rangka kita mensucikan kitabNya dari segala kekurangan dan keburukan? dalam rangka kita mensucikan kitabNya dari penyelewengan makna orang-orang sesat dan jahil?!

Bukankah “an nashiihatu li rasuulihi” adalah dalam rangka kita mensucikan RasulNya dari perkataan buruk dan tuduhan dusta orang-orang kaafir ? dalam rangka kita menegakkan agama yang beliau bawa? dalam rangka membela agama yang beliau bawa? dalam rangka membersihkan penyimpangan dalam agama, yang dibuat-buat oleh ahlul bida’ wal ahwa?!

Bukankah “an nashiihatu li a-immatil muslimiin wa ‘aammatihim” dalam rangka untuk ‘mensucikan’ perbuatan mereka, agar mereka berbuat ma’ruf dan meninggalkan kemungkaran?[2. Sebagaimana firmanNya:

وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا ۙ اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا

Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?”

قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (sebagai pelepas tanggung jawab kami) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.”

(al A’raaf : 164)

Juga sebagaimana perkataan hambaNya yang shaalih (Nabi Syu’aib ‘alayhis salaam) :

مَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.

(Huud : 88)]

Maka setelah tahu… maka semoga kita mengisi hari-hari kita dengan tasbiih kepadaNya… Tasbih yang bukan hanya sekedar ucapan (meskipun memperbanyak ucapan ini disunnahkan), akan tetapi juga dengan BUKTI NYATA dalam perbuatan bahwa kita bertasbih kepadaNya… Sebagai pembenaran kita, akan ucapan tasbiih tersebut… Yaitu menjalankan apa-apa yang diwajibkanNya (sampai batas akhir kemampuan kita), dan menjauhi segala yang dilarangNya…

Ketahuilah, bahwa SELURUH ALAM disekitar kita bertasbih kepadaNya, sebagaimana firmanNya:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (al Israa’ : 44)

Maka sudah sepatutnya kita MALU, ketika kita tidak bertasbih kepadaNya (yaitu ketika lalai dari ibadah, atau bahkan ketika kita meninggalkan kewajiban dan mengerjakan maksiat)…

Jika SUDAH TIDAK MALU (padahal sudah sadar), maka sungguh sikap seperti itu adalah awal dari segala keburukan, karena Rasuulullaah bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

sesungguhnya di antara apa yang didapati manusia dari kalam nubuwwah yang terdahulu adalah “apabila engkau tidak malu, maka lakukanlah semaumu (diantara penafsirannya : apabila seseorang sudah tidak malu lagi, maka ia akan melakukan semaunya)”

(HR. Al Bukhaariy)

Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أتاني جبريل فقال

‘Jibril mendatangiku dan berkata,

يا محمد عش ما شئت فإنك ميت ،

‘Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, (tapi ketahuilah) engkau akan mati [dan kelak engkau akan dimintai pertanggung jawaban setelah matimu tentang hidupmu, az]’

و اعمل ما شئت فإنك مجزي به

lakukanlah apapun keinginanmu, engkau akan mendapatkan balasannya….

(HR. Al-Hakim & Al-Baihaqi; derajatnya: Hasan Lighayrihi, lihat Shahiih Jami’ush Shaghiir, no. 73, juga shahiih at targhiib wat tarhiib no. 824).

Maka tidak ada pilihan bagi kita, kecuali bertasbih kepadaNya; mengerjakan kewajibanNya, meninggalkan laranganNya, dan melakukan hal-hal yang bermanfa’at [yang ada manfa’at akhirat, dan kita meniatkannya untuk aakhirat].

Maka mari kita penuhi hidup kita dengan bertasbih kepadaNya…

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Dzikir, Ibadah, Tauhid Asma' Wa Sifat, Tauhid Uluhiyyah, Tazkiyatun Nufus

Tanpa perlindungan dan pertolonganNya, kita PASTI KALAH atau DIKALAHKAN MUSUH!

Allaah menciptakan manusia dalam keadan lemah, demikian pula tipu daya syaithan, disebutkan Allaah adalah tipu dayanya adalah tipu daya yang lemah…

Akan tetapi Ingat!!! syaithan dan bala tentaranya selalu mewaspadai kita siang dan malam, ditempat yang tidak terlihat oleh kita… Untuk menggelincirkan kita…

Jika manusia lalai, maka disitulah syaithan menggelincirkan mereka… Jika sekali tergelincir, akan dibuai dan terus dibuai dalam ketergelinciran, agar tidak kembali kepadaNya; tetap dalam keburukan, dan jauh dari kebaikan…

Akan tetapi kita memiliki Allaah, Yang Maha Mengawasi, yang pengawasannya diatas pengawasan syaithan. Yang MakarNya Maha Mengalahkan segala makar buruk. Yang Dia Maha Kuat tanpa ada tandinganNya. Maka tidak ada cara bagi kita, untuk melawan makar musuh, kecuali dengan meminta pertolongan dan perlindungan kepadaNya[1. Allaah berfirman:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan jika syaithan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Fushshilat: 36)]

Ketahuilah! Dialah sebaik-baik Dzat yang ditawakkali[2. Bahkan tawakkal kitalah senjata utama kita melawan tipu daya syaithan, sebagaimana firmanNya:

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya Syaithaan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. (an Nahl: 99)]…Dialah pula sebaik-baik Dzat yang dimohonkan perlindungan dan pertolongan… Yang Maha Kuat lagi Maha Kuasa…

Maka jika kita senantiasa ingat kepadaNya, sehingga kita senantiasa MEMOHON pertolongan dan perlindunganNya… Maka Dialah sebaik-baik penjaga kita, Dialah pula sebaik-baik pengatur urusan kita…

Oleh karenanya, seorang yang terjerumus dalam kubangan kemaksiatan itu, tidak lepas dari kelompok berikut:

– Seorang yang LUPA kepada Allaah… Sehingga Allaah pun melupakanNya, dan menyerahkan urusannya kepada dirinya sendiri… Maka jadilah ia tawanan syaithan dan hawa nafsunya…

– (cabang dari point pertama) seorang yang UJUB, dengan dirinya… Ia menyangka dirinya sendiri mampu melawan syaithan… Maka Allaah pun menyerahkan urusannya kepadanya, dan jadilah ia tawanan syaithan dan hawa nafsunya

– (juga cabang dari yang pertama, dan ini lebih parah) seorang yang TAKABBUR, bahkan ANGKUH… Tidak ada rasa butuh sedikitpun kepada Allaah, dalam urusannya… Merasa dirinyalah yang paling mampu mengurusi segala urusan… Maka jadilah ia budak-budak syaithan dan hawa nafsu…

Hanya Allaah-lah pemberi pertolongan dan perlindungan; tanpaNya, maka kita akan kalah atau dikalahkan musuh kita… Baik yang nampak maupun tersembunyi, baik manusia ataupun kalangan jin…

Saking pentingnya untuk menggantungkan diri kita kepadaNya, sampai-sampai syari’at mengajarkan kita untuk -paling tidak- 17 kali memintakan pertolongan kepadaNya. Yaitu didalam shalat kita, kita membaca:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

(al Faatihah: 5)

Kita sebagai hambaNya, diwajibkan untuk menyembahNya (dengan tanpa menyekutukanNya); ketahuilah dalam penyembahan ini… kita butuh PERTOLONGAN-Nya, sehingga kita diberikan pertolongan, kemampuan, serta kemundahan agar kita dapat mewujudkan peribadatan kepadaNya. Tanpa pertolongan, dan kemudahan dariNya maka kita tidak akan mampu menyembahNya (dengan benar).

Maka hendaknya kita senantiasa memohon perlindungan kepada Allaah dari godaan syaithan dan hawa nafsu…

Bahkan sesungguhnya nabi shalallaahu ‘alayhi wa sallam pun senantiasa memohon perlindungan dan pertolongan kepada Allaah… Dan sesungguhnya beliau adalah orang yang paling bertawakkal kepada Allaah, sebagaimana dzikir yang selalu beliau baca disetiap pagi dan petang (yang hendaknya jangan sampai kita tinggalkan)

اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُورُ.

Allaahumma bika ash-bahna, wa bika amsaynaa, wa bika nahyaa, wa bika namuut, wa ilaykan nusyuur

“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolonganMu kami memasuki waktu shubuh, dan dengan rahmat dan pertolonganMu kami memasuki waktu petang. Dengan rahmat dan pertolonganMu kami hidup dan dengan kehendakMu kami mati. Dan kepadaMu kebangkitan (bagi semua makhluk).”

(Hadits Shahiih; Diriwayatkan Imam al Bukhaariy dalam adabul mufrad, Imam Ahmad dalam musnadnya, diriwayatkan pula Imam Abu Dawud, Imam at Tirmidziy, Imam ibnu Maajah dalam sunan mereka; dan selain mereka)

Bahkan dzikir beliau, yang lebih menakjubkan kita lagi… [kedua]

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ

yaa hayyu yaa qayyuum,

Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu)

بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ،

bi rahmatika astaghiits

Dengan rahmatMu aku MEMOHON PERTOLONGAN…

أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

ash-lihliy sya’niy kullah, wa laa takilniy ila nafsiy tharfata ‘ayn[2. Ada faidah yang sangat menarik dalam ucapan ini…

“Jangan (jadikan) aku “bertawakkal” pada diriku meskipun itu sekejap mata…”

Allaah tidak ridha jika makhluqNya bertawakkal kepada selainNya…

Maka ketika seseorang ujub, disitulah ia sedang tawakkal kepada dirinya sendiri… Maka Allaah pun membiarkannya untuk mengurusi urusannya sendiri… Akhirnya urusannya tercerai berai, penuh kemungkaran, lagi tidak diberkahi…

Berbeda dengan orang yang bertawakkal kepadaNya…

Maka Allaah-lah yang memberinya pertolongan sehingga ia berusaha…Allaah-lah yang memudahkan urusannya ketika ia berusaha… Dan Allaah-lah yang memberinya rizki dalam perkara tersebut, tanpa disngka-sangkanya… Dan ia pun diberkahi oleh Allaah dalam usaha dan hasil usahanya…

Maka apakah patut kita menjadikan selainNya (termasuk diri kita) untuk ditawakkali?! Barang sekejap matapun?! Sungguh tidak patut!!!

Hanya saja kita sering lalai, sering ujub, bahkan mungkin sering takabbur… Sehingga rusakah urusan kita…

Bahkan mungkin kita justru bertawakkal kepada orang lain (makhluq YANG LEMAH seperti kita), atau bahkan bertawakkal kepada BENDA MATI? Atau ORANG MATI?

Sungguh amat lemahlah dzat yang ditawakkali tersebut, yang amat sangat lemah, lebih lemah dari sarang laba-laba… Sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk bergantung pada hal-hal tersebut…

Hanya Dia saja yang pantas kita serahkan SELURUH tawakkal kita pada SELURUH urusan kita.. Di SETIAP WAKTU… Sebaik-baik Dzat Yang Di Tawakkali, Dzat Yang Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri… Maha Kuat lagi Maha Mengalahkan… Yang tiada sesuatu apapun yang berhak untuk ditawakkali, melainkan hanya Dia semata… Tiada sekutu bagiNya…]

“perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku SEKALIPUN SEKEJAP MATA (tanpa mendapat pertolongan dariMu).”

(Hadits hasan, diriwayatkan al haakim dan selainnya)

Sudah sepantasnya kita menjadikan beliau suri tauladan kita, yang hendaknya kita mengikuti beliau dalam hal ini; yang dengannya kita diberi perlindungan (dari musuh) dan pertolongan (untuk melawan musuh) sehingga kita mampu mengalahkan segala tipu daya mereka. Sebagaimana Allaah memuliakan Rasuulullaah dan para shahabatnya diatas orang-orang kaafir yang hina dina.

Semoga Allaah menjadikan kita hamba-hamba yang menyembahNya dengan benar, dan hamba-hamba yang kuat tawakkalnya kepadaNya, dengan senantiasa menjadikanNya satu-satunya sebagai tempat bergantung, memohon pertolongan dan memohonkan perlindungan. Aaamiin.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Tauhid Uluhiyyah, Tazkiyatun Nufus

Renungan kehidupan

[renungan ayat, renungan kehidupan]

Allaah berfirman:

أَلَمْ يَعْلَم بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

Tidaklah dia MENGETAHUI bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?

(al ‘Alaq: 14)

Apakah seseorang MENGETAHUI bahwa amalannya dilihat Allaah? Bahkan apakah seseorang mengenal siapa itu Allaah?

Allaah adalah Tuhan yang menciptakan kita, dan orang-orang sebelum kita, dan yang akan datang; dan Dia pula yang telah menciptakan alam semesta, Dialah Yang Mengatur dan Memeliharanya. Dia tidak menciptakan semua itu dengan sia-sia, tapi dengan tujuan yang jelas; agar jin dan manusia menyembahNya (dan tidak menyekutukanNya sedikitpun juga). Kelak dunia ini akan musnah, dan kita akan dibangkitkanNya, kemudian kita akan dimintai pertanggung jawaban atas segala perbuatan kita; barangsiapa yang menghadap kepadaNya dengan iman dan amal shalih, maka dia beruntung. barangsiapa yang menghadap kepadaNya dengan kekufuran kepadaNya, maka dia celaka.

Hendaknya kita mengetahui, Dzat Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, yang kelak di aakhirat memiliki balasan yang amat pedih lagi keras, Maha Melihat amalan-amalan kita. Maka hendaknya kita bertaqwa kepadaNya, dengan tidak berlaku lancang dihadapanNya.

Hendaknya kita hidup diatas aturanNya, karena Dialah yang menciptakan kita, Dialah yang memiliki bumi ini; maka sebagaimana seorang tuan berhak mengatur-ngatur budaknya, sebagaimana tuan rumah mengatur-ngatur orang yang berada dirumahnya; maka demikian pula Tuhan semesta alam, berhak mengatur-ngatur hambaNya, demikian pula Tuhan pemilik langit dan bumi, berhak mengatur-ngatur penghuni bumi yang beratapkan langitNya.

Maka tidak ada alasan bagi ktia untuk mengatakan: “biarkan saja saya berbuat sesuka hati saya; hidup-hidup saya, badan-badan saya; suka-suka saya dong mau apain badan dan hidup saya!”

Karena sudah disebutkan diawal tadi, bahwa Allaah tidaklah menciptakan langit, bumi, dan seluruh makhluqNya dengan main-main atau sia-sia; tanpa diperintah, tanpa dilarang, tanpa dimintai pertanggung jawaban!

Dan Allaah-lah yang menciptakan dirimu, Allaah-lah yang sebenar-benar pemilik dirimu; Allaah-lah yang menghidupkanmu, Allaah-lah yang memberimu rizki, Allaah-lah yang memeliharamu. Maka Dia berhak memerintahkan dan melarangmu, Dia-lah pula yang mematikanmu, dan Dia-lah pula yang kelak akan memintakan pertanggung jawaban atas seluruh amalanmu kelak dihari kiamat; bahkan Dialah yang sekarang ini Maha Melihat segala perbuatanmu; meskipun engkau sendirian di kamarmu, meskipun engkau bersembunyi dibalik batu yang hitam, ditengah malam yang kelam, Dia Melihat perbuatanmu, dan kelak Dia akan memintakan pertanggung jawabanmu atas perbuatanmu tersebut di hari kiamat.

Maka hendaknya kita menyembahNya (dan tidak menyekutukanNya sedikitpun dengan sesuatu apapun; sebagaimana Dia tidak memiliki sekutu dalam penciptaan, pengaturan, serta pemeliharaan alam semesta). Dan hendaknya kita hidup dengan mengikuti aturanNya, maka jadilah kita sebaik-baik hambaNya yang berjalan diatas bumiNya.

Jangan sampai kita seperti orang yang TIDAK TAHU DIRI, yang berbuat sesuka hatinya; padahal dia asalnya dari mani yang hina. padahal dia tidak menciptakan dirinya sendiri. padahal dia hanya ‘menumpang’ di bumiNya. padahal dia diberi rizki oleh Allaah, meskipun dia tidak meminta kepadaNya; rizki oksigen, rizki air, rizki segala macam makanan; rizki organ-organ tubuhnya tidak ada yang cacat, dan segala macam rezki yang tidak dapat terhitung. Tapi dia malah tidak mau mencari tahu siapa yang menciptakannya, siapa yang memeliharanya, tidak mau mencari tahu bagaimana cara mensyukuri segala nikmat-nikmat yang ia rasakan… sehingga dia tidak berterima kasih (tidak bersyukur) kepada Dzat yang Maha Pemberi rizki, dengan hidup seenak hatinya…

Ia jadikan dirinya/hawa nafsunya sebagai sesembahannya (yang ia taati; yang menjadi barometer benci dan cinta-nya), ia jadikan hawa nafsunya sebagai aturan hidupnya; sehingga ia hidup tanpa aturan, hidup tanpa tujuan yang jelas; ia mengira ia hidup diatas kemerdekaan dan kebebasan, tapi pada hakekatnya ia terbelenggu diatas perbudakan hawa nafsu yang hina! ia menyangka kematian mengakhiri segalanya… ia tidak tahu, dan ia tidak mau tahu, atau ia lupa; bahwa DI SAAT KEMATIANNYA ada SAKRATUL MAUT yang pedih menanti; dan setelah kematiannya, ada adzab kubur yang menanti, ada hari perhitungan yang berat, ada neraka yang akan menyiksa hamba-hamba Allaah yang kafir kepadaNya. Na’uudzubillaah!

Kalau dia TAHU bahwa Allaah melihat segala perbuatannya, dan dia TAHU bahwa kelak Allaah akan membalas segala perbuatannya; maka hendaknya dia bertaubat dari perbuatan buruknya, beriman kepadaNya, jujur dengan keimanan tersebut dan bersegera beramal shalih. Sungguh dia akan mendapati Allaah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dia akan dapati Allaah Maha Mensyukuri hamba-hambaNya yang beriman dan beramal shaalih. Dia akan dapati Allaah Yang Tidak Menyalahi Janji-Nya, Yang Maha Benar; yang tidak ada perkataan yang lebih benar dariNya, tidak ada janji yang lebih ditepati dariNya, dan tidak ada yang lebih baik balasannya selain dariNya, sebaik-baik pemberi balasan.

Ketahuilah barangsiapa yang beriman dan beramal shaalih, Maka Allaah akan membalasnya dunia dan aakhirat, di dunia dia hidup diatas kebahagiaan yang hakiki, dan ia jika ia mati diatas keimanan kepadaNya, maka ia akan mendapatkan kemenangan dan kebahagiaan yang abadi! Dimudahkan baginya sakratul mawt, disediakan baginya nikmat kubur sebaik-baik tempat penantian sebelum datangnya hari berbangkit, diberikan rasa aman baginya dihari berbangkit dan hari perhitungan, disaat kebanyakan manusia diliputi rasa takut, kemudian dimasukannya kedalam surga yang luasnya seluas langit dan bumi; yang nikmatnya tidak dapat terbayang oleh pikiran, tidak pernah terlintas dalam hati, tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah pula terasa oleh panca inderanya! Sungguh bahagia orang-orang yang hidup diatas keimanan dan amalan shalih, dan wafat diatasnya!

Setelah kita mengetahui bahwa Dialah sebaik-baik pemberi balasan, maka janganlah sampai kita mencari balasan dari selainNya ketika mengamalkan amalan aakhirat. Sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi balasan yang lebih baik, dibandingNya. Dan jika kita mencari balasan dari selainNya dari amalan aakhirat, maka ketahuilah Dia tidak membutuhkan sekutu. Dia tidak menerima amalan yang secara lahir tampak ‘beribadah kepadaNya’ tapi secara bathin mencari balasan dari selainNya. Sungguh amalan tersebut adalah kedustaan yang nyata, seburuk-buruk kedustaan, seburuk-buruk tipuan. Selain tidak diterimaNya, pelakunya pun mendapat DOSA BESAR disisiNya, kelak di aakhirat, Allaah akan menyuruhnya untuk meminta balasan kepada orang-orang yang ia cari-cari balasan tersebut! Sedangkan di aakhirat kelak, tidak ada yang mampu memberi balasan kecuali Dia. Maka dimasukkanNyalah ke neraka jahannam para pendusta dan para penipu itu! Na’uudzubillah.

Demikian pula, setelah kita mengetahui bahwa sebaik-baik balasan, adalah balasan aakhirat. Maka hendaknya kita mengharapkan BALASAN AAKHIRAT dari amalan aakhirat kita. Jangan jadikan BALASAN DUNIA sebagai TUJUAN UTAMA kita beramal (amalan aaakhirat!). Sungguh, alangkah meruginya, seseorang yang HANYA MENGINGINKAN BALASAN DUNIA dari amalan akhiratnya! ia bersedekah, HANYA agar Allaah menambah rezkinya (tidak menginginkan balasan di aakhirat)! Maka Allaah memberikan balasan duniawi YANG SUDAH DITAQDIRKAN untuknya, dan baginya tidak ada balasan di aakhirat! Na’uudzubillaah.

Kalau dia telah mengetahui apa-apa yang dipaparkan diatas, tapi perbuatannya seperti orang yang tidak mengetahui… Maka sungguh apa yang ia ketahui itu hanyalah sekedar WAWASAN, bukanlah pengetahuan yang bermanfa’at… Karena orang yang mengetahui, sudah semestinya TIDAK SERUPA dengan mereka yang tidak mengetahui… Jika orang yang mengetahui itu SERUPA dengan yang tidak mengetahui; maka dia sebodoh-bodohnya manusia… Dia sudah tahu, tapi pengetahuan itu tidak nampak dalam dirinya… Dia mengira dia lebih berilmu, tapi pada nyatanya dia bodoh; sebagaimana yang nampak dalam amalannya! Maka sungguh, ilmu itu barulah bermanfaat jika teresapkan kedalam dada, dan tampak dalam perbuatan. Adapun ilmu yang sekedar wawasan, yang tidak teresapkan kedalam dada, sehingga tidak nampak dalam perbuatan; maka ini bukanlah ilmu yang bermanfa’at… bukanlah ilmu yang bermanfa’at (kita memohon kepadaNya ilmu yang bermanfa’at, amalan yang shaalih, serta rizki yang baik [sebagaimana inilah dzikir yang sering dipintakan manusia terbaik (Rasuulullaah) kepada Allaah, setiap selepas shalat shubuh])

Maka hendaknya kita hidup diatas iman dan amalan shaalih, bertaqwa kepadaNya dengan sebenar-benarnya taqwa; karena Dia melihat segala perbuatan kita. Dialah yang akan membalas segala perbuatan kita, Dia Maha Keras adzabNya; akan tetapi Dia pun Maha Luas rahmatNya, dan sebaik-baik pemberi balasan. Maka inginkanlah balasan aakhirat, yang semoga kita semua mati diatas iman dan amalan shaalih; sehingga kita semua bertemu di surgaNya, dan kita bertemu dengan Dzat Yang telah menciptakan kita di surgaNya, dan memandang WajahNya yang Maha Mulia lagi Maha Sempurna, yang tiada kenikmatan yang melebihi kenikmatan tersebut (yang semoga kita semua termasuk yang mendapatkan kenikmatan tersebut; yang dengan itulah hendaknya kita bersemangat dan berlomba-lomba mencarinya) aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Dzikrul Maut, Tauhid Asma' Wa Sifat, Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, Tazkiyatun Nufus

Dapatkah mayyit/penghuni kubur mendengar dan mengijabah permohonan?!

Pertama-tama, apakah dia mampu mendengar?

Taruhlah, dia mampu mendengar… Maka kita tanyakan : “pendengarannya seperti apa? dan bagaimana cara dia mendengar?”

Misalkan ada lima orang yang ‘meminta tolong’ kepadanya, dengan lima permohonan yang berbeda DALAM SATU WAKTU… Maka kita tanyakan: “Apakah ia MAMPU MENDENGAR seluruh lima permohonan tersebut dalam SATU WAKTU?”

Jika dijawab “iya, dia mendengar, dan mampu mendengar lima permohonan tersebut”

Maka kita katakan, “maka engkau telah mensifatkan sifat-sifat ketuhanan pada penghuni kubur ini, dan telah menjadikan penghuni kubur ini sebagai tandingan Allaah!!!”

Dari sisi mana? Dari sisi Allaah Maha Mendengar!!! Allaah itu Maha Mendengar, pendengaranNya sempurna, tiada yang menyerupai pendengaranNya, dan tiada yang menandingi kesempurnaan pendengaranNya.

Allah mampu mendengar milyaran orang yang memohonkan ampun kepadanya diwaktu yang bersamaan. Bahkan jika milyaran orang tersebut, memiliki permohonan yang berbeda-beda, Allaah Maha Mendengar seluruh permohonan tersebut!

Dan engkau telah sifat Allaah “Maha Mendengar” ini terhadap penghuni kubur tersebut!!!

Mungkin engkau BERDALIH dengan hadits-hadits berikut:

Rasuulullaah bersabda:

لا تجعلوا بيوتكم قبوراً ، ولا تجعلوا قبري عيداً ، وصلُّوا عليَّ فإن صلاتكم تبلغني حيث كنتم

Janganlah kalian menjadikan rumah kalian kuburan, dan jangan jadikan kuburanku sebagai ‘id (tempat perayaan atau didatangi berulang-ulang); Dan bersholawatlah kepadaku di mana saja kamu berada, karena sholawat kamu akan sampai kepadaku”

(HR Abu Daawud, trdpt dlm shahiihul jaami’)

Dalam riwayat lain:

وَصَلُّوا عَلَيَّ وَسَلِّمُوْا حَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَسَيَبْلُغُنِي سَلاَمُكُمْ وَصَلَاتَكُمْ

Dan bersholawatlah kepadaku serta ucapkanlah salam (kepadaku) di mana saja kamu berada, karena salam dan sholawat kamu akan sampai kepadaku”.

(HR. Isma’il Al-Qodhiy, shahiih)

Kemudian engkau berkata:

“Jika shalawat kita sampai kepada beliau, maka tentu doa kita yang sampai kepada beliau; sehingga beliau akan menyampaikan doa kita kepada Allaah”

Maka kita jawab:

1. Yang disebutkan hadits diatas HANYA SEBATAS SHALAWAT dan SALAM saja.

Dan shalawat dan salam kita kepada beliau, adalah DOA KITA KEPADA BELIAU… Kita TIDAK SEDANG MEMINTA DOA kepada beliau dengan doa dan salam tersebut?! Kita pun TIDAK SEDANG meminta permohonan kepada beliau dengan doa dan salam tersebut!

2. Telah DITETAPKAN DALIL, bahwa keduanya SAMPAI kepada nabi.

3. Sampainya shalawat dan salam kepada beliau pun, DENGAN BANTUAN MALAIKAT yang Allaah utus untuk menyampaikan orang yang bershalawat dan salam kepada beliau.

Sebagaimana sabda beliau:

إِنَّ لِلَّهِ مَلائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الأَرْضِ يُبَلِّغُونِي عَنْ أُمَّتِيَ السَّلامَ

Sesungguhnya Allaah memiliki malaikat yang berkeliling di bumi, Mereka menyampaikan salam dari umatku kepadaku.

(Shahiih; HR. an Nasaaiy dan selainnya)

Maka beliau tidak mampu untuk mendengar salam tersebut dengan kemampuan beliau, tapi dengan bantuan malaikat yang telah Allaah utus, agar malaikat tersebut menyampaikan salam umat beliau kepada beliau!

4. MENGQIYASKAN doa dengan shalawat dan salam, merupakan KEBATHILAN yang nyata.

Karena ini perkara ghaib, tidak ada ruangan qiyas didalamnya. Dan ini juga perkara ibadah, MENURUT MADZHAB SYAAFI’IY, TIDAK ADA QIYAS DALAM IBADAH!

Berkata Imam ibnu Katsiir dan beliau BERMADZHAB SYAAFI’IY:

Dalam masalah peribadatan hanya terbatas pada dalil (Nash – nash) dan tidak boleh dipalingkan dengan berbagai macam Qiyas dan Ro’yu (pikiran).

(Kitab Tafsir Ibnu Katsir Juz IV hlm. 272)

Maka kita HANYA MENCUKUPKAN dalam hal ini pada perkara SHALAWAT dan SALAM. TIDAK ADA QIYAS untuk selainnya. Sampai ada dalil YANG MENETAPKANNYA!

Adakah Abu Bakar mendatangi kuburan nabi, untuk meminta pertolongan kepadanya agar doanya disampaikan nabi kepada Allaah? Adakah abu bakar menyeru nama nabi “wahai Rasuulullaah, sampaikan doaku (begini-begitu) kepada Allaah” ditempat manapun?

Adakah para shahabat demikian?

[Bahkan yang ada hanyalah riwayat dha’iif lagi maudhu’, bahkan mungkin TIDAK ADA ASAL-nya (tidak ada sanadnya!)]

5. MENGQIYASKAN Rasuulullaah dengan selain beliau pun, adalah QIYAS yang baathil.

Bagaimana bisa Rasuulullaah (utusan Allaah) serta khaliilullaah (kekasih Allaah) disamakan dengan selain beliau?! Dari sisi ini saja sudah sangat bathil qiyasnya!

Kemudian pula, darimana engkau memastikan bahwa penghuni kubur tersebut adalah wali Allaah? apakah engkau MEMASTIKAN dia orang bertaqwa disisi Allaah? engkau memastikan dia penghuni surga?

Taruhlah kalau memang dia adalah wali Allaah dan dia adalah penghuni surga (yang memang sudah ditetapkan dalil; seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Aliy, dan shahabat lain yang telah dijamin masuk surga)… Tapi adakah para shahabat yang mengirimkan salam kepada mereka secara langsung dimanapun mereka berada? (apalagi meminta ‘bantuan’ kepada mereka, agar menyampaikan doa mereka kepada Allaah)?!

Bagaimana mereka hendak mendengar salam dan doa tersebut? Apakah Allaah menugaskan malaikat untuk mereka yang menyampaikan salam yang ditujukan kepada mereka?!

Adakah dalil yang menyebutkan bahwa orang-orang shalih (wali), juga dianugerahi SESUATU YANG LUAR BIASA seperti Rasuulullaah?! (yaitu adanya malaikat yang menyampaikan salam kepada mereka, jika ada yang salam kepada mereka?!) Kalau demikian, maka SUDAH TIDAK ADA LAGI KEUTAMAAN RASUULULLAAH dibandingkan selain beliau!

Jika tidak ada utusan malaikat pada mereka, lantas bagaimana mereka mendengar seruan tersebut?!

Semasa mereka hidup, dan ada dua orang yang mengajak mereka berbicara dengan dua pembicaraan yang berbeda, apakah kita katakan ia mampu mendengar dua orang tersebut secara bersamaan? (tentu kita katakan TIDAK MAMPU! karena dia manusia biasa, dan pendengarannya pun pendengaran seperti manusia biasa!)

Semasa mereka hidup, apakah mereka mampu mendengar orang yang berbicara dari pulau lain? jangankan pulau lain, apakah ia mampu mendengar seruan orang yang berada 1 km darinya? atau terpisah tembok yang tebal? [tentu kita katakan dia TIDAK BISA MENDENGAR, kecuali melalui bantuan handphone/audio-chat/video-chat… itupun dia cuma bisa mendnegar satu orang, jika dua atau tiga orang atau lebih yang berbicara dengannya dia TIDAK MAMPU mendengar seluruh pembicaraan tersebut dalam SATU WAKTU..]

Maka bagaimana mungkin ketika mereka wafat mereka mampu mendengar dua orang yang mengajak bicara mereka dengan dua pembicaraan yang berbeda?! bagaimana mungkin mereka mampu mendengar LEBIH DARI ITU? bagaimana mungkin juga mereka mampu mendengar seruan yang berbeda-beda bahkan dari arah yang sangat jauh?! bahkandari berbagai belahan dunia?! dengan apa mereka bisa mendengar seruan tersebut ?!

Atau apakah engkau hendak menyamakan pendengaran mereka dengan pendengaran Allaah?! Maha tinggi lagi Maha Suci Allaah dari keserupaan dengan makhluqNya!

(ini baru permasalahan “mendengar seruan”)

Kedua, (taruhlah dia mampu mendengar; dan ini adalah kebathilan yang nyata!) apakah dia mampu mengijabah ‘bantuan’ yang dimohonkan padanya ?

1. Adapun KHUSUS RASUULULLAAH, maka TELAH ADA DALIL, bahwa beliau MENJAWAB SALAM umatnya yang disampaikan kepada beliau!

Beliau bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيَّ رُوْحِيْ حَتَّى أَرُدُّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

“Tidak ada seorang pun yang mengucapkan taslim kepadaku kecuali Allah akan mengembalikan rohku sehingga saya bisa membalas taslimnya”

(HR. Abu Daud no. 2041, Ahmad: 2/527, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 5679; sumber penukilan: al-atsariyyah)

Maka ini HANYA SEBATAS MENJAWAB SALAM! karena hanya itulah yang DITETAPKAN DALIL…

Jika ada yang berkata: “maka tentu SELAIN SALAM JUGA BERLAKU”

Maka kita jawab lagi: “PENETAPAN DEMIKIAN, mana DALIL yang mendasarinya?! masalah ghayb engkau melakukan qiyas?! masalah ibadah engkau melakukan qiyas!? sungguh ini perkara yang amat baathil!!!”

Dan SALAM kita kepada beliau, bukanlah sedang MEMOHONKAN SESUATU kepada beliau. Bahkan justru kita SEDANG MENDOAKAN BELIAU! dengan salam dan shalawat tersebut!

2. Maka SELAIN BELIAU yang pada mereka TIDAK DIUTUS MALAIKAT!!! Jika mendengar saja, mereka TIDAK MAMPU; bagaimana mereka hendak mengijabah permohonan yang ditujukan kepada mereka?!

Kalau BERDALIH dengna riwayat :

ما من رجل يمر بقبر رجل كان يعرفه في الدنيا فيسلم عليه إلا رد الله عليه روحه حتى يرد عليه السلام

Jika seorang melewati kuburan seorang yang pernah dikenal di dunia, kemudian memberi salam kepadanya, maka Allah akan mengembalikan ruhnya kepadanya untuk menjawab salamnya

(Maka hadits ini DHA’IIF, telah didha’iifkan SEJUMLAH ULAMA! SIMAK: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-157426.html)

Seandainya pun SHAHIIH (padahal dha’iif!), maka:

3. Hal ini KHUSUS BERKAITAN dengan SALAM SAJA. TIDAK PADA HAL LAIN!

Bagaimana mungkin hadits diatas hendak membenarkan istighatsah kepada penghuni kubur?! Sedangkan yang ditetapkan dalil (itupun kalau shahiih, padahal dha’iif) hanyalah MENJAWAB SALAM, bukan MENDOAKAN ornag yang menziarahinya! (justru penghuni kubur BUTUH terhadap doa orang yang menziarahi mereka! bukan sebaliknya!)

4. Hal ini pun LEBIH LAGI TIDAK MEMBENARKAN, untuk mengucapkan salam kepada penghuni kubur DARI KEJAUHAN!!!

Bukankah dalam riwayat diatas disebutkan

ما من رجل يمر بقبر رجل

Jika seorang MELEWATI KUBURAN seseorang…

Maka berarti hanya berlaku ketika DI KUBURAN… kalau salam kita panjatkan di wilayah lain yang jauh dari wilayah pekuburan, maka ini TIDAK MENCOCOKI HADITS.

Juga, tidak disebutkan dalam hadits, bahwa ada malaikat yang diutus Allaah (sebagaimana terhadap nabi) untuk menyampaikan salam kita kepadanya!!

Jika mengucapkan salam dari kejauhan, maka ini tidak bermanfa’at bagi si mayyit… maka lebih-lebih lagi beristighatsah kepadanya dari kejauhan!!! sekali-kali ia tidak mampu mendengar istighatsah tersebut, dan tidak mampu mengijabahnya! Dan jika kita berpemahaman dia memiliki kemampuan untuk mendengar dan mengijabah, maka kita telah menjadikannya tandingan selain Allaah!!!

5. Juga tidak membenarkan untuk berbondong-bondong kekuburan, dalam rangka mendapatkan salam penghuni kubur!

Karena Rasuulullaah SUDAH BERSABDA:

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.”

(Muttafaqun ‘alaih)

Menandakan LARANGAN ‘memakmurkan’ kuburan, sebagaimana masjid dimakmurkan dengan ibadah!!! Apalagi jika menjadikan kuburan sebagai tempat penyembahan penghuni kubur (baik ia sadar maupun tidak tentang penyembahan tersebut)! Maka jelas ini lebih parah lagi!

Jika ada yang berdalih:

“Istighatsah kita kepada penghuni kubur, adalah istighatsah secara ‘bahasa’, sebagaimana dahulu ketika mereka hidup, kita biasa memintakan mereka agar mereka berdoa kepada Allaah; maka demikian pula setelah mati… Jadi istighatsah kita kepada mereka, bukan istighatsah dalam pengertian beribadah kepada penghuni kubur/mayyit… kita hanya berkata: (sampaikanlah doa kami kepada Allaah, wahai penghuni kubur), dalam perkataan diatas tidak ada sama sekali perkataan yang mengandung peribadatan terhadap mereka! Kita tidak berkata: “wahai penghuni kubur, berilah kami rezeki” kita tidak berkata: “wahai penghuni kubur, angkatlah mudharat yang ada pada kami; atau berilah kami manfa’at” tapi kita berkata: “wahai penghuni kubur, wahai wali, sampaikanlah kepada Allaah agar Dia mengangkat kemudharatan kami; dan agar Dia memberi kemanfaatan pada kami…” Maka kami pada hakekatnya beribadah kepada Allaah, bukan kepada penghuni kubur!”

Maka kita jawab:

Sekalipun permohonan tersebut BUKAN BERSIFAT permohonan ibadah.

– Sudah dijelaskan diatas, bagaimana cara mereka mendengar setiap permohonan tersebut?! sedangkan tidak ada malaikat yang menyampaikannya kepada mereka?! Apakah kita hendak mensifatkan mereka dengan sifat-sifat ketuhanan (dalam hal ini sifat Maha Mendengar) yang hanya dimiliki Allaah?!

– Sudah dijelaskan pula diatas, bagaimana mereka dapat mengijabahkan istighatsah tersebut? sedangkan mereka telah wafat!? dan orang yang wafat tidak bisa disamakan dengan orang yang hidup! sebagaimana benda mati (batu/patung/pohon), tidak bisa kita samakan dengan makhluq hidup?! Coba jika kita dapati ada seorang yang berkata: “wahai batu, sampaikanlah kepada Allaah, doaku ini…” Maka kita katakan, “Hanya dua kemungkinan, orang ini orang gila; atau orang ini waras, tapi memiliki pemahaman kufur, yang berpemahaman dengan tanpa ilmu; bahwa batu dapat menyampaikan hajatnya kepada Allaah. Tidak ada satupun dalil yang datang dari Allaah dalam hal tersebut! Bagaimana bisa ia menetapkan demikian?!” (maka demikian juga berlaku pada mayyit atau penghuni kubur!)

– Sudah dijelaskan pula diatas, bagaimana cara mereka mengijabahkan setiap permohonan tersebut?! sedangkan mereka tidak mendengar istighatsah tersebut (simak point pertama) apakah kita mengklaim mereka mampu mendengar SETIAP permohoanan yang dutujukan kepada mereka? (maka kita telah menjadikan mereka sebagai tandingan Allaah!) terlebih lagi, apakah mereka kita hendak katakan mampu mengijabah seruan yang ditujukan kepada mereka!!! Apakah kita hendak mensifatkan mereka dengan sifat-sifat ketuhanan (dalam hal ini sifat Maha Mengijabahkan doa) yang hanya dimiliki Allaah?!

Maka meskipun permohonan tersbeut, bukanlah permohonan yang bersifat permohoanan ibadah, tetap saja TIDAK bisa DIBENARKAN…

Bahkan jika kita berpemahaman dia mampu mendengar dan dia mampu mengijabah, SETIAP PERMOHONAN yang ditujukan padanya; maka DISINILAH KESYIRIKAN tersebut! (terlepas dari permohonan apapun yang dipanjatkan kepadanya)… karena kita mensifatkannya dengan sifat-sifat yang hanya pantas disandang Allaah, dan dengan ini pula kita menjadikannya sebagai tandingan Allaah! seakan-akan selain Allaah, ada yang Maha Mendengar. seakan-akan selain Allaah, ada yang Mampu Mengijabahkan seruan!!!

Bahkan jika dia MASIH HIDUP pun… Namun kita berpemahaman demikian, maka kita menjadikannya sebagai tandingan bagi Allaah! Seakan-akan disamping Allaah, ada yang Maha Mendengar. Seakan-akan disamping Allaah, ada yang Mampu Mengijabahkan Seruan!!!

Apakah kita hendak menyamakan mereka dengan Allaah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mampu mengijabah berbagai doa dari hambaNya?!!! Jika tidak, maka tinggalkanlah beristighatsah terhadap orang-orang yang telah wafat, atau orang-orang yang TIDAK MENDENGAR permohonan kita dan juga TIDAK DAPAT MENGIJABAHKAN permohonan kita! (meski dia masih hidup)

Karena jika tetap berpemahaman seperti diatas, maka (baik sadar atau pun tidak), kita telah menganggapnya bahwa dia mendengar setiap seruan yang ditujukan kepadanya, dan dia mampu mengijabah setiap seruan tersebut! Padahaal sifat yang kita menisbahkan kepadanya, hanyalah sifat-sifat yang hanya pantas disandang Allaah!!! maka baik sadar atau pun tidak… kita telah menjadikannya tandingan bagi Allaah, sekutu Allaah dalam masalah sifat! na’uudzubillaah!

Adakah kita memikirkan konsekuensi tersebut?

سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Syubhat & Bantahan, Tauhid Asma' Wa Sifat, Tauhid Uluhiyyah