Fakta yang tidak terelakkan

Allah tetaplah Tuhan semesta alam, dan Dia tetap satu-satunya sesembahan yang benar… Meskipun banyak yang menghambakan diri pada selainNya… Meskipun banyak yang menyembah selainNya…

Baca lebih lanjut

Iklan

1 Komentar

Filed under Aqidah, Tauhid Uluhiyyah, Tazkiyatun Nufus

Tanda teresapnya iman dalam hati

Tanda seorang yg imannya teresap dalam hatinya:

(1) dia menjadikan imannya sebagai penyaring terhadap apa yang hendak masuk ke dalam hatinya…

(2) dia jadikan imannya sebagai pemfilter atas apa yang diperintahkan hatinya…

Sebaliknya, tanda seorang yang keimanan belum teresap dalam hatinya:

(1) Dibiarkannya hatinya terbuka lebar; tanpa mempedulikan apapun yg masuk kedalamnya

(2) Diekspresikannya apapun yang terlintas dalam hatinya, tanpa mempedulikan efek dari ekspresinya tersebut


Allah berfirman: قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ [[Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS al-Hujurat: 14)]]

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: التَّقْوَى هَهُنَا، التَّقْوَى هَهُنَا، التَّقْوَى هَهُنَا [[taqwa itu disini, taqwa itu disini, taqwa itu disini]] sembari beliau mengisyaratkan pada dadanya…

Pupuk ketaqwaan dalam hati kita dengan ilmu… Karena ilmu-lah satu-satunya pintu yang membawa pada ketaqwaan… Rajin-rajinlah mendatangi majelis ilmu… Mendengar nasehat bermanfaat… Melihat (membaca) kitabullah, serta kitab-kitab para ulama… Disinilah kita menanamkan serta menguatkan keimanan dan ketaqwaan dalam hati kita…

Dan tanda adanya ketaqwaan, adalah baiknya lisan kita, serta baiknya perbuatan kita… Dalam menunaikan hak-hak Allah, maupun hak-hak sesama makhluk…

Adapun jika kita biarkan hati kita mendengar, melihat dan menyaksikan berbagai kemungkaran, seruan kesyirikan, kekufuran, kemaksiatan dan penyimpangan; maka keimanan itu tidak akan masuk kedalamnya, kalaupun tadinya pernah ada maka ia akan luntur dan rusak, yang dikhawatirkan lagi malah akan tercabut, hilang sama sekali dalam hati kita…

Dan tanda kurangnya atau bahkan tidak adanya keimanan dan ketaqwaan dalam hati, adalah apa yang diucapkan​ lisannya, dan diperbuat anggota badannya… Tercermin bagaimana ia menunaikan hak-hak Allah, dan hak-hak makhluk…

Oleh karenanya Rasuullaah shallalaahu ‘alayhi wa sallam bersabda: 

أَلاَ إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً،

“…Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ini ada segumpal daging

إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ

apabila ia (segumpal daging) tersebut baik, baiklah seluruh jasadnya

وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ

dan apabila ia (segumpal daging) tersebut rusak (buruk), maka rusaklah (buruklah) seluruh jasadnya.

أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati”

[HR al Bukhaariy]

Jika ada yang berkata: “iman itu di hati”, maka kita katakan: “benar, dan apa yang engkau ekspresikan dalam perkataan dan perbuatanmu itulah cerminan keimanan/ketaqwaan yg ada dalam hatimu”

Mari kita perbaiki HATI dan PERBUATAN kita… Semoga Allah menunjuki hati kita pada ketaqwaan, dan menjadikan ketaqwaan itu nampak dalam segala perkataan dan perbuatan kita… Aamiin…

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Seburuk-buruk teman

Seburuk-buruk teman… adalah mereka yang membenarkanmu saat engkau salah… Engkau yang tadinya sadar akan kesalahanmu; malah akhirnya merasa benar, karena pembelaan kawanmu…

Teman jenis seperti inilah yang akan disesali pada hari kiamat kelak, Allah berfirman tentang penyesalan orang yang memiliki teman seperti ini: يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا] [[Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si A itu teman akrab(ku). (al-Furqan: 28)]]

Kita, sebagai teman, jangan sampai membenar-benarkan teman kita yang sedang salah… Ingatkan dan luruskan ia ketika salah… Bukan malah membelanya membabi buta, padahal kita tahu ia salah…

Dan kita, terhadap teman yang selalu menasehati kita; maka jangan pernah tinggalkan mereka hanya karena mereka selalu mengingatkan serta meluruskan kita… Bersabarlah untuk tetap bersama-sama mereka… Karena Allah telah memerintahkan kita akan hal tersebut…

Allah berfirman: وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا [[Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan sore hari yang mengharapkan keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya, yang keadaannya itu melewati batas. (al-Kahfi: 28)]]

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Tazkiyatun Nufus

Ketika merasa hati mengeras

Hati Yang Mengeras (ilustrasi)

Jika kita mendapati hati kita mengeras[1] :

[1] Segeralah berwudhu

Hadirkanlah hati kita ketika berwudhu, ingatlah bahwa setiap basuhan wudhu dapat menghapuskan dosa-dosa bagian yang dibasuhi[2]

[2] Dan shalatlah…

Berusahalah menghayati[3] SELURUH dzikir yang kita baca didalamnya… Panjangkanlah[4] shalat kita… Perlamalah ruku dan sujud kita (ingat, bahwasanya dosa kita berguguran dengan ruku’ dan sujud kita); didalam ruku’ dan sujud, perbanyaklah membaca dzikir didalamnya dan hayatilah dzikir yg kita baca didalamnya…

Maka semoga dosa-dosa kita dihapuskan dengannya, yang semoga hati kita pun dilembutkan karenanya…

Perlu kita ketahui, tidaklah hati mengeras, kecuali karena adanya dosa-dosa… Dan tidaklah hati akan menjadi lembut, kecuali jika dosa-dosa telah terbersihkan darinya…

Semoga bermanfaat


Catatan kaki

[1] Tanda-tanda kerasnya hati adalah berat dan malasnya kita menunaikan amal shaalih, dan/atau ringan serta bersegeranya kita dalam memaksiati Allaah…

[2] Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَا مِنْكُمْ رَجُلٌ يُقَرِّبُ وَضُوءَهُ فَيَتَمَضْمَضُ، وَيَسْتَنْشِقُ فَيَنْتَثِرُ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ، وَفِيهِ وَخَيَاشِيمِهِ

Tidaklah seorang pun diantara kalian yang mendekatkan air wudhu’nya lalu dia berkumur, memasukkan air ke hidungnya lalu mengeluarkannya kecuali akan berjatuhan kesalahan-kesalahan wajahnya, kesalahan-kesalahan mulutnya dan kesalahan-kesalahan hidungnya.

ثُمَّ إِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ مِنْ أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ مَعَ الْمَاءِ

Kemudian (tidaklah) ia mencuci wajahnya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allâh, kecuali kesalahan-kesalahan wajahnya akan berjatuhan bersama tetesan air dari ujung jenggotnya.

ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ

Kemudian (tidaklah) ia mencuci kedua tangannya sampai siku, kecuali kesalahan-kesalahan tangannya akan berjatuhan bersama air lewat jari-jemarinya.

ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ مِنْ أَطْرَافِ شَعْرِهِ مَعَ الْمَاء

Kemudian (tidaklah) ia mengusap kepala, kecuali kesalahan-kesalahan kepalanya akan berjatuhan melalui ujung rambutnya bersama air.

ثُمَّ يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رِجْلَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ

Kemudian (tidaklah) dia mencuci kakinya sampai mata kaki, kecuali kesalahan kedua kakinya akan berjatuhan melalui jari-jari kakinya bersamaan tetesan air.

فَإِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْلٌ، وَفَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ، إِلَّا انْصَرَفَ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Jika ia berdiri lalu shalat, lalu dia memuji Allâh menyanjung dan mengagungkan-Nya dengan pujian dan sanjungan yang menjadi hak-Nya dan MENGOSONGKAN HATINYA HANYA UNTUK ALLAAH, melainkan dia terlepas dari kesalahan-kesalahannya seperti pada hari ia dilahirkan dari perut ibunya.

[Muttafaqun ’alaihi].

[3] Penting bagi kita untuk memahami seluruh bacaan shalat kita dari awal sampai aakhir, karena Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

ما من مسلم يتو ضأ فيسبغ الوضوء ، ثم يقوم في صلاته ، فيعلم ما يقول ، إلاانفتل وهو كيوم ولدته أمه

“Tidaklah seorang muslim berwudhu lalu dia menyempurnakan wudhunya kemudian dia berdiri dalam shalatnya dan dia MEMAHAMI APA-APA yang DIA UCAPKAN (dalam shalatnya), melainkan dia selesai shalat, sementara keadaannya seperti di hari dia dilahirkan oleh ibunya.”

[Diriwayatkan oleh al-Hakim, dan ia menshahiihkannya]

[4] Karena sebaik-baik shalat adalah yang paling lama berdirinya.

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ

“Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya”

(HR. Muslim).

Lama berdirinya ini disebabkan karena panjangnya bacaan dalam shalat tersebut, atau diulang-ulangnya suatu bacaan karena ingin menghayati apa yang dibaca (meskipun yang dibaca hanya satu ayat, atau bahkan hanya sepenggal ayat).

Tidakkah kita telah mengetahui bahwa Rasuulullaah shallallaahu’alayhi wa sallam bersabda

مَن قَرَأ حَرفًا مٍن كَتَابِ اللٌه فَلَه بِه حَسَنَةُ وَالحَسَنَةُ عَشُرُ اَمُثَالِهَا لآ اَقُولُ الم حَرفُ وَلكِنُ اَلِفُ وَلآمُ حَرفُ وَميمُ حــَرُفُ

Siapa yang membaca SATU HURUF dari Kitab Allah, maka baginya SATU HASANAH (KEBAIKAN) dan satu hasanah itu sama dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.

(HR at-Tirmidziy).

Dan bukankah kita telah mengetahui bahwa Allaah berfirman: إِنَّ الحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ((Sesungguhnya kebaikan-kebaikan menghapus keburukan-keburukan)) [Huud: 114]

Bahkan bukankah Allaah berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ((Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu [al-Qur`aan], dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada] dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman))

Maka SETIAP HURUF yang kita baca, dapat MENGHAPUSKAN keburukan-keburukan kita dan dapat MEMBERSIHKAN hati kita dari dosa dan penyakit didalamnya… Maka panjangkanlah bacaan al-qur’an kita dalam shalat kita, semampu kita… DENGAN NIAT agar semoga apa yang kita baca dapat menghapus dosa kita, dan membersihkan hati kita…

[5] Ketahuilah bahwa ruku’ dan sujud kita merupakan diantara sebab diampuninya dosa-dosa kita… Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إنَّ العبدَ إذا قَامَ يُصلِّي أُتِي بذُنوبِه كُلِّها فَوُضِعَتْ على رأسِه و عاتِقَيْهِ ، فكُلَّما رَكعَ أو سَجدَ تَساقَطَتْ عَنْهُ”

“Apabila seorang hamba berdiri melakukan sholat, semua dosa-dosanya didatangkan lalu diletakkan diatas kepala dan kedua pundaknya. Maka setiap kali hamba tersebut ruku dan sujud dosa-dosa itu akan berguguran darinya”

(HR Abu Nu’aym dalam al-hilyah dan selainnya dengan sanad yg shahiih)

Maka sebaik-baiknya upaya untuk menggugurkan dosa-dosa kita dan melembutkan hati kita.. adalah dengan menyempurnakan wudhu dan shalat kita…

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Empat golongan yang dipanjangkan umurnya

Dengan amalan apakah kita akan mengakhiri hidup kita?

1. Seorang yang secara terang-terangan selalu berbuat buruk dan perusakan.

Yang dia dipanjangkan umurnya oleh Allaah sebagai tipu daya; yang dengannya nantinya secara tiba-tiba dibinasakan. Na’uudzubillaah. Orang ini sebagaimana yang difirmankan Allaah:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

…Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.

(al-An’aam: 44)

2. Seorang yang menampakkan kebaikan secara kasat mata, tapi dia selalu melakukan keburukan dan perusakan yang tidak diketahui khalayak ramai.

Tapi Allaah Maha Mengetahui atas keburukan yg disembunyikannya dan apa yang ada dalam hatinya… maka dikhawatirkan perpanjangan umurnya ini hanya tipu daya baginya, sehingga disingkapkanlah oleh Allaah borok-boroknya di akhir hayatnya, hingga ia pun mati diatasnya. Na’uudzubillaah.

Orang ini sebagaimana yang disabdakan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ

“Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka…

(sampai sabda beliau)

وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

Sungguh amalan itu tergantung dengan penutupannya.”

(HR al-Bukhaariy)

3. Seorang yang selalu jatuh dalam perbuatan buruk, namun dia selalu kembali padaNya

Allaah Maha Mengetahui kebaikan yang ada padanya, serta apa yang ada dalam hatinya, maka Dia selalu membuka tanganNya untuk menerima taubatnya. Maka perpanjangan umur yang Allah berikan padanya agar ia dapat kembali kepadaNya, bertaubat dan beramal kebaikan… Maka akhirnya ia diberi hidayah di akhir hidupnya, atau bahkan menjelang wafatnya, sehingga ia wafat diatasnya.

Hal ini sebagaimana sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

…Dan ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga…

(HR al-Bukhaariy)

Dalam hadits lain:

وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ

“Jika Allah menginginkan kebaikan atas seorang hamba maka Dia akan membuatnya beramal sebelum kematiannya, ”

para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, bagaimana Allah membuatnya beramal?”

beliau bersabda:

يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ

“Memberinya taufik untuk beramal shaalih, setelah itu Dia mewafatkannya diatasnya”

(HR. Ahmad, al-haitsamiy berkata “shahiih”)

4. Seorang yang selalu sibuk dan bersegera dalam berbuat baik, secara nampak maupun secara tersembunyi

Maka ia dipanjangkan umurnya oleh Allaah untuk tetap dalam kebaikannya, bahkan termasuk yang menebar kebaikan, hingga akhirnya Allaah wafatkan ia diatasnya. Orang ini sebagaimana firmanNya:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka istiqamah (dengan ucapan mereka itu), maka malaikat akan turun kepada mereka (disaat wafat mereka) dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Fushshilat: 41)


Kita berlindung kepada Allaah dari menjadi golongan pertama ataupun kedua…

Jika kita bukan termasuk golongan keempat, maka berusahalah semenjak sekarang agar kita menjadi termasuk bagian dari mereka, atau paling tidak, semoga kita termasuk golongan ketiga…

Semoga Allaah menghidupkan kita diatas Islaam, dan mematikan kita diatas iimaan. Aamiin.

Tinggalkan komentar

Filed under Dzikrul Maut, Tazkiyatun Nufus

Kumpulan doa (dari al-Qur`an dan as-Sunnah)

api

Diantara ibadah yang paling agung adalah DOA. Kita tidak hanya diperintahkan Allaah untuk berdoa hanya kepadaNya, tapi juga kita diperintahkanNya untuk tidak berpaling dariNya sehingga malah berdoa pada selainNya.

Sungguh, tidak ada yang dapat menolak taqdir[1]; melainkan doa. Doa merupakan senjatanya orang-orang beriman, karena mereka berdoa kepadaNya semata, tidak berdoa pada selainNya dalam susah maupun senang mereka.

Penting bagi kita untuk dapat mengetahui adab-adab dalam berdoa[2], sehingga doa kita lebih dekat pada pengabulannya.

Diantara usaha kita agar doa kita lebih dekat pada pengabulannya, adalah kita berdoa dengan doa-doa yang diajarkan Allaah dalam kitabNya dan doa-doa yang dituntunkan RasulNya dalam sunnah-sunnahnya. Maka sepantasnya kita lebih mendahulukan doa-doa tersebut daripada doa-doa selainnya.

Para ulama telah menyebutkan bahwa doa-doa yang datang dari al-Qur`aan dan as-Sunnah, merupakan seutama-utama doa untuk kita panjatkan dalam doa-doa kita.

Berkata ibnu Taimiyyah rahimahullaah dalam majmu fatawanya:

وينبغى للخلق أن يدعوا بالأدعية الشرعية التى جاء بها الكتاب والسنة فان ذلك لا ريب فى فضله وحسنه وأنه الصراط المستقيم صراط الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا

“Manusia sepatutnya berdo’a dengan doa yang sesuai syar’iat yang datang dalam Al Quran dan sunnah, karena tidak disangsikan lagi akan keutamaan dan kebaikannya. Sesungguhnya itulah jalan yang lurus, jalan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiiqiin, syuhada, dan shalihin, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”

Berikut kami sajikan doa-doa yang kami petik dari al-Qur`aan dan as-Sunnah; agar semoga dapat kita pelajari, kita hafali dan kita baca pada waktu-waktu, tempat-tempat, atau kondisi-kondisi mustajab.

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Doa, Ibadah

Amalan Penghalang Dari Neraka

api

Berikut diantara AMALAN yang menyebabkan pelakunya DIHARAMKAN neraka atasnya, apabila ia wafat dalam keadaan mengamalkannya atau menjaganya:

1. Mempersaksikan Tauhid‬

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Tidaklah seorangpun yang mempersaksikan bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allaah, dan bahwasanya Muhammad adalah Rasuul (utusan) Allaah JUJUR dari dalam hatinya, kecuali Allaah haramkan atasnya neraka.

(HR. al-Bukhaariy, Muslim, dll)

Dalam hadits lain:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

Sesungguhnya Allaah telah mengharamkan neraka atas orang yang mengucap “Laa ilaaha illaLLaah” yang dengan ucapan itu dia MENGHARAPKAN WAJAH ALLAAH.

(HR. al-Bukhaariy, Muslim, dll)

Dalam hadits lain:

إِذَا قَالَ الْعَبْدُ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ . يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : صَدَقَ عَبْدِي ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا ، وَأَنَا أَكْبَرُ .

Jika seorang hamba berucap: “Laa ilaaha illaLLaah waLLaahu akbar” (Tiada sesembahan yang berhak untuk disembah, melainkan Allaah; dan Allaah Maha Besar), maka Allaah berfirman: “HambaKu benar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku, dan Aku Maha Besar”

وَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ . قَالَ : صَدَقَ عَبْدِي ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَحْدِي .

Dan jika hamba mengucap: “Laa ilaaha illaLLaahu wahdah” (Tiada sesembahan yang berhak untuk disembah, melainkan Allaah semata), maka Allaah berfirman: “HambaKu benar, Tiada sesembahan yang berhak untuk disembah, kecuali Aku semata.”

وَإِذَا قَالَ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لَا شَرِيكَ لَهُ . قَالَ : صَدَقَ عَبْدِي ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا ، وَلَا شَرِيكَ لِي .

Dan jika hamba mengucap: “Laa ilaaha illaLLaah, laa syariikalah” (Tiada sesembahan yang berhak untuk disembah, melainkan Allaah; tiada sekutu bagiNya). Maka Allaah berfirman: “HambaKu benar, Tiada sesembahan yang berhak untuk disembah, melainkan Aku, dan tiada sekutu bagiKu”

وَإِذَا قَالَ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ . قَالَ : صَدَقَ عَبْدِي ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا ، لِي الْمُلْكُ ، وَلِيَ الْحَمْدُ .

Dan jika hamba mengucap: “Laa ilaaha illaLLaah, lahul mulku wa lahul hamd” (Tiada sesembahan yang berhak untuk disembah, melainkan Allaah; bagiNya segala kerajaan dan bagiNya segala pujian), Allaah berfirman: “HambaKu benar, Tiada sesembahan yang berhak untuk disembah, melainkan Aku; bagiKu segala kerjaaan, dan bagiKu segala pujian”

وَإِذَا قَالَ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ . قَالَ : صَدَقَ عَبْدِي ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِي

Dan jika hamba mengucap: “Laa ilaaha illaLLaah, wa laa hawla wa laa quwwata illa biLLaah” (Tiada sesembahan yang berhak untuk disembah, melainkan Allaah; dan tiada daya maupun kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allaah), maka Allaah berfirman: “HambaKu benar, Tiada sesembahan yang berhak untuk disembah, melainkan Aku; dan tidak ada daya maupun kekuatan, kecuali dengan (pertolongan)Ku.”

Kemudian Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ رُزِقَهُنَّ عِنْدَ مَوْتِهِ لَمْ تَمَسَّهُ النَّارُ

Siapa yang dirizkikan Allaah (untuk mengucapkan) semua itu pada saat menjelang wafatnya, maka ia tidak akan disentuh neraka.

(Shahiih, HR. Ibnu Maajah, dll)

‪‎2. Akhlaaq yang mulia

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ

“Maukah kalian aku beritahu orang yang diharamkan neraka atau orang yang neraka diharamkan atasnya? Semua orang yang dekat (dengan manusia), yang lemah lembut, lagi memberikan kemudahan.”

(Shahiih, HR. At-Tirmidziy, dll)

3. Berjihad di Jalan ALLAAH‬

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

“Barangsiapa berdebu kedua kakinya di jalan Allah, maka Allah mengharamkannya masuk neraka.”

(HR. Al Bukhari)

‪‎4. Menjaga Shalat‬

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، عَلَى وُضُوئِهَا ، وَمَوَاقِيتِهَا ، وَرُكُوعِهَا وَسُجُودِهَا ، يَرَاهَا حَقًّا لِلَّهِ عَلَيْهِ حُرِّمَ عَلَى النَّارِ

Siapa yang menjaga shalat yang lima waktu, menjaga kesempurnaan wudhunya, menjaga waktu-waktunya, serta menjaga (thuma`niinah) ruku’nya dan sujudnya; dan ia memandang bahwa itu semua adalah hak bagi Allaah atasnya, maka haram atasnya neraka

(HR Ahmad, dihasankan al-albaaniy)

Dalam hadits lain:

حَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ

Allaah mengharamkan atas neraka untuk mengadzab bekas sujud

(Muttafaqun ‘alayh)

Dalam hadits lain:

مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Siapa yang menjaga empat raka’at sebelum zhuhur, dan empat raka’at setelahnya, maka Allaah mengharamkan atasnya neraka.

(HR at-tirmidziy dan ia menshahiihkannya; dan selainnya)

5. Mata Yang Digunakan Untuk Ketaatan‬

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ : عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Dua mata, yang tidak akan disentuh neraka: (1) mata yang menangis karena takut kepada Allaah, (2) mata yang tidak terpejam karena berjaga-jaga di jalan Allaah

(HR. at-Tirmidziy dan ia menghasankannya)

Dalam hadits lain:

ثلاثة لا ترى أعينهم النار : عين حرست في سبيل الله ، وعين بكت من خشية الله ، وعين غضت عن محارم الله

Tiga orang, yang matanya tersebut tidak melihat neraka: (1) mata yang digunakan untuk berjaga-jaga di jalan Allaah, (2) mata yang menangis karena takut kepada Allaah, (3) mata yang ditundukkan dari melihat hal-hal yang diharamkan Allaah.
(HR ath-thabraaniy, dishahiihkan al-albaaniy)

‪6. Bersabar atas wafatnya 3 anaknya‬

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لا يَمُوتُ لِأَحَدٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ ثَلَاثَةٌ مِنْ الْوَلَدِ فَتَمَسَّهُ النَّارُ إِلَّا تَحِلَّةَ الْقَسَمِ

Tidaklah salah seorang kaum muslimin yang ditinggal wafatnya 3 anaknya, maka neraka menyentuhnya kecuali dalam keadaan ia melintasinya (saja) [yaitu ia tidak akan tidak masuk kedalamnya]

(HR. Muslim)

Dalam hadits lain, bahwa Rasuulullaah didatangi seorang wanita yang ditinggal wafat tiga orang anaknya, maka beliau bersabda padanya:

لقد احتظرت بحظار شديد من النار

Sungguh kamu akan dihalangi dari pedihnya api neraka

(HR. Muslim)

[Sumber asal: https://islamqa.info/ar/129240, dengan sedikit perubahan format penulisan]

Semoga kita termasuk orang-orang yang Allaah haramkan neraka atas kita… aamiin.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus