Sulit Diperbaiki

Sulit-Diperbaiki

Berkata al-Ustaadz DR. Syafiq bin Riza Basalamah -hafizhahullaah- (semoga Allaah menjaganya) dalam salah satu pengajian rutin beliau :

“Seseorang itu kalau sudah merasa ‘baik’… SULIT DIPERBAIKI”

Sungguh perkataan singkat yang amat menusuk dan amat dalam maknanya…

[1] Awal mula tertimpanya keburukan bagi seseorang, apabila dia merasa dirinya sebagai ‘orang baik’

Perkataan beliau ini mengingatkan kita tentang nasehat dari Ummul Mu`miniin ‘Aa`isyah radhiyallaahu ‘anha ketika beliau ditanya:

مَتَى يَكُوْنُ الرَّجُلُ مُسِيْأً

Kapan seseorang itu dikatakan buruk?

Beliau menjawab:

إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ مُحْسِنٌ

Ketika dia menyangka dirinya seorang yang baik.

(At-Taisiir bisyarh Al-Jaami’ as-Shoghiir 2/606; kutip dari web ust. firanda)

Benarlah perkataan beliau, awal mula keterperosokan seseorang dalam keburukan, ketika dia menilai dirinya sebagai seorang yang baik. Maka dia pun akan mulai merendahkan orang lain. Maka dia pun merasa serba-berkecukupan, sehingga menghalangi dirinya untuk terus memperbaiki segala keburukannya, kesalahannya, kekeliruannya, serta kekurangan-kekurangannya dalam penunaian kebaikan.

[2] Demikian pula, Seseorang itu sulit mendapatkan ilmu, ketika sudah merasa berilmu.

Fudhayl bin ‘Iyyaadh ditanyakan tentang tawadhu’, maka beliau menjawab:

أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادَ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبِلْتَهُ مِنْهُ، وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ أَجْهَلِ النَّاسِ قَبِلْتَهُ مِنْهُ

Engkau tunduk dan patuh pada kebenaran, meskipun engkau mendengarnya dari seorang anak kecil; (ketika engkau mendapati ia menyampaikan kebenaran), maka engkau menerima kebenaran tersebut darinya. Meskipun engkau mendengarnya dari manusia yang paling bodoh; (ketika engkau mendapati ia menyampaikan kebenaran), maka engkau menerima kebenaran tersebut darinya.

(Hilyatul Auliyaa’ 8/91; kutip dari web ust. firanda)

Jangan sampai banyaknya pengajian yang telah kita hadiri, banyaknya buku yang telah kita baca, banyaknya nasehat yang kita dapatkan dari saudara seiman kita; tapi itu semua tidaklah menambah keimanan dalam hati-hati kita. Sehingga ketika kita mendapati nasehat, masukan, saran atau kritik dari saudara kita (dan apa yang disampaikan tersebut benar); yang kita nilai level keilmuannya mungkin lebih rendah dari kita; lantas kita malah menolaknya hanya karena hal tersebut. Sehingga kitapun terhalang dari mendapatkan ilmu karena sikap tersebut… Sehingga kitapun menjadi terbelakang, karena sikap tersebut…

[3] Demikian pula, seseorang itu sulit mengakui dan menghadirkan kekurangan amal dirinya, apabila dia telah menyangka amalnya sudah sempurna (apalagi menyangka amalnya sudah diterima); sehingga ia pun enggan memperbaiki kualitas amalnya, apalagi menambahkan kuantitasnya.

Berkata salah seorang ulamaa ketika melihat orang yang mengagumi amalnya:

لاَ يَغُرَنَّكَ مَا رَأَيْتَ مِنِّي فَإِنَّ إِبْلِيْسَ تَعَبَّدَ آلاَفَ سِنِيْنَ ثُمَّ صَارَ إِلَى مَا صَارَ إِلَيْهِ

“Janganlah engkau terpedaya dengan apa yang kau lihat dariku, sesungguhnya Iblis beribadah kepada Allah ribuan tahun, kemudian dia menjadi kafir kepada Allah”

(At-Taisiir bisyarh Al-Jaami’ as-Shoghiir 2/606; kutip dari web ust. firanda)

Allaahu akbar. Sungguh menakjubkan perkataan beliau. Alangkah jauhnya beliau dari ketertipuan dan keterpedayaan. Banyaknya amal yang beliau lakukan, tidaklah lantas menjadikan beliau pongah. Kagumnya orang-orang pada amal beliau, tidaklah menjadikan beliau berbangga. Bahkan beliau tetap khawatir dengan dirinya, karena dahulu ibliis pun adalah makhluq yang -zhahirnya- taat, tapi karena kebusukan niatnya, hingga akhirnya Allaah menampakkan hakikatnya ketika dia diuji.

Kita berlindung kepada Allaah dari ketertipuan, seraya kita memohon padaNya husnul khaatimah.. aamiin.

Semoga bermanfaat…

1 Komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Indahnya Risalah Rasulullah ﷺ

Sesungguhnya Aku Tidaklah Diutus, Kecuali Untuk Menyempurnakan Akhlaq Mulia

Berkata Abu Bakar al-Warraaq rahimahullaah:

إِنَّ اللَّهَ بَعَثَ نَبِيَّهُ ، عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ، لِيَدْعُوَ الْخَلْقَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى ، وَإِنَّمَا طَلَبَ مِنْهُمْ عَمَلَ أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ : الْقَلْبُ ، وَاللِّسَانُ ، وَالْجَوَارِحُ ، وَالْخُلُقُ

Sesungguhnya Allaah mengutus NabiNya ‘alayhish shalaatu was sallam agar mendakwahkan manusia kepada Allaah. (Yang dalam dakwah itu) Mereka hanya diminta tentang empat amalan berikut : amalan hati, amalan lisan, amalan anggota badan, dan berbudi pekerti.

وَإِنَّمَا طَلَبَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْأَرْبَعَةِ ، شَيْئَيْنِ

Dari masing-masing empat ini, beliau meminta dua hal.

أَمَّا الْقَلْبُ ، فَطَلَبَ مِنْهُ تَعْظِيمَ أُمُورِ اللَّهِ تَعَالَى ، وَالشَّفَقَةَ عَلَى خَلْقِهِ

Adapun amalan hati, maka mereka diminta untuk mengagungkan Allaah dan berbuat baik kepada makhluqNya

وَأَمَّا اللِّسَانُ فَطَلَبَ مِنْهُ ذِكْرَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى الدَّوَامِ ، وَمُدَارَاةَ الْخَلْقِ

Adapun amalan lisan, maka mereka diminta untuk senantiasa berdzikir kepada Allaah, dan membahagiakan makhluqNya

وَأَمَّا الْجَوَارِحُ ، فَطَلَبَ مِنْهَا عِبَادَةَ اللَّهِ تَعَالَى ، وَعَنِ الْمُسْلِمِينَ

Adapun amalan anggota badan, maka mereka diminta untuk beribadah kepada Allaah, dan (menolong) kaum muslimiin

وَأَمَّا الْخُلُقُ فَطَلَبَ مِنْهُ الرِّضَا بِقَضَاءِ اللَّهِ تَعَالَى ، وَحُسْنَ الْمُعَاشَرَةِ مَعَ الْخَلْقِ وَاحْتِمَالَ أَذَاهُمْ

Adapun berbudi pekerti, maka mereka diminta ridha terhadap ketetapan Allaah, dan berbuat baik dalam pergaulan mereka terhadap sesama, serta tabah menghadapi gangguan mereka.

(Tanbiihul Ghaafiliin 1/522, via shamela online)

Sungguh indah risalah yang dibawa Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam… Yang mencakup seluruh aspek kehidupan kita, dari sisi hubungan kita dengan Allaah, dan hubungan kita sesama makhluuq; yang dalam penunaian hak-hak ini terbagi menjadi empat bagian: amalan hati, amalan lisan, amalan anggota badan, juga dalam hal berbudi pekerti.

Amalan hati

Adapun amalan hati, maka kita dituntut dua hal:

1. Hanya mengagungkan Allaah semata; tidak boleh kita meninggikan siapapun daripadaNya, termasuk DIRI KITA sendiri.

Sesungguhnya penyebab awal kekufuran manusia kepada Allaah karena pengagungannya kepada selain Allaah, sehingga dia melampaui batas terhadap hal itu hingga menjadikannya kufur kepada Allaah, na’uudzubillaah. Sebagaimana penyebab awal keimanan dalam diri seseorang ketika dia menjadikan Allaah sebagai hal yang teragung dihatinya, dia tinggalkan pengagungannya kepada selainNya, termasuk dirinya sendiri. Maka tempuhlah sebab-sebab menetapnya iman dalam hati kita, dan jauhilah sebab-sebab terhapusnya iman dalam hati kita.

2. Hendaknya kita, -dengan hati kita- berbuat baik kepada makhluqNya.

Yakni dengan menginginkan kebaikan untuk mereka sebagaimana pada diri kita dan tidak menyukai keburukan pada mereka kita benci hal tersebut menimpa diri kita. Maka paling minimalnya adalah hendaknya mereka selamat dari keburukan hati kita: su’zhann, hasad, permusuhan karena pribadi, dan lain-lain.

Amalan lisan

Demikian amalan lisan, maka kita juga dituntut dua hal:

1. Senantiasa mensucikan Allaah, memujiNya, serta mengagungkanNya setoap waktu kita, yang hendaknya lidah kita selalu basah karena hal ini.

Aktifitas dzikir ini akan berefek pada hati kita, yang dengan dzikir ini kita membersihkan hati kita dari kotoran, serta menguatkan hati kita diatas kebenaran.

Demikian pula apabila lisan kita sibuk dengan hal ini, maka kita akan dibimbing untuk melakukan kebaikan lainnya dsri lisan kita (berkata yang benar, berkata jujur, dan tidak keluar darinya kecuali kebaikan); sebaliknya pula, dengan sibuk berdzikir, maka lisan kita akan dipalingkan dari hal-hal yang jelek (perkataan dusta, buruk, jelek maupun yang tidak ada manfaatnya.

Efek lain dari dzikir, adalah pengaplikasian kita terhadap kandungan dzikir yang kita baca; apabila kita senantiasa mensucikanNya (bertasbih), maka kita akan dibimbingNya jauh dari amalan bathil lagi mungkar. Sebagaimana apabila kita senantiasa memujiNya dan membesarkanNya, maka kita akan dibimbing beramal ketaatan dengan penuh kekhusyu’an.

2. Membahagiakan orang lain

Membahagiakan orang lain dengan lisan merupakan puncak kebaikan amalan lisan dalam hubungan kita dengan sesama manusia, terlebih lagi terhadap sesama muslim. Paling minimal yang dapat kita perbuat adalah tidak menyakiti mereka dengan lisan kita. Oleh karenanya ada perkataan yang indah: “apabila engkau tidak dapat membahagiakan orang lain, maka jangan sampai engkau justru menjadi penyebab kesedihan bagi orang lain”. Maka seorang pengikut Rasuulullaah yang benar lagi jujur adalah yang lisannya tidak menyakiti orang lain, bahkan lisan yang sedapat mungkin membahagiakan orang lain.

Amalan anggota badan

Berlaku pula hal yang sama dalam hal amalan anggota badan:

1. Kita dituntut untuk beribadah kepada Allaah (semata).

Kita hanya ruku’ serta sujud kepadaNya, bukan kepada selainNya. Kita sibukkan diri kita dengan menaatiNya karena itulah tujuan hidup kita, karena kita diciptakan hanya untuk beribadah kepadaNya. Pengorbanan kita dengan mau untuk bergerak dan berusaha di jalanNya adakah bukti nyata keimanan yang kita ucapkan dalam lisan kita, dan sebagai bukti bahwa adanya iman di hati kita. Maka apabila seseorang tidak mau ruku’ serta sujud padaNya, maka hendaklah ia introspeksi lagi pengakuan keimanannya kepada Allaah… Jangan-jangan klaimnya ini tidak benar atua bahkan dusta… Hendaknya ia introspeksi lagi keimanan yang ada di hatinya… Jangan-jangan keimanan itu justru telah hilang dihatinya… Na’uudzubillaah…

2. Kita dituntut untuk menolong kaum muslimiin

Karena konsekuensi dari iman kepada Allaah adalah mencintai kaum yang beriman kepada Allaah. Dan wujud nyata kecintaan kita kepada mereka adalah menolong mereka. Menolong disini dengan dua makna: makna yang pertama adalah tolong menolong dalam mewujudkan tujuan hidup bersama (yaitu beribadah kepada Allaah), sehingga kita menolong mereka agar berada diatas jalan Allaah, menolong mereka untuk tetap diatas hal itu, menolong mereka agar jangan sampai keluar dari batasanNya, dan menolong mereka untuk kembali ke jalanNya. Kemidian makna yang kedua adalah tolong menolong dari sisi sosial dan kemanusiaan; sehingga kita menolong mereka dari kesusahan mereka (dari yang paling ringan, sampai yang peling berat). Sesungguhnya pertolongan Allaah itu senantiasa menanugi kita apabila kita senantiasa menolong hambaNya, terlebih hambaNya yang beriman padaNya.

Berbudi pekerti

Kemudian yang terakhir, pada perkara akhlaaq; yang inipun dituntut dua hal:

1. Akhlaq kita kepada Allaah, agar kita menerima segala ketetapanNya

Ingatlah bahwa ketetapanNya itu PASTI BAIK bagi hambaNya, terlebih lagi bagi hambaNya yang beriman. Ingatlah bahwa dibalik ketetapanNya ada perintah untuk sabar (dan ini minimalnya), yakni kita menahan lisan maupun perbuatan kita dari berkata/berbuat dengan perkataan/perbuatan yang tidak diridhaiNya; seperti meratap, menolak takdir, apalagi sampai mencela takdir, apalagi sampai mencelaNya; na’uudzubillaah.

Kemudian setingkat diatas sabar, yaitu ridha; dia tidak hanya menahan diri dari hal yang mungkar, bahkan hatinya dalam keadaan rela ketika mendapati ketetapanNya; kerelaan hatinya ini membimbingnya untuk mengucap istirja (inna lillaahi wa inna ilayhi raaji’uun); itulah yang terucap di lisannya, dan ucapan ini benar-benar dipahami hatinya, benar-benar dengan penghadiran hatinya. Ia benar-benar mengucapnya dengan keridhaan, ketundukan dan kepasrahan terhadap Rabbnya.

Tahukah kita bahwa ternyata masih ada yang tingkatan diatas itu? Ya, itulah syukur. Bukan hanya istrija saja yang keluar dari lisannya, bahkan dalam kondisi seperti ini dia masih menyempatkan memuji Allaah, sebagaimana hal ini merupakan akhlaq dari Rasuulullaah. Apabila beliau mendapati sesuatu yang tidak beliau sukai, maka beliau berucap: “Alhamdulillaah ‘ala kulli haal” (segala puji bagi Allaah dalam segala keadaan). Mengapa demikian? Karena telah terpatri dalam hati-hati mereka segala nikmat yang Allaah berikan pada mereka yang tiada terhingga, sehingga ketika Allaah menguji mereka, maka mereka tetap ingat akan segala kebaikanNya; sehingga mereka tetap mengucapkan kalimat syukur, bahkan pada kondisi yang tidak mereka sukai. Sungguh yang demikian sangat sedikit, maka semoga Allaah menggolongkan kita menjadi termasuk yang sedikit ini, aamiin.

2. Akhlaq kita terhadap makhluuq, agar kita bergaul dengan baik kepada mereka, dan kita sabar terhadap gangguan mereka.

Yang pertama kali harus diingat dalam hal ini yaitu: bahwa Allaahlah yang memerintahkan kita berbuat baik kepada makhluqNya, dan Allaahlah yang memerintahkan kita bersabar dari gangguan mereka. Bahkan ingat pula, ketika kita diganggu, maka inipun terjadi karena ketetapan Allaah; hanya saja hal ini terjadi melalui perantaraan makhluqNya. Maka sebagaimana kita bersabar terhadap ketetapanNya pada perkara yang tidak menyangkut hamba-hambaNya; maka kita pun bersabar pada ketetapanNya yang diujikan pada kita melalui hamba-hambaNya, dengan mengingat ini, maka kita akan lebih terbantu untuk sabar. Jangan hanya melihat bahwa kita berhadapan dengan manusia, tapi lihatlah dari sudut pandang bahwa ini merupakan ujian Allaah atas kita, yang hendaknya kita mencari balasanNya ketika menyikapi hal ini. Maka apabila kita sudah bersudut-pandang demikian, maka tidaklah kita berucap, tidaklah kita berbuat; melainkan hanya karenaNya, dan dengan pertimbangan yang sesuai dengan keridhaanNya.

Semoga pemaparan singkat ini dapat semakin membuka hati kita, dapat semakin menambahkan kecintaan kita kepada Allaah dan RasulNya. Kita lebih tahu lagi akan indahnya agamaNya, yang diwahyukanNya melalui RasulNya yang mulia, Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam; yang tidaklah hal itu memberatkan kita, bahkan memudahkan kita; yang hanya dengan agama ini saja kita dapat berjumpa denganNya dalam keadaan dia ridha kepada kita. Semoga Allaah senantiasa memberikan petunjukNya pada kita semua, menetapkan kita diatas hal itu hingga wafat kita, sehingga kita dibangkitkan diatas hal tersebut, aamiin yaa rabbal ‘aalamiin. Wa shallallaahu wa sallama ‘ala nabiyyina Muhammadin an-nabiyyil ummiyyi wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Aqidah, Tazkiyatun Nufus

Amalan Rahasia Pengantar Husnul Khatimah

 


Seorang lelaki di Saudi memiliki tetangga yang tak pernah sholat dan berpuasa. Suatu hari, dia bermimpi kedatangan lelaki. Dalam mimpinya itu, lelaki tadi memintanya agar mengajak tetangganya yang tak pernah shalat untuk umrah.

Ia dikejutkan oleh mimpinya namun ia tak hiraukan. Anehnya mimpi yang sama terulang. Akhirnya ia mendatangi seorang syaikh untuk bertanya tentang mimpi tsb. Syaikh berujar bhw jika mimpi terulang lagi, ia mesti merealisasikan mimpinya itu.

Dan benar saja, ia bermimpi lagi. Lantas ia mengunjungi tetangganya untuk menawarkannya umrah bersama.

“Ayo umrah bersama kami.”

“Bagaimana aku akan umrah sementara aku tak pernah sholat.”

“Tenang saja. Aku akan mengajarkanmu sholat.”

Ia pun mengajarkannya kemudian lelaki itu mengerjakan sholat.

“Baik, aku sudah siap. Mari berangkat. Tapi, bagaimana aku umrah sementara aku tak tahu caranya.”

“Nanti di mobil kuajari.”

Keduanya dgn senang hati berangkat untuk umrah dengan menggunakan mobil. Setelah tiba, mereka melakukan tuntunan yang disyariatkan.
Selesailah prosesi. Keduanya akan kembali pulang.

“Sebelum balik, adakah engkau ingin melakukan sebuah amal yang engkau anggap penting?” Tanyanya kepada tetangganya.

“Iya. Aku ingin shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim.”

Sang tetangga pun sholat dan terjadilah hal yang menakjubkan. Ia meninggal dalam keadaan bersujud.

Lelaki yang membawanya kaget dan tersentak. Bagaimana mungkin lelaki yang hadir dalam mimpinya dan diajak umrah meninggal seolah-olah dia adalah wasilah kematiannya.

Akhirnya, jenazah dibawa pulang ke rumah istrinya. Ia bertanya dalam hati, bagaimana mungkin lelaki yang tak pernah shalat dan puasa meninggal saat umrah dalam keadaan sujud husnul khatimah? Ia berpikir pastilah ada amal spesial dan rahasia yang dilakukannya.

Kepada istri lelaki tadi, ia bertanya ttg ini.

“Kami memiliki tetangga seorang wanita tua renta. Suamiku begitu menyayanginya. Suamiku selalu membuat sendiri sarapan, makan siang dan makan malam lalu mengantarkannya kpd wanita tua itu. Wanita itu kerapkali mendoakan husnul khatimah untuk suamiku.” Ujar sang istri


Berkata Ustadz Fachriy:

Kisah di atas kami terjemahkan dari akun seorang ikhwah (Mesir).

Kami teringat nasehat syaikh Rajihi di kelas:

“Usahakan ya ikhwan,” kata syaikh, “kalian mesti memiliki amal rahasia yang hanya Alloh dan engkau saja yang tahu. Ini akan membantu kalian mengarungi dunia dan negeri akherat.”

Pemuda dalam kisah di atas memiliki amal rahasia yaitu memberi makan wanita tua yang merupakan tetangganya. Ia pun berteman dgn orang shalih yang merupakan wasilah menuju husnul khatimahnya.

“Sungguh,” tutur syaikh Sami di hadapan kami, “banyaklah berteman dengan orang-orang sholeh, penghafal alquran, dan lainnya.”


Semoga bermanfaat

2 Komentar

Filed under Dzikrul Maut, Tazkiyatun Nufus

Selalu uji perkataanmu dengan perbuatanmu

Perkataanmu tidaklah berguna apabila ia perbuatanmu menyatakan sebaliknya

Sungguh indah perkataan Ibraahiim at-Taymiy:

مَا عَرَضْتُ قُولِي عَلَى عَمَلِي إِلَّا خَشِيتُ أَنْ أَكُونَ مُكَذِّبًا

“Tidaklah aku membandingkan antara PERKATAANKU atas AMALANKU; melainkan aku takut menjadi seorang PENDUSTA”

Karena seseorang yang memperbagus perkataannya, dengan sebagus-bagusnya perkataan; tapi perkataannya tersebut tidak terealisasi dan terbuktikan pada amalannya; maka dikhawatirkan bahwa orang ini bisa termasuk golongan pendusta.

Sekiranya orang yang menghiasi dirinya dengan ILMU tersebut tujuannya untuk BERAMAL dengannya (untuk kehidupan akhiratnya), maka PASTI ilmu tersebut akan menjadikan dirinya terhiasi dengan AMAL. Sedangkan orang yang menghiasi dirinya dengan ILMU semata-mata hanya untuk tujuan duniawi; maka illmu tersebut tidak akan menghiasinya dengan AMAL.

Tidakkah kita lihat bagaimana Allaah mencela para penyair?

Allaah berfirman:

وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ

dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?

(asy-Syu’araa`: 226)

Bahkan inilah perbuatan yang paling dibenci oleh Allaah, sebagaimana firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

(ash-Shaff: 2-3)

Maka hendaknya kita senantiasa menguji setiap perkataan kita dengan perbuatan kita. Jangan sampai kita termasuk para pendusta, karena mengatakan sesuatu tapi justru kita menyelisihi perkataan tersebut.

Siapa saja orang yang perkataannya menyalahi perbuatannya?

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Tazkiyatun Nufus

Manusia tempatnya AIB (kesalahan dan kekurangan)

Menutup Aib

Jika kita mengetahui dan menyadari bahwa manusia itu tempatnya AIB (kesalahan dan kekurangan)
Maka:

1. Kebaikan dari Allaah, apabila Dia menutupi kebanyakan aib-aib kita dihadapan manusia. Hakikat baiknya seseorang itu karena sedikitnya aib yang tampak darinya, dan banyaknya aib yang Allaah tutup baginya. Jadi apa yang mau dibanggakan padahal kita sendiri mengetahui dan mengakui kita banyak aib, yang itu ditutupi Allaah dari manusia? (Kalau menganggap nggak punya aib, maka ini bukti kurang introspeksi diri, atau justru sibuk dengan aib orang sehingga luput dengan aib-aib sendiri)

2. Berusahalah mengenali aib-aib kita, dan berusahalah memperbaikinya; bukannya malah sengaja menampakkannya bahkan berbangga dengannya. Bahkan Allaah benci terhadap seseorang yang berbangga dengan aibnya, Allaah juga benci terhadap seseorang yang telah Allaah tutup aibnya, tapi dia malah menceritakan aibnya tersebut! Na’uudzubillaah!

3. Berusahalah berteman dengan teman-teman shaalih, yang dengannya mereka mengingatkan kita tentang aib kita. Terkadang kita sudah mencari aib, tapi tidak dapat kita deteksi sendiri; baru bisa dideteksi teman kita, sehingga dia mengingatkan kita, yang dengannya kita dapat mengenal aib tersebut dan memperbaikinya. Dan sebaik-baik teman, adalah yang mengingatkan aib kita secara empat mata.

4. Berusahalah menutupi aib-aib orang lain (yg memang tidak menampakkan dan tidak berbangga dengan aibnya). karena jika kita menutup aib mereka, maka Allaah akan tutup aib-aib kita di DUNIA dan di AAKHIRAT. Sebaliknya, jika kita malah membongkar aib yang tidak sepantasnya dibongkar, atau menonjolkan pada seseorang sebuah aib yang sebenarnya tidak pantas ditonjolkan padanya; apalagi sampai mencari-cari aib mereka. Maka berhati-hatilah, maka Allaah akan mencari-cari aib kita; yang dengannya akan tersingkaplah aib kita dihadapan manusia. Maka hendaknya kita melakukan ini karena Allaah (bukan hanya karena dia tidak berbuat jelek kepada kita), sehingga kalaupun kita mendapati orang lain membongkar aib kita; maka jangan sampai kita malah membalas membongkar aibnya, padahal aibnya tersebut tidak pantas dibongkar. Dibongkarnya aib kita, bukan berarti menjadikan ‘halal’ membongkar aib orang yang tidak pantas dibongkar.

5. Ketika aib-aib ditampakkan di DUNIA. Maka masih ada kesempatan untuk bertaubat, agar kita lepas dari aib tersebut. Masih untung aib kita hanya disimak beberapa manusia (berapa paling banyak? Ratusan? Ribuan? Jutaan?)… daripada nanti jika aib kita di tampakkan dihadapan SELURUH MANUSIA (dari nabi adam sampai manusia terakhir)?!

Setelah mengusahakan hal diatas, maka semoga Allaah mewafatkan kita dalam keadaan aib-aib kita ditutupiNya. Karena seorang yang ditutupi aibnya di dunia, lebih berhak ditutupi lagi di aakhirat.
Sudahkah anda membaca dzikir:

اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِيْ، وَآمِنْ رَوْعَاتِيْ

Allahummastur ‘awraatiy, wa aamin råw-‘aatiy

Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut.

Bacalah… Dengan penghadiran hati… Semoga diijabah… Aamiin

1 Komentar

Filed under Akhlak

Keutamaan orang-orang yang senantiasa menjaga dirinya dari segala dosa

Obat bagi yang kecanduan akan maksiat

Hal ini berangkat dari pertanyaan: “Mana yang utama: orang yang mengerjakan seluruh kewajiban plus banyak amalan naafilah, tapi mencampurnya dengan kemaksiatan? Ataukah orang yang mengamalkan seluruh kewajiban (dengan hanya sedikit amalan naafilah), tapi menjauhi seluruh dosa?”

Dijawab: “Yang paling utama dari mereka adalah yang paling jauh dari maksiat (meskipun mereka hanya melakukan ketaatan yang wajib-wajib saja). Karena mereka menjaga diri mereka dari kotoran-kotoran hati. Maka ketika mereka mengerjakan hal-hal yang waajib, pahala mereka berlipat ganda karena dilaksanakan dengan kebersihan hati. Amalan mereka sederhana, tapi pahala mereka melampaui orang-orang yang bersemangat dalam naafilah (tapi mencampurkan amalannya dengan berbagai maksiat)

Adapun orang-orang yang mengerjakan banyak amalan naafilah disamping amalan waajib; tapi masih mencampurkan amalannya dengan maksiat… Maka ada beberapa kekhawatiran:

(1) Maksiatnya ini mempengaruhi kualitas ketaatannya, sehingga meskipun kuantitasnya banyak, tapi pahalanya sedikit karena kotornya hati ketika mengerjakan ketaatan tersebut (tidak ada khusyu didalamnya)

(2) Bahkan… Bisa jadi maksiatnya ini (apabila telah akut)[1] malah mengantarkannya kepada peninggalan ketaatan, bahkan meninggalkan yang wajib-wajib! Atau bahkan yang paling dikhawatirkan bisa jadi ini menjadi langkah awal keluarnya dia dari agama ini! (Na’uudzubillaah)

(3) Kekhawatiran lainnya adalah penunaian ketaatannya tersebut hanya kamuflase semata… Itu semua dikerjakannya bukan untuk Allaah; tapi untuk berhias dihadapan manusia. Mengapa bisa begitu? Kalaulah ketaatannya tersebut adalah karenaNya, maka tentulah di kala sendiri pun ia akan menghiasi dirinya dengan ketaatan dan tidak memaksiatiNya.

Maka hendaknya kita khawatir dengan penunaian maksiat-maksiat kita… Jangan sampai kita memandang remeh untuk memaksiati Allaah, karena silau dengan banyaknya ketaatan kita…

Sungguh Allaah tidak butuh dengan ketaatan kita… Kitalah yang butuh rahmatNya! Dan rahmat Allaah itu dekat bagi mereka yang menahan hawa nafsunya dihadapan Rabb yang tidak dilihatnya…

Semoga Allaah menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang jujur dalam ketaatan… Yang tidak malah berlaku khianat ketika malah bersendirian denganNya[2]… Aamiin


Catatan Kaki

[1] Jangan anggap remeh penyakit akut akan ketagihan bermaksiat. Karena Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَهْلُ النَّارِ خَمْسَةٌ: الضَّعِيفُ الذي لا زَبْرَ لَهُ

“Penghuni neraka ada 5 macam, yang pertama adalah orang lemah yang tidak memiliki zubraa (keinginan keras untuk taat pada agama)… ” (HR. Muslim 2865).

Ali Al Qari menjelaskan:

“maksudnya orang yang tidak punya pikiran dan akal untuk berpikir yang bisa mencegahnya untuk melakukan hal yang tidak semestinya dilakukan”

(Mirqatul Mafatih, 7/3107; sumber petikan)

Beliau juga menjelaskan:

“At Turibisyti berkata: ‘maksudnya yaitu ia tidak bisa istiqamah, karena jika maknanya adalah tidak punya akal, maka artinya tidak ada taklif baginya. Lalu bagaimana mungkin ia dihukumi sebagai penghuni neraka’. Dan aku melihat bisa juga ditafsirkan dengan: tidak tamaasuk (berpegang teguh pada ajaran agama). Karena para ahli bahasa mengatakan bahwa ‘laa zubra‘ artinya tidak ber-tamaasuk; dan ini sesuai dengan kata asalnya. Sehingga kesimpulan maknanya: ‘laa zubra‘ artinya tidak berpegang teguh pada ajaran agama ketika datang godaan syahwat sehingga ia tidak menolak melakukan keburukan dan enggan wara’ terhadap perkara yang haram”

(Mirqatul Mafatih, 7/3107; sumber petikan)

[2] Sebentar lagi kita akan mendapati kata-kata ‘amanah’ begitu mudahnya diucapkan dan dijadikan barang dagangan.

Adakah orang-orang yang melariskan hal ini mengetahui betapa beratnya kalimat tersebut?

Tidaklah mungkin seorang dapat menjadi amanah, kecuali sebelumnya didahului dengan kekonsistenannya dalam jujur (dalam perkataan dan perbuatan) ! Bagaimanakah kita dapat mengharapkan seseorang untuk menjadi ‘amanah’, sedangkan dia adalah seorang yang kita dapati senantiasa berdusta (dalam perkataan dan perbuatannya) serta senantiasa mengingkari janji ?!

Bahkan bagaimanakah seseorang dapat mengharapkan dirinya amanah terhadap orang lain? Sedangkan terhadap Tuhannya sendiri dia berlaku sering berlaku dusta lagi khianat?

Ditampakkan kebaikan hanya ketika berada dihadapan manusia…tapi ketika ia tidak dilihat manusia; dia tidak segan-segan memaksiati Allaah Yang Maha Melihat lagi Maha Mengawasi perbuatannya.

Bagaimanakah manusia hendak meng’amanah’kan sesuatu pada orang yang terhadap Tuhannya sendiri khianat? Demi Allaah… Apabila terhadap Tuhannya sendiri dia tidak jujur dan tidak amanah, maka kepada manusia dia lebih-lebih lagi tidak akan jujur dan tidak akan amanah.

Maka tidak heran betapa banyaknya kita dapati manusia yang mengobral janji, tapi setelahnya ia malah menyalahi. Tidak heran pula kita mendapati seseorang yang mengobral kata ‘amanah’, tapi setelahnya ia malah berkhianat.

Jadikanlah hal diatas sebagai RENUNGAN DIRI (sebelum hati kita mengarahkan hal ini kepada orang lain)… Maka hendaknya kita berusaha untuk senantiasa berlaku jujur dihadapan Allaah, agar semoga kita dapat termasuk orang-orang yang amanah akan tanggung jawab yang dibebankanNya pada kita…

Denngan ini pula hendaknya kita berwaspada terhadap para pendusta, pengingkar janji dan para pengkhianat… Hendaknya kita memohon kepada Allaah agar jangan sampai kita dikuasakan orang-orang yang suka berdusta, menyalahi janji, lagi berkhianat. Semoga Allaah memperbaiki diri-diri kita dan orang-orang sekitar kita. Aamiin.

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Bertambahnya Ilmu Sepantasnya Juga Menambahkan Kasih Sayang

Guru itu: Memegang Tangan (untuk menasehati), Membuka Pikiran, & Menyentuh Hati

Semoga Allaah merahmati guru-guru kita yang senantiasa sabar dengan segala kekurangan kita… Mereka yang TIDAK MENINGGALKAN KITA hanya karena melihat satu, dua, atau bahkan beberapa, atau bahkan BANYAKnya kekurangan yang ada pada diri-diri kita…

Bagaimanakah jadinya jika guru-guru kita tidak bersabar atas kekurangan kita, kemudian serta merta meninggalkan kita? Tentulah kita terus menerus berada dalam kesesatan yang amat nyata!

Maka jika anda memiliki guru yang seperti itu.. Jangan sampai anda berpaling darinya, terlebih lagi… jangan sampai dia berpaling dari anda!!! Ketahuilah dialah orang yang paling mendalam ilmunya (terlepas berapapun hafalan riwayat yang ia miliki)…

Tidakkah kita melihat bagaimana Allaah memuji ilmu yang ada disisi Khidhir (‘alayhis salaam)? Tidakkah kita melihat bagaimana beliau senantiasa memberi udzur kepada ketergelinciran Muusa (‘alayhis salaam)? Kalaulah Muusa (‘alayhis salaam) tidak membatasi permintaannya, niscaya kita akan dapati beliau akan terus menerus memberi Muusa udzur demi udzur.

Bahkan ada faidah berharga dari ucapannya:

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

“Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

Pelajaran pertama darinya: “Seseorang yang belum cukup ilmu atas ‘sesuatu’, biasanya akan kurang sabar akan ‘sesuatu’ tersebut”, sebagaimana yang kita dapati pada reaksi Muusa pada Khidhir.

Kemudian pelajaran kedua darinya : “Apabila ilmu seseorang sudah ‘mencukupi’ terhadap sesuatu, maka sudah sepantasnya ia dapat selalu bersabar atas sesuatu tersebut” atau dengan kata lain: “Cukup atau tidaknya kadar keilmuan seseorang atas ‘sesuatu’, dapat kita lihat dengan sedikit atau banyaknya kadar sabarnya atas ‘sesuatu’ tersebut”; dan ini kita dapat kita lihat dari sabarnya beliau terhadap Muusa atas ilmu yang beliau ketahui, tapi tidak diketahui Muusa.

Demikianlah mental pendidik sejati… Mereka tidak hanya mempersiapkan ilmu.. Tapi juga mempersiapkan hati yang lapang dalam menghadapi anak didiknya…

Ingatlah… Kitapun juga pendidik bagi ANAK ANAK kita… Persiapkanlah ilmu yang luas dan hati yang lapang… Bersabarlah dalam menyampaikan ilmu… Bersabarlah dalam menghadapi tantangan dalam penyampaian ilmu…

Termasuk kesabaran yang paling agung: anda tidak pernah putus asa akan rahmat Allaah terhadap orang lain, sebagaimana anda tidak putus asa akan rahmat Allaah terhadap diri anda sendiri…

Maka anda senantiasa bersabar untuk terus membimbingnya kepada jalan yang mendekatkannya kepada rahmatNya, sebagaimana anda bersabar untuk tetap terus berada diatas jalan tersebut…

Tinggalkan komentar

Filed under dakwah, Ilmu, Ilmu Amal Dakwah Istiqamah