Category Archives: Ilmu

Bertambahnya Ilmu Sepantasnya Juga Menambahkan Kasih Sayang

Guru itu: Memegang Tangan (untuk menasehati), Membuka Pikiran, & Menyentuh Hati

Semoga Allaah merahmati guru-guru kita yang senantiasa sabar dengan segala kekurangan kita… Mereka yang TIDAK MENINGGALKAN KITA hanya karena melihat satu, dua, atau bahkan beberapa, atau bahkan BANYAKnya kekurangan yang ada pada diri-diri kita…

Bagaimanakah jadinya jika guru-guru kita tidak bersabar atas kekurangan kita, kemudian serta merta meninggalkan kita? Tentulah kita terus menerus berada dalam kesesatan yang amat nyata!

Maka jika anda memiliki guru yang seperti itu.. Jangan sampai anda berpaling darinya, terlebih lagi… jangan sampai dia berpaling dari anda!!! Ketahuilah dialah orang yang paling mendalam ilmunya (terlepas berapapun hafalan riwayat yang ia miliki)…

Tidakkah kita melihat bagaimana Allaah memuji ilmu yang ada disisi Khidhir (‘alayhis salaam)? Tidakkah kita melihat bagaimana beliau senantiasa memberi udzur kepada ketergelinciran Muusa (‘alayhis salaam)? Kalaulah Muusa (‘alayhis salaam) tidak membatasi permintaannya, niscaya kita akan dapati beliau akan terus menerus memberi Muusa udzur demi udzur.

Bahkan ada faidah berharga dari ucapannya:

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

“Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

Pelajaran pertama darinya: “Seseorang yang belum cukup ilmu atas ‘sesuatu’, biasanya akan kurang sabar akan ‘sesuatu’ tersebut”, sebagaimana yang kita dapati pada reaksi Muusa pada Khidhir.

Kemudian pelajaran kedua darinya : “Apabila ilmu seseorang sudah ‘mencukupi’ terhadap sesuatu, maka sudah sepantasnya ia dapat selalu bersabar atas sesuatu tersebut” atau dengan kata lain: “Cukup atau tidaknya kadar keilmuan seseorang atas ‘sesuatu’, dapat kita lihat dengan sedikit atau banyaknya kadar sabarnya atas ‘sesuatu’ tersebut”; dan ini kita dapat kita lihat dari sabarnya beliau terhadap Muusa atas ilmu yang beliau ketahui, tapi tidak diketahui Muusa.

Demikianlah mental pendidik sejati… Mereka tidak hanya mempersiapkan ilmu.. Tapi juga mempersiapkan hati yang lapang dalam menghadapi anak didiknya…

Ingatlah… Kitapun juga pendidik bagi ANAK ANAK kita… Persiapkanlah ilmu yang luas dan hati yang lapang… Bersabarlah dalam menyampaikan ilmu… Bersabarlah dalam menghadapi tantangan dalam penyampaian ilmu…

Termasuk kesabaran yang paling agung: anda tidak pernah putus asa akan rahmat Allaah terhadap orang lain, sebagaimana anda tidak putus asa akan rahmat Allaah terhadap diri anda sendiri…

Maka anda senantiasa bersabar untuk terus membimbingnya kepada jalan yang mendekatkannya kepada rahmatNya, sebagaimana anda bersabar untuk tetap terus berada diatas jalan tersebut…

Tinggalkan komentar

Filed under dakwah, Ilmu, Ilmu Amal Dakwah Istiqamah

Meneladani SIKAP OBYEKTIF Para Ulama Dalam PENGAMBILAN Riwayat

Berkata Syaikhul Islaam dalam minhajus sunnah (secara makna) :

“Kami mengecam para perawi dari kalangan SUNNI secara WAJAR. Kami memiliki tulisan yang tak terhitung jumlahnya, mengenai keadilan para perawi, kelemahan, kejujuran, kesalahan, kedustaan dan prasangka mereka. Dalam hal ini kami selalu bersikap obyektif. Kami akan MENGGUGURKAN (periwayatan) salah seorang dari mereka APABILA DIKETAHUI BANYAK SALAHnya dan(/atau) HAFALANNYA LEMAH, sekalipun ia digelari (orang-orang) dengan wali Allah.”

Bahkan beliau berkata tentang periwayatan MUBTADI’ (secara makna, juga dalam minhajus sunnah) :

“…jika di buku-buku induk hadits ada riwayat dari mubtadi’, (yaitu dari kalangan Khawaarij, Syi’ah [yang bukan rafidhah][1], Murji`ah dan Qadariyah), itu karena riwayat mereka tidak mengajak kepada kefasikan [yaitu riwayatnya tersebut tidak mengajak pada ajaran bid’ahnya]. Namun apabila mubtadi’ tersebut (meriwayatkan suatu riwayat) yang mempromosikan bid’ahnya, (maka riwayatnya tentang hal tersebut) mesti ditolak…”

Pernyataan beliau diatas ini senada dengan pernyataan ibnu Hajar dalam hadi as-sari (yang secara makna) :

“Bila tidak ditemukan selain perawi bid’ah itu, dan hadits itu hanya diriwayatkan olehnya saja, sedangkan ia memiliki sifat JUJUR, BUKAN PENDUSTA, bahkan WARA’, maka riwayatnya BISA DITERIMA.

Namun satu hal… hadits yang ia riwayatkan itu TIDAK ADA HUBUNGAN DENGAN AJARAN BID’AHnya.

KEMASLAHATAN PENGAMBILAN HADITS dan PENYEBARANNYA harus didahulukan dari memberantas bid’ah perawi tersebut.”

Pelajaran yang diambil

Seorang yang SUNNI, tapi BANYAK SALAH atau LEMAH HAFALAN; maka riwayatnya adalah LEMAH, ia tidak bisa dijadikan rujukan, dan riwayatnya tidak bisa dijadikan hujjah (kesunniannya tidaklah mengangkat riwayatnya tersebut); terlebih jika ia PENDUSTA, maka riwayatnya ditolak.

Sebaliknya seorang MUBTADI’, tapi ia jujur, kuat hafalannya, dan wara’; maka riwayatnya yang tidak berkaitan dengan ajaran bid’ahnya; kita ambil. Inilah salah satu diantara pertimbangan dari berbagai pertimbangan yang ada.

Toh kita dapati BANYAK dari para ‘ulama ahlus sunnah, yang masih mengambil riwayat daru orang-orang yang telah keliru dalam ‘manhaj’nya (yang mana kekeliruannya mungkin tidak hanya satu, atau dua; bahkan ada yang memiliki kekeliruan yang banyak dalam hal ini) tapi disisi lain ia SANGAT KUAT dan KOKOH dalam disiplin ilmu lain. Misalkan ia benar-benar kuat dan kokoh dalam ilmu bahasa arab, atau qira’ah, atau tafsiir, atau hadiits, atau fiqh, atau suluk, atau fara`id, atau sejarah. Maka para ulama ahlus sunnah tersebut tetap mengambil kemanfaatan dari mereka tentang hal tersebut, dengan tetap menolak serta mengingkari ajaran bid’ahnya. Sikap seperti ini tentu tidak hanya berlaku pada zaman mereka saja; hal ini akan terus senantiasa berlaku sampai saat ini, pada orang-orang yang memiliki keadaan serupa dengan orang-orang yang mereka dapati! (tidakkah kita mengambil pelajaran dari sikap mereka?)

Jika anda tidak setuju dengan penuturan diatas, dengan tidak mau mengambil sama sekali periwayatan dari orang-orang ‘bermasalah’ (atau orang-orang yang anda ANGGAP ‘bermasalah’); silahkan, itulah yang menjadi pertimbangan anda, dan apa yang anda pertimbangkan tentu TIDAK SAMA dengan pertimbangan orang lain.

Pertimbangan masing-masing orang tentu berbeda-beda, seorang yang memiliki suatu pertimbangan tentu tidak bisa menerapkan pertimbangannya tersebut pada orang lain yang memiliki pertimbangan berbeda.

Maka jangan sampai langsung tebar vonis pada orang lain yang memiliki pertimbangan berbeda dengan pertimbangan yang anda anut. Perhatikan baik-baik permasalahannya, dan jangan sampai tergesa-gesa dalam menghukumi permasalahan, apalagi sampai menghukumi individu-individu terkait permasalahan tersebut.

Ingat penghukuman terhadap suatu masalah itu berat… dan ingat LEBIH BERAT lagi penghukuman (vonis) terhadap individu-individu terkait suatu masalah…

Semoga bermanfaat


Catatan Kaki

[1] Perlu dicamkan baik-baik ‘istilah’ syi’ah yang digunakan para ulama terhadap para perawi hadits BUKAN SYI’AH RAFIDHAH. Karena tidak ada satupun perawi dalam kitab-kitab shahiih yang merupakan SYI’AH RAFIDHAH; karena tidaklah seorang RAAFIDHIY, kecuali ia melegalkan DUSTA yang dibungkusnya dengan ‘taqiyyah’, dan tidaklah seseorang menjadi RAAFIDHI kecuali karena kebencian dan permusuhan yang sengit terhadap para shahabat Nabi, bahkan sampai pada derajat pengkafiran. Na’uudzubillah. Bisa disimak disini penjelasan lebih lengkapnya: http://www.alamiry.net/2014/08/benarkah-imam-bukhari-mengambil-riwayat.html

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, Ilmu

Keadaan ‘saya’ yang ‘sudah ngaji’ 5 tahun (atau mungkin lebih)

Coba tanyakan kepada ‘saya’: “sudah berapa KITAB yang dikhatamkan melalui majelis ilmu yang dihadiri?” Kalau ‘saya’ jawab: “belum pernah”; harusnya ‘saya’ MALU dong, udah 5 tahun merasa ‘ngaji’, tapi belum pernah mengkhatamkan kitab di majelis ilmu. ‘Umur ngaji’ segitu harusnya udah menghatamkan beberapa matan ringkas.

Tanyakan lagi kepada ‘saya’: Sudahkah mengetahui ilmu-ilmu alat? Kalau ‘saya’ jawab: ‘belum’. harusnya ‘saya’ MALU dong, udah 5 tahun merasa ‘ngaji’, tapi ilmu-ilmu alat sangat minim diketahui. ‘Umur ngaji’ segitu harusnya udah menguasai ilmu-ilmu alat (level beginner) dari bahasa arab, ushul fiqh, maupun musthalah hadits.

Kenapa ‘saya’nya malah tenang-tenang saja, ya? Terlebih lagi tak jarang ‘saya’ dapati ada teman yang ‘baru ngaji’ 3 tahun atau bahkan baru 1 tahun, tapi ilmunya sudah jauh melampaui ‘saya’.

Sudah demikian, ‘saya’ malah sibuk stempel-stempelin orang… Stempelin orang pun bukan melalui penelahaan mendalam… Maklum, karena memang ‘saya’ sendiri ilmunya sangat terbatas sekali… ‘Saya’ mengira berfatwa itu hanya untuk ‘menghukumi permasalahan suatu kondisi’; adapun menstempel orang maka ini saya mengira ini bukan ‘fatwa’, sehingga hal itu bebas ‘saya’ lakukan.

Kasihan sekali kondisi ‘saya’… Ataukah ‘saya’ lupa dengan kondisi ‘saya’ sendiri karena terlalu memperhatikan kondisi orang lain? Moga-moga ada orang baik yang mau mengingatkan ‘saya’ akan buruknya kondisi ‘saya’ ini, sehingga ‘saya’ bisa meluruskan kembali proses ‘menuntut ilmu’ yang ternyata ‘saya’ masih sangat jauh darinya.

Semoga Allaah memberikan hidayah kepada ‘saya’ dan kepada kita semua.. Aamiin

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku, Ilmu

Diantara persiapan yang hendaknya dilakukan pelajar sebelum mendatangi majelis ilmu

Diantara PERKARA PENTING yang sepantasnya DIPERHATIKAN seorang pelajar sebelum mendatangi majelis ilmu adalah MELAKUKAN PERSIAPAN-PERSIAPAN…

Diantara persiapan tersebut adalah:

1. Mempersiapkan buku yang akan dibahas

Kalau tidak punya bukunya, maka dibeli. Kalau tidak mampu beli, maka difotocopy bagian yang akan dibahas.

Ingat… Diantara bukti kesungguhan kita dalam belajar, adalah dengan menyiapkan buku yang akan dibahas…

Dan ingat… Perjuangan kita dalam menyiapkan buku itu akan membuahkan kesungguhan kita dalam mempelajari buku tersebut… Bagaimana tidak? Misalkan seseorang yang memiliki harta yang amat sangat terbatas; tapi dia mau untuk mengeluarkan sebagian hartanya tersebut untuk membeli buku (yang mungkin harganya tersebut menurutnya tidak sedikit)… Tentu hal ini akan memotivasinya untuk tidak menyianyiakan jumlah uang yang telah dibayarkannya untuk membeli buku tersebut…

Tidak heran, kita dapati banyak orang yang tidak istiqamah dalam suatu kajian kitab; karena orang tersebut tidak mau membeli kitab yang dibahas… Atau kalaupun dia punya, dia tidak merenungi ‘nilai’ dari kitab tersebut, sehingga tidak terpikirkan olehnya untuk mendatangi pengkajian kitab tersebut; karena lalainya ia akan SAMUDRA ILMU yang akan ia peroleh dari kitab tersebut (sekalipun kitab yang dibahas tersebut adalah KITAB KECIL yang MURAH harganya)!!! Maka hendaknya kita TIDAK MEREMEHKAN hal ini!!!

2. Membaca materi yang akan dibahas

Sehingga kita telah memiliki gambaran terhadap apa yang akan dibahas. Meskipun apa yang akan dibahas sudah pernah kita ketahui, tetap hendaknya kita membacanya; sehingga lebih menyegarkan kembali ingatan kita tentang pembahasan tersebut; dan yang lebih penting lagi hal tersebut benar-benar tertanam dalam hati-hati kita. Dan ketika kita mendatangi kajiannya maka kita pun sekali lagi diingatkan kembali akan hal tersebut… Jika kita telah melakukan persiapan, dan kembali mendengarkan pemaparannya ketika kajian, bukankah hal tersebut akan benar-benar kokoh dalam ingatan dan hati kita?! Bagaimana lagi jika setelah kajian kita mengulangi materi tersebut?! (sehingga kita TIGA KALI mendalami materi tersebut!!!) Maka dengan hal ini akan semakin kokohlah keilmuan kita tentang materi tersebut… Ini baru SATU MATERI dalam SATU KAJIAN… Bayangkan kalau kita BEBERAPA KAJIAN RUTIN dalam sepekan?! Maka bayangkanlah betapa banyaknya ilmu yang dapat kita serap dipekan tersebut!!!

3. Bahkan kalau perlu, hendaknya kita menyiapkan materi tambahan dari apa yg akan dibahas

Jadi kita tidak hanya mengambil rujukan dari buku yg dibahas saja, tapi juga dari buku lain yang juga membahas dari apa yang akan dipaparkan.

Seperti misalkan ada kajian tafsiir ibnu katsiir tentang surat al faatihah. Maka kita pun tidak hanya melihat tafsiir ibnu katsiir saja, tapi juga melihat tafsir ath thabariy, tafsir al qurthubiy, dan lain-lain, tentang al faatihah…

Sehingga bukan hanya gurunya/pemateri aja yg bersusah payah menyiapkan materi yg diajarkannya; tapi pelajar pun juga turut mempersiapkan bekalnya sebelum ia mendatangi kajian…

Bahkan hal ini sangat bermanfaat bagi pelajar… Diantara manfaatnya:

– (Manfaat pertama) Kalau ia mendapatkan sesuatu yg tidak diketahuinya atau tidak jelas atau janggal baginya dalam persiapan materi tersebut; sehingga ia dapat mempersiapkan pertanyaannya tsb untuk ditanyakan dimajelis (meskipun mungkin pertanyaan yang disiapkannya ini, akan terjawab oleh pemateri pada sesi pemaparan, sebelum sesi tanya jawab)

– (Manfaat kedua) dia bisa menambahkan faidah yang ia dapatkan; yang belum sempat diangkat/dibahas pemateri. Tentunya dengan penuh adab yaitu dalam bentuk pertanyaan (“ustadz saya dapati faidah berikut dikitab anu dan anu; bagaimana penjelasannya?”)…

– (Manfaat ketiga) kita sudah mendapatkan tambahan ilmu, bahkan sbelum mendatangi majelis ilmu…

– (dan manfaat-manfaat lain yang sangat banyak, tidak tersebutkan disini)

Hal ini (yaitu point ke 4 ini) juga bisa dilakukan setelah mendatangi majelis ilmu, yaitu menjabarkan apa yang telah dijelaskan gurunya; dan/atau menjabarkan point-point yang ia tuliskan; sehingga ilmunya tentang materi yang dibahas pun akan lebih meluas… Ini untuk SATU MATERI untuk SATU KAJIAN itu saja… Bayangkan bagaimana perkembangan ilmunya setelah beberapa pertemuan kedepan pada kajian tersebut… Bagaimana lagi jika ia memiliki kajian yang membahas kitab lain?!

Maka yang terbaik… hal ini (yaitu point ke 4 ini), dilakukan SEBELUM DAN SETELAH mendatangi majelis ilmu…

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, Ilmu

Dudukkanlah secara benar persoalan teoritis dan praktis

Misalkan seseorang tau’nya (baik dengan taqlid, atau dengan penelahaan) bahwa berbekam itu membatalkan wudhu…. Maka tidak bisa ia secara sembrono, menerapkan konsekuensi pendapatnya tersebut pada orang lain (yang memiliki pandangan berbeda dengannya, baik itu dengan taqlid; apalagi penelahaan) !

Sehingga ia katakan:

“Engkau tadi berbekam, maka wudhu’mu batal; jika engkau tidak berwudhu’ lagi sebelum shalat, maka engkau sama saja shalat tanpa wudhu. Jika demikian, maka shalatmu tidak sah. Jika demikian, aku tidak akan bermakmum denganmu karena shalatmu tidak sah. Dan jika demikian maka engkau telah beramal dengan kefasiqan, karena sengaja shalat dalam keadaan tidak berwudhu, dan jika demikian, maka engkau ini seorang yang fasiq!”

Lihatlah bagaimana kecacatan orang diatas ini dalam mendudukkan perkara teoritis dalam ranah praktis.

Ia taqlid kepada ulama yang menyatakan batalnya wudhu. Tidak ada masalah dalam hal ini (terlebih lagi jika ia mengikuti berdasarkan kandungan dalilnya), karena memang seorang awam [bukan ulama] tugasnya adalah bertanya dan/atau merujuk pada ulama. Tapi yang menjadi masalah adalah dia menerapkan konsekuensi madzhabnya pada orang lain (sesama muqallid; baik itu yang hanya tahu kesimpulan akhir, terlebih lagi yang beramal berdasarkan kandungan dalil)! Ia menyangka bahwa fatwa yang ia ikuti tersebut wajib ia terapkan konsekuensinya pada orang lain! Sungguh ini kekeliruan yang amat nyata!

Tidak hanya sampai disitu, secara tanpa ilmu ia serampangan menilai tidak sahnya shalat seseorang berdasarkan sudut pandang yang dianutnya; tanpa mempedulikan konteks global tentang permaslaahan tersebut!

Tidak hanya sampai disitu, secara tanpa ilmu ia serampangan dalam bersikap terhadap orang lain, karena konsekuensi dari dua hal sebelumnya; yaitu tidak mau bermakmum padanya dengan mengambil pelaziman dari konsekuensi sudut pandangnya!

Tidak hanya sampai disitu, secara tanpa ilmu ia serampangan dalam memvonis saudaranya “sengaja shalat tanpa wudhu” hanya berdasarkan sudut pandang yang ia anut! Mungkin ia akan membawa dalil “ancaman bagi orang yang sengaja shalat tanpa berwudhu”! Padahal permasalahannya bukan disitu! Permaslaahannya adalah “apakah berbekam itu membatalkan wudhu atau tidak?” !!! Jadi tidak bisa disamakan dua hal ini! Adapun seorang yang buang air, dan ia ingat ia telah buang air, lantas ia sengaja shalat tanpa berwudhu lagi; maka inilah yang dimaksudkan. Adapun dalam permasalahan ini, yang mana ulama berbeda pandangan; tidak bisa secara sembrono kita terapkan sudut pandang yang ada dalam diri kita kepada orang lain!

Tidak hanya sampai disitu, (dan ini adalah rentetan dari point sebelumnya), ia vonis saudaranya tersebut dengan vonis kefasiqan, karena menyangka saudaranya ini termasuk orang-orang yang “sengaja shalat, tanpa didahului wudhu” (karena kesalahpahaman sebelumnnya)! Sudah salah disitu, jatuh lagi ia dalam kesalahan lain dengan memvonis fasiq saudaranya BERDASARKAN SUDUT PANDANG YANG IA ANUT! Laa hawla wa laa quwwata illa billah!

Apakah demikian para ulama dalam kondisi praktis?

Coba pelajari, dua kisah berikut:

1. Pernah khalifah Harun ar Rasyid berbekam, kemudian beliau shalat tanpa berwudhu. Tahukah kita? Bahwa Imam Abu Yusuf al Hanafiy tetap shalat dibekalangnya? Padahal beliau berpendapat “bekam membatalkan wudhu”? Apakah beliau menerapkan kaidah pelaziman diatas?

2. Imam Ahmad (yang mana beliau berpendapat bekam itu membatalkan wudhu) ditanya: “Bolehkan bermakmum kepada seseorang yang berbekam, kemudian ia shalat, tanpa berwudhu kembali?” Apa jawab imam ahmad? Beliau menjawab: “Bagaimana saya tidak shalat dibelakang MALIK bin anas dan SA’ID ibnul Musayyib?!”

Lihat… Imam Ahmad ini TIDAK DITANYA tentang bermakmum pada imam malik dan imam ibnul musayyib… Tapi ditanya “orang umum” yang berpendapat dan beramal dengan pendapatnya imam malik dan imam ibnul musayyib…. Tapi apa jawab beliau? “Bagaimana saya tidak shalat dibelakang imam malik dan imam ibnul musayyib?!”

Disinilah kefaqihan imam ahmad… Amalan muqallid itu cerminan dari Fatwa Mujtahid yang diikutinya…

Jika kita menolak bermakmum dibelakang muqallid yang mengikuti ijtihad ulamanya; maka ini sama saja kita menolak bermakmum dibelakang mujtahid yang memberikan fatwa padanya!

Jika kita melaqabkan dengan laqab-laqab buruk terhadap muqallid tersebut, maka sama saja kita melaqabkan hal yang sama pada mujtahid yang ia ikuti!

Maka sebagaimana hal ini berlaku pada permasalahan ini, maka inipun berlaku pada permasahan-permasalahan FIQIHIYYAH yang lain YANG SANGAT BANYAK!

Jika mujtahid diberi udzur, maka tentunya muqallid lebih pantas diberi udzur!

Kalau mujtahid disatu sisi kita pandang salah, tapi disisi lain kita sadar bahwa dia telah menempuh jalur yang benar, dan dikenal kecintaannya terhadap kebenaran; kemudian dengannya kita memberi udzur. Maka hal yang sama tentunya lebih berhak kita perlakukan kepada para pengikut mujtahid yang juga berkondisikan serupa! Maka tentu lebih ditekankan uduzr bagi muqallid yang tanpa bekgron agama sama sekali, yang bertanya pada mujtahid; kemudian ia mendapatkan kesimpulan akhir penghukuman!

Maka sebagaimana hal ini berlaku pada permasalahan ini, maka inipun berlaku pada permasahan-permasalahan FIQIHIYYAH yang lain YANG SANGAT BANYAK!

Ingat, Imam ahmad dalam teoritisnya, bersikap tegas: “Batal wudhu’ seseorang, apabila ia berbekam”. Tapi lihatlah dalam tataran praktisnya! Apa yang beliau contohkan kepada kita adalah: “Tidak mengapa shalat dibelakang imam yang berpendapat tidak batal wudhu setelah berbekam; kemudian ia mengamalkan pendapatnya (yaitu kita tidak menerapkan konsekuensi pendapat kita padanya!)”

Jadi jangan pakai kaidah “pelaziman” seperti diatas! Bahkan kaidah seperti ini kaidah yang rusak sekali! Maka sebagaimana tidak diterapkan kaidah ‘pelaziman’ pada permasalahan ini, maka inipun berlaku pada permasahan-permasalahan FIQIHIYYAH yang lain YANG SANGAT BANYAK!

Memetik pelajaran darinya…

Kembali kita ingatkan dua hal!

1. Dalam tataran teoritis. Silahkan bersikap tegas dan lugas. Silahkan anda berkata (dengan berdasar ilmu) tantang apa yang kita pandang benar -dari berbagai sudut pandang yang ada-, bahwa inilah kebenaran… Menguatkan apa yang dipandang kuat, dengan penjelasan… Dan melemahkan apa yang dipandang lemah, dengan bantahan..

2. Tapi ketika masuk ke ranah praktis. Jangan berkacamata kuda. Jangan terapkan konsekuensi pendapat kita pada orang lain! Sebagaimana kita dari awal berkata: “dalam hal ini ulama berbeda pendapat”. Maka tentu “ulama akan berbeda pengamalan”. Maka tentu “pengikut ulama akan sejalan dengan ulamanya! Baik mereka yang mengikuti ulama hanya berdasarkan kesimpulan akhir; atau mereka yang mengikuti ulama dengan menelaah prosesnya hingga kesimpulan akhir!”

Jadi jangan mentang-mentang, sudah merasa naik derajat menjadi ‘muttabi’, kemudian sibuk mendebat orang yang lebih jahil darinya (atau bahkan orang lebih alim darinya), kemudian mewajibkan orang tersebut untuk sejalan dengannya!!! Terlebih lagi sampai menerapkan konsekuensi yang ada dalam pandangannya tersebut PADA ORANG LAIN yang berbeda pandangan dengannya! Ini jelas sangat tidak dibenarkan! Bahkan ini cerminan kurang adab, bahkan cerminan kurang faqihnya ia dalam permasalahan tersebut! Imam malik saja ditawarkan agar kitab fiqhnya dijadikan rujukan negara, tapi beliau menolak! Lantas siapa kita yang hanya sebatas ‘mengikuti’ pendapat maalik (contoh), kemudian mewajibkan apa yang kita ikuti tersebut untuk dianut oleh orang lain?!

Dengan diterapkan kaidah pelaziman ini, maka kita akan mendapati orang-orang yang betapa jahilnya mengubar laqab kepada pihak yang menyalahinya… Dari laqab-laqab yang jelek, hingga laqab berbahaya seperti mubtadi'[1. Contohnya qunut shubuh terus menerus.

Para ulama berbeda pendapat tentang penghukuman qunut di shalat shubuh secara terus-menerus menjadi tiga penghukuman:

– Sunnah
– Tidak sesuai sunnah, tapi tidak sampai kepada derajat bid’ah
– Bid’ah

(dari salah satu kajian ustadz Badrusalam)

Nah sekalipun seseorang mengikuti ijtihad ulama yang membid’ahkan qunut shubuh terus-menerus; maka tidak bisa kita serta-merta memvonis mubtadi’ terhadap orang-orang yang berpendapat dan beramal dengan fatwa mujtahidnya!

Silahkan berdiskusi, silahkan kerahkan daya upaya dalam pendekatan teoritis kita kepadanya; menjelaskan apa yang kita pandang benar, dan meluruskan apa yang kita pandang salah. Tapi jangan sampai hal tersebut kita bawa ke ranah pemvonisan person! Yaitu memvonisnya mubtadi’!], fasiq[2. Contohnya seperti jenggot dan isbal (dengan tanpa kesombongan)

Padahal telah nyata bahwa para ulama berselisih paham tentang hukum ‘membiarkan jenggot’ apakah dihukumi wajib atau sunnah! Adapun KLAIM IJMAA’ maka jelas ini kekeliruan yang nyata! (silahkan simak disini: https://www.facebook.com/abuzuhriy/posts/10152242484989660?stream_ref=10)

Maka bagaimanakah kita hendak menerapkan konsekuensi pendapat kita kepada orang lain!? Bahkan bermodalkan dengan itu, maka kita vonis ia dengan kefasiqan?! Tidak takutkah kita bahwa vonis itu akan kembali kepada kita?!

Sama halnya dengan vonis terhadap musbil (silahkan simak: http://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/04/06/hukum-isbal-dalam-islam/)!

Sekiranya kita berpendapat bahwa isbal dengan tanpa kesombongan adalah haram, atau bahkan dosa besar; bukan berarti sudut pandang yang kita anut, kita terapkan pada orang lain! Apalagi sampai memvonis fasiq pada person-personnya!! Maka ini kekeliruan yang amat nyata!], atau bahkan munafiq [3. Contoh nyatanya pada permasalahan “hukum shalat berjamaa’ah di masjid” atau lebih tepatnya “hukum shalat di selain masjid ”

Jika kita berpendapat bahwa hukumnya wajib ‘ain, atau bahkan syarat sah (tentang shalat di belakang imam di masjid); atau bahkan memvonisnya sebagai dosa besar (bagi yang shalat di selain masjid). Maka hal itu merupakan konsekuensi yang kita anut untuk diri kita! Bukan untuk kita terapkan kepada orang lain, dalam ranah praktisnya!

Coba saja berkaca pada realitas.

Misalkan anda berada di mall atau pasar atau kantor atau pabrik; kemudian masuk waktu shalat, kemudian anda adzan dan iqamah di tempat tersebut. kemudian anda menyelenggarakan shalat disana. Bukankah anda MENYALAHI pendapat anda?! Kalau misalkan masih ada masjid disekitaran kantor/mall/pasar/pabrik?! Apa anda memvonis dosa besar pada diri anda?! atau bahkan memvonis nifaq pada diri anda?! Jika tidak, lantas betapa standar gandanya anda dengan mudahnya memvonis orang lain berdasar sudut pandang yang anda anut, yang bahkan anda sendiri menyalahinya!

Maka dalam ranah praktis, terhadap orang yang menyalahi pendapat dan sudut pandang kita, tidak kita terapkan pada mereka konsekeunsi pendapat yang kita anut!

Semoga Allaah menjauhkan kita dari serampangan dalam memvonis individu; yang kita khawatir vonis tersebut akan kembali pada penebarnya, cepat atau lambat! Na’uudzubillaah!], atau bahkan murtad, kafir[4. Contohnya seperti permasalahan “meninggalkan shalat”.

Tidak diragukan lagi meninggalkan shalat merupakan perkara yang amat besar dosanya. Tapi tetaplah kita melihat realitas! Bahwa memang para ulama berbeda pandangan apakah “seorang yang meninggalkan shalat” adalah kufur akbar atau kufur ashghar!

Jangan mentang-mentang kita sudah ‘muttabi’ dan mengikuti pendapat kufur akbar; lantas secara serampangan memvonis “murtad, kafir” pada orang yang menginggalkan shalat!]; atau bahkan thaaghuut [5. Inilah yang amat sangat mengerikan, vonis yang paling berat; yang sangat mengherankannya amat mudah ditebarkan orang-orang jaahil yang hanya modal semangat!

Berawal dari kesalahan/ketergelincirannya yang mengikuti manhaj khawarij dalam menafsirkan beberapa firman Allaah tentang masalah tahkiim; yang mana secara mutlak dianggap sebagai kufur akbar, tanpa memerinci! (simaklah: http://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/630-berhukum-dengan-selain-yang-alloh-turunkan)

Maka jatuh lagi kepada kesalahan berikutnya, yaitu melazimkan pendapatnya yang sesat itu kepada orang lain!

Semoga Allaah menyelamatkan kita dari kejahilan dan kezhaliman, aamiin!]! Karena apa semua ini? Karena melazimkan konsekeunsi pendapatnya pada orang lain! Bahkan mungkin ia akan sangat berani menumpahkan darah seorang muslim (yang dianggapnya kafir) karena pelaziman ini! Na’uudzubillaah!

Maka ingatlah! kita hanya menyampaikan apa yang kita pandang benar, BUKAN untuk MEWAJIBKAN apalagi MEMAKSAKAN agar orang lain sejalan dengan kita (apalagi sampai menerapkan kaidah pelaziman yang ada dalam diri kita pada orang lain)! Apa yang kita pandang benar itu, bukanlah untuk digunakan sebagai pelaziman untuk diri orang lain! Sehingga dengannya kita mudah menebar laqab, mencederai kehormatan, atau mungkin… mengucurkan darah tanpa hak!

Juga menjadi pelajaran bagi kita, misalkan kita seorang penuntut ilmu dari masyarakat yang bermadzhab syafi’iy… kemudian kita pergi ke negri para ulama yang disana mayoritas madzhab fiqhnya hanafiy, atau malikiy atau hanbaliy… Maka jangan sampai kita kembalinya ke negri kita dengan berkaca-mata kuda, dan semata-mata memandang dengan perajihan fiqh yang kita peroleh dari madzhab berlainan, kemudian kita terapkan konsekeunsi pendapat kita tersebut, pada masyarakat kita dengan madzhab kita tersebut!

Maka alangkah agungnya nasehat dari sebagian ulama saudi, yang mewasiatkan para pelajarnya untuk mempelajari kembali madzhab masyarakatnya, dan mengajarkan kitab-kitab madzhab masyarakat sekitar sebagai rujukan fiqhnya… Meskipun tidak terlarang baginya menyalahi sebagian isi dari kitab tersebut; karena condong pada pendapat lain yang ia peroleh dari perjalanan menuntut ilmunya dari beragam ulama! Bahkan wajib baginya untuk menyalahinya, jika memang ia mendapati sudut pandang yang berbeda tersebut lebih dekat kepada kebenaran daripada apa yang tertuang dalam kitab tersebut… Karena sesungguhnya tidak ada satupun kitab yang ma’shuum di bumi ini, kecuali kitaabullaah ‘azza wa jalla!

[Simak: http://rumaysho.com/faedah-ilmu/kuasai-fikih-madzhab-syafii-3144]

Dan memang wasiat diatas mengajarkan pada kita dua hal :

1. Agar jangan sampai kita menyempitkan permasalahan semata-mata hanya berdasarkan apa yang kita dapati. Mentang-mentang 100 gurunya merajihkan pendapat A, maka disangkanya A ini adalah ijma’ (karena itu saja yang ia dapati selama ini). Maka selain A, maka dianggap menyalahi ijma, atau dianggap ghayru mu’tabar !

(Pelajarannya: jangan sampai ‘kesepakatan’ dalam satu perguruan fiqhiyyah dalam sebuah permasalahan, dianggap sebagai kesepakatan seluruh ulama islam! Yang padahal mungkin dalam konteks global, bisa jadi JUMHUUR perguruan fiqhiyyah yang lain justru menyalahi sudut pandang yang dianutnya, sedangkan ia tidak menyadari!!!)

2. Agar jangan sampai kita menerapkan kaidah ‘pelaziman’ pada mereka yang berbeda dengan kita. Juga agar harus kita senantiasa ingat, bahwa madzhab (fiqhiyyah) masyarakat itu diatas madzhab ulama’nya (sebagaimana dikatakan syaikh as sa’diy). Sehingga kita dapat menyikapi mereka dengan baik dan benar.

Wallaahu a’lam

Semoga bermanfaat bagi ana pribadi maupun yang lain.

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, Ilmu

Kembangkanlah ilmu, dan jangan merasa cukup dengan kondisi yang sekarang

Bagusnya ketika kita menyikapi “perbedaan pendapat dalam masalah penghukuman derajat hadits” maka kita menyikapinya seperti kita menyikapi “perbedaan pendapat dalam penghukuman dalam masalah fiqh”… Yang mana kita kritis dengannya… Yang kita tidak hanya sebatas melihat ‘kesimpulan akhir’-nya saja, dan mencukupkan dengannya… Tapi juga melihat BAGAIMANA ulasan (hujjah-hujjah) para ulama hingga mencapai kesimpulan tersebut…

Ilmu yang kita miliki, lebih baik berkembang (atau dengan kata lain: kita berusaha kembangkan)… Dalam hal ini, kita berusaha mengembangkan pengetahuan kita dalam ilmu hadits…

Dan diantara salah satu upayanya adalah membaca uraian ilmiyyah para ulama ketika mereka mengulas sanad-sanad dan jalan-jalan hadits… mencari tahu dimana letak perselisihan mereka… bagaimana ulasan mereka… bagaimana bantahan mereka… sampai pada kesimpulan akhir masing-masing…

(tentunya ini semua dilakukan dengan niat yang benar, yaitu mencari kebenaran -bukan pembenaran; dan siap ruju’ kepada kebenaran, jika kita mendapati kebenaran… terlepas apakah kebenaran tersebut berpihak pada pendapat yang sekarang kita taqlidi, atau justru pada pendapat yang bersebrangan dengan yang sekarang kita taqlidi [dengna turut menyadari bahwa masing-masing orang punya sudut pandang masing-masing, yang tidak bisa dipaksakan satu sama lain])…

Dengan melalui upaya tersebut, kita bisa lebih kokoh lagi hujjahnya… kita tidak sekedar tahu “kesimpulan akhir” saja, tapi juga tahu “ulasan dari awal sampai akhir” MENGAPA kesimpulan akhirnya demikian…

Hal ini pernah dinasehatkan oleh ustadz abdullaah taslim, dimana beliau berkata (secara makna) :

“Tentunya berbeda seorang yang mengamalkan sebuah hadits, yang ia mengetahui jalan-jalan periwayatannya, serta uraian dan penjelasan tentang sanad hadits tersebut; dengan orang yang hanya tahu ‘kesimpulan akhir’-nya saja… dia akan lebih kokoh dalam pengamalannya”

(selesai penukilan secara makna)

Demikian pula, seseorang akan lebih kokoh dalam peninggalannya dalam suatu amalan (yang setelah ia lihat penjelasan lebih lengkapnya, ternyata yang benar hadits tersebut dha’if), karena ia meninggalkan hal tersebut BERDASARKAN ilmu, bukti dan penjelasan yang memuaskan… tentang kesimpulan hadits yang ia ikuti pendapatnya tersebut…

Bukankah hal yang serupa kita rasakan, ketika kita mengamalkan suatu permasalahan fiqih ayng telah kita lalui dengan ulasan yang panjang dari para ulama sampai pada kesimpulan akhir pendapat fiqh tersebut? (maka itulah yang akan kita rasakan setelah menelusuri ulasan para ulama, sampai mencapai kesimpulan akhir, dalam penghukuman derajat hadits)

Awal dari semua itu, adalah memahami bahasa arab!

Pertanyaan yang penting… bagaimana kita hendak membaca ulasan para ulama, jika kita TIDAK MEMILIKI BEKAL BAHASA ARAB? (balik lagi kesini) apakah kita akan terus-terusan BERPANGKU TANGAN kepada orang yang memiliki kemampuan? (menunggu terjemahanya?) sampai kapan? alangkah terbatas dan tertahannya lautan ilmu itu, jika kita demikian!!!

Maka kembangkanlah pengetahuan bahasa arab kita, sehingga kita yang tadinya tidak bisa sama sekali, menjadi bisa… yang tadinya sedikit mahir, menjadi mahir… yang tadinya setengah mahir, menjadi sempurna kemahirannya…

MERASA CUKUP (terhadap keilmuan yang kita miliki) hanyalah menjauhkan kita dari hidayah, dan malah hanya akan menyulitkan kita

Allaah berfirman:

أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ . فَأَنتَ لَهُ تَصَدَّىٰ

Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya.

(‘Abasa : 5-6)

Allaah mencela orang-orang kaafir, yang mereka merasa cukup dengan keilmuan yang mereka miliki saat ini; sehingga tidak pantas mereka ini dikejar-kejar, sedangkan mereka sendiri tidak memiliki keinginan, kemauan untuk meraih hidayah.

Dia juga berfirman:

وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ . وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ . فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ

Dan adapun orang-orang yang bakhil dan MERASA DIRINYA CUKUP, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (JALAN) yang SUKAR.

(al Layl: 8-10)

Maka hidayah itu BUKAN untuk mereka yang MERASA CUKUP, bahkan bagi mereka JALAN YANG SUKAR.

Sebaliknya mereka yang senantiasa menuntut ilmu (mengembangkan ilmu), maka bagi mereka hidayah dan TAMBAHAN HIDAYAH, serta JALAN yang MUDAH…

Rasuulullåh shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda (tentang penyebab orang-orang menolak hadits beliau; yaitu ingkarus sunnah) :

لَا يُوشِكُ رَجُلٌ يَنْثَنِي شَبْعَانًا عَلَى أَرِيكَتِهِ

“Kiranya tak akan lama lagi ada seorang laki-laki yang duduk dalam keadaan kenyang di tempat duduknya…”

(HR. Ahmad (dan ini lafazhnya); Abu Dawud, Ibnu Abdil Barr, al-Khatib al-Baghdadiy, Ibnu Nashr al-Mawarziy, al-Ajurriy, al-Baihaqiy; dari jalur Hariz bin ‘Utsman; juga jalur ‘Abdullah bin Abi Auf; dan dari jalur al-Miqdam; Dishahihkan syaikh salim bin ‘ied al-Hilaliy)

Al-Imam Al-Baghawi menyatakan dalam syarhus sunnah beliau :

“Yang dimaksud dengan sifat ini (laki-laki besar perutnya yang bersandar di kursi sofa) adalah orang-orang yang bergaya hidup mewah dan angkuh yang hanya berdiam di rumah dan TIDAK MAU MENUNTUT ILMU AGAMA…”

Maka demikian pula, diantara sebab TIDAK BERKEMBANGNYA ILMU seseorang, karena ia MERASA CUKUP dengan apa yang dimilikinya saat ini, TIDAK MAU mengembangkan keilmuan dalam diri, dan BERMALAS-MALASAN (tidak mau bersusah payah) untuk meningkatkan kualitas ilmunya… sehingga ia tetap terus berada didalam kebodohan, yang dikhawatirkan kebodohan tersebut dapat membawanya kepada kebinasaan, na’uudzubillaah…

Suplemen tambahan, silahkan baca:

Keutamaan menuntut ilmu dengan mendatangi majelis ilmu
Jangan merasa puas menjadi muqallid

Tinggalkan komentar

Filed under Ilmu

Diantara sebab dicabutnya ilmu dan pemahaman yang benar dari diri seseorang

Diantara sebab dicabutnya ilmu dan pemahaman yang benar dari diri seseorang :

1. Menginginkan kehidupan dunia
2. Mengikuti hawa nafsu
3. Meninggalkan ketaqwaan

[faidah kajian menuntut ilmu jalan menuju surga]


Dalil point 1 & 2

Allaah berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah KAMI BERIKAN kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan dan pemahaman tentang isi Al Kitab), tapi kemudian DIA MELEPASKAN DIRI dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka JADILAH DIA dia termasuk orang-orang yang SESAT.

(Kemudian Allaah menjelaskan kenapa ia bisa sampai berbuat demikian)

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia CENDERUNG kepada DUNIA dan MENURUTKAN HAWA NAFSU yang rendah…

[al A’raaf : 175 – 176]

Dalil point 3

dari Abu Ad Darda’ dia berkata; Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menengadahkan pandangannya ke langit kemudian berkata;

هَذَا أَوَانُ يُخْتَلَسُ الْعِلْمُ مِنْ النَّاسِ حَتَّى لَا يَقْدِرُوا مِنْهُ عَلَى شَيْءٍ

“Inilah saatnya ilmu dicabut dari manusia sehingga mereka tidak mampu mengetahui darinya sama sekali”,

maka Ziyad bin Labid Al Anshari bertanya;

‘Bagaimana ilmu dicabut dari kami, padahal kami membaca Al Qur’an? Demi Allah, kami pasti akan membacanya dan membacakannya kepada istri-istri dan anak-anak kami.’

—dalam riwayat lain, riwayat ibn maajah–

“Wahai Rasulullah, bagaimana ilmu bisa hilang? Sedangkan kami masih membaca Al Qur’an dan kami juga membacakannya (mengajarkannya) kepada anak-anak kami, dan anak-anak kami juga akan membacakannya kepada keturunannya sampai hari kiamat datang.”

–selesai petikan–

Maka beliau berkata:

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا زِيَادُ إِنْ كُنْتُ لَأَعُدُّكَ مِنْ فُقَهَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَذِهِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ عِنْدَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى فَمَاذَا تُغْنِي عَنْهُمْ

“alangkah malangnya dirimu wahai Ziyad, sesungguhnya aku menganggapmu termasuk orang yang faqih di Madinah, inilah kitab Taurat dan Injil milik Yahudi dan Nashrani maka apakah bermanfaat bagi mereka?!”

—dalam riwayat ibn maajah disebutkan–

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ زِيَادُ إِنْ كُنْتُ لَأَرَاكَ مِنْ أَفْقَهِ رَجُلٍ بِالْمَدِينَةِ

“alangkah malangnya dirimu wahai Ziyad, padahal aku melihatmu adalah orang yang paling memahami agama di Madinah ini!”

أَوَلَيْسَ هَذِهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ لَا يَعْمَلُونَ بِشَيْءٍ مِمَّا فِيهِمَا

“Bukankah orang-orang Yahudi dan Nashrani juga membaca Taurat dan Injil, namun mereka TIDAK MENGAMALKAN sedikitpun apa yang terkandung di dalamnya.”

(Shahiih; HR at Tirmidziy, ibnu Maajah, dll)

Ini sebagai peringatan, bagi orang-orang yang TELAH SAMPAI kepadanya ILMU… Dan bahkan ia TELAH MEMAHAMI ilmu tersebut DENGAN PEMAHAMAN YANG BENAR…

Agar jangan sampai ilmu dan pemahaman benar yang ada pada mereka Allaah cabut, disebabkan mereka lebih menginginkan dunia, disebabkan mereka menuruti hawa nafsu, disebabkan mereka tidak bertaqwa kepadaNya! Na’uudzubillaah!

Diantara contoh “kecondongan terhadap dunia” adalah:

– RIYAA’ / SUM’AH

Yang mana ilmunya tersebut, yang harusnya ia niatkan untuk aakhirat, tapi ia malah meniatkan untuk dunia. Ia mempelajari ilmu, hanyalah untuk dipuji, hanyalah untuk mendapatkan kekuasaan, hanyalah untuk mendapatkan popularitas, hanyalah untuk mendapatkan wanita, hanyalah untuk mendapatkan harta duniawi, atau tujuan duniawi lainnya. Na’uudzubillah!

Diantara contoh “mengikuti hawa nafsu dan meninggalkan ketaqwaan” adalah

– Meninggalkan menuntut ilmu

Dan diantara sebab ia meninggalkan majelis ilmu, disebabkan karena UJUB! Ia takjub pada dirinya karena ilmu dan pemahaman yang ada pada dirinya. Ia sandarkan ilmu tersebut pada dirinya. Ia menyangka “dengan sebab usaha akulah, aku berilmu dan memiliki pemahaman yang baik dan benar”; dengan ujubnya ini pun, akhirnya ia jatuh kedalam TAKABBUR, ia merasa sudah berilmu sehingga menjauh dari ilmu dan menolak kebenaran yang datang padanya. Ia merasa sudah berilmu, maka ia anggap orang selainnya jaahil, sehingga merendahkan selainnya . dua sifat inilah sifat takabbur.

– Tidak mengamalkan ilmu

(Sebagaimana disebutkan hadits diatas)

Yang seharusnya ia mengamalkan semua hal-hal yang wajib-wajib yang sudah diketahuinya, tapi malah ia meninggalkannya.

Yang seharusnya ia meninggalkan semua hal-hal yang dilarang agama, yang sudah diketahuinya. Tapi malah ia mengamalkannya.

Yang seharusnya ia menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfa’at, tapi ia malah sibuk dengan perkara sia-sia (dan inilah yang menjadi pintu jatuhnya ia kepada peninggalan kewajiban dan pengerjaan keharaman!!!)

– Menyembunyikan ilmu

Ini termasuk dari “tidak mengamalkan ilmu”, karena tuntutan ilmu adlaah untuk diamalkan dan diajarkan!

Seorang yang sengaja menyembunyikan ilmunya, telah menapaki jalan yahudi !

Diantara orang yang menyembunyikan ilmu adalah para pemuka kesesatan, yang telah mengetahui kesesatan kelompoknya, tapi ia tidak mau ruju kepada kebenaran, bahkan ia tetap pada kesesatannya, padahal ia TELAH MENGETAHUI dirinya salah. Hanya karena MALU, atau karena TAKUT KEHILANGAN PAMOR, atau TAKUT KEHILANGAN JAMAA’AH atau TAKUT KEHILANGAN HARTA (yg biasa ia dapati dari amalan sesatnya)!!!

Diantara orang yang menyembunyikan ilmu, adalah orang-orang yang ingin mencari popularitas, harta dan kekuasaan! Mereka sudah tahu akan kesesatan, tapi mereka tidak mengingkarinya karena jika mereka mengingkarinya, maka ia TAKUT dibenci oleh kebanyakan manusia! Mereka sudah tahu kebenaran, tapi jika mereka menjelaskan kebenaran, maka mereka TAKUT akan dijauhi kebanyakan manusia, sehingga mereka pun tidak menjelaskannya !


Hal ini juga sebagai peringatan pula bagi orang yang memang tidak berilmu, dan tidak berada diatas kebenaran...

Agar jangan sampai mereka merasa cukup dengan kebodohan yang ada dalam diri mereka… Agar jangan sampai mereka tidak mau menuntut ilmu, serta berpaling dari ilmu!! (dan jika peninggalan atau keberpalingan tersebut disertai kebencian terhadap ilmu dan amal, maka ini adalah KEKUFURAN!)

Terlebih lagi jika mereka memiliki tiga atribut diatas, maka mereka akan senantiasa dalam kondisinya seperti itu!

Ingatlah! seseorang akan tetap dalam kondisi jelek, jika ia tidak mengubah apa-apa yang ada pada dirinya!

Allaah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri.

(Ar Ra’d: 11)

Maka hendaknya ia menjadikan aakhirat sebagai tujuan hidupnya, mengikuti jalan Allaah dan RasulNya, dengan bertaqwa kepadaNya. Sehingga dengannya Allaah akan memberikan ilmu serta pemahaman yang benar kepadanya.

Kita memohon kepada Allaah agar diberikan ilmu yang bermanfaa’at dan agar ditetapkanNya kita diatasnya, dan berlindung kepadaNya dari kebodohan serta kesesatan.

Tinggalkan komentar

Filed under Amal, dakwah, Ilmu

Janganlah MERASA CUKUP dengan ilmu dan amalmu

Disebutkan bahwa:

“Jalan pertama yang ditempuh syaithan untuk menyesatkan manusia adalah MEMALINGKAN dan MENJAUHKAN mereka dari ilmu…

Karena jika seseorang JAUH apalagi BERPALING dari ilmu… Niscaya ia akan berada diatas kebodohan…

Dan jika seseorang berada diatas kebodohan, niscaya akan TERKUMPUL padanya keburukan…”

Sungguh benar Perkataan ini… Ini merupakan nasehat yang agung…

Yang mana nasehat ini tidak hanya berlaku kepada mereka yang jauh dari ilmu, agar mereka tidak terus-menerus menjauh dan berpaling dari ilmu…

Tapi juga berlaku kepada orang yang sudah memiliki ilmu, agar mereka tidak merasa cukup dengan ilmu yang dimilikinya, dan untuk menyadarkan mereka, bahwa mereka SANGAT BUTUH untuk SENANTIASA DIINGATKAN…

Agar jangan sampai orang yang sudah memiliki ilmu itu berkata: “Pembahasan itu sudah aku pelajari kok”

Karena jika memang hal tersebut sudah engkau pelajari…

Apa engkau sudah menghafalnya? Apa engkau sudah mengamalkannya? Apa engkau sudah istiqamah dengannya?

Bukankah disampaikan hal tersebut padamu, akan membantumu untuk menghafalnya? akan membantumu untuk mengingatkanmu agar engkau mengamalkannya? akan membantumu untuk istiqamah dengannya?!

Jika engkau sudah tahu, hafal, beramal dan istiqamah dengannya…

Apa ruginya bagimu KEMBALI DIINGATKAN dengan ilmu tersebut agar ia SEMAKIN TERTANCAP didalam hatimu?!

Agar jangan sampai pula ada yang berkata: “aku sudah berilmu kok”

Sungguh ini perkataan yang menunjukkan UJUB terhadap ilmu yang ia miliki…

Sungguh tingkatan orang berilmu itu ada tiga: pertama, ia akan sombong; kedua, ia akan tawadhu’ (karena ia tahu banyak orang yang lebih berilmu darinya); ketiga, ia tahu bahwa dirinya tidak tahu! (saking ia ketahui, bahwa ilmu itu SUNGGUH SANGAT LUAS… secuil yang dimilikinya, TIDAK BERARTI APA-APA dengan ilmu yang ada dihadapannya!)

Bagaimana lagi jika perkataan tersebut diucapkan seorang yang memang BUTA dari AGAMANYA SENDIRI?!![1. Sebagaimana perkataan orang-orang yang jauh dari ilmu:

“Ngapain sih bahas tauhid, wudhu, shalat, zakat, haji!? ‘kan ini pelajaran ANAK SD!”

Padahal kalau mereka ditanya tentang tauhid, dan seluk beluk tauhid… Niscaya mereka terdiam… Bahkan amalan mereka SANGAT JAUH DARI TAUHID…

Padahal kalau mereka ditanya tentang wudhu dan shalat, serta seluk beluk tentangnya… Niscaya mereka terdiam… Bahkan amalan wudhu dan shalat mereka sangat jauh dari sunnah nabi…

dan seterusnya!!]

Maka hendaknya kita tanyakan kepada mereka yang berkata “aku sudah berilmu kok”:

– Berapa banyak ilmu (yg hukumnya wajib -saja-) yg sudah engkau amalkan?

– Dan berapa banyak dari ilmu tersebut, yang engkau istiqamah diatasnya?!

Dua pertanyaan diatas, adalah dari ilmu YANG SUDAH engkau pelajari… Bagaimana lagi dengan yang BELUM ENGKAU PELAJARI ?!

atau… Engkau sudah merasa SUDAH MEMPELAJARI SELURUH PEMBENDAHARAAN ILMU?!

Kalau engkau jawab “aku belum menguasai seluruh pembendarahaan ilmu”, maka tidak patut bagimu berhenti menuntut ilmu…

Bahkan terhadap ILMU YANG SUDAH ENGKAU MILIKI saja… Masih banyak yang engkau lalaikan… BAHKAN MUNGKIN masih banyak yang engkau tinggalkan… BAHKAN MUNGKIN masih banyak yang engkau SELISIHI…

Tidakkah engkau tahu nabi mendakwahkan TAUHID, TIDAK HENTI-HENTINYA selama 13 TAHUN pertama dari dakwah beliau?!

Sudah berapa lama engkau “ngaji”?! 13 tahun?!

Kalau belum 13 tahun (tentu dihitung berdasarkan penghitungan bulan hijriyyah)… Maka tentu engkau lebih wajib lagi untuk semangat menuntut ilmu!!!

Kalau sudah lebih dari 13 tahun… Maka apa yang sudah engkau dapati dan pahami selama ini?! maka bagaimanakah CERMINAN ilmu tersebut nampak dari PENGAMALANmu terhadapnya?!

Jika ilmu-mu, hafalanmu, tidak ada bedanya dengan yang baru belajar 3 bulan… Maka tidakkah engkau lebih mentangisi dirimu daripada menjelek-jelekkan “anak kemaren sore”?!

Jika ilmu-mu dan hafalan-mu bagus… Tapi TIDAK SINKRON dengan amalan hati dan badanmu… Maka tidak patutkah dirimu mengasihani dirimu?!

Jika ilmu-mu, hafalan-mu, dan amal-mu sudah bagus… Kembali lagi introspeksi diri… Apakah engkau MERASA CUKUP dengannya? Bahkan apakah engkau UJUB dengannya?! Bahkan engkau TAKABBUR dengannya?!

Sungguh Allaah mencela kaum yang merasa cukup (dan termasuk disini MERASA CUKUP ILMU maupun amal!)

كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia BENAR-BENAR MELAMPAUI BATAS! karena dia melihat dirinya SERBA CUKUP…

(al ‘Alaq: 6-7)

Sungguh Allaah mencela kaum yahudi:

وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.

(al Hadiid : 16)

Panjangnya waktu mereka menuntut ilmu… tidaklah menjadikan hati-hati mereka tunduk kepadaNya… tapi malah mengeraskan hati mereka… KARENA KEFASIQAN yang tertanam dalam diri mereka… karena mereka MERASA CUKUP dengan apa yang ada pada mereka…

Ini bagi mereka yang menuntut ilmu… Bagaimana lagi dengan mereka yang SAMA SEKALI TIDAK MENUNTUT ILMU?!!

Janganlah demikian…

Allaah berfirman:

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَن يَعْتَصِم بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

(aali ‘Imraan : 101)

Kamu tidak akan menjadi kaafir, jika kamu senantiasa mendengar ayat-ayatNya serta hadits-hadits RasulNya dibacakan dan dijelaskan kepadamu… dan engkau BERPEGANG TEGUH kepadanya…

Maka hendaknya kita TETAP bersemangat menuntut ilmu, mengamalkannya, dan mendakwahkannya serta berusaha untuk tetap istiqamah diatasnya…

Semoga dengannya kita dijauhkan dari kekafiran, kesyirikan, kebid’ahan, kemaksiatan dan dari segala jenis yang menghantarkan kepada kemurkaanNya

Dan semoga pula dengannya kita diberi petunjuk (islam, sunnah, ketaataan) dan ditetapkan diatasnya hingga wafatnya kita… yang dengannya kita meraih keridhaanNya… aamiin

[Tulisan ini terinspirasi dari muqaddimah kajian rutin “mulia dengan manhaj salaf” bersama ustadz yazid ibn ‘abdil qadir jawwas hafizhahullaahu ta’ala]

Tinggalkan komentar

Filed under Amal, Ilmu

Ilmu yang bermanfaat akan meluruskan niat

Yahya bin Yaman berkata:

“Aku pernah mendengar Sufyaan sejak empat puluh tahun yang lalu, ia berkata:

‘Hari ini tak ada yang lebih utama daripada pencarian hadits’.

Mereka berkomentar kepada Sofyan;

“Paling-paling mereka mencarinya tanpa niat”.

Kontan Sofyan berkata: “Pencarian mereka untuk berburu hadis itu sendiri merupakan niat’… “.

(ad-Darimiy)

dari Mujahid, ia berkata:

“Dahulu kami mencari ilmu ini dengan tanpa niat yang benar. Kemudian Allah memberi niat (kepada kami) di kemudian hari”.

(ad-Darimiy)

dari al Hasan al bashriy, ia berkata:

“Sungguh ada beberapa kaum yang mencari ilmu sedang mereka menghendaki hal itu bukan karena Allah dan bukan untuk memperoleh yang ada di sisiNya, maka tak henti-hentinya mereka mencari ilmu hingga akhirnya mereka menghendakinya karena Allah dan untuk memperoleh apa yang ada di sisiNya”.

(ad-Darimiy)

Berkata Ibnul Munir:

“ilmu itu pelurus niat… yang kemudian niat tersebut nantinya yang akan memperbaiki amalan.”

(Fathul Bari, 1/108)

Berarti, amalan yang rusak (tidak berimbang dengan ilmu yang dimiliki) disebabkan niat yang salah. Dan hendaknya niat yang salah ini kita perbaiki dengan senantiasa menuntut ilmu. Sehingga semoga ilmu yang kita pelajari tersebut dapat meresap kedalam dada, sehingga memperbaiki niat yang tadinya salah tersebut, yang kemudian memperbaiki amalan kita..

Semoga bermanfaat

1 Komentar

Filed under Aqidah, Ilmu, Tauhid Uluhiyyah, Tazkiyatun Nufus

Petuah Imam Syafi’i

Tentang Zuhud

Sekedar pengakuan belaka

من ادعى أنه جمع بين حب الدنيا وحب خالقها في قلبه فقد كذب

Barangsiapa mengaku dapat menggabungkan dua cinta dalam hatinya, cinta dunia sekaligus cinta Allah, maka dia telah berdusta.

تعصي الاله وأنت تظهر حبه | هذا محال في القياس بديع

Kau bermaksiat lalu mengaku mencintai-Nya? ini sungguh mustahil terjadi

لو كان حبك صادقا لأطعته | ان المحب لمن يحب مطيع

Andaikan cintamu itu sejati kau pasti menaati-Nya! Sesungguhnya seorang pencinta akan taat kepada yang dicintainya

Hakekat Dunia

ان الدنيا دحض مزلة,ودار مذلة, عمرانه الى خرائب صائر, وساكنها الى القبور زائر, شملها على الفرق موقوف, وغناها الى الفقر مصروف, الاكثار فيها اعسار, والاعسار فيها يسار

Dunia adalah batu yang licin dan kampung yang kumuh. Bangunannya kelak roboh, penduduknya adalah calon penghuni kubur, apa yang dikumpulkan akan ditinggalkan, apa yang dibanggakan akan disesalkan, mengejarnya sulit, meninggalkannya mudah.

Dalam kesempatan lain:

قيل للشافعي رحمه الله: ما لك تكثر من امساك العصا, ولست بضعيف؟
قال: لأتذكر أني مسافر

Seseorang bertanya kepada Imam Syafi’I: “Mengapa engkau selalu membawa tongkat padahal engkau bukanlah orang yang lemah?” beliau menjawab: “Agar aku selalu teringat bahwa aku adalah seorang musafir”.


Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Adab, Akhlak, dakwah, Ilmu, Mutiara Salaf, Tazkiyatun Nufus