Category Archives: Ibadah

Kumpulan doa (dari al-Qur`an dan as-Sunnah)

api

Diantara ibadah yang paling agung adalah DOA. Kita tidak hanya diperintahkan Allaah untuk berdoa hanya kepadaNya, tapi juga kita diperintahkanNya untuk tidak berpaling dariNya sehingga malah berdoa pada selainNya.

Sungguh, tidak ada yang dapat menolak taqdir[1]; melainkan doa. Doa merupakan senjatanya orang-orang beriman, karena mereka berdoa kepadaNya semata, tidak berdoa pada selainNya dalam susah maupun senang mereka.

Penting bagi kita untuk dapat mengetahui adab-adab dalam berdoa[2], sehingga doa kita lebih dekat pada pengabulannya.

Diantara usaha kita agar doa kita lebih dekat pada pengabulannya, adalah kita berdoa dengan doa-doa yang diajarkan Allaah dalam kitabNya dan doa-doa yang dituntunkan RasulNya dalam sunnah-sunnahnya. Maka sepantasnya kita lebih mendahulukan doa-doa tersebut daripada doa-doa selainnya.

Para ulama telah menyebutkan bahwa doa-doa yang datang dari al-Qur`aan dan as-Sunnah, merupakan seutama-utama doa untuk kita panjatkan dalam doa-doa kita.

Berkata ibnu Taimiyyah rahimahullaah dalam majmu fatawanya:

وينبغى للخلق أن يدعوا بالأدعية الشرعية التى جاء بها الكتاب والسنة فان ذلك لا ريب فى فضله وحسنه وأنه الصراط المستقيم صراط الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا

“Manusia sepatutnya berdo’a dengan doa yang sesuai syar’iat yang datang dalam Al Quran dan sunnah, karena tidak disangsikan lagi akan keutamaan dan kebaikannya. Sesungguhnya itulah jalan yang lurus, jalan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiiqiin, syuhada, dan shalihin, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”

Berikut kami sajikan doa-doa yang kami petik dari al-Qur`aan dan as-Sunnah; agar semoga dapat kita pelajari, kita hafali dan kita baca pada waktu-waktu, tempat-tempat, atau kondisi-kondisi mustajab.

Baca lebih lanjut

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Doa, Ibadah

Ramadhan Meninggalkan Kita… Tapi Allaah tidak…

Allaah berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Artinya: “Ibadahilah Rabbmu sampai datang kepadamu kematian.”

[QS. Al Hijr: 99]

Allaah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (hanya) kepada-Ku.

(adz-Dzaariyaat : 56)

Shalat wajib tetap harus kita terus kerjakan… Adapun shawm dan qiyaam, maka ini TETAP ADA di bulan-bulan lain… Ada shawm senin-kamis, shawm ayyaamul biidh, shawm dawd… Masih ada pula qiyamul layl (tahajjud dan witir), terutama witir JANGAN SAMPAI KITA TINGGALKAN…

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa

يَا عَبْدَ اللَّهِ لَا تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

“Wahai ‘Abdullah, janganlah kamu seperti fulan, yang dia biasa mendirikan shalat malam namun kemudian meninggalkan shalat malam”.

(HR. al-Bukhaariy)

Beliau juga bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinyu dikerjakan, meskipun sedikit”

(HR Muslim dan selainnya)

Berkata Imam asy-Syaafi’iy rahimahullaah:

فَآكَدُ مِنْ ذَلِكَ الْوِتْرُ وَيُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ صَلَاةُ التَّهَجُّدِ، ثُمَّ رَكْعَتَا الْفَجْرِ

Dan yang paling ditekankan disini adalah shalat WITIR, yang mana ini diserupakan dengan (yaitu: termasuk bagian dari) shalat tahajjud, Kemudian yang ditekankan juga adalah DUA RAKA’AT SHALAT SUNNAH FAJAR (qabliyah shubuh).

وَلَا أُرَخِّصُ لِمُسْلِمٍ فِي تَرْكِ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا وَإِنْ، أَوْجَبَهُمَا

Dan aku TIDAK MEMBERI KERINGANAN bagi seorang muslim untuk MENINGGALKAN salah satu dari keduanya, MESKIPUN AKU TIDAK MEWAJIBKAN kedua shalat tersebut.

وَمَنْ تَرَكَ وَاحِدَةً مِنْهُمَا أَسْوَأُ حَالًا مِمَّنْ تَرَكَ جَمِيعَ النَّوَافِلِ

Barangsiapa yang meninggalkan salah satu dari dua shalat tersebut, maka LEBIH BURUK daripada meninggalkan SELURUH SHALAT SUNNAH (selain keduanya).

Dalam tempat lain beliau berkata:

وَمَنْ تَرَكَ صَلَاةً وَاحِدَةً مِنْهُمَا كَانَ أَسْوَأَ حَالًا مِمَّنْ تَرَكَ جَمِيعَ النَّوَافِلِ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

Barangsiapa yang meninggalkan salah satu dari keduanya, maka LEBIH BURUK keadaannya daripada orang yang meninggalkan shalat-shalat sunnah di siang dan malam (selain keduanya).

[al Umm, 1/167 & 1/87; kutip via syamilah online]

Bahkan Imam Ahmad berkata:

مَنْ تَرَكَ الْوِتْرَ عَمْداً فَهُوَ رَجُلُ سُوءٍ وَلاَ يَنْبَغِيْ أَنْ تُقْبَلَ لَهُ شَهَادَتُهُ

Siapa yang sengaja meninggalkan shalat witir, ia adalah orang jelek dan persaksiannya tidak diterima

(Beliau berkata demikian, padahal beliau berpendapat bahwa shalat witir hukumnya sunnah mu’akkadah)

Berkata juga Imam Nawawiy dalam raudhah ath thaalibiin:

ومن ترك السنن الراتبة وتسبيحات الركوع والسجود أحيانا، لا ترد شهادته، ومن اعتاد تركها ردت شهادته لتهاونه بالدين، وإشعار هذا بقلة مبالاته بالمهمات

“Barangsiapa yang membiasakan diri meninggalkan sunnah rawatib, dan (bacaan) tasbih ketika ruku’ dan sujud selama hidupnya; maka tidak diterima persaksiannya. Barangsiapa yang terus-menerus meninggalkannya, maka ditolak persaksiannya, karena PEREMEHANNYA terhadap AGAMA, hal ini dikemukakan karena rendah/minimnya kepeduliannya terhadap perkara-perkara yang penting.”

(Raudhah ath Thaalibiin: 11/233)

Tetaplah shalat… Tetaplah shawm… Semoga kita kontinyu dalam beramal (meski kuantitasnya sedikit)

Semoga bermanfaat…

Tinggalkan komentar

Filed under Ibadah, Ramadhån, Shålat, Shåum

Selamat Datang Bulan Yang Dinantikan

ramadhaan mubaarak

Selamat datang bulan yang dinantikan…

Bulan yang:

1. Didalamnya ada penyeru yang menyeru kepada jiwa-jiwa untuk lebih semangat beribadah dan berhenti berbuat dosa (maka jiwa yang baik menjawab seruan tersebut, sedangkan jiwa yang buruk mengabaikan seruan tersebut)

2. Dibelenggunya syaithan dan jin-jin jahat (belum lagi ditambah kondisinya yang sedang shawm yang semakin melemahkan dirinya untuk berbuat jelek; maka hanyalah yang orang yang hawa nafsu memperbudaknya yang tetap dalam kejahatannya)

3. Dibukakan pintu-pintu surga, tidak ada yang tertutup

4. Ditutup pintu-pintu neraka, tidak ada yang terbuka

5. Dibebaskannya hamba-hamba dari api neraka

6. Diampuninya dosa-dosa (karena shaum dan qiyamnya berdasarkan iman dan mengharap pahala)

7. Dikabulkannya doa (selama shaum) [keutamaan umum orang yang shaum]

8. Didalamnya terdapat satu malam yang agung (lailatul qadar), yang apabila seseorang mendapatkan keutamaan pada malam tersebut, maka mendapatkan pahala beribadah selama 1000 bulan (atau setara pahala ibadah selama 83 tahun 4 bulan!!!)

Maka alangkah sangat beruntungnya orang-orang yang mendapatkannya… Dan alangkah sangat meruginya orang-orang yang tidak meraihnya…

Tinggalkan komentar

Filed under Ibadah, Ramadhån, Shåum

Diantara bukti bahwa shalat adalah sebaik-baik amal

Diantara tanda yang jelas bahwa ia adalah sebaik-baik amal:

1. Shalat merupakan pembeda antara muslim dan kaafir[1]

2. Dengan shalat, seseorang meneggakkan tiga unsur keimanan: amalan hati, amalan lisan dan amalan anggota badan.

3. Dengan shalat, seseorang dapat benar-benar menyempurnakan keimanannya… karena didalam shalat terdapat amalan tertinggi dari tiga unsur keimanan tersebut.

-> Shalat mempersyaratkan ikhlaash (dan ini setinggi-tingginya amalan hati)

-> Shalat pun disyaratkan untuk membaca tasyahud (sedangkan didalamnya terdapat kalimat tauhiid, yang merupakan setinggi-setingginya amalan lisan)

-> Dan shalat tidak dikatakan sah, kecuali dengan menyempurnakan ruku’ dan sujud (yang keduanya merupakan setinggi-tingginya amalan anggota tubuh)

Maka benarlah sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ

Ketahuilah… Sesungguhnya sebaik-baik amal bagi kalian adalah shalat…

Maka diantara solusi terampuh untuk menyikapi kecacatan iman kita, apakah kecacatan iman tersebut berkaitan dengan hati kita, lisan kita atau anggota badan kita; yaitu dengan shalat, dan menyempurnakan shalat kita…

Maka apabila masuk waktu-waktu shalat (apakah masuk waktu shalat sunnah, apalagi masuknya waktu shalat wajib), maka segeralah shalat dan sempurnakanlah pengerjaannya…

Tidakkah kita mau agar Allaah mengampuni dosa-dosa serta merahmati kita?

Tidakkah kita mau untuk menyempurnakan keimanan kita?

Maka raihlah rahmat, ampunan serta kesempurnaan iman dengan melaksanakan shalat…

Catatan Kaki

[1] Yaitu berdasarkan hadits Jaabir radhiyallaahu ‘anhu bahwa Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ وَالشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“Sesungguhnya (pembeda) antara seseorang dengan kekufuran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat.”

(HR. Muslim)

Adapun dalam hadits Buraydah radhiyallaahu ‘anhu bahwa beliau shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

العَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَ بَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

”Perjanjian antara kami dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat, barangsiapa yang meninggalkannya maka ia berbuat kekufuran.”

(HR. At Tirmidzi, lihat Shahih At Targhib no. 564)

Adapun dalam hadits Tsauban radhiyallaahu ‘anhu bahwa beliau shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ والإيمان الصَّلاةِ . فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ

“Pembeda antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat, bila ia meninggalkannya berarti ia telah berbuat kesyirikan.”

(HR. Ath Thabari, lihat Shahih At Targhib no. 566)

Tinggalkan komentar

Filed under Ibadah, Shålat, Tazkiyatun Nufus

Hikmah bahwa sedekah adalah bukti keimanan

Seorang yang mendapatkan 1 juta, dari hasil pengorbanannya melalui tenaganya dan/atau pikirannya; terlebih lagi sebelumnya telah mengeluarkan modal. Maka akan benar-benar menghargai pendapatannya tersebut.

Disitulah ujiannya, apakah ia mau untuk memberikan hasil pengorbanannya tersebut dijalanNya dengan hati yang lapang, tulus, lagi ikhlash? Atau tidak?

Kebanyakan orang berpikir: “saya keluarkan segenap tenaga, pikiran; bahkan modal, sehingga saya mendapatkan pendapatan ini; maka hak saya mengeluarkan harta ini semau saya”. Jika berpikir demikian, maka ia hanya akan mengeluarkan hartanya “semau”nya saja; bahkan kalau yang dimauinya adalah perkara haram; maka dengan mudahnya ia keluarkan, berapapun banyaknya. Sebaliknya ketika ia dapati ada kepentingan agama disaat bersamaan, maka akan terasa berat mengeluarkan harta tersebut, bahkan dengan berpikir berulang kali. Bahkan jauh sebelumnya, ia dalam proses mencari sumber pendapatannya pun, ia tidak mempedulikan halal-haram’nya (apalagi syubhat); yang penting selaras hawa nafsunya, yang penting ia mendapatkan pendapatan (apalagi pendapatannya jumlahnya besar), maka akan ia tempuh… Inilah ciri penghamba hawa nafsu, maka berhati-hatilah jangan sampai kita termasuk golongan seperti ini, dan hendaknya kita meninggalkan dan menjauhi sifat-sifat diatas (apabila masih ada dalam diri kita).

Maka seorang yang BERIMAN kepada ALLAAH, membuktikan keimanannya dengan mengeluarkan hartanya pada hal-hal yang diridhaiNya (dan hanya untuk itu); serta menahan hartanya dari pembelanjaan dalam hal yang dibenciNya. Berkebalikan dengan penghamba hawa nafsu, yang menjadi pertimbangannya dalam mengeluarkan harta adalah ridha dan murka Allaah. Bahkan ia memperhatikan apakah pengeluaran hartanya ini sebatas hawa nafsunya atau benar-benar memiliki manfaat ukhrawi dibaliknya (yang bisa niatkan untuk ibadah). Jika hanya sebatas pemuas nafsunya tanpa bisa diniatkan ibadah, maka meskipun nilainya sedikit, maka ia akan berpikir berulang kali. Bahkan jauh sebelumnya, tidaklah ia mencari sumber pendapatan; kecuali dari jalan yang diridhaiNya dan menjauhi jalan yang dibenciNya. Inilah HAMBA ALLAAH sejati, maka hendaknya kita berusaha agar memiliki sifat-sifat yang disebutkan diatas.

Maka apabila kita mendapati dalam diri kita begitu berat dalam mengeluarkan harta pada perkara yang diridhaiNya, atau mudah mengeluarkan harta pada perkara yang dimurkaiNya, maka ingat-ingat hal berikut:

Harta tersebut hakekatnya milik Allaah, yang dititipkan pada kita. Bahkan jangan sampai kita lupa bahwa diri kita sendiri (yaitu jasad kita, termasuk didalamny pikiran kita) adalah milikNya, yang ruh kita (yang juga milikNya) dititipkan padanya. Bahkan ingatlah bahwa kemampuan kita untuk berusaha pun adalah karena izinNya. Demikian pula, dapat atau tidaknya hasil dari usaha tersebut pun adalah dengan izinNya. Maka tidak pantas kalau kita merasa seakan-akan ‘pemilik sejati’ terhadap diri dan harta kita, sehingga kita berbuat apa yang kita maui. Hal ini dipertegas bahwa, Allaah, yang merupakan Sang Pemilik diri-diri kita dan harta-harta kita secara hakikatnya; memerintahkan kita untuk mengeluarkan sebagian dari harta yang dititipNya pada kita tersebut hanya untuk perkara yang diizinkanNya.

Ingatlah hal ini… maka kita akan mudah mengeluarkan harta kita di jalanNya, dan akan berat mengeluarkannya pada perkara yang tidak diridhaiNya… Sebagai tanda bukti keimanan kita padaNya…

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Ibadah, Sedekah, Tazkiyatun Nufus

Dzikir bukan sebatas di hati

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, bahwa Allaah berfirman:

أنا مع عبدي ما ذكرني وتحركت بي شفتاه

Sesungguhnya Aku bersama hambaKu, selama dia mengingatKu dan MENGGERAKKAN KEDUA BIBIRnya dengan (menyebut)Ku

[HR. al-Bukhaariy, Ahmad, ibnu Maajah, al Haakim, dll]

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda (tentang amal yang mudah dari seluruh syari’at Islaam, yang dapat dijadikan pegangan) :

لا يزال لسانك رطبا من ذكرالله

Hendaklah LIDAHmu senantiasa BASAH dengan berdzikir kepada Allaah (dengan mensucikanNya, memujiNya, membesarkanNya, dll; ed)

[HR at Tirmidziy, ibnu Maajah, al-Haakim, dll]


Maka yang dinamakan dzikir:

1. Mensucikan, memuji, mengagungkan Allaah dengan lafazh-lafazh yang diajarkan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam, dan inilah MAKNA SECARA ASAL dzikrullaah. Dan kita diperintahkan untuk menyibukkan lisan kita dengan hal ini.

Kita mensucikanNya dengan mengucap: Subhaanallaah, MemujiNya dengan mengucap: Alhamdilillaah, MengagungkanNya dengan mengucap Allaahu Akbar. Atau lafazh-lafazh lain yang menggabungkan hal-hal tersebut, seperti: “SubhaanaLLaahil ‘Azhiim wabihamdih” (yang mana ini merupakan penggabungan antara mensucikan, mengagungkan dan memuji Allaah), “Laa ilaaha illaLLaah” (Dalam ucapan ini terkandung pula ketiganya: Mensucikan Allaah dari pemalingan hak peribadatan yang merupakan hak absolut bagiNya, terkandung pula Pemujian dan Pengagungan terhadapNya karena Dialah satu-satuNya Dzat yang berhak disembah dengan mengingkari sesembahan/penyembahan yang disembah selainNya yang tidak berhak untuk disembah), dan dzikir-dzikir lain.

2. Seluruh PERKATAAN dan PERBUATAN yang baik dan benar; yang diniatkan untuk beribadah kepadaNya. Dan ini makna secara LUAS dari dzikrullaah. Maka orang yang melakukan/mengucapkan hal ini, maka ia termasuk orang-orang yang berdzikir padaNya.

Memang benar, bahwa dzikir juga berarti ‘mengingat’. Akan tetapi ‘mengingat’ (sekedar dalam hati) tanpa ‘menyebut’, maka ini kekurangan (lihat dua hadits diatas).

Maka ketika hati kita ingat akan keagunganNya, maka agungkanlah Dia dengan lisan dan amal kita; kita banyak-banyak mengagungkanNya dengan lisan kita, dan kita senantiasa mengagungkanNya dengan senantiasa menetapi kebenaran (mengerjakan segala kewajibanNya semampu kita, dan meninggalkan seluruh laranganNya).

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Dzikir, Ibadah

Menggapai kesempurnaan shalat

Ada beberapa aspek yang perlu kita perhatikan dalam shalat wajib, yang dengannya kita dapat menyempurnakan pahala shalat kita :

1. Persiapan pelaksanaan: Mensucikan diri dan menyempurnakan Wudhu’

Unsur yang paling penting dalam shalat, yang merupakan syarat sah shalat adalah berwudhu’.

Sebagaimana sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

لا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Allah tidak menerima shalat salah seorang diantara kalian, apabila dia berhadats sampai dia berwudhu”.

(HR al Bukhaariy, dll)

Termasuk pula disini membersihkan badan, pakaian dan tempat shalat dari najis. Baik najis kecil maupun najis besar.

Dari Abu Hurrayrah, Rasulullah bersabda:

الصلاة ثلاثة أثلاث : الطهور ثلث ، والركوع ثلث ، والسجود ثلث ، فمن أداها بحقها قبلت منه وقبل منه سائر عمله ومن ردت عليه صلاته رد عليها سائر عمله

“(Hak) shalat itu ada tiga bagian: bersuci sepertiga, ruku’ sepertiga dan sujud sepertiga. Barangsiapa melaksanakan dengan memenuhi haknya, maka shalat tersebut diterima darinya dan sisa amalnya yang lain juga diterima. Barangsiapa yang shalatnya ditolak (karena tidak memenuhi haknya), maka sisa amalnya yang lain ditolak.”

[Diriwayatkan oleh al-Bazzar, dan dia berkata, “Kami tidak mengetahuinya diriwayatkan secara marfu’ kecuali dari hadits al- Mughirah bin Muslim.” (Al-Hafizh berkata), “Sanadnya hasan.” HN. 539 dalam shahiih at targhiib wat tarhiib]

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Ibadah, Shålat