Category Archives: Dzikrul Maut

Empat golongan yang dipanjangkan umurnya

Dengan amalan apakah kita akan mengakhiri hidup kita?

1. Seorang yang secara terang-terangan selalu berbuat buruk dan perusakan.

Yang dia dipanjangkan umurnya oleh Allaah sebagai tipu daya; yang dengannya nantinya secara tiba-tiba dibinasakan. Na’uudzubillaah. Orang ini sebagaimana yang difirmankan Allaah:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

…Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.

(al-An’aam: 44)

2. Seorang yang menampakkan kebaikan secara kasat mata, tapi dia selalu melakukan keburukan dan perusakan yang tidak diketahui khalayak ramai.

Tapi Allaah Maha Mengetahui atas keburukan yg disembunyikannya dan apa yang ada dalam hatinya… maka dikhawatirkan perpanjangan umurnya ini hanya tipu daya baginya, sehingga disingkapkanlah oleh Allaah borok-boroknya di akhir hayatnya, hingga ia pun mati diatasnya. Na’uudzubillaah.

Orang ini sebagaimana yang disabdakan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ

“Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka…

(sampai sabda beliau)

وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

Sungguh amalan itu tergantung dengan penutupannya.”

(HR al-Bukhaariy)

3. Seorang yang selalu jatuh dalam perbuatan buruk, namun dia selalu kembali padaNya

Allaah Maha Mengetahui kebaikan yang ada padanya, serta apa yang ada dalam hatinya, maka Dia selalu membuka tanganNya untuk menerima taubatnya. Maka perpanjangan umur yang Allah berikan padanya agar ia dapat kembali kepadaNya, bertaubat dan beramal kebaikan… Maka akhirnya ia diberi hidayah di akhir hidupnya, atau bahkan menjelang wafatnya, sehingga ia wafat diatasnya.

Hal ini sebagaimana sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

…Dan ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga…

(HR al-Bukhaariy)

Dalam hadits lain:

وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ

“Jika Allah menginginkan kebaikan atas seorang hamba maka Dia akan membuatnya beramal sebelum kematiannya, ”

para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, bagaimana Allah membuatnya beramal?”

beliau bersabda:

يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ

“Memberinya taufik untuk beramal shaalih, setelah itu Dia mewafatkannya diatasnya”

(HR. Ahmad, al-haitsamiy berkata “shahiih”)

4. Seorang yang selalu sibuk dan bersegera dalam berbuat baik, secara nampak maupun secara tersembunyi

Maka ia dipanjangkan umurnya oleh Allaah untuk tetap dalam kebaikannya, bahkan termasuk yang menebar kebaikan, hingga akhirnya Allaah wafatkan ia diatasnya. Orang ini sebagaimana firmanNya:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka istiqamah (dengan ucapan mereka itu), maka malaikat akan turun kepada mereka (disaat wafat mereka) dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Fushshilat: 41)


Kita berlindung kepada Allaah dari menjadi golongan pertama ataupun kedua…

Jika kita bukan termasuk golongan keempat, maka berusahalah semenjak sekarang agar kita menjadi termasuk bagian dari mereka, atau paling tidak, semoga kita termasuk golongan ketiga…

Semoga Allaah menghidupkan kita diatas Islaam, dan mematikan kita diatas iimaan. Aamiin.

Tinggalkan komentar

Filed under Dzikrul Maut, Tazkiyatun Nufus

Amalan Rahasia Pengantar Husnul Khatimah

 


Seorang lelaki di Saudi memiliki tetangga yang tak pernah sholat dan berpuasa. Suatu hari, dia bermimpi kedatangan lelaki. Dalam mimpinya itu, lelaki tadi memintanya agar mengajak tetangganya yang tak pernah shalat untuk umrah.

Ia dikejutkan oleh mimpinya namun ia tak hiraukan. Anehnya mimpi yang sama terulang. Akhirnya ia mendatangi seorang syaikh untuk bertanya tentang mimpi tsb. Syaikh berujar bhw jika mimpi terulang lagi, ia mesti merealisasikan mimpinya itu.

Dan benar saja, ia bermimpi lagi. Lantas ia mengunjungi tetangganya untuk menawarkannya umrah bersama.

“Ayo umrah bersama kami.”

“Bagaimana aku akan umrah sementara aku tak pernah sholat.”

“Tenang saja. Aku akan mengajarkanmu sholat.”

Ia pun mengajarkannya kemudian lelaki itu mengerjakan sholat.

“Baik, aku sudah siap. Mari berangkat. Tapi, bagaimana aku umrah sementara aku tak tahu caranya.”

“Nanti di mobil kuajari.”

Keduanya dgn senang hati berangkat untuk umrah dengan menggunakan mobil. Setelah tiba, mereka melakukan tuntunan yang disyariatkan.
Selesailah prosesi. Keduanya akan kembali pulang.

“Sebelum balik, adakah engkau ingin melakukan sebuah amal yang engkau anggap penting?” Tanyanya kepada tetangganya.

“Iya. Aku ingin shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim.”

Sang tetangga pun sholat dan terjadilah hal yang menakjubkan. Ia meninggal dalam keadaan bersujud.

Lelaki yang membawanya kaget dan tersentak. Bagaimana mungkin lelaki yang hadir dalam mimpinya dan diajak umrah meninggal seolah-olah dia adalah wasilah kematiannya.

Akhirnya, jenazah dibawa pulang ke rumah istrinya. Ia bertanya dalam hati, bagaimana mungkin lelaki yang tak pernah shalat dan puasa meninggal saat umrah dalam keadaan sujud husnul khatimah? Ia berpikir pastilah ada amal spesial dan rahasia yang dilakukannya.

Kepada istri lelaki tadi, ia bertanya ttg ini.

“Kami memiliki tetangga seorang wanita tua renta. Suamiku begitu menyayanginya. Suamiku selalu membuat sendiri sarapan, makan siang dan makan malam lalu mengantarkannya kpd wanita tua itu. Wanita itu kerapkali mendoakan husnul khatimah untuk suamiku.” Ujar sang istri


Berkata Ustadz Fachriy:

Kisah di atas kami terjemahkan dari akun seorang ikhwah (Mesir).

Kami teringat nasehat syaikh Rajihi di kelas:

“Usahakan ya ikhwan,” kata syaikh, “kalian mesti memiliki amal rahasia yang hanya Alloh dan engkau saja yang tahu. Ini akan membantu kalian mengarungi dunia dan negeri akherat.”

Pemuda dalam kisah di atas memiliki amal rahasia yaitu memberi makan wanita tua yang merupakan tetangganya. Ia pun berteman dgn orang shalih yang merupakan wasilah menuju husnul khatimahnya.

“Sungguh,” tutur syaikh Sami di hadapan kami, “banyaklah berteman dengan orang-orang sholeh, penghafal alquran, dan lainnya.”


Semoga bermanfaat

2 Komentar

Filed under Dzikrul Maut, Tazkiyatun Nufus

Ujian yang lebih patut untuk dipersiapkan sebaik-baiknya

Sebagaimana anak-anak atau adik-adik kita, kita lihat bersungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian esok hari…

Patutlah kita ambil pelajaran, bahwa DUNIA ini SELURUHNYA UJIAN… Diantara ujiannya yaitu agar kita mempersiapkan diri kita untuk menghadapi sakratul maut dan alam barzakh…

Bedanya dengan anak-anak atau adik-adik kita… Mereka telah mengetahui kapan mereka diuji… Adapun kita, maka kita yang TIDAK MENGETAHUI kapankah ujian tersebut kita hadapi… Maka sepantasnya kita bersungguh-sungguh mempersiapkan untuk menghadapinya… Kita semua PASTI AKAN menghadapinya…
Bukankah ujian dadakan itu lebih patut untuk lebih bersungguh-sungguh untuk dipersiapkan untuk dihadapi?

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ . وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُورِ

Jadilah kamu di dunia seolah-olah orang asing, atau orang lewat, dan hitunglah dirimu termasuk penghuni kubur…

(HR Ahmad, at-Tirmidzi, Ibn Majah, ath-Thabarani dan al-Baihaqi).

Tinggalkan komentar

Filed under Dzikrul Maut

Nasehat Berharga Dari Imam Abul Laits as-Samarqandiy

Beliau berkata:

فَالْوَاجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَأَنْ يَسْتَعِدَّ لِلْقَبْرِ بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ فِيهِ ، فَإِنَّهُ قَدْ سَهُلَ عَلَيْهِ الْأَمْرُ مَا دَامَ فِي الدُّنْيَا ، فَإِذَا دَخَلَ الْقَبْرَ فَإِنَّهُ يَتَمَنَّى أَنْ يُؤْذَنَ لَهُ بِحَسَنَةٍ وَاحِدَةٍ ، فَلَا يُؤْذَنُ لَهُ ، فَيَبْقَى فِي حَسْرَةٍ وَنَدَامَةٍ

Yang wajib atas setiap muslim adalah memohon perlindungan kepada Allaah Ta’aala dari ‘adzab kubur, dan bersiap-siap untuk menghadapi (alam) kubur dengan amal-amal shaalih sebelum ia memasukinya. Karena sesungguhnya terkadang dia meremehkan perkara itu selama ia di dunia, namun ketika dia telah masuk kedalamnya, maka dia berharap bisa diizinkan untuk melakukan satu kebajikan tapi dia tidak diizinkan, maka dia pun berada dalam kerugian dan penyesalan.

فَيَنْبَغِي لِلْعَاقِلِ أَنْ يَتَفَكَّرَ فِي أُمُورِ الْمَوْتَى ، فَإِنَّ الْمَوْتَى يَتَمَنَّوْنَ أَنْ يُؤْذَنَ لَهُمْ بِأَنْ يُصَلُّوا رَكْعَتَيْنِ ، أَوْ يُؤْذَنَ لَهُمْ أَنْ يَقُولُوا مَرَّةً لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ، أَوْ يُؤْذَنَ لَهُمْ بِتَسْبِيحَةٍ وَاحِدَةٍ ، فَلَا يُؤْذَنُ لَهُمْ فَيَتَعَجَّبُونَ مِنَ الْأَحْيَاءِ أَنَّهُمْ يُضَيِّعُونَ أَيَّامَهُمْ فِي الْغَفْلَةِ وَالْبَطَالَةِ

Maka hendaklah orang yang berakal itu mau berfikir tentang perkara orang-orang yang telah wafat[1. Komentar Abu Zuhriy: Maka hendaknya kita benar-benar memperhatikan perkataan beliau ini. Beliau mengajak kita untuk melihat dari sudut pandang orang-orang yang telah wafat. Mereka itu dalam keadaan berharap agar dapat diizinkan SEKALI SAJA untuk beribadah, namun itu tidak akan pernah terjadi. Sungguh, jika kita menghadirkan ini dalam hati kita, maka kita akan bersemangat untuk beribadah kepadaNya; bersemangat untuk mengerjakan segala ketaatan dan bersemangat untuk menjauhi kemaksiatan.] , karena orang-orang tersebut berharap bisa diizinkan untuk shalat dua raka’at, atau diizinkan sekali saja mengucapkan ‘Laa ilaaha illaLLaah, Muhammadur Rasuulullaah’, atau diizinkan untuk bertasbih satu kali; tapi mereka tidak diizinkan. Mereka pun merasa heran terhadap orang-orang yang masih hidup, yang menyia-nyaakan hari-hari mereka dengan kelalaian dan kebathilan.

يَا أَخِي فَلَا تُضَيِّعْ أَيَّامَكَ فَإِنَّهَا رَأْسُ مَالِكَ ، فَإِنَّكَ مَا دُمْتَ قَادِرًا عَلَى رَأْسِ مَالِكَ قَدِرْتَ عَلَى الرِّبْحِ ، لِأَنَّ بِضَاعَةَ الْآخِرَةَ كَاسِدَةٌ فِي يَوْمِكَ هَذَا ، فَاجْتَهِدْ حَتَّى تَجْمَعَ بِضَاعَةَ الْآخِرَةِ كَاسِدَةً فِي وَقْتِ الْكَسَادِ ، فَإِنَّهُ يَجِئُ يَوْمٌ تَصِيرُ هَذِهِ الْبِضَاعَةُ فِيهِ عَزِيزَةً ، فَاسْتَكْثِرْ مِنْهَا فِي يَوْمِ الْكَسَادِ لِيَوْمِ الْعِزِّ ، فَإِنَّكَ لَا تَقْدِرُ عَلَى طَلَبِهَا فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ

Wahai saudaraku, janganlah engkau menyia-nyiakan hari-harimu… Karena sesungguhnya itu adalah modalmu… Sesungguhnya selama engkau menguasai modalmu, maka engkau akan mendapatkan laba… Sesungguhnya barang akhirat itu tidak laku[2. Komentar Abu Zuhriy: Sungguh indah permisalan beliau tentang amalan aakhirat sebagai “barang tidak laku hari ini”, karena memang faktanya banyaknya orang-orang yang tidak beriman atau jauh dari keimanan kepada Allaah dan hari aakhir yang tidak mempedulikan, tidak mengindahkan dan meremehkan amalan aakhirat, bagaikan “barang yang tidak laku” disisi mereka…

Maka jangan sampai kita tertipu dengan banyaknya orang-orang yang lalai disekitar kita, sehingga membuat kita ikut-ikutan lalai. Bahkan hendaknya kita menyalahi mereka dalam hal ini! Hadirkanlah (bahkan sampaikanlah) ilmu yang telah kita pelajari ketika kita ditengah-tengah mereka. Ilmu yang kita pelajari itu bukan hanya saat kita menghadiri majels ta’lim, atau saat kita membaca kitab-kitab saja; tapi hendaknya ia kita resapkan kedalam hati, sehingga semoga ia terhadir dalam perikehidupan kita; yang dengannya ia menghiasi amal perbuatan kita.

Ingatlah selalu “barang tidak laku” oleh kebanyakan orang hari ini, adalah “barang yang amat berharga” untuk hari yang akan datang. Hadirkanlah ini ketika kita mulai terpengaruh dengan kelalaian mereka, maka kita akan kembali kejalanNya, dan tidak mengikuti jalan-jalan orang yang tertipu dengan dunia.] hari ini, maka bersungguh-sungguhlah engkau mengumpulkan barang akhirat di waktu yang tidak laku ini. Karena sesungguhnya kelak akan datang suatu hari, dimana barang ini sangat berharga… Maka perbanyaklah pembendaharaan ini dihari yang tidak laku ini, untuk hari yang kelak ia menjadi suatu yang berharga, karena sesungguhnya engkau tidak akan mampu mengupayakannya di hari itu.

فَنَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يُوَفِّقَنَا لِلِاسْتِعْدَادِ لِيَوْمِ الْفَقْرِ وَالْحَاجَةِ ، وَلَا يَجْعَلَنَا مِنَ النَّادِمِينَ الَّذِينَ يَطْلُبُونَ الرَّجْعَةَ فَلَا يُقَالُونَ وَيُسَهِّلَ عَلَيْنَا سَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَشِدَّةَ الْقَبْرِ ، وَعَلَى جَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Maka kita memohon kepada Allaah ta’aala agar memberi kita taufiiq untuk menyiapkan diri menghadapi hari yang penuh kefaqiran dan kebutuhan, dan agar (Dia) tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang meminta dihidupkan kembali, dan (kita memohon kepadaNya) agar kita dimudahkan sakarat maut serta dimudahkan (dari) beratnya (fitnah) kubur; demikian pula atas sekalian kaum muslimiin dan muslimaat… Aamiin, Yaa Rabbal ‘aalamiin…

فَإِنَّهُ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ، وَهُوَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الْوَكِيلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

Maka sesungguhnya Dialah Dzat Yang Maha Penyayang dari segala penyayang, Cukuplah Dia (sebagai penolong kami), dan Dialah sebaik-baik penolong. Dan tiada daya maupun kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allaah Yang Maha Tinggi Lagi Maha Agung…

[Tanbiihul Ghaafiliin hlm. 30 (Daar ibnul Jauziy), teks arab: dari IslamWeb, juga merujuk terjemahan dari Pustaka Azzam dengan penyesuaian teks aslinya]

Tinggalkan komentar

Filed under Dzikrul Maut, Mutiara Salaf, Tazkiyatun Nufus

Renungan terhadap kehidupan yang AMAT SINGKAT

Ayahku (rahimahullaah) pernah menuliskan:

“HIDUP yang SINGKAT akan diganti dengan MATI yang lebih LAMA sambil menunggu pengadilan AKHIRAT. Mudah-mudahan dengan hidayah Allah (kita diberi kemudahan untuk dapat bertaubat dan memohon ampun kepadaNya), (yang dengan itu, kita berharap) dosa-dosa yang telah kita mohonkan pengampunanNya,(agar) diampuni(Nya)… Kalau (kita) belum (bertaubat dan beristighfar kepadaNya) … (Maka ketahuilah! sesungguhnya) Allah sementara menunggu istighfar hambaNya yang ikhlas… Mari bersegara untuk dapatkan taubatan nasuha…”

[Diambil dari salah satu Postingan facebook beliau; dengan koreksi penulisan, dan penambahan ‘dalam kurung’ untuk memudahkan bacaannya]


Pembahasan

“HIDUP yang SINGKAT akan diganti dengan MATI yang lebih LAMA sambil menunggu pengadilan AKHIRAT.”

Benar, berapa banyak manusia yang telah wafat ribuan tahun yang lalu yang sampai hari ini, masih pada alam barzakhnya. Menanti sangkakala ditiupkan, dimana ketika itu bangkitlah manusia dari alam kuburnya, untuk dihisabNya.

Dalam penantian ini, sesungguhnya manusia terbagi menjadi dua golongan, Golongan pertama yang menanti hari aakhirat dengan kesenangan (dengan nikmat kubur yang dirizkikan Allaah kepadanya); merekalah orang-orang beriman dan beramal shaalih. Sedangkan golongan kedua, menanti hari aakhirat dengan penuh kesulitan (karena adzab kubur yang dideritanya). Semoga kita diselamatkan dari adzab kubur, dan dianugerahkan nikmat kubur; aamiin.

Ingatlah, masa hidup kita ini sungguh amat singkat jika kita membandingkannya dengan lamanya masa penantian kita di alam barzakh… Dan ingatlah… masa penantian kita di alam barzakh sungguh TIDAK ADA BANDINGANNYA dengan kehidupan ABADI yang menanti kita setelahnya!

Maka jangan sampai kita terlalaikan akan hal ini… Sungguh syaithan memberi angan-angan yang panjang kepada manusia, menipunya seakan-akan ia akan hidup 1000 tahun lamanya; atau bahkan sekaan-akan kehidupan yang kita jalani hanyalah kehidupan dunia ini… Sungguh tidak demikian…

Sesungguhnya akan mendatangi kita, sakratul mawt, yang kita tidak tahu bagaimana keadaan kita ketika ia mendatangi… Dan sesungguhnya akan mendatangi kita, alam kubur, yang kita tidak tahu bagaimana keadaan kita ketika ia mendatangi… Dan sesungguhnya akan mendatangi kita, hisab, yang kita tidka tahu bagaimana proses dan akhir hisab kita… Dan sesungguhnya akan mendatangi kita, keputusanNya yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, yang kita tidak mengetahui dimana tempat kesudahan kita.

Maka mengapa kita terlalaikan dengan angan-angan kosong syaithan? Maka mengapa kita menunda taubat, dan tetap terus menerus diatas keburukan dan kelalaian?

“Mudah-mudahan dengan hidayah Allah (kita diberi taufiq untuk bertaubat dan memohon ampun kepadaNya), (yang dengan itu, kita berharap) dosa-dosa yang telah kita mohonkn pengampunanNya,(agar) diampuni(Nya)…”

Ingatlah… Sesungguhnya hidayah Allaah itu tidak datang dengan sendirinya sebagaimana rizkiNya tidak turun dari langit begitu saja… Maka raihlah hidayahNya dengan menempuh jalanNya yang lurus, sebagaimana kita meraih rizkiNya dengan menempuh jalan yang menjadi sebab datangnya rizki.

Dan tiada yang lebih berharga dibandingkan diberiNya taufiq kepada kita untuk bertaubat kepadaNya… Karena sesungguhnya manusia itu tempatnya salah, dan lupa… Yang dengannya hendaknya kita selalu kembali kepadaNya dengan bertaubat kepadaNya.

Kita berharap kepadaNya agar Dia memberi taufiq kepada kita, yang dengan taufiq tersebut kita bertaubat dan beristighfar dengan benar kepadaNya. Yang dengannya, kita berharap agar Dia mengampuni segala dosa-dosa dan kesalahan kita yang amat banyak.

Kalau (kita) belum (bertaubat dan beristighfar kepadaNya) … (Maka ketahuilah! sesungguhnya) Allah sementara menunggu istighfar hambaNya yang ikhlas… Mari bersegara untuk dapatkan taubatan nasuha…”

Maka hendaknya orang-orang yang masih jauh dari taubat dan istighfar… Mengingat kembali hakikat kehidupan ini, mengingat akan kematiannya yang tidak lama lagi akan mendatangi, mengingat masa penantian di alam kubur yang amat lama, mengingat nasibnya pada kehidupan setelah kematian!

Ketahuilah, bahwa Allaah membuka tanganNya di malam hari, untuk menerima taubat hamba-hambaNya yang melampaui batas dan banyak berdosa di siang hari. Ketahuilah, bahwa Allaah membuka tanganNya di siang hari, untuk menerima taubat hamba-hambaNya yang melampaui batas dan banyak berdosa di malam hari. Sebagaimana disabdakan Rasuulullaah:

إن الله عز وجل يبسط يده بالليل ليتوب مسيء النهار، ويبسط يده بالنهار ليتوب مسيء الليل، حتى تطلع الشمس من مغربها

“Sesungguhnya Allah Ta’ala membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat hamba yang berdosa di siag hari. Dan Allah Ta’ala membentangkan tagan-Nya di siang hari untuk menerima taubat hamba yang berdosa di malam hari, sampai matahari terbit dari barat.”

(HR. Muslim)

Maka benarlah akan firmanNya:

‎أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

‪(Al Maa-idah: 74)‬

Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini:

“Allah menyeru kepada

– orang yang mengklaim bahwa al-Masih (Nabi Isa) adalah Allah,
– orang yang mengklaim bahwa al-Masih adalah anak Allah,
– orang yang mengklaim bahwa Uzair adalah anak Allah,
– orang yang mengklaim bahwa Allah itu fakir,
– orang yang mengklaim bahwa Tangan Allah terbelenggu,
– dan orang yang mengklaim bahwa Allah adalah ketiga unsur dalam trinitas;

agar (memohon ampun dan bertaubat) kepadaNya”

(Tafsir Ibnu Katsir)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menafsirkan ayat di atas sebagai berikut:

“Maksud ayat dari surat az-Zumar tersebut adalah larangan berputus asa dari rahmat Allah, meski dosa-dosa yang dilakukannya besar. Tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk berputus asa dari rahmat Allah”

Ketika menjelaskan surat Az Zumar ayat 53 di atas, Ibnu Abbas mengatakan,

“Barangsiapa yang membuat seorang hamba berputus asa dari taubat setelah turunnya ayat ini, maka ia berarti telah menentang Kitabullah ‘azza wa jalla. Akan tetapi seorang hamba tidak mampu untuk bertaubat, hingga Allah memberi taufik padanya untuk bertaubat.”

(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)

Maka janganlah kita menunda-nunda taubat kita, segeralah kembali kepadaNya. Jangan sampai kematian datang kepada kita, sedangkan kita belum bertaubat kepadaNya.

Allaah berfirman:

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ

“Dan Taubat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang berbuat kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seorang diantara mereka barulah dia mengatakan, ‘Saya benar-benar taubat sekarang.’”

(QS. An-Nisa : 18)

Sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah menerima taubat hambaNya selama nyawa belum sampai di tenggorokan (yaitu sebelum sakratul maut).”

(HR At Tirmidzi)

Juga sabdanya:

من تاب قبل أن تطلع الشمس من مغربها، تاب الله عليه

“Barangsiapa yang taubat sebelum terbitnya matahari dari arah barat maka Allah akan terima taubatnya.”

(HR Muslim)

Maka apakah kita baru akan bertaubat setelah nyawa kita di tenggorokan kita? Apakah kita lupa atau tidak mengambil pelajaran dari kisah fir’aun?

Allaah berfirman:

حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ

…hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia:

آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

”Saya percaya bahwa tidak ada Ilah melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan!?

(QS. Yunus 10 : 90-91)

Maka segeralah bertaubat, dengan taubat yang benar (bacalah: http://abuzuhriy.com/tiga-wasiat-nabi-shallallahu-‘alayhi-wa-sallam-23/)… Bertaubatlah, saat ini juga… Siapakah yang dapat memastikan kita hidup esok pagi? Bahkan siapakah yang dapat memastikan kita hidup sejam lagi? Bahkan siapa yang memastikan kita hidup semenit lagi!? Tidak ada. Maka apa yang menghalangi kita dari menunda taubat kepadaNya?!

Maka jangan sampai ajal kita mendatangi kita, sedangkan kita belum bertaubat serta beristighfar kepadaNya. Jangan sampai kita tertipu dengan angan-angan kosong yang dibisikkan syaithan, sehingga kita menunda taubat, merasa kita masih bisa hidup lebih lama (padahal kita tidak tahu berapa lama lagi kita diberikan kehidupan!)

Maka hendaknya kita bertaubat kepadaNya, dengan taubat yang nasuuh, yang semoga dengan itu kita diampuniNya, yang semoga kita ditetapkan diatasNya dan diberi hidayah untuk senantiasa bersegera kembali kepadaNya apabila kita tergelincir aamin.

Kita tutup dengan firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

(at Tahriim: 8)

Semoga Allaah memberikan kita hidayah untuk senantiasa kembali kepadaNya, dan semoga Dia mengampuni dosa-dosa kita, dan dosa-dosa kedua orang tua kita. Aamiin.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Dzikrul Maut

Renungan kehidupan

[renungan ayat, renungan kehidupan]

Allaah berfirman:

أَلَمْ يَعْلَم بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

Tidaklah dia MENGETAHUI bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?

(al ‘Alaq: 14)

Apakah seseorang MENGETAHUI bahwa amalannya dilihat Allaah? Bahkan apakah seseorang mengenal siapa itu Allaah?

Allaah adalah Tuhan yang menciptakan kita, dan orang-orang sebelum kita, dan yang akan datang; dan Dia pula yang telah menciptakan alam semesta, Dialah Yang Mengatur dan Memeliharanya. Dia tidak menciptakan semua itu dengan sia-sia, tapi dengan tujuan yang jelas; agar jin dan manusia menyembahNya (dan tidak menyekutukanNya sedikitpun juga). Kelak dunia ini akan musnah, dan kita akan dibangkitkanNya, kemudian kita akan dimintai pertanggung jawaban atas segala perbuatan kita; barangsiapa yang menghadap kepadaNya dengan iman dan amal shalih, maka dia beruntung. barangsiapa yang menghadap kepadaNya dengan kekufuran kepadaNya, maka dia celaka.

Hendaknya kita mengetahui, Dzat Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, yang kelak di aakhirat memiliki balasan yang amat pedih lagi keras, Maha Melihat amalan-amalan kita. Maka hendaknya kita bertaqwa kepadaNya, dengan tidak berlaku lancang dihadapanNya.

Hendaknya kita hidup diatas aturanNya, karena Dialah yang menciptakan kita, Dialah yang memiliki bumi ini; maka sebagaimana seorang tuan berhak mengatur-ngatur budaknya, sebagaimana tuan rumah mengatur-ngatur orang yang berada dirumahnya; maka demikian pula Tuhan semesta alam, berhak mengatur-ngatur hambaNya, demikian pula Tuhan pemilik langit dan bumi, berhak mengatur-ngatur penghuni bumi yang beratapkan langitNya.

Maka tidak ada alasan bagi ktia untuk mengatakan: “biarkan saja saya berbuat sesuka hati saya; hidup-hidup saya, badan-badan saya; suka-suka saya dong mau apain badan dan hidup saya!”

Karena sudah disebutkan diawal tadi, bahwa Allaah tidaklah menciptakan langit, bumi, dan seluruh makhluqNya dengan main-main atau sia-sia; tanpa diperintah, tanpa dilarang, tanpa dimintai pertanggung jawaban!

Dan Allaah-lah yang menciptakan dirimu, Allaah-lah yang sebenar-benar pemilik dirimu; Allaah-lah yang menghidupkanmu, Allaah-lah yang memberimu rizki, Allaah-lah yang memeliharamu. Maka Dia berhak memerintahkan dan melarangmu, Dia-lah pula yang mematikanmu, dan Dia-lah pula yang kelak akan memintakan pertanggung jawaban atas seluruh amalanmu kelak dihari kiamat; bahkan Dialah yang sekarang ini Maha Melihat segala perbuatanmu; meskipun engkau sendirian di kamarmu, meskipun engkau bersembunyi dibalik batu yang hitam, ditengah malam yang kelam, Dia Melihat perbuatanmu, dan kelak Dia akan memintakan pertanggung jawabanmu atas perbuatanmu tersebut di hari kiamat.

Maka hendaknya kita menyembahNya (dan tidak menyekutukanNya sedikitpun dengan sesuatu apapun; sebagaimana Dia tidak memiliki sekutu dalam penciptaan, pengaturan, serta pemeliharaan alam semesta). Dan hendaknya kita hidup dengan mengikuti aturanNya, maka jadilah kita sebaik-baik hambaNya yang berjalan diatas bumiNya.

Jangan sampai kita seperti orang yang TIDAK TAHU DIRI, yang berbuat sesuka hatinya; padahal dia asalnya dari mani yang hina. padahal dia tidak menciptakan dirinya sendiri. padahal dia hanya ‘menumpang’ di bumiNya. padahal dia diberi rizki oleh Allaah, meskipun dia tidak meminta kepadaNya; rizki oksigen, rizki air, rizki segala macam makanan; rizki organ-organ tubuhnya tidak ada yang cacat, dan segala macam rezki yang tidak dapat terhitung. Tapi dia malah tidak mau mencari tahu siapa yang menciptakannya, siapa yang memeliharanya, tidak mau mencari tahu bagaimana cara mensyukuri segala nikmat-nikmat yang ia rasakan… sehingga dia tidak berterima kasih (tidak bersyukur) kepada Dzat yang Maha Pemberi rizki, dengan hidup seenak hatinya…

Ia jadikan dirinya/hawa nafsunya sebagai sesembahannya (yang ia taati; yang menjadi barometer benci dan cinta-nya), ia jadikan hawa nafsunya sebagai aturan hidupnya; sehingga ia hidup tanpa aturan, hidup tanpa tujuan yang jelas; ia mengira ia hidup diatas kemerdekaan dan kebebasan, tapi pada hakekatnya ia terbelenggu diatas perbudakan hawa nafsu yang hina! ia menyangka kematian mengakhiri segalanya… ia tidak tahu, dan ia tidak mau tahu, atau ia lupa; bahwa DI SAAT KEMATIANNYA ada SAKRATUL MAUT yang pedih menanti; dan setelah kematiannya, ada adzab kubur yang menanti, ada hari perhitungan yang berat, ada neraka yang akan menyiksa hamba-hamba Allaah yang kafir kepadaNya. Na’uudzubillaah!

Kalau dia TAHU bahwa Allaah melihat segala perbuatannya, dan dia TAHU bahwa kelak Allaah akan membalas segala perbuatannya; maka hendaknya dia bertaubat dari perbuatan buruknya, beriman kepadaNya, jujur dengan keimanan tersebut dan bersegera beramal shalih. Sungguh dia akan mendapati Allaah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dia akan dapati Allaah Maha Mensyukuri hamba-hambaNya yang beriman dan beramal shaalih. Dia akan dapati Allaah Yang Tidak Menyalahi Janji-Nya, Yang Maha Benar; yang tidak ada perkataan yang lebih benar dariNya, tidak ada janji yang lebih ditepati dariNya, dan tidak ada yang lebih baik balasannya selain dariNya, sebaik-baik pemberi balasan.

Ketahuilah barangsiapa yang beriman dan beramal shaalih, Maka Allaah akan membalasnya dunia dan aakhirat, di dunia dia hidup diatas kebahagiaan yang hakiki, dan ia jika ia mati diatas keimanan kepadaNya, maka ia akan mendapatkan kemenangan dan kebahagiaan yang abadi! Dimudahkan baginya sakratul mawt, disediakan baginya nikmat kubur sebaik-baik tempat penantian sebelum datangnya hari berbangkit, diberikan rasa aman baginya dihari berbangkit dan hari perhitungan, disaat kebanyakan manusia diliputi rasa takut, kemudian dimasukannya kedalam surga yang luasnya seluas langit dan bumi; yang nikmatnya tidak dapat terbayang oleh pikiran, tidak pernah terlintas dalam hati, tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah pula terasa oleh panca inderanya! Sungguh bahagia orang-orang yang hidup diatas keimanan dan amalan shalih, dan wafat diatasnya!

Setelah kita mengetahui bahwa Dialah sebaik-baik pemberi balasan, maka janganlah sampai kita mencari balasan dari selainNya ketika mengamalkan amalan aakhirat. Sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi balasan yang lebih baik, dibandingNya. Dan jika kita mencari balasan dari selainNya dari amalan aakhirat, maka ketahuilah Dia tidak membutuhkan sekutu. Dia tidak menerima amalan yang secara lahir tampak ‘beribadah kepadaNya’ tapi secara bathin mencari balasan dari selainNya. Sungguh amalan tersebut adalah kedustaan yang nyata, seburuk-buruk kedustaan, seburuk-buruk tipuan. Selain tidak diterimaNya, pelakunya pun mendapat DOSA BESAR disisiNya, kelak di aakhirat, Allaah akan menyuruhnya untuk meminta balasan kepada orang-orang yang ia cari-cari balasan tersebut! Sedangkan di aakhirat kelak, tidak ada yang mampu memberi balasan kecuali Dia. Maka dimasukkanNyalah ke neraka jahannam para pendusta dan para penipu itu! Na’uudzubillah.

Demikian pula, setelah kita mengetahui bahwa sebaik-baik balasan, adalah balasan aakhirat. Maka hendaknya kita mengharapkan BALASAN AAKHIRAT dari amalan aakhirat kita. Jangan jadikan BALASAN DUNIA sebagai TUJUAN UTAMA kita beramal (amalan aaakhirat!). Sungguh, alangkah meruginya, seseorang yang HANYA MENGINGINKAN BALASAN DUNIA dari amalan akhiratnya! ia bersedekah, HANYA agar Allaah menambah rezkinya (tidak menginginkan balasan di aakhirat)! Maka Allaah memberikan balasan duniawi YANG SUDAH DITAQDIRKAN untuknya, dan baginya tidak ada balasan di aakhirat! Na’uudzubillaah.

Kalau dia telah mengetahui apa-apa yang dipaparkan diatas, tapi perbuatannya seperti orang yang tidak mengetahui… Maka sungguh apa yang ia ketahui itu hanyalah sekedar WAWASAN, bukanlah pengetahuan yang bermanfa’at… Karena orang yang mengetahui, sudah semestinya TIDAK SERUPA dengan mereka yang tidak mengetahui… Jika orang yang mengetahui itu SERUPA dengan yang tidak mengetahui; maka dia sebodoh-bodohnya manusia… Dia sudah tahu, tapi pengetahuan itu tidak nampak dalam dirinya… Dia mengira dia lebih berilmu, tapi pada nyatanya dia bodoh; sebagaimana yang nampak dalam amalannya! Maka sungguh, ilmu itu barulah bermanfaat jika teresapkan kedalam dada, dan tampak dalam perbuatan. Adapun ilmu yang sekedar wawasan, yang tidak teresapkan kedalam dada, sehingga tidak nampak dalam perbuatan; maka ini bukanlah ilmu yang bermanfa’at… bukanlah ilmu yang bermanfa’at (kita memohon kepadaNya ilmu yang bermanfa’at, amalan yang shaalih, serta rizki yang baik [sebagaimana inilah dzikir yang sering dipintakan manusia terbaik (Rasuulullaah) kepada Allaah, setiap selepas shalat shubuh])

Maka hendaknya kita hidup diatas iman dan amalan shaalih, bertaqwa kepadaNya dengan sebenar-benarnya taqwa; karena Dia melihat segala perbuatan kita. Dialah yang akan membalas segala perbuatan kita, Dia Maha Keras adzabNya; akan tetapi Dia pun Maha Luas rahmatNya, dan sebaik-baik pemberi balasan. Maka inginkanlah balasan aakhirat, yang semoga kita semua mati diatas iman dan amalan shaalih; sehingga kita semua bertemu di surgaNya, dan kita bertemu dengan Dzat Yang telah menciptakan kita di surgaNya, dan memandang WajahNya yang Maha Mulia lagi Maha Sempurna, yang tiada kenikmatan yang melebihi kenikmatan tersebut (yang semoga kita semua termasuk yang mendapatkan kenikmatan tersebut; yang dengan itulah hendaknya kita bersemangat dan berlomba-lomba mencarinya) aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Dzikrul Maut, Tauhid Asma' Wa Sifat, Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, Tazkiyatun Nufus

Alangkah meruginya jika mati dalam keadaan kaafir/musyrik/munaafiq

Allaah berfirman:

يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِي مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ بِبَنِيهِ . وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيه , وَفَصِيلَتِهِ الَّتِي تُؤْوِيه , وَمَن فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنجِيهِ كَلَّا

…Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, isterinya, saudaranya, kaum familinya yang melindunginya (di dunia), Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali (hal tersebut) TIDAK (akan dapat menyelamatkannya dari adzab tersebut) !…”

(al Ma’aarij: 11-15)

Allaah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَن تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُم مِّنَ اللَّهِ شَيْئًا وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir baik harta mereka maupun anak-anak mereka, sekali-kali tidak dapat menolak azab Allah dari mereka sedikitpun. Dan mereka adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

(Aali Imraan : 116)

Allaah juga berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِم مِّلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir, dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu [di hari kiama kelak]. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.

(Aali ‘Imraan : 91)

Rasuulullaah bersabda, bahwa Allaah berfirman:

يقول الله تعالى لأهون أهل النار عذاباً : لو كانت لك الدنيا وما فيها ومثلها معها أكنت مفتدياً بها ؟

Allaah berfirman kepada penduduk neraka yang paling ringan adzabnya, ‘Seandainya kamu mempunyai dunia dan segala isinya, apakah kamu menebus adzab ini dengannya?’

فيقول : نعم

Dia menjawab: ya

فيقول : قد أردت منك أهون من هذا وأنت فى صلب آدم . أن لا تشرك – أحسبه قال : ولا أدخلك النار – فأبيت إلا الشرك

Maka (Allaah) berfirman kepadanya: Aku telah menginginkan darimu apa YANG LEBIH RINGAN daripada ini sejak kamu masih dalam tulang sulbi Aadam, yaitu: ‘Hendaknya kamu tidak mempersekutukanKu, (perawi berkata: ) dan kalau tidak salah, Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda (bahwa Allaah berfirman) Dan Aku tidak akan memasukkanmu kedalam api neraka, tapi kamu menolak, selain menyekutukanKu”

(HR. Ahmad, al Bukhaariy, dan selainnya)

Benar, dan Allaah telah mengabarkan hal ini kepada mereka:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”

أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”

أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِن قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِّن بَعْدِهِمْ ۖ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ

atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”

وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran).

[al A’raaf : 172-176]

Dia juga dahulu telah memerintahkan mereka, agar mereka menyembahNya dan tidak menyekutukanNya sedikitpun juga:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ .

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka MENYEMBAH kepada-Ku.

مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ . إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.

(Adz Dzaariyaat: 56-58)

Dia juga berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai manusia, SEMBAHLAH Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa…

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ

(Dzat) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu…

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

karena itu JANGANLAH kamu MENGADAKAN SEKUTU bagi ALLAAH, padahal kamu mengetahui.

(Al Baqarah : 21-22)

Juga firmanNya:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.

(an Nisaa’ : 36)

Juga firmanNya:

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ

Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan MEMURNIKAN KEATAATAN kepada-Nya dalam (menjalankan) agama….

وَأُمِرْتُ لِأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ

Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”.

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهُ دِينِي

Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”.

فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُم مِّن دُونِهِ قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia. Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

(Az Zumar: 11-15)

Dia pun telah memerintahkan manusia untuk memeluk agamaNya, dan bahkan memerintahkan kaum muslimin (yg sudah memeluk agamaNya untuk ISTIQAMAH diatas agamaNya, agar jangan sampai membatalkan keislaman dan keimanan mereka… Dan agar mereka tidak wafat, kecuali dalam keadaan muslim:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam

(al Baqarah: 132)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

(Aali ‘Imraan: 102)

Maka alangkah menyesalnya orang-orang kaafir (dari kalangan ahli kitab, musyrikiin maupun munaafiqiin) di hari kiamat kelak, bahkan mereka berangan-angan agar sekiranya dahulu mereka didunia adalah seorang muslim, dan wafat dalam keadaan muslim:

رُّبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ

Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.

(Al Hijr: 2)

Bahkan saking berputus asanya mereka dihari hisab, mereka ingin kalau mereka seperti binatang (yg setelah selesai hisab, diubah jadi tanah; tidak ada adzab neraka yg menantinya)

يَوْمَئِذٍ يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَعَصَوُا الرَّسُولَ لَوْ تُسَوَّىٰ بِهِمُ الْأَرْضُ وَلَا يَكْتُمُونَ اللَّهَ حَدِيثًا

Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun.

(an Nisaa’ : 42)

Dalam hadits Abu Hurayrah, disebutkan bahwa beliau berkata:

إنَّ اللهَ يحشرُ الخلقَ كلَّهم كلَّ دابةٍ وطائرٍ وإنسانٍ يقول للبهائم والطيرِ كونوا ترابًا فعند ذلك يقول الكافرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا

Sesungguhnya Allaah mengumpulkan seluruh makhluqNya, seluruh binatang melata, burung, serta manusia. Dikatakan kepada binatang dan burung, “jadilah kalian tanah”, maka disaat itulah orang-orang kafir berkata: ‘Duhai, aku berharap sekiranya aku menjadi tanah [seperti binatang dan burung itu dijadikan tanah]’ [an Naba’ : 40]

(dengan sanad yang shahiih; simak ash shahiihaah 4/607])

Juga dalam hadits ‘Abdullaah ibn ‘Amru radhiyallaahu ‘anhumaa disebutkan bahwa beliau berkata:

إذا كان يومُ القيامةِ مُدَّ الأديمُ وحُشِرَ الدَّوابُّ والبهائمُ والوحشُ ثم يحصلُ القِصاصُ بين الدوابِّ يُقتصُّ للشاةِ الجمَّاء من الشاةِ القرناءِ نطحَتْها فإذا فُرِغَ من القِصاصِ بين الدوابِّ قال لها كوني تُرابًا قال فعند ذلك يقول الكافرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تَرَابًا

Jika hari Kiamat telah tiba, bumi akan dibentangkan seperti kulit dan binatang akan dikumpulkan. Kemudian diberlakukanlah qishash di antara binatang hingga domba yang kehilangan tanduk akan menuntut qishash dari domba yang bertanduk. Jika qishash itu telah selesai dilaksanakan, kepada domba itu dikatakan, ‘Jadilah tanah!’ Saat itu orang kafir akan berkata, ‘Duhai, aku berharap sekiranya aku menjadi tanah [seperti binatang dan burung itu dijadikan tanah]’ [QS. an Naba’: 40]”

[Sanadnya jayyid, simak ash shahiihaah 4/607]

Maka wahai orang-orang kaafir (dari kalangan ahli kitab maupun musyrikiin) yang belum beragama islaam… masuklah kedalam islaam… sebelum datangnya hari penyesalan itu…

Maka wahai orang-orang munaafiq, yang lisan dan identitasnya ‘muslim’, tapi hati, lisan dan anggota badannya benci serta memusuhi islam dan kaum muslimiin, hendaknya bertaubat dan kembali kepada ajaran islaam yang benar… sebelum datangnya hari penyesalan itu…

Maka wahai orang-orang muslim… hendaknya bertaqwa kepada Allaah dengan sebenar-benarnya taqwa… istiqamah diatas taqwa tersebut… jangan sampai mencampurkan ketauhidan itu dengna kesyirikan… jangan pula mencampurkan keimanan itu dengan kekufuran/kemunafiqan… agar kita diwafatkanNya dalam keadaan muslim…

Semoga bermanfaat

2 Komentar

Filed under Aqidah, Dzikrul Maut, Tauhid Uluhiyyah